Bang Duda

Bang Duda
280. Yang Sebenarnya



Ada notif Up langsung baca ya jangan ditimbun-timbun. Bantu aku untuk mempertahankan level karya aku.


...****************...


Tiga jam sebelumnya ....


"Mamah!" teriak Echa.


Radit yang baru saja hendak memejamkan mata menghampiri Echa yang sedang berteriak memanggil mamahnya dengan mata yang terpejam. Radit pun menghela napas lega.


"Sayang, kamu kenapa?" ucap Radit seraya mengusap lembut rambut Echa.


Merasa ada tangan yang menyentuhnya, perlahan Echa membuka matanya. Dia melihat sudah ada Radit di sampingnya.


"Aku takut." Echa berhambur memeluk tubuh Radit.


"Kamu mimpi apa?" tanya Radit seraya mengusap lembut punggung Echa.


"Mamah."


"Itu hanya mimpi, bunga tidur. Sekarang kamu tidur lagi ya," imbuh Radit yang kini membantu Echa untuk terbaring di atas ranjang pesakitan.


Dengan lembut dan penuh kehangatan, Radit membelai kepala Echa. Tak lama kemudian, napas Echa pun teratur. Dan Radit menghela napas kasar.


"Ikatan batin antara kamu dan Mamah kamu sangatlah kuat," gumamnya.


Sebenarnya, Radit sudah tahu tentang kabar Ayanda. Terkejut pasti, tapi dia belum memberitahukan kepada Echa. Karena kondisi Echa sekarang ini dilarang untuk stres. Karena akan mempengaruhi kondisi lambungnya.


Baru saja Radit hendak menutup mata, suara pintu terbuka membuat Radit tidak jadi menutup matanya. Dilihatnya Ronald sudah ada di ambang pintu. Hati Radit mengatakan telah terjadi sesuatu hal yang buruk.


Semoga saja, Tante Ayanda tidak kenapa-kenapa.


Pikiran jelek sudah berseliweran di otak Radit. Sebenarnya dia juga takut. Apalagi mendengar kata kritis. Kata keramat dalam ilmu kedokteran.


"Ada apa?" tanya Radit dengan suara pelan.


Ronald menggeser tubuhnya, ternyata sudah ada Genta di belakang Ronald. Radit langsung bangun dari duduknya dan mengahampiri Genta. Tak lupa dia mencium tangan Genta dan mengajak Genta untuk berbicara di luar.


Mata Echa terbuka kembali ketika mendengar suara pintu tertutup. Dia mencari sosok Radit, tapi Radit tidak ada di sana. Karena matanya sudah sangat amat mengantuk, perlahan Echa menutup matanya. Namun, samar-samar dia mendengar suara kakeknya.


"Kakek."


Echa turun dari ranjang pesakitannya dengan membawa botol infus di tangan kirinya. Dia tersenyum ketika memang benar kakeknya ada di sini. Echa membuka pintu dengan pelan karena dia ingin memberikan kejutan kepada Genta.


Baru saja satu langkah dari pintu, tubuhnya sudah menegang.


"Ayanda sedang kritis dan membutuhkan banyak darah."


Botol infus pun terjatuh dan menimbulkan suara. Genta dan Radit yang sedang serius mengobrol pun menoleh ke arah belakang. Ternyata Echa sudah ada di belakang mereka.


"Ma-mah kritis?" Genta hanya mengangguk.


Tubuh Echa pun luruh ke lantai. Radit segera membantu Echa berdiri dan membawanya untuk duduk di sampingnya.


"Tenang dulu, Sayang," ucap Radit.


"Ketika Mamahku sedang kritis seperti ini apa kamu kira aku bisa tenang? Mamahku sedang berjuang diantara hidup dan mati, Dit," cerocosnya.


"Kenapa kalian tega menyembunyikan ini semua? Kenapa?" sentak Echa.


Genta menghampiri Echa yang sedang menangis. Dia mengusap lembut puncuk kepala Echa. "Kami juga mengkhawatirkan kondisi kamu, Sayang. Kami tidak ingin membuat sakitmu semakin parah," jelas Genta.


