Bang Duda

Bang Duda
393. Pergilah Dengan Tenang (Musim Kedua)



"Semuanya masuk ke dalam mobil kalian. Ikuti kemana mobilku melaju."


"Bunda," gumam Iyan.


Sekelebat bayangan tentang sang bunda muncul di kepala Iyan. Ketika bundanya menjerit kesakitan, menghadapi ajal dan proses sakaratul maut yang tidak sebentar. Sungguh perih hati Iyan.


"Abang sama Adek ikut mobil Papah Arya, Daddy akan membawa mobil Ayah." Kedua anak Gio pun mengangguk patuh. Dan Gio membawa mobil Rion dan tidak akan membiarkan Rion membawa mobil sendiri dalam keadaan seperti ini. Sedangkan Ayanda dan Beby bertugas menjaga si kembar di rumah.


Selama diperjalanan, kedua anak Rion membungkam mulut mereka. Mereka bergelut dengan pikiran mereka masing-masing. Dan di rumah sakit tempat Echa dirawat. Dengan didampingi dokter, Echa dibawa oleh orang kepercayaan Genta. Berkali-kali Radit dan Echa bertanya, orang itu hanya membisu.


Mobil Genta berhenti tepat di depan rumah kosong yang sudah dipasang garis polisi. Begitu juga mobil yang mengikutinya dari belakang. Semuanya turun dari mobil. Saling menatap tidak mengerti.


"Ayah." Suara anak sulung Rion yang memecah keheningan.


"Kakak," ucap berbarengan Iyan dan juga Riana. Duka mereka seakan pergi ketika melihat sang kakak yang selalu memancarkan aura ketenangan untuk mereka.


"Kenapa kamu ada di sini?" tanya Rion heran.


"Saya yang menyuruhnya," timpal Genta.


"Ada apa ini, Kek?" tanya Echa bingung.


"Ikuti saja."


Mereka mengikuti langkah Genta. Garis polisi ada di mana-mana. Membuat mereka benar-benar bingung dibuatnya. Tentu saja, sudah ada polisi yang berjaga di sana. Setelah Genta berbicara sebentar, Genta dan orang yang sedang mengikutinya masuk ke dalam rumah kosong yang hampir roboh itu.


Ternyata Addhitama dan Rindra sudah ada di sana. Membuat Radit semakin bingung. "Ada apa ini, Pih?" Pertanyaan yang memecah keheningan.


Iyan yang berada di samping sang ayah mulai maju ke depan. Seakan ada yang menarik tangannya. Melewati semua orang yang ada di sana.


"Iyan," panggil Rion. Namun, Iyan seolah tidak mendengar. Dia terus maju dan berhenti di terpal berwarna biru. Di sampingnya ada empat orang berbadan besar tengah menunduk dalam.


Tangan Iyan ingin menyentuh terpal itu, tapi dicekal oleh seorang polisi. "Jangan, Nak," cegah polisi.


"Iyan anaknya, Pak polisi. Iyan ingin lihat Bunda." Mata semua orang yang baru saja datang melebar dengan sempurna. Mereka semakin mendekat ke arah terpal itu. Sedangkan Addhitama, Rindra dan Genta hanya bisa menutup mata mereka ketika Iyan membuka terpal tersebut.


"Aaa!" Jeritan yang keluar dari mulut Echa ketika melihat apa yang ada di bawah terpal tersebut.


Tubuh Echa bergetar hebat dan memeluk suaminya dengan sangat erat. Tangisnya pecah. Radit membalas pelukan Echa dan mengusap punggungnya dengan lembut.


Berbeda dengan Riana. Tidak ada keterkejutan yang dia rasakan. Seakan dia sedang tidak melihat apa-apa. Dan Iyan, dia berjongkok di hadapan tubuh sang bunda yang menyeramkan. Lidahnya menjulur, mata yang masih membelalak dan ada bekas luka cekikan di leher. Tanpa rasa jijik, Iyan mengecup kening sang bunda sangat lama.


"Iyan dan Kak Ri akan bisa hidup lebih bahagia tanpa Bunda. Pergi yang tenang ya, Bunda," batin Iyan.


"Dek, coba kamu angkat balok itu," ucap pria yang melihat dengan nyata bagaimana proses sakaratul maut Amanda.


"Kami dan pihak polisi tidak bisa mengangkatnya karena berat sekali," timpal pria berbadan kekar lainnya.


