
Gio menghela napas kasar ketika melihat bukti yang diberikan oleh Remon tentang siapa yang menampar Aksa. Wajahnya memerah menandakan dia marah.
"Belum apa-apa aja udah berani main tangan. Gimana kalo dia udah jadi pendamping anak gua? Mau diinjak-injak harga diri anak gua," geram Gio dengan nada yang sedikit meninggi.
"Dia cemburu sama anaknya si Sarah."
"Emang dia siapanya anak gua? Gak nyadar diri." Emosi Gio sudah sangat memuncak. Ingin rasanya dia membalas kelakuan perempuan yang sudah menyakiti fisik anaknya.
"Seumur-umur, gua gak pernah main tangan ke anak gua. Semarah-marahnya gua belum pernah telapak tangan gua menyentuh kulit anak gua. Dan siapa dia? Beraninya menyakiti fisik anak gua di depan umum. Perempuan angkuh tak tahu malu."
Ucapan sangat pedas yang Gio lontarkan. Hatinya sudah sangat mendidih sekarang ini.
"Bukan hanya Aksa yang ditampar." Sepenggal kalimat yang membuat Gio menatap Remon dengan penuh tanda tanya.
"Aska pun terkena tamparan."
Brak!
Gebrakan meja terdengar sangat nyaring di telinga. Urat-urat kemarahan sudah muncul di wajah Gio. Kemarahan Gio tidak bisa ditutupi. Karena dia sendiri sedikit syok melihat kenyataan yang ada. Dengan segera, Gio menghubungi seseorang. Samar-samar Remon mendengar, jika Gio mengajak seseorang untuk bertemu. Apa jangan-jangan Gio akan menumpahkan kemarahannya kepada Rion? Remon sangat tahu bagaimana bosnya jika sudah marah.
Di lain tempat, Rion sedang memijat pangkal hidungnya pusing. Bagaimana tidak? Gio baru saja menghubunginya. Rion dapat mendengar jelas ucapan Gio menyiratkan akan kemarahan. Apa Gio sudah mengetahui tentang sikap Riana? Dia menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi kebesarannya. Yang ada di kepalanya hanyalah sebuah pepatah. Serapat-rapatnya bangkai disembunyikan. Pasti akan tercium juga bau busuknya.
"Kenapa kamu menjelma menjadi anak seperti ini? Padahal semua kasih sayang Ayah sudah Ayah berikan kepada kamu. Apapun yang kamu inginkan, selalu Ayah turuti."
"Apa ini karma untukku?" gumamnya sambil menunduk dalam.
***
Aksa dan Aska sedang berada di ruang OSIS berdua. Mereka sedang menerka-nerka siapa yang sudah membocorkan rahasia mereka. Sehingga sang daddy terlihat sangat murka.
"Apa Bee sama Key?" Dengan cepat Aska menggeleng.
"Mereka sudah janji gak akan bilang sama Daddy." Aksa hanya menghela napas kasar ketika mendengar jawaban dari Aska.
"Tapi, Adek curiga sama satu orang," ujarnya.
"Siapa?"
"Ziva." Kedua alis Aksa menukik dengan tajam.
"Bukannya Adek suudzon. Tapi, yang tahu kejadian itu cuma mereka bertiga dan juga Riana. Abang ingat kan, pas Ziva berkunjung ke rumah." Aksa mengangguk.
"Gelagat Tante Sarah beda gitu. Berkali-kali beliau ingin bertanya sesuatu kepada Mommy. Tapi, selalu diurungkan."
"Maksud kamu Ziva yang mengatakannya kepada Tante Sarah?" Aska mengangguk.
"Ziva kan deket sama Mamihnya. Pasti apapun akan dia ceritakan kepada Tante Sarah. Pas Abang kena tampar cewek itu." Aska enggan menyebut nama Riana.
Ketika Aksa membenci seseorang, dia tidak akan menyebut nama itu sepanjang kemarahannya.
"Nanti coba Abang tanya."
Aska pun mengangguk pelan. Dan Aksa memilih pergi untuk menemui Ziva. Di kelas, Ziva tidak ada. Langkah Aksa dilanjut menuju ke kantin. Suasana kantin sangat penuh. Aksa celingak-celinguk mencari keberadaan Ziva. Hingga dia tersenyum ke arah satu meja. Dan kebetulan di meja itu ada Riana dan juga Keysha. Mendapat senyuman manis dari Aksa, Riana segera membalasnya. Aksa melangkahkan kakinya dan semakin mendekat. Membuat jantung Riana bertalu-talu. Berharap Aksa mau memaafkannya. Ternyata salah, Aksa tersenyum ke arah Ziva yang juga tersenyum ke arah Aksa. Dan Aksa bukan menghampiri Riana melainkan Ziva.
Sakit tak berdarah, judulnya. Melihat keakraban Ziva dan juga Aksa membuat ulu hati Riana semakin sakit. Dia memilih pergi dari pada harus melihat adegan-adegan berikutnya.
