
"Jangan berteman dengan dia. Ibunya seorang pelakor," pekik seorang ibu terhadap anaknya ketika pulang sekolah.
"Siapa yang Tante maksud?" tanya Aska.
"Ibumu, siapa lagi? Tampang alim tapi kelakuan begitu. Belum cukup punya suami kaya," ocehnya.
"Mommy ku tidak seperti itu," jawab lirih Aska.
"Jangan-jangan ayahmu juga hasil merebut suam orang." Si ibu itu pun langsung pergi meninggalkan Aska yang sudah berkaca-kaca.
Kejadian itu ketika Aska pulang sekolah. Dan semua wali murid yang menjemput anak-anaknya memandang Aska dengan tatapan tajam dan seolah benci. Aska langsung berlari ke dalam mobil yang sudah menjemputnya.
Bukan hanya Aska yang ditatap tajam oleh sang ibu. Aksa pun sama, namun Aksa bersikap biasa saja seperti sedang tidak terjadi apa-apa.
Selama perjalanan pulang sekolah, Aksa melirik ke arah Aska yang sudah berwajah muram. Aksa tidak bisa menanyakan hal apapun kepada adiknya karena Aska sangatlah tertutup perihal masalah pribadi. Hanya kepada sang kakak dia mau bercerita.
Sesampainya di sana, Aska langsung berlari menuju kamarnya. Sedangkan Aksa mencari Mommy-nya.
"Nyonya tidak ada, Den." Seorang ketua pelayan menyahuti teriakan Aksa.
"Ke mana?"
"Kantor polisi katanya." Aksa pun mengangguk.
Di kamarnya, Aksa masih diam seolah tidak peduli dengan adiknya yang semakin murung. Padahal, hatinya merasa sedih melihat Aska seperti itu.
Aska hanya akan memandang foto Echa berlama-lama seakan dia sedang mengutarakan semua masalah kepada kakaknya.
"Makan dulu, Dek." Aksa memecah keheningan.
"Abang duluan aja," sahutnya.
Aksa pun meninggalkan Aska. Dia hanya makan seorang diri dan memilih makan di ruang keluarga dengan menonton televisi. Baru saja dia menghidupkan televisi besar, berita tentang Mommy dan ayahnya sedang menjadi perbincangan hangat. Aksa langsung mematikan televisi. Dia tidak ingin termakan oleh berita macam itu.
Setelah berolahraga, Aksa masuk ke kamarnya dan Aska masih betah memandang foto Echa. Dia pun bergegas membersihkan diri. Dia berharap Mommy dan Daddy-nya akan segera pulang.
Deru mesin mobil terdengar, membuat Aksa berlari menghampiri sang Mommy lalu memeluk tubuhnya.
"Hey, kenapa jagoan Mommy?" tanya Ayanda.
"Abang gak kangen Daddy?" Aksa pun memeluk tubuh ayahnya.
Ayanda dan Gio membawa Aksa ke ruang keluarga. Dan Aksa tidak melepaskan tangannya yang sedang merangkul manja pinggang sang Mommy.
"Adek di mana Bang?" tanya Gio.
"Di kamar."
Ayanda merasa ada yang tidak beres dengan anaknya ini. "Ada apa? Cerita sama Mommy."
Aksa menatap Gio dengan tatapan penuh permohonan. Dan Gio tahu Aksa memohon apa.
"Baiklah, Daddy bersih-bersih dulu. Daddy tahu kamu tidak ingin menangis di hadapan Daddy," ucap Gio sambil mengusap lembut kepala Aksa.
"Ada apa Abang?"
"Mommy ... apa benar Mommy merebut Ayah dari Bunda?" Ayanda pun tertawa mendengarnya lalu mengusap lembut kepala Aksa.
"Tidak ada yang merebut Ayah, Bang. Mommy dan Ayah hanya bersahabat."
"Ta-tapi orang-orang ...."
"Abang, orang-orang tidak tahu bagaimana hidup Mommy dulu. Orang-orang tidak tahu bagaimana hidup Mommy sekarang. Mereka hanya sebagai penonton. Apa kamu pernah melihat Mommy dan Ayah berpelukan?" Aksa pun mengangguk.
"Apa Daddy mu marah?" Aksa menggeleng.
"Kata mereka, Mommy merebut Daddy juga dari orang lain?" Lagi-lagi Ayanda tertawa.
"Kalo itu, kamu tanya Daddy. Biar kamu tahu kejelasannya." Aksa pun mengangguk lalu menemui Daddy-nya.
