
Kisah Bang Duda musim pertama aku akhiri dengan kepergian Echa untuk melanjutkan study-nya ke Ausi. Jika, ingin tahu bagaimana kelanjutannya bisa baca Yang Terluka. Karena di musim kedua Echa akan jarang aku munculkan.
****
Musim Kedua Di Mulai.
Awal kepergian Echa membuat semua orang bersedih. Tapi, mereka tidak berlarut-larut dalam kesedihan. Echa selalu memberikan kabar kepada mereka yang berada di Indonesia. Kondisi kesehatan Echa yang sudah semakin membaik, ditambah hubungannya dengan Radit yang selalu bahagia membuat orang-orang yang menyayangi Echa ikut lega. Didikan keras Genta pun sudah Echa rasakan, dan dia sangat beruntung mendapat pelajaran yang sangat langka dan juga mahal. Dididik langsung oleh pengusaha sukses sekelas Genta Wiguna.
Empat tahun kemudian.
Riana tumbuh menjadi anak yang cantik dan juga periang. Sedangkan si kembar, Gatthan dan juga Ghassan tumbuh menjadi anak-anak yang pintar dan juga tampan. Keysha pun tumbuh menjadi anak yang cantik dan lebih pendiam.
Beeya, buah hati dari Arya dan juga Beby sekarang sudah berusia tiga tahun lebih. Balita yang menjadi kesayangan semua orang.
"Beeya, itu punya aku," teriak Riana.
Ya, dua gadis kecil ini tidak pernah akur. Beeya yang usil dan Riana yang tidak suka kepada Beeya. Riana menganggap jika, Mommy dan Ayahnya lebih menyayangi Beeya daripada kepadanya.
"Gak boleh bentak-bentak Beeya dong, Ri," tegur sang Bunda.
"Itu mainan Ri, Bun."
"Kasih pinjam dulu sebentar." Riana pun merengut kesal. Dia berdiri dan menatap sang bunda dengan tatapan tajam.
"Sekarang Bunda juga lebih sayang sama Beeya dibanding sama Ri," ucapnya dengan mata yang berkaca-kaca. Riana pun pergi meninggalkan Amanda dan juga Beeya yang sedang asyik memainkan mainan Riana.
Amanda hanya menggelengkan kepalanya, putrinya yang satu ini sensitif sekali hatinya. Seperti daun kering yang mudah sobek.
"Kakak marah?" tanya Beeya. Amanda pun mengangguk.
Beeya bangkit dari duduknya dan berlari ke kamar Riana. Dia mengetuk pintu kamar Riana terlebih dahulu sebelum masuk.
Beeya menghampiri Riana yang sedang berada di meja belajarnya.
"Maafin Beeya," kata Beeya.
Riana menoleh ke arah Beeya yang sudah mengulurkan tangannya. Senyumnya mengembang dengan tangan yang satunya mengembalikan mainan Riana.
Seketika Riana terdiam. Tangannya terasa lengket ketika memegang mainannya. Mata Riana pun melebar dengan sempurna.
"Beeya!" pekik Riana.
Beeya hanya tertawa dan menjulurkan lidahnya ke arah Riana. Beeya meletakkan permen karet yang baru dia kunyah ke mainan Riana. Beeya pun berlari menjauhi Riana sambil tertawa puas.
Tubuhnya menabrak seseorang. Beeya mendongakkan kepalanya, seketika dia mulai menunduk. Arya sudah bertolak pinggang di depan Beeya.
"Maaf Pah," ucapnya.
"Disuruh siapa kamu seperti itu?" tanya Arya.
"Em ...."
"Jawab Bee," tegas Arya.
"Kakak Echa," ucapnya ragu.
Arya pun mendengus kesal mendengar jawaban dari Beeya. Putrinya memang jelmaan dari Echa. Keponakannya yang usil dan juga bocah Bangor.
"Dengar Papa." Arya pun mensejajarkan tubuhnya dengan Beeya.
"Bee harus jadi anak yang baik, gak boleh nakal. Gak boleh buat orang marah. Bee harus menjadi anak yang menyenangkan. Bee paham?"
"Ta-tapi, kata Kakak Echa, Bee harus seperti Kakak Echa biar disayang sama semua orang."
"Dan benar, semua orang sayang Bee. Mommy, Ayah, Daddy, Papih, Mamih dan Bunda pun sayang Bee. Oma dan Onty pun sayang Bee. Apalagi Mamah, sayang banget sama Bee."
Arya pun menepuk jidatnya, sejak kapan Echa menghubungi Beeya dan mengajarkan ajaran sesatnya?
"Om Arya, tanggung jawab," pekik Riana.
Kepala Arya semakin pusing karena harus menghadapi Riana yang tingkat menyebalkannya melebih Echa. Ditambah putrinya yang memiliki tingkat menyebalkan sekelas Echa.