
"Bang, semalam Abang keluarinnya di dalam ya? tanya Amanda.
"Abang sudah tidak kuat, Sayang. Jadi, gak keburu Abang cabut," kilahnya dengan suara berat.
"Kalo Manda hamil gimana?"
Rion membuka matanya perlahan dan memeluk pinggang istrinya. "Anak adalah rezeki dari Allah untuk kita. Jika, kamu hamil berarti Allah sudah mempercayakannya kepada kita," ujar Rion dengan bahasa sok bijak.
Amanda terdiam mendengar ucapan yang keluar dari mulut suaminya, dia hanya diam membeku.
"Lagian kan kamu punya suami, pasti Abang akan tanggung jawab sepenuhnya, Sayang," ucap Rion.
"Manda masih ragu," sahutnya.
Rion hanya bisa menghela napas kasar. Rion beranjak dari duduknya dan meraih dompetnya yang berada di atas nakas.
Rion mengeluarkan beberapa ATM yang ada di dompet. Dia menyerahkan kartu ATM gold, platinum dan juga ATM dollar kepada Amanda.
"Apa ini?"
"Pegang semua ATM Abang. Jika di dompet Abang hanya ada ATM silver pasti tidak akan ada yang mau ngedeketin Abang."
"Semua wanita mendekati Abang hanya karena uang," ungkap Rion.
Rion memberitahukan isi saldo masing-masing ATM miliknya dan juga nomor pin-nya. Membuat Amanda tercengang tak percaya.
"Abang megang black card ini karena ini punya perusahaan dan dalam pengawasan Ayanda," jelasnya lagi.
"Itu isi saldo silver Abang berapa?" tanya Amanda.
Rion menyerahkan ponselnya kepada istrinya. Dia menyuruh istrinya sendiri yang mengecek saldo ATM silvernya melalui m-banking.
"10 juta?"
Rion hanya mengangguk pelan. Amanda menyerahkan ATM gold ke arah suaminya namun, ditolaknya.
"Pegang aja sama kamu, gunain buat kebutuhan kita," ujarnya.
Amanda hanya terdiam, memandang suaminya tak percaya. Ketiga ATM yang suaminya serahkan kepadanya memiliki jumlah angka nol yang fantastis.
"Abang tuh sayang sama kamu, itu salah satu bukti cinta Abang ke kamu," ujarnya dengan kepala yang sudah terbaring di pangkuan istrinya.
Wajah Rion dia benamkan di perut istrinya, menciumi perut Amanda yang terbalut baju.
"Kapan kamu tumbuh di sana, Nak?" Monolognya dengan tangan yang mengusap lembut perut Amanda.
Ada rasa bersalah di hati Amanda, melihat suaminya seperti ini. Akan tetapi, dia belum sepenuhnya yakin akan hatinya.
"Bang, ke apotek yuk," ajak Amanda.
"Masih pagi, Sayang. Abang masih ngantuk," balasnya.
"Ya udah, tapi Abang jangan minta jatah," geram Amanda.
"Hm."
Amanda hanya mendengus kesal, Rion malah terlelap dipangkuan isterinya. Ada kebahagiaan di hati Amanda tapi ada juga ketakutan yang menyelimuti kebahagiannya.
Matahari sudah mulai naik, cahaya biasnya pun sudah menerangi kamar yang ditempati Rion dan juga Amanda. Namun, Rion masih nyenyak tidur dipangkuan istrinya.
Dua jam berlalu, Rion baru membuka matanya. Dilihatnya istrinya pun ikut tertidur namun dalam keadaan duduk.
"Sayang," panggilnya seraya membangunkan Amanda.
"Maaf," ucap Rion ketika Amanda mencoba membuka matanya.
Amanda hanya tersenyum manis ke arah suaminya. "Mandi gih, kita ke apotek," ujar Rion.
Amanda pun bersiap begitu juga Rion. Setelah turun ke lantai bawah sudah ada dua pasangan yang sedang asyik bermain game dan Echa sudah seperti badut. Amanda pun tertawa melihat bentuk Echa yang sudah cemong tak karuhan.
"Lu apain anak gua?" geram Rion pada Arya.
"Kita lagi main game, lu gak liat wajah gua sama Azka aja penuh sama lipstik," sewot Arya.
"Ayah mau ke luar sebentar, mau ikut gak?"
"Beliin makanan," sahut Echa dan juga yang lainnya berbarengan.
"Gua beliin cilok yang gocengan, tapi satu bungkus makan bareng-bareng," balas Rion.
"Bos medit," teriak Arya dan yang lain hanya menyurakinya.
Amanda dan juga Rion pun menuju salah satu apotek di Bogor. Apotek yang cukup terkenal dan terlengkap. Baru saja mereka masuk ke dalam apotek, mereka berpapasan dengan Adel. Rion menggenggam tangan istrinya erat. Amanda hanya memandang malas ke arah Adel.
"Dunia begitu sempit, ya. Kita ketemu lagi, apa jangan-jangan kita jodoh?" ucap Adel dengan senyuman manisnya.
Rion hanya berdecak kesal, ingin rasanya dia meremas mulut lemes Adelia.
"Ayo, Bang," ajak Amanda.
Rion terdiam sejenak ketika yang diminta Amanda bukanlah pil KB melainkan testpack terbagus yang ada di apotek ini. Apa maksudnya? Apa Amanda hamil? Itulah yang ada dipikirannya.
Amanda sudah selesai melakukan pembayaran, lalu menarik tangan suaminya. Rion menatap Amanda heran dan tidak mengerti.
Baru saja mereka keluar dari apotek, Adelia menghadang mereka. "Apa yang kamu beli?" tanya Adel dengan tatapan sinis kepada Amanda.
Amanda mengeluarkan barang yang dibelinya sebuah testpack. Membuat Adel melebarkan matanya tak percaya.
"Sepertinya aku telah mengandung anak mantan kekasihmu," ucap Amanda dengan bergelayut manja di tangan Rion.
"Abang senang kan kalo Manda hamil?"
"Pasti Sayang," jawab Rion dan mengecup kening istrinya di depan mantan kekasihnya.
Untuk ke sekian kalinya Adel kecewa lagi. Sedangkan suami-istri itu sudah masuk ke dalam mobil meninggalkan Adelia dengan segala kekecewaannya.
****
Happy Reading ....
Semoga part kali ini gak mengecewakan kalian,