Ayanda hanya menghela napas kasar. Berita ini membawa dampak negatif pada psikis kedua putranya. Dia pun bangkit dari duduknya dan melangkah ke kamar si kembar.
Ayanda membuka pintu kamar kedua putranya dengan pelan. Aska sedang memandang foto Echa dengan tatapan sedihnya.
"Adek," panggil Ayanda.
Aska hanya menatap sang Mommy lalu pandangannya beralih pada foto Echa kembali.
"Mommy lebih baik keluar. Adek tidak suka dengan pelakor."
Ayanda pun terdiam mendengar ucapan dari putra bungsunya ini. Baru kali ini Aska bersikap ketus kepadanya. "Siapa yang pelakor, Dek?"
"Mommy! Mommy telah merebut Ayah dari Bunda. Padahal Bunda lagi sakit," sentaknya.
Hati Ayanda terasa sakit mendapat sentakan dari putra kesayangannya. Tapi, dia mencoba untuk menahan air matanya agar tidak menetes.
Sedangkan di ruangan sang Daddy, Aksa masih mendengarkan cerita tentang pertemuan pertama Daddy-nya dengan sang Mommy.
Bulir bening pun menetes di ujung mata Aksa tatkala mendengar cerita sedih tentang Mommy dan Kakaknya. Penyakit Kakaknya dan juga perjuangan Mommy-nya untuk menyembuhkan penyakit Echa. Apalagi mendengar Ayahnya yang menyakiti hati sang Mommy.
"Hati Abang sakit ya, Dad," lirihnya. Gio langsung memeluk tubuh sang putra.
"Tidak mudah menjadi Mommy dan Kakak, Nak. Makanya kamu harus menjaga Mommy dan Kakak, sayangi dua wanita hebat itu. Jangan pernah buat mereka menangis." Aksa pun mengangguk.
"Bang, Mommy dan Ayah dekat karena mereka memiliki anak yaitu Kakak. Mereka tidak ingin Kakak tidak mendapatkan kasih sayang yang sempurna dari mereka. Serumit apapun kisah Ayah dan Mommy dulu, sesakit apapun Mommy di masa lalu. Mommy dan Ayah berusaha menjadi orangtua yang baik. Yang sempurna untuk Kakak."
"Abang tahu gak, gimana perasaan Kakak ketika tau Mommy dan Ayah pisah?" tanya Gio.
"Sedih."
"Tidak hanya itu, Kakak rela menahan sedihnya bertahun-tahun karena Kakak pun tidak ingin membuat Mommy sedih."
"Maafkan Abang Daddy, Abang hampir percaya dengan ucapan orang-orang itu. Benar kata Kakak," terang Aksa.
"Kakak bilang apa?"
"Kakak hanya bilang kalo Abang gak boleh percaya begitu aja kalo ada berita buruk tentang Daddy dan Mommy."
Gio pun tersenyum, "Kalian anak-anak hebat."
Aksa menatap sang Daddy. "Daddy sangat menyayangi Kakak?"
"Tentu."
"Ta-pi ...."
"Sebelum Daddy mencintai Mommy, Daddy terlebih dahulu mencintai Kakak sejak pertama kali bertemu dengannya. Daddy sudah menganggap Kakak sebagai anak Daddy. Karena Daddy hanya berdua bersama Kakek di rumah besar. Adik dan calon keponakan Daddy meninggal. Semenjak kehadiran Kakak, hidup Daddy dan Kakek semakin berwarna. Dan Kakek pun sangat menyayangi Kakak."
"Abang ingin seperti Daddy, Daddy sangat baik." Gio pun memeluk tubuh Aksa.
"Daddy sayang kalian," ungkapnya.
"Abang lebih sayang Daddy."
Sedangkan di kamar, setelah Ayanda pergi Aska menangis. Aska tahu, Mommy-nya menangis tadi.
"Maafkan Adek, Mom," lirihnya.
Aksa yang baru saja melihat sang Mommy menitikan air mata ketika keluar dari kamarnya dan juga Aska. Dengan cepat Aksa menghampiri Ayanda.
"Kenapa Mommy menangis?" tanya Aksa yang sudah berada di depan Ayanda.
"Mommy tidak menangis," elaknya.
Melihat manik mata Aksa bulir bening pun tanpa aba-aba meluncur membasahi pipinya. "Apa yang udah Adek lakuin ke Mommy?" tanya Aksa. Dan Ayanda hanya menggeleng.
"Abang sayang Mommy, Abang percaya sama Mommy." Aksa langsung memeluk tubuh Ayanda.
Gio yang melihat dan mendengar adegan ini tersenyum bahagia. Dia yakin, Aksa akan menjaga Ayanda dan juga Echa dengan sangat baik.