"Echa ini anak Mamah, Echa perlu tahu bagaimana kondisi Mamah," lirihnya.


"Maafkan kami semua," sesal Genta yang sudah memeluk tubuh cucu kesayangannya.


"Kondisi Mamah sekarang ini bergantung kepada kamu," imbuh Genta.


"Maksudnya?"


"Mamahmu masih memerlukan banyak darah. Golongan darah yang sama dengan Mamahmu hanya kamu," urai Genta.


"Ambillah darah Echa sebanyak mungkin untuk Mamah. Echa ikhlas," ucapnya dengan suara berat.


"Tapi kondisi Echa, kan ...."


"Tenang saja, Dit. Kakek sudah berkonsultasi dengan dokter yang menangani Echa secara langsung. Dan dokter bilang tidak apa-apa." Genta melihat ada keraguan di wajah Radit tentang ucapan yang Genta lontarkan.


"Jika, kamu gak percaya, kamu hubungi dokter Eki dan juga hubungi Papih kamu," lanjut Genta.


Setelah selang infus Echa dilepaskan, mereka menuju ke rumah sakit tempat Ayanda dirawat dengan menggunakan pesawat pribadi. Mereka memiliki waktu satu jam lagi.


Tibanya di sana, Echa dibawa masuk melalui pintu darurat rumah sakit. Karena Echa ingin merahasiakan identitasnya sebagai pendonor darah sang Mamah. Bukan tanpa alasan, Echa melakukan itu semua karena tidak ingin membuat Papanya semakin menyalahi dirinya sendiri. Echa sangat yakin, pasti Papanya sedang merutuki dirinya sendiri karena istri dan anak-anaknya mengalami musibah yang tiada henti.


"Kamu yakin?" tanya Genta.


"Echa tidak ingin melihat Papa semakin bersedih," jawab Echa.


Genta dan beberapa orang yang berada di sana pun mengangguk mengerti. Namun, alarm emergency ICU berbunyi membuat beberapa dokter dan perawat berlarian ke sana. Dan ternyata di ranjang pesakitan Ayanda lah alarm itu berbunyi.


"Bawa darah yang baru saja diambil," titah dokter Handoko.


"Hanya sedikit, dok," sahut perawat.


"Bawa saja."


Dokter Handoko ikut serta berlari sedangkan mata Ecah sudah berkaca-kaca. Dan air mata yang sedari tadi menganak, kini tumpah juga.


"Mamah," lirihnya.


"Aku yakin, Mamahmu kuat," ujar Radit.


Pendonoran darah masih tetap berlangsung, dengan hati yang sangat gundah Echa selalu memohon kepada sang Maha Kuasa untuk memberikan kesembuhan kepada mamahnya. Hingga bulir bening menetes di ujung mata Echa. Radit hanya bisa menggenggam tangan Echa seraya menyalurkan kekuatan.


Setengah jam kemudian, ada kabar jika kondisi Ayanda mulai stabil. Kabar itu sangat membuat Echa bahagia.


"Ini berkat kamu, Sayang." Radit pun memeluk tubuhku Echa dengan lengkungan senyum yang sangat lebar.


****


"Apa jangan-jangan Echa yang mendonorkan darahnya?" batin Rion.


Rion pun keluar dengan alasan ke kamar mandi. Dan Amanda menuju kantin, mereka semua telah melewatkan makan malam.


Rion terus menyusuri rumah sakit. Satu demi satu nama ruangan dia baca. Hingga langkahnya terhenti ketika dia melihat ada salah satu anak buah Genta yang menjaga ruangan itu. Rion cukup lama menunggu anak buah Genta pergi, hingga kesempatan itu pun datang.


Rion mengintip dari kaca kecil yang berada di pintu. Benar dugaannya, Echa sedang terbaring lemah dengan jarum yang menancap di tangannya.


Rion membuka pintu raungan itu dengan pelan. Wajah pucat putrinya sangat jelas dia lihat.


"Dek."


Suara yang Echa kenali, suara yang Echa rindukan hampir seminggu ini. Lagi-lagi air mata Echa pun terjatuh. Rion berhambur memeluk tubuh putri sulungnya.