Iyan mengangguk. Dipenglihatan Iyan, ada seorang anak laki-laki yang tengah duduk di atas balok sambil memperhatikan satu per satu orang yang datang.


"Kamu turun, ya," ucap Iyan. Semua orang tercengang dengan apa yang diucapkan oleh iyan. Pasalnya, tidak ada yang sedang manjat-manjat di sana.


"Iyan, kamu bicara dengan siapa?" tanya Rion. Iyan tidak menjawab, tatapannya masih fokus ke arah balok yang menimpa tubuh ibunya. Anak itu perlahan turun dan mendekat ke arah Iyan.


"Dev hanya menunggu Kakak. Dev sudah bertemu dengan Kakak itu," ucapnya dan menunjuk ke arah Riana.


"Kakak sudah punya Kakak cantik itu. Dev gak mau sendiri. Dev juga ingin bawa Ibu, meskipun nanti Dev dan Ibu tidur di tempat yang berbeda." Iyan mengangguk mengerti atas apa yang dikatakan Dev.


Tangan kecil Iyan mulai mengangkat balok kayu yang sudah dimakan rayap dengan mudahnya. Semua orang terkejut melihatnya. Inilah kekuasaan Tuhan. Amanda meninggal dengan penuh penyesalan terutama terhadap kedua anaknya yang telah dia sakiti secara terang-terangan.


Iyan menatap pilu ke arah jenazah sang bunda yang benar-benar tragis. Kemudian, dia menghampiri Riana dan menarik tangan sang kakak agar mendekat ke jenazah sang bunda.


"Maafkan Bunda, Kak. Sejahat apapun Bunda, beliau tetap ibu kita. Wanita yang telah melahirkan kita dan membesarkan kita. Doa kita lah yang nanti akan menjadi penerang jalannya di akhirat. Doa kitalah yang selalu beliau tunggu di setiap saat. Anak-anak yang Soleh dan Solehah yang akan membawa beliau terbebas dari siksaan dan api neraka." Nasihat yang sangat lancar Iyan ucapkan kepada sang kakak.


Tubuh Riana mulai luruh dan dia memeluk tubuh sang bunda yang sudah tidak bernyawa dengan kondisi yang sangat mengenaskan. Air mata itu tumpah, dadanya sakit, hatinya perih. Meskipun ada kelegaan di hatinya. Karena sang bunda tidak akan pernah berbuat jahat lagi. Tidak dipungkiri, Riana sangat sedih apalagi dengan kepergian yang sangat mengenaskan seperti ini. Benar kata Satria, ini balasan untuk ibunya. Adiknya yang tidak berdosa pun harus meninggal lebih mengenaskan dari sang bunda.


"Pergilah dengan tenang, Bunda. Selamanya, Bunda akan tetap ada di hati Ri. Dan selamanya Ri akan selalu menyayangi Bunda."


Rion meraih pundak Riana dan membantunya untuk berdiri. "Ri, sudah ikhlas Ayah. Tolong kebumikan secepatnya."


Tidak ada air mata yang tidak menetes dari semua orang yang berada di sana. Sungguh azab Tuhan lebih pedih. Sungguh kuasa Tuhan itu nyata adanya.


Manusia tidak pernah tahu kapan kontrak di bumi ini habis. Dan dengan cara apa pun kita dipanggil oleh-Nya kita tidak pernah tahu.


Harta dan tahta dunia tidak akan pernah menyelamtakan kita dari pertanyaan para malaikat. Orang kaya tidak akan pernah membawa hartanya ketika mati. Orang cantik dan tenar pun akan tetap sama dengan orang yang biasa. Pergi ke rumah abadi hanya dengan memakai kain kafan putih dan kendaraan yang membawanya bukanlah mobil sport mewah. Hanya sebuah keranda yang dipikul oleh beberapa orang sampai ke tempat di mana kita beristirahat dengan tenang.


Harta yang harus kita jaga adalah anak-anak kita. Anak yang Soleh dan solehah yang kelak akan selalu memberikan kita makanan yang enak di alam sana. Makanan yang mereka berikan dalam bentuk doa yang tidak pernah terputus setiap waktu.


...****************...


Semoga ada yang bisa kita petik dari bab ini.


Kuasa Tuhan itu nyata adanya. Tidak ada yang mustahil bagi Allah jika sudah berkehendak.