"Abang tau kenapa Adek seperti itu?" Tatapan penuh permohonan yang Ayanda berikan membuat Aksa mengangguk dengan cepat.
Ayanda membawa Aksa ke kamarnya. Sedangkan Gio masuk ke kamar si kembar.
"Kenapa Adek menangis?" tanya Gio tiba-tiba membuat Aska dengan cepat menghapus air matanya.
Gio duduk di samping Aska dan mengusap lembut kepala sang putra. "Kamu habis membentak Mommy?" tanya Gio.
Aska semakin menunduk tak berani menatap ke arah Gio. "Setetes air mata yang mengalir di wajah seorang ibu karena ucapan ataupun tindakan yang anaknya lakukan terhadapnya, menandakan anak itu telah durhaka sama ibu yang telah merawat kamu, mengandung kamu dan juga menyayangi kamu dengan tulus."
"Jika kamu marah sama Mommy atau Daddy ataupun Abang dan juga Kakak, bicarakan baik-baik. Jangan seperti ini." Gio mengusap punggung Aska yang bergetar karena tangisan.
"Kasihan Mommy, harusnya kita semua mensupport Mommy ketika Mommy sedang dihujat seperti ini. Bukan malah membuat Mommy down."
"Mommy mampu tertawa dan seakan tidak terjadi apa-apa. Tanpa kalian ketahui, Mommy menangis dan juga sedih karena Mommy memikirkan anak-anaknya. Mommy takut, kamu dan Abang terpengaruh oleh berita tersebut. Dan ternyata, ketakutan Mommy terjadi," ungkap Gio.
"Se-semua teman Adek tidak ada yang mau berteman dengan Adek. Karena Mommy seorang pelakor. D-dan Mommy pun telah menjadi perebut pacar orang ketika Daddy ma-masih pacaran dengan ke-kasih Daddy di Singapura."
Gio sempat terkejut dengan apa yang dijelaskan oleh Aska. "Tidak ada yang merebut, tidak ada perebut. Semua sudah takdir Tuhan, Dek," jelas Gio.
Sedangkan di kamar Ayanda, Aksa menceritakan semuanya tentang yang Aksa lihat dan dengan tadi di sekolah.
"Ibu itu mulutnya sangat jahat Mommy," ucap Aksa.
"Biarkan saja, Bang. Yang terpenting Abang, Daddy dan Kak Echa percaya sama Mommy."
"Abang sayang Mommy, jangan menangis lagi," katanya sambil mengusap air mata sang Mommy.
"Kamu seperti Daddy mu, Nak."
"Abang ingin seperti Daddy yang memperlakukan semua wanita dengan baik dan lembut," tukasnya.
Ayanda pun memeluk tubuh Aksa begitupun Aksa yang tak kalah erat memeluk tubuh Ayanda.
Pagi pun tiba, namun Aska masih terlihat murung dan enggan sekali berucap kepada sang Mommy.
"Adek mau rasa apa?" tanya Ayanda dengan penuh ketulusan.
"Adek bisa ambil sendiri," ketusnya.
Aksa sudah memandang sinis kepada adiknya. Sedangkan Ayanda sudah kembali ke kursinya dan tersenyum kecut. Tangan Gio sudah mengusap pundak Ayanda.
Sarapan pun terasa hambar, dan Ayanda sama sekali tidak bernafsu makan. Apalagi mendapatkan sikap seperti ini dari putra kesayangannya.
Setelah mereka selesai sarapan, si kembar pun pergi ke sekolah. Dan Gio berangkat ke kantor. Seperti biasanya mereka akan mengecup pipi dan Mommy. Tapi, tidak dengan Aska.
"Sabar, ya Mom." Ayanda pun mengangguk pelan.
Apa berita ini sangat menyakiti perasaan kamu, Dek? Apa yang harus Mommy lakukan?
Di dalam mobil Aksa menatap tajam ke arah Aska. "Bersikap baik lah kepada Mommy, Mommy yang sudah melahirkan kita," imbuh Aksa.
Aska hanya terdiam. Dia masih betah menatap jalanan dari kaca jendela mobil. Setibanya Aska di sekolah, semua teman-teman Aska menghindarinya. Termasuk Chika, teman perempuan yang sangat dekat dengan Aska.
"Maaf Aska, aku tidak bisa berteman dengan anak seorang pelakor. Mommy mu bukan orang yang baik," ketus Chika.
Aska hanya menunduk dalam. Sekarang, sudah tidak ada lagi yang mau berteman dengannya. Apalagi semua mata selalu menatap tajam ke arah Aska.