"Makasih Dek, kamu telah menyelamatkan Mamah," ucap tulus Rion.


"Apapun akan Echa lakukan untuk keselamatan Mamah. Nyawa Echa sekalipun akan Echa korbankan demi Mamah," terangnya.


"Om yang berterus terang kepada Echa. Bukan tanpa alasan Om lancang, tidak ada yang bisa menolong Ayanda selain Echa. Om gak ingin cucu-cucu Om kehilangan sosok figur seorang ibu. Dan Om juga tidak ingin melihat putra Om terpuruk lagi. Sudah cukup Gio kehilangan dua sosok wanita yang sangat dicintainya. Dan jangan sampai dia kehilangan wanita yang sangat amat dicintainya lagi," ucap lirih Genta.


Rion teringat akan ucapan dan juga perdebatan antara dirinya dan juga Gio.


Satu jam sebelum darah yang ditransfusikan habis.


"Belum ada satu pun yang menemukan golongan darah AB negatif," ujar Genta.


"Remon pun belum menemukannya," lanjut Genta lagi.


Gio hanya menatap manik mata Genta dengan sangat memohon. Genta pun mengangguk dan meninggalkan ruang ICU. Menghubungi setiap anak buahnya untuk mencari golongan darah AB negatif.


"Gi, jika stok kantong darah AB negatif tidak ada ataupun orang yang memiliki golongan darah AB negatif sulit ditemukan, jalan satu-satunya hanya Echa," ujar Rion.


"TIDAK!" tolaknya mentah-mentah.


"Gua gak ingin semakin memperburuk keadaan Echa. Putri gua juga sedang berjuang melawan sakitnya. Gua gak mau menambah beban untuk Echa," jelasnya.


"Tapi, kalo mereka semua gak dapat darah AB negatif gimana? Lu mau Ayanda meninggalkan kita semua?" tanya Rion.


"Istri gua gak akan pergi," bentaknya.


"Pak Gio, apa salahnya kita meminta bantuan kepada Echa. Saya yakin, Echa akan dengan senang hati mendonorkan darahnya untuk Mbak Aya. Kita semua masih membutuhkan Mbak Aya, anak-anak Pak Gio lebih membutuhkan Mbak Aya," ucap pelan Amanda.


"Sekali tidak tetap tidak," tolaknya lagi.


Rion dan Amanda hanya menghela napas kasar. Mereka tahu, Gio sangat menyayangi Echa. Jadi, dia tidak ingin menambah beban Echa. Kondisi Echa pun masih dalam pemulihan.


Gio beranggapan, jika musibah yang menimpa istri-istri dan anak-anaknya karena kesalahannya. Dia tidak becus dalam menjaga keluarganya.


Ternyata Genta mendengar apa yang diperbincangkan oleh Gio, Rion serta Amanda tentang Echa yang memiliki golongan darah yang sama dengan Ayanda. HIngga Genta berkonsultasi terlebih dahulu kepada dokter yang menangani Echa sebelum Genta mengambil tindakan.


****


Kondisi Ayanda berangsur membaik karena transfusi darah yang berjalan dengan sangat baik. Tak sedetik pun Gio meninggalkan istrinya yang masih berada di ruang ICU. Dia ingin menjadi orang yang pertama dilihat oleh istrinya ketika istrinya membuka mata.


Tak dipungkiri, Gio pun penasaran dengan orang yang sudah bersedia mendonorkan darahnya untuk Ayanda. Dan dia berjanji untuk memberikan apapun yang diinginkan oleh si pendonor.


Lamunan Gio buyar ketika dia merasakan tangan Ayanda yang dia genggam bergerak.


"Mommy Sayang," panggil Gio.


Tangannya merespon panggilan GIo. Dan matanya perlahan mulai mengerjap untuk membuka mata.


Satu detik.


Dua detik.


Tiga detik.


Hingga sepuluh detik, mata Ayanda perlahan terbuka. Air mata kebahagiaan lolos begitu saja dari mata Gio.


"Akhirnya Mommy sadar," ucapan syukur Gio panjatkan.


