
Keberangkatan Aksa pun tiba, sesuai rencana Riana dia tidak ingin mengantar Aksa. Dan setelah menghubungi sang Mommy, dengan berat hati Riana memblokir nomor Aksa.
"Maaf, Ri ingin fokus dengan mimpi, Ri. Semoga Abang mendapatkan perempuan yang lebih pantas dan lebih baik dari Ri untuk menjadi pendamping Abang."
Delete, Riana menekan tombol bertuliskan itu. Biarkan waktu yang menghapus semua rasa yang Riana miliki kepada Aksa. Dengan cara seperti ini, Riana berharap rasa yang dia miliki untuk Aksa akan hilang. Meskipun, itu tak semudah yang diucapkan. Dan mungkin memerlukan waktu yang tidak sebentar.
Semua orang sudah berkumpul di rumah Gio. Minus Riana. Mata Aksa terus mencari sosok yang dia tunggu dan ingin memeluknya barang sejenak sebelum Aksa berangkat.
"Dia gak akan ikut," celetuk Radit.
"Kalo cinta buktiin. Bukan cuma ngasih clue," sambung Aska.
Apa Aska cemburu? Karena sang kakak sudah mulai menyayangi Riana. Tentu tidak, Aska sudah terlanjur sakit hati kepada Riana akan apa yang dilakukannya kepada sang kakak di waktu itu. Menampar Aksa di kantin sekolah.
Mereka pun pergi ke Bandara, jangan ditanya bagaimana hati Aksa. Berkali-kali Aksa menghubungi Riana namun, tak pernah ada jawaban. Malah tidak tersambung.
Gelisah, sedih campur menjadi satu. Pada awalnya, Aksa berharap momen perpisahan ini akan menjadi momen yang indah seperti film-film romantis. Tetapi, malah tidak sesuai ekspektasi. Dan tidak semanis di film-film. Melainkan sangat amat menyakitkan untuk Aksa.
Aksa berpamitan kepada semua orang di sana. "Abang pasti merindukan kalian semua," ujarnya dengan wajah yang sendu. Membuat semua orang terharu. Sendu yang ditunjukkan Aksa bukanlah sendu karena meninggalkan mereka semua. Sendu karena tidak bisa melihat dan memeluk orang yang dia sayangi.
Ketika Aksa memeluk tubuh Rion, dia sedikit berbisik. "Setelah Abang selesai kuliah dan meneruskan perusahaan Kakek. Restui Abang untuk meminang Riana." Sudut bibir Rion terangkat mendengarnya. Sungguh berani sekali turunan Gio ini.
"Baiklah. Tapi, jika kamu ingkar janji. Jangan harap Ayah merestui hubungan kamu dengan putri Ayah." Aksa mengangguk patuh. Dan pesawat pribadi milik Genta segera take off. Aksa melambaikan tangannya ke arah keluarganya.
"Kamu harus mandiri. Dan buktikan ucapan kamu," imbuh Gio.
Pesawat itu pun terbang menuju London. membawa Aksa terbang bersama cinta yang dia miliki untuk Riana. Meskipun, Riana masih menutup hatinya. Sekarang, semuanya terbalik. Setahun lalu, Riana yang mengejar-ngejar Aksa hingga Riana menyerah. Ketika Riana sudah menyerah, malah Aksa yang terus mengejar cinta Riana yang sudah tertutup untuknya.
Di kamar bernuansa pink seorang gadis sedang menyentuh bibirnya. Teringat kejadian semalam yang membuat jantung Riana terasa berhenti berdetak untuk sesaat. Bibir Aksa dengan lembut menyapu bibir Riana. Tersentak, sudah pasti. Menghindar, Riana tidak bisa. Sesungguhnya dia juga terhanyut dalam penyatuan itu. Meskipun, dia hanya diam menikmati sapuan bibir Aksa.
"Akan ku simpan sebagai tanda perpisahan terindah," gumam Riana.
Waktu terus berputar, Riana mampu menjalani hari-harinya tanpa Aksa. Begitu juga Aksa yang terus saja merepotkan sang kakak ipar setiap hari. Hanya demi ingin melihat wajah Riana. Sudah lebih dari lima bulan ini Aksa berada di London. Berkali-kali Aksa mengganti nomor ponsel, berkali-kali juga Riana memblokir nomornya. Seakan Riana memang benar-benar ingin melupakannya.
Terkadang, Radit merasa kasihan kepada Aksa. Tetapi, ini lebih baik. Biarkan Aksa yang mengejar-ngejar Riana. Daripada Riana yang bersikeras mengejar-ngejar Aksa. Tidak pantas dalam pandangan Radit.