Aska pun duduk di kursi paling belakang yang berada dipojokkan. Hari ini hari yang benar-benar menyedihkan untuknya. Tidak ada teman, tidak ada yang menyapa. Dia seolah dianggap tak terlihat oleh teman-temannya. Hanya karena berita tentang Mommy-nya yang katanya seorang pelakor.
***
Amanda sudah diperbolehkan untuk pulang. Setibanya mereka di rumah, Rion menceritakan apa yang Riana tanyakan kepadanya semalam. Amanda hanya menutup mulutnya tak percaya.
"Biar Bunda yang bicara sama Riana nanti." Rion pun mengangguk.
"Bolehkan Abang menemui Yanda? Perasaan Abang tidak enak, apalagi Riana bilang Aska dicibir oleh wali murid lainnya." Amanda pun mengangguk cepat.
"Temuilah Bang, tapi Manda gak bisa nemenin Abang." Rion pun mengangguk.
"Kamu percaya kan sama Abang?" Amanda pun mengangguk dan tersenyum.
"Kedekatan Abang dan Mbak Aya di mata Manda hanya sebagai adik dan kakak. Ini hanya pandangan mereka yang tidak suka dengan Abang ataupun Mbak Aya," jelasnya.
"Makasih, Sayang." Rion pun mengecup kening Amanda sangat dalam.
Ketika mobil Rion hendak keluar dari kediamannya, Arya, Beeya dan juga Beby berpapasan di pagar rumah Rion.
"Mau ke mana?" tanya Arya.
"Ke rumah Yanda."
"Bee ikut Ayah," rengek Beeya.
"Jangan Bee," larang Beby.
"Gak apa-apa, mungkin Beeya kangen Mommy-nya." Beeya pun mengangguk.
"Bee kangen Mommy," ucapnya.
Beeya pun masuk ke dalam mobil Rion, sedangkan Rion dan Arya melanjutkan langkahnya untuk menjenguk Amanda.
"Udah sehat Mbak?" Amanda pun mengangguk seraya tersenyum ke arah Beby.
"Nda, mau nanya. Masalah ...."
"Aku tahu itu gak bener kok. Aku percaya dengan suamiku, aku juga percaya dengan Mbak Aya. Tidak mungkin mereka seperti itu."
Ada kelegaan di hati Arya dan juga Beby mendengar penuturan Amanda. Mereka takut, jika Amanda akan berburuk sangka kembali kepada Ayanda.
"Jangan khawatir, aku sudah mulai terbiasa dengan kedekatan Mbak Aya dan juga Bang Rion. Awalnya memang sulit, tapi semakin ke sini hatiku malah bahagia melihat mereka seperti itu. Apalagi mendengar hubungan mereka di masa lalu yang sangat menyakitkan. Pasti sungguh tidak mudah bagi Mba Aya dan Bang Rion untuk menjalin keakraban serta kekompakan seperti ini. Tapi, mereka berdua mengesampingkan ego mereka. Tujuan mereka sama, ingin membuat Echa bahagia. Aku sangat bangga kepada mereka, jika aku ada diposisi mereka belum tentu aku bisa seperti itu."
"Syukurlah kalo begitu, kamu dan Ayanda sama-sama baik. Mampu merubah Rion dan mendampingi Rion dengan semua kelebihan dan kekurangan yang Rion miliki."
Mereka asyik berbincang ria sambil menikmati camilan yang dihidangkan oleh Mbak Ina. Arya pun merogoh sakunya untuk mengambil ponsel. Karena istrinya dan juga Amanda sedang membahas yang tidak dimengerti Arya.
Arya membuka media sosial yang sudah lama tidak dia buka. Alangkah terkejutnya ketika ada salah satu akun yang mengadakan siarkan langsung adegan Rion sedang memeluk Ayanda yang tengah menangis. Dan Rion pun mengusap lembut punggung Ayanda.
Tak lama seorang anak laki-laki datang dengan seragam sekolah. Pelukan mereka berdua pun terlepas.
"Mommy jahat! Adek benci Mommy."
Mata Arya melebar dengan sempurna. Dia memberikan video siaran langsung tersebut kepada Beby dan Amanda. Mereka pun terkejut.
"Ulah siapa lagi ini?" geram Arya.
****
Kalo ada notif UP langsung baca ya, jangan ditimbun-timbun ... Jangan bosen kalo kalian baca note ini, karena hanya dengan cara ini kalian membuat karyaku memiliki nilai. Aku sayang kalian ...
Insya Allah mulai besok aku UP tengah malam/pagi.
Happy reading ...