Senyuman kecil tersungging di bibir Ayanda. Dan tak lama wajahnya sedikit meringis karena merasakan sakit di bagian perut akibat hecting.


"Jangan banyak bergerak, Sayang. Perut Mommy masih luka," cegah Gio.


"Anak-anak?"


"Jangan pikirkan anak-anak dulu ya, fokus kepada kesembuhan Mommy dulu. Abang dan Adek dijaga oleh Beby dan Arya. Dan Echa dijaga oleh Ayah dan Bundanya," urai Gio.


Ayanda pun mengangguk lemah. Gio menekan tombol darurat. Dan tak lama dokter Handoko datang. Dia memeriksa keadaan Ayanda serta organ vital. Dan sesuai yang dikatakan dokter Handoko sebelumnya. Kondisi Ayanda sudah satbil dan berangsur membaik.


"Pasien bisa dipindahkan ke rumah rawat," ujar dokter Handoko.


Berita tentang Ayanda yang sudah sadar pun sampai ke telinga Echa. Echa pun merasa tenang dan bahagia mendengar kondisi sang mamah. Meskipun kondisi Echa melemah kembali, tetapi dia sangat ikhlas mendonorkan darahnya untuk sang mamah. Apapun akan dia pertaruhkan untuk kesembuhan sang Mamah. Karena selama ini Mamahnya sudah banyak berkorban untuk dirinya. Dan pengorbanan yang Echa lakukan pin tidak akan pernah bisa membalas pengorbanan Mamahnya selama ini.


"Dek, makan dulu," titah Rion.


Echa pun mengangguk dan menuruti semua yang dikatakan ayahnya. Karena sekarang dia dirawat oleh Rion, Amanda kembali ke Jakarta karena harus mengurus Riana. Dan Radit harus membantu Papihnya di rumah sakit di Bandung.


"Echa rindu seperti ini," ucap Echa.


Rion menatap lekat manik mata putrinya.


"Ecah rindu bermanja dengan Ayah. Minta ini-itu kepada Ayah. Hanya usia Echa yang dewasa, tapi Echa juga ingin selalu dimanja," ungkapnya.


Hati Rion mencelos ketika mendengar ungkapan hati Echa. Rion sadar, selama ini Echa lebih menghabiskan waktu dengan keluarga mamahnya. Karena Rion sendiri terlalu sibuk dengan keluarga kecilnya.


"Maafkan Ayah, Dek," sesal Rion.


"Selama ini Ayah tidak memiliki banyak waktu untuk kamu. Tidak bisa mencurahkan kasih sayang yang banyak untuk kamu dan selalu menjadi orang yang terakhir yang mengetahui kondisi kamu," sesalnya.


"Ayah gak usah meminta maaf, Echa tidak akan menuntut apa-apa dari Ayah. Echa juga sadar, Ayah memiliki Riana sekarang. Kasih sayang Ayah pastinya akan terbagi. Sama halnya dengan Mamah."


"Bagaimana pun, Ayah dan Mamah adalah orangtua kandung Echa. Tanpa kalian, Echa tidak akan hadir ke dunia ini," ungkapnya.


Rion pun tersenyum dan merasa bangga kepada putrinya ini. Hidup sulit yang dilalui Echa menjadikannya anak yang kuat. Anak yang menumpahkan keluh kesahnya pada dirinya sendiri. Anak yang ingin slalu mandiri dan merasakan rasa sakit yang dia alami seorang diri. Tanpa ingin harus orang lain tahu akan apa yang sedang dia rasakan.


"Boleh Ayah memeluk kamu?"


Echa merentangkan tangannya agar Rion memeluknya. "Echa tetaplah putri manja Ayah," kata Echa di dalam pelukan Rion.


Dibalik kejadian dan musibah ini ada hikmah yang didapat oleh Echa. Rindu untuk dipeluk hangat dan bermanja dengan ayahnya kini terbayar sudah. Terkadang dia berpikir, apakah di usianya yang sudah menginjak 22 tahun, sudah tidak bisa lagi bermanja dengan ayahnya?