Setelah Riana pergi, Aksa mulai bertanya kepada Ziva. "Apa kamu membicarakan perihal penamparan aku ke orang lain?" Ziva yang sedang asyik mengunyah pun seketika berhenti.
"Aku cuma cerita ke Mamih." Aksa mengusap wajahnya gusar.
"Kenapa kamu harus cerita? Mamih kamu pasti bilang ke Daddy aku. Dan sekarang ...."
"Sama aja. Daddy aku bukan orang bodoh. Daddy aku pasti mencari tahu tentang siapa yang udah nampar aku," ujarnya.
"Kan aku udah pesan ke kamu. Jangan cerita ke siapa pun. Urusannya bakal runyam," sentaknya.
Ziva hanya menunduk dan Aksa sudah tidak bisa berpikir jernih. Dia takut, jika sang Daddy akan berlaku kejam kepada Riana. Bagaimana pun Riana adalah adik dari Kakaknya. Dia juga masih menganggap Riana seperti adiknya. Aksa meninggalkan Ziva tanpa sepatah kata pun. Membuat Ziva merasa bersalah akan hal ini.
***
Ting!
Suara notif pesan terdengar. Amanda yang sedang bersantai segera menggapai ponselnya di atas nakas.
"Ke rumah saya nanti malam. Ada acara kecil-kecilan. Jangan lupa ajak Riana karena saya ingin membahas tentang perjodohan Aksa dan Riana." -Giondra-
Senyum melengkung indah di bibir Amanda. Pesan itu dikirim langsung oleh Gio kepada Amanda. Karena hubungan Amanda dan Ayanda sudah tidak lagi harmonis. Mereka jarang berkomunikasi kecuali ketika acara arisan. Itu pun, selalu Ayanda wakilkan.
"Baik, Pak. Saya akan ajak Riana."
Amanda membalas pesan dari Gio dan dia merasa sangat bahagia. Dia segera bangkit dari posisi santainya dan ingin segera menemui putrinya. Sayangnya, Riana belum pulang sekolah.
Riana tiba di rumah dengan wajah yang sangat lesu. Membuat Amanda mengerutkan dahinya.
"Ada apa?" Hanya gelengan yang menjadi jawaban dari Riana.
Kali ini, Amanda membiarkan Riana untuk menenangkan dirinya sejenak. Setelah itu, dia akan menyampaikan kabar bahagia ini kepada Riana.
Sedangkan di kamar, Riana sedang termenung. Hubungan Aksa dan Ziva semakin dekat. Apalagi, senyum Aksa yang terlihat sangat tulus kepada Ziva. Membuatnya sangat iri. Selama beberapa bulan mendekati Aksa, tidak pernah sekali pun Aksa tersenyum tulus kepadanya. Hanya senyuman penuh dengan keterpaksaan yang Akas berikan.
"Apa kurangnya aku dibanding dia?" gumamnya dengan nada yang sedikit kesal.
Satu jam sudah Riana merenungi nasibnya hatinya. Hingga suara pintu terbuka mengalihkan pandangannya. Sang bunda menghampiri Riana dengan senyum yang sangat merekah.
"Kenapa bersedih, Ri?"
"Abang." Satu kata yang menjadi jawaban dari Riana.
"Bunda punya kabar gembira untuk kamu." Amanda pun memperlihatkan pesan yang dikirimkan oleh Gio kepadanya beberapa jam yang lalu.
Mata Riana membulat sempurna, dan sudut bibirnya sedikit terangkat. Dia teringat akan kejadian tadi sepulang sekolah.
Dua jam lalu ...
Ziva berlari mengejar Aksa ke parkiran. Riana mengerutkan dahinya karena tidak biasanya Ziva tidak pulang bersama Aksa. Dari jauh Riana melihat, jika Ziva sedang berusaha membujuk Aksa. Namun, tangan Ziva ditepis secara halus oleh Aksa. Wajah Ziva pun terlihat murung. Dan mimik wajah Aksa menyiratkan rasa kecewa.
"Ada apa dengan mereka berdua? Ah, sudahlah. Palingan berantem terus baikan lagi. Adegan basi di dalam pacaran," gumam Riana dan langsung pergi dari tempat itu.
Samar-samar Riana mendengar ucapan Ziva yang sangat lirih.
"Maafin aku, Sa." Hanya itu yang Riana dengar. Namun, tidak ada jawaban dari Aksa. Dan tak lama, motor Aksa melewatinya.
Apa jangan-jangan hubungan mereka sudah putus?
"Ini kesempatan kamu, Ri." Sebuah kalimat yang menyadarkan Riana dari lamunannya. Riana pun mengangguk seraya tersenyum.
"Kamu harus dandan yang cantik. Biar calon mertuamu terpesona akan kecantikan mu."
...----------------...
Happy reading ...