
Rion masuk ke kamar yang Juna maksud. Dilihatnya Amanda sedang memeluk guling dan tertidur dengan lelapnya. Rion mengusap lembut rambut istrinya kemudian mengecup hangat kening Amanda. Dia pun berbaring di samping istrinya dan menyingkirkan guling yang dipeluk Amanda. Mengalihkan tangan istrinya untuk memeluknya.
Adzan subuh sudah berkumandang, Amanda mengerjapkan matanya. Perlahan dia membuka matanya dan terkejut ketika yang dia lihat pertama kali adalah suaminya.
Dipandanginya wajah Rion yang sangat tampan ketika dia tertidur. "Apa Abang belum sepenuhnya mencintai Manda?" gumamnya seraya mengusap rambut suaminya.
Perlahan Amanda beranjak dari tidurnya namun, tangannya dicegah oleh Rion yang masih terpejam.
"Jangan tinggalin Abang," ucap Rion.
Amanda hanya menghela napas kasar, dia sebenarnya belum ingin bertemu dengan suaminya.
"Manda mau solat," ujar Amanda dingin.
Rion pun melepaskan tangan Amanda. Menatap Amanda yang kini masuk ke dalam kamar mandi.
Karena Abang sangat mencintaimu makanya Abang bisa secemburu itu, batinnya.
Setelah Amanda keluar dari kamar mandi, kini Rion yang masuk ke kamar mandi. Setelah selesai mandi dan juga bersuci dia melihat istrinya yang sedang berdoa dengan sangat khusyuk.
Setelah Amanda selesai, Rion baru memulai solatnya. Amanda meninggalkan suaminya di kamar. Dia pergi ke kamar Juna untuk meminjam baju untuk suaminya.
"Kak Jun," panggil Amanda setelah mengetuk pintu.
Cukup lama Amanda menunggu, akhirnya Juna membuka pintu kamarnya. Wajah Juna sangat terlihat tampan dengan kopiah dan baju Koko yang dia kenakan.
"Kenapa liatinnya kayak gitu?" tanya Juna.
"Tampan," jawab Amanda sambil tertawa.
Juna pun memeluk tubuh adik kecilnya ini. Dan mengajak adiknya untuk masuk ke kamarnya. Kamar yang bernuansa putih dan sangat rapih.
"Minjam baju buat suami Nda," ucapnya.
"Ambil di lemari," sahut Juna yang tengah membereskan sajadahnya.
"Nda," panggil Juna.
"Apa Kak," jawab Amanda yang masih sibuk mencari baju untuk suaminya.
"Sini," pinta Juna.
Setelah mendapat baju yang cocok untuk suaminya, Amanda mendekat ke arah Juna. Duduk berhadapan dengan Juna di atas tempat tidurnya.
"Apa kamu bahagia menikah dengannya?" tanya Juna.
"Setiap orang yang menikah pasti merasakan kebahagiaan Kak," jawab Amanda.
"Nda," ucap Juna.
Hanya helaan napas kasar yang keluar dari ikut Amanda. Dia menatap wajah Juna yang ingin mendapatkan kejujuran dari mulutnya.
"Nda mencintainya tapi, Nda masih ragu jika dia belum sepenuhnya mencintai Nda. Karena masa lalu Nda," ucap sendunya.
Juna menggenggam tangan Amanda, menatap wajah adiknya yang kini berubah menjadi murung.
"Maafkan Kak Jun. Jika, Kak Jun datang di saat kalian membutuhkan Kak Jun, pasti Nda gak akan kayak gini," ujar Juna dengan penuh penyesalan.
"Ini sudah menjadi titik tulis takdir Nda, Kak. Menyesal pun sudah tidak ada gunanya. Setidaknya Nda bisa membantu Papih meskipun pada akhirnya Nda dan Mamih yang didepak pergi," jelasnya.
"Nda memang wanita hina, rela menjual kesucian demi uang," lirihnya.
"Hina di mata manusia belum tentu hina di mata Allah," balas Juna.
"Kak Jun juga pasti kecewa kan sama Nda," imbuhnya.
"Kak Jun bangga sama pengorbanan Nda terhadap keluarga. Meskipun jalan yang Nda tempuh salah," ungkap Juna.
"Setiap solat, Nda selalu meminta kepada Allah agar diberikan pendamping yang sebaik dan sesabar Kak Jun. Yang menyayangi Nda dengan tulus. Dan juga dapat menerima masa lalu Nda yang sangat kotor dengan ikhlas dan lapang dada," jelasnya.
Dari depan pintu, hati Rion terenyuh mendengar ucapan dari hati Amanda kepada kakaknya. Dia belum bisa menjadi suami yang diidam-idamkan oleh Amanda karena masih sedikit mengungkit masa lalu istrinya.
Abang janji akan menjadi suami yang kamu mau, batinnya.
Rion pun kembali ke kamarnya. Tak lama Amanda datang dengan membawa baju untuknya.