"Echa rindu masa-masa Echa, Mamah dan Ayah berada di satu atap. Echa rindu dengan teriakan Mamah. Echa rindu dengan keposesifan Ayah terhadap Mamah. Echa rindu semua, tentang keluarga kecil kita dulu."


Isi hati sesungguhnya seorang anak yang harus merelakan kedua orangtuanya berpisah. Kenangan-kenangan manis di rumah itu, Mbak Ina dan Pak Mat yang menjadi saksi betapa bahagianya mereka di kala itu.


Echa melonggarkannya pelukannya. Dia menatap manik mata ayahnya.


"Ayah tau gak? Ketika Echa pertama kali bertemu Ayah, Echa merasa sangat bahagia. Selama hampir 5 tahun, Echa hanya mengkhayal tentang Ayah. Menerka-nerka bagaimana rasanya jika memiliki Ayah. Bermain bersama Ayah, digendong sama Ayah. Dan Echa ingin seperti anak-anak yang lain, ketika mereka dijahili oleh temannha yang lain ada Ayah mereka yang akan memasang badan untuk mereka. Tidak seperti Echa yang hanya harus diam dan mengalah," ucapnya dengan senyum kecil.


Rion membeku dengan ucapan akan keinginannya Echa sewaktu kecil. Hatinya sakit ketika melihat senyum kecil yang sangat terlihat menyedihkan. Ingin rasanya Rion mengulang waktu. Dan mengatakan ribuan bahkan jutaan maaf untuk putri sulungnya ini.


"Maafkan Ayah. Dek. Ayah memang bukanlah Ayah yang baik untuk kamu. Ayah tidak bisa menjadi pelindung untuk kamu," sesalnya.


Echa berhambur memeluk tubuh Ayahnya. Sebenarnya, dia juga tidak ingin mengingat memori masa kecilnya yang bisa dibilang sangat menyedihkan. Tumbuh seorang diri karena Mamahnya sibuk bekerja dan ayahnya entah ke mana. Hanya Genta dan Gio yang selalu menemaninya. Tapi, entah kenapa memori itu tiba-tiba hadir lagi di kepalanya.


"Ayah tetaplah yang terbaik untuk Echa. Meskipun, kedatangan Ayah terlambat tapi Echa merasa sangat bersyukur. Karena Echa memang memilki seorang Ayah. Dan Mamah gak bohong akan hal itu."


"Papa memanglah laki-laki yang menjaga Echa dari kecil. Menyayangi Echa dengan sangat tulus. Tapi, Mamah selalu bilang, Ayah kandung Echa itu Ayah bukan Papa. Ketika Echa menikah kelak, Ayahlah yang akan Echa cari sebagai wali nikah. Ayahlah yang akan Echa cari untuk meminta restu."


"Mungkin, Tuhan mendatangkan sosok pria hebat seperti Papa supaya Echa sedikit demi sedikit bisa merasakan kasih sayang dari seroang Ayah. Merasakan bagaimana disayangi oleh Mamah dan juga Papa," tukasnya.


"Echa tidak akan pernah membandingkan Ayah dan Papa. Kalian berdua adalah lelaki terhebat yang Echa miliki. Kalian berdua yang mengajarkan Echa banyak hal. Dan kalian berdua yang memberikan kasih sayang yang sempurna untuk Echa."


"Percayalah Yah, Papa memang selalu menjadi orang pertama yang melindungi Echa. Tapi, Papa tidak berniat untuk mendahului Ayah. Papa pun selalu bilang kepada Echa ...."


*K*amu boleh menyayangi Papa tapi jangan melebihi kasih sayang yang kamu miliki untuk Ayahmu. Berikanlah kasih sayang yang berlimpah untuk Ayah kamu karena di dalam diri kamu ada darah Ayahmu yang mengalir. Papa tulus menyayangi kamu, meskipun Papa bukanlah ayah kandung kamu. Ketika kamu tidak bisa membalas kasih sayang Papa pun itu tidak masalah untuk Papa. Cukup kamu panggil saya dengan sebutan Papa, hati Papa sudah sangat bahagia.


...----------------...


Jangan lupa komen, Karena sekarang ini aku butuh penyemangat. Kondisiku lagi down dalam menulis.😭