Dan malam ini akan diadakan acara ulang tahun baby's Ale di kediaman Echa. Semuanya sudah diatur sedemikan cantik padahal Echa hanya ingin merayakan ulang tahun pertama ketiga putrinya bersama keluarga. Tetapi. para kakek dan neneknya lah yang sangat sibuk. Dari mendekor ruangan. Memesan tiga kue ulang tahun yang mahal dan bagus. Belum juga gaun yang dikenakan anak-anak Echa adalah rancangan dari rumah mode ternama.
"Cantik banget cucu-cucu Mimo," puji Ayanda yang tengah melihat baby's Ale sudah rapi dengan gaunnya.
Tiga bocah itu mencoba berlari ke arah sang nenek meskipun masih sering terjatuh. Mereka mencium pipi Ayanda secara bergantian dan memeluk tubuh Ayanda dengan eratnya.
"We yup yu," ujar mereka bertiga.
Mata Aleeya melebar ketika melihat Rion. "Entong," panggilnya yang kini melepaskan diri dari pelukan Ayanda. Dan berlari ke arah Rion.
"Cantiknya cucu Engkong." Aleeya tersenyum memamerkan giginya yang berjumlah empat. Dua di atas dan dia di bawah.
Addhitama dan Gio ikut menghampiri cucu-cucunya. dan keduanya berhambur memeluk tubuh Gio dan Addhitama. Aleena, anak pertama Echa lebih dekat dengan Addhitama. Sedangkan Aleesa lebih dekat dengan Gio. Dan si bungsu, lebih dekat dengan Rion dan Arya.
"Mau tiup lilin?" tanya Gio kepada semua cucunya. Mereka pun mengangguk kompak.
"Mumpung lagi ngumpul, gua mau minta ijin kepada kalian semua," ucap Rion tiba-tiba. Semua orang yang berada di sana menatap Rion dengan penuh tanda tanya.
"Mau ijin apa lu? Kawin lagi?" celetuk Arya.
Mata Echa melebar dengan sempurna ketika mendengar celetukan dari Arya. Dia menatap horor kepada sang Ayah.
"Selamat malam," sapa seorang perempuan yang membuat semua orang yang berada di sana menoleh serempak.
Wanita cantik berperawakan sintai dengan kulit putih tersenyum kepada semuanya. Dan membawa paper bag di tangannya.
"Nah, ini yang gua maksud," sambung Arya lagi.
Echa menatap nyalang ke arah sang Ayah yang masih terdiam tidak percaya dengan kedatangan asistennya ke rumahnya.
"Maaf Pak, saya datang terlambat," ucap wanita itu dengan memamerkan senyumnya.
"Gerak cepat banget, nih," ledek Kano dan disambut tawa puas para pria yang lain. Sedangkan tiga pasang mata sudah menatap Rion dengan tatapan membunuh. Echa mulai mendekat ke arah Rion, diikuti oleh Riana dan juga Iyan. Membuat Rion gelagapan sendirian. Sedangkan yang lainnya menjadikannya sebagai tontonan.
"Berani Ayah nikah lagi, Echa potong burung Ayah sampai habis," ancam Echa si anak pertama.
"Jangan harap pernikahan Ayah akan bahagia. Ri, akan buat istri Ayah menderita," ancam Riana si anak kedua.
"Apa mau menikmati sensasi malam pertama ditonton teman-teman Iyan yang menyeramkan?" ancam Iyan si anak ketiga.
"Tidak!" seru Rion.
...SELESAI...
...****************...
Akhirnya, selesai sudah cerita Bang Duda yang hampir 400 bab. Makasih sudah setia menemani aku kurang lebih 9 bulan ini menulis Bang Duda. Karena kesetiaan kalian Bang Duda memiliki level tertinggi.
Semoga cerita ini bukan hanya sekedar bacaan tapi juga ada pelajaran yang dapat kita petik dari bab yang disuguhkan.
Maaf kalo tulisannya berantakan, maaf kalo banyak typo. Dan maaf kalo alurnya tidak sesuai dengan keinginan kalian. Ceritaku ini tidak sebagus author-author hebat lainnya. Ceritaku hanya cerita remahan sisa bubuk rengginang. Makasih yang udah setia baca ceritaku dari Ayanda, Bang Duda, Yang Terluka hingga Dirga dan Niar.
Jangan hapus dari favorit dulu, karena masih ada Bonus chapter yang akan aku tulis. Siapakah wanita itu? Di next bab ya ...
Makasih semua ...
Sayonara ...
Sampai bertemu di kisah Yang Terluka dan Tak Kan Kulepas Lagi.😄
Untuk kisah Riana dan Aksa ijinkan aku menyelesaikan targetku dulu ya, Mak. Aku sedang berjuang di dua rumah baru. Dan jangan takut, Riana dan Aksa akan aku tulis di Noveltoon/Mangatoon. Tetapi, dengan judul yang berbeda.
Nantikan pengumumannya ...