"Pakai ini, Manda pinjam dari Kak Jun," ucapnya.
Amanda menjauh dari Rion dan Rion pun berlari memeluk tubuhnya dari belakang. "Maafkan Abang," ucapnya.
"Berkali-kali minta maaf tapi, terus aja diulangin," ketusnya.
"Sayang, maafin Abang. Abang cemburu kamu memeluk tubuh Kak Juna," imbuhnya.
"Manda tau, Abang belum bisa sepenuhnya menerima masa lalu Manda, kan. Manda gak akan memaksa Abang untuk menerimanya. Hanya hati yang ikhlas dan tulus yang akan menerima masa lalu Manda," jelasnya.
Rion hanya terdiam mendengar ucapan Amanda. Kali ini, Amanda benar-benar marah kepadanya.
"Abang sangat mencintaimu," kata Rion.
Amanda hanya terdiam mendengar ucapan dari suaminya. Kali ini dia menolak untuk percaya. Terkadang apa yang dikatakan suaminya bisa berbanding terbalik pada kenyataannya.
"Manda mau nyiapin sarapan," ujarnya dan berlalu meninggalkan suaminya.
Baru saja menuruni anak tangga, nasihat dari Juna terdengar jelas di telinganya.
"Jika marah selesaikan baik-baik. Tidak baik jika kabur-kaburan. Selesaikan semuanya dengan kepala dingin," ucap Juna.
"Tutupi aib suamimu sebagaimana kamu menutupi aibmu sendiri. Jika, kamu membuka aib suamimu kepada orang lain, itu sama juga kamu membuka aibmu sendiri," terangnya.
Amanda hanya terdiam mendengar nasihat Juna. Dari kecil Amanda selalu dididik untuk mendengarkan nasihat orang lain. Tidak boleh membantah.
Amanda menaiki anak tangga kembali. Membuka pintu kamarnya dengan pelan. Dilihatnya dada bidang Rion yang sudah terbuka karena dia sedang berganti pakaian. Amanda menelan salivanya. Dia mulai mendekati suaminya.
"Kita pulang," ajaknya.
Rion terkejut dengan ajakan istrinya. Dia langsung memeluk tubuh istrinya dan menghujani wajah Amanda dengan kecupan.
"Tutup dadanya," ucap Amanda merona.
"Kamu mau, ya," goda Rion.
Amanda memalingkan wajahnya dan Rion menangkup wajah istrinya. "Abang sayang kamu, jangan pernah ragukan cinta Abang," ucapnya dengan tulus dan serius.
Bibir Rion pun kini menempel di atas bibir Amanda. Menciumnya dengan sangat lembut, melum*tnya dan juga menghisapnya. Bibir mereka saling membelit seolah tidak memberikan napas satu sama lain.
Di balik pintu, lengkungan senyum terukir dari bibir Juna. Melihat adiknya bahagia membuatnya ikut bahagia.
Meera Sayang, sekarang Abi sudah bertemu dengan adik Abi, Amanda. Abi bahagia sekarang meskipun hanya Amanda yang Abi miliki sekarang. Semoga kamu dan anak kita bahagia di sana. Sampai bertemu di surga nanti, insha Allah kita akan berkumpul di jannah-nya Allah. Abi sayang kalian dan akan selalu menyayangi kalian hingga hembusan nafas terakhir Abi, batin Juna.
3 bulan lalu ....
Kabut mendung menyelimuti hati Juna. Istrinya yang baru saja dia nikahi tiga bulan menghembuskan. napas terakhirnya dalam kondisi hamil empat Minggu. Duka yang sangat mendalam menyelimuti hatinya. Air mata dan hanya air mata yang menjadi bukti kepedihan akan kehilangan orang yang dia sayang.
Belum kering tanah kuburan istrinya dan belum kering juga air mata Juna. Kabad duka mengahmpirinya kembali, mamihnya sudah menghembuskan napas terakhir. Menyusul istri dan anaknya menghadap ilahi.
Awan kabut gelap seolah menutup kebahagiaannya saat itu. Ingin sekali Juna melihat Mamihnya untuk terakhir kalinya namun, kesalahan demi kesalahan perusahaan yang baru saja dia kembangkan membuatnya harus terus berdiam diri di Aceh. Hingga dia tidak bisa melihat jenazah ibu angkatnya yang dia sebut Mamih untuk terakhir kalinya. Hanya seuntai doa yang dia panjatkan untuk wanita yang telah mengubah hidupnya dan memberikannya kasih sayang yang sangat tulus.
Pria malang, begitulah julukan yang cocok untuk menggambarkan kisah hidup Juna dari kecil hingga dia dewasa dan sukses seperti ini. Takdir Tuhan tidak yang tahu, nasib bisa dirubah tapi takdir tidak ada yang dapat merubahnya. Itulah perjanjian Allah dengan ruh sebelum ruh itu dimasukkan ke dalam jasad.
****
Happy reading ....