
Sheza terus tersenyum dalam diamnya, seperti wanita yang sangat bahagia sekali malam ini.
"Hey, kamu kenapa?" tanya Rion dengan mengibaskan tangannya ke depan wajah Sheza.
Sheza masih belum tersadar dalam lamunannya. "Sheza," panggil Rion seraya menendang pelan kaki Sheza dibawah meja.
"Ya." Kagetnya dan menatap Rion.
Eh, kenapa Pak Rion ada di depan gua. Bukannya tadi dia ada di samping gua dan menyatakan cinta ke gua. Apa jangan-jangan tadi cuma khayalan gua doang.
"Kamu kenapa?" tanya Rion lagi seraya meminum jus jeruknya.
"Bukannya Bapak, eh Mas tadi duduk di samping saya?" Sambil menepuk kursi di sampingnya.
Rion menatap Sheza dengan bingung. Sedari tadi dia tidak beranjak dari tempat duduknya. Masih anteng di kursinya. Rion pun menggelengkan kepalanya.
Astaghfirullah ...
Kenapa khayalan gua bisa seliar itu.
Sheza malu sendiri dengan khayalannya. Bisa-bisanya dia berkhayal yang macam-macam. Ingin rasanya Sheza menenggelamkan wajahnya di bawah bantal karena malu sendiri.
Pesanan mereka sudah dihidangkan oleh seorang pelayan, dengan diiringi sedikit kegaduhan para staf restoran. Samar-samar terdengar jika akan datang pertemuan singkat si pemilik saham terbesar dengan sang pemilik restoran.
Saking sukanya Sheza terhadap cumi dan udang, dia melupakan seseorang yang mengajaknya. Kini Rion sedang memperhatikan Sheza yang makan dengan lahapnya.
Tangan Rion menyeka sisa saus yang berada di ujung bibir Sheza seraya tersenyum. Sheza melebarkan matanya, tak menyangka jika pria dihadapannya akan bersikap manis seperti ini.
Hati Sheza sangat berdegup kencang, hingga tangannya tak sengaja menyenggol jus alpukat miliknya. Sialnya, cipratan jus alpukat itu mengenai baju seorang wanita sosialita.
"Sialan!" umpatnya kesal.
Sheza yang mendengar umpatan dari wanita itu langsung menoleh dan akan meminta maaf. Baru saja mulutnya terbuka, melihat sosok di depannya secara otomatis mulutnya mengatup kembali. Orang yang sangat tidak mau Sheza temui sekarang muncul di hadapannya.
"Wanita miskin rupanya," celanya.
Mendengar Sheza direndahkan orang lain, Rion sangat geram. Ingin sekali Rion turun tangan, namun dia mencoba untuk sabar. Sesungguhnya dia juga penasaran dengan hubungan Sheza dan wanita sosialita itu.
"Sayang udah, malu," ucap pria yang datang bersama wanita sosialita.
"Diam!" bentaknya kepada sang pria.
Pria itu sedikit mundur, namun matanya tak henti memandang Sheza dengan tatapan bersalah.
"Mampu ternyata wanita rendahan sepertimu makan di tempat ini," cibir wanita itu.
"Ganti baju aku sekarang," teriaknya.
Rion merasa aneh dengan Sheza sekarang, bukan Sheza yang dia kenal. Biasanya dia akan menegakkan kepalanya kepada siapapun.
"Ma-maaf," ucap Sheza.
"Dari dulu hanya minta maaf saja kerjaanmu. Wanita tidak berguna." Sheza hanya menunduk dan diam ketika wanita itu memaki-maki dirinya.
"Maaf nona, jaga bicara Anda," timpal Rion.
"Siapa Anda? Korban baru si wanita miskin ini," ejeknya dengan senyuman sinis.
"Jaga bicara kamu Caren!" bentak Sheza yang mulai menegakkan kepalanya.
"Oh berani kamu sekarang." Caren maju dan mencengkram dagu Sheza.
"Caren lepas!" bentak pria itu sambil menarik tangan Caren yang sedang mencengkram dagu Sheza.
"Kenapa kamu masih mau membela wanita sialan itu? Masih cinta, iya?" cecar Caren.
"Dan kamu wanita rendahan, lihatlah Nando! Jika dia masih bersamamu dia hanya akan jadi gelandangan tidak akan menjadi orang penting seperti sekarang ini," ujarnya dengan penuh kesombongan.
Rion dan Nando saling tatap dengan tatapan sama-sama datar. Rion sangat penasaran sejauh mana hubungan antara Sheza dan Nando.
"Sekarang, ganti bajuku dan kerugian waktuku hanya untuk meladeni wanita sampah seperti mu."
"Jaga cara bicaramu Nona. Jika Anda orang penting di sini Anda bisa menjaga etika dalam berbicara. Orang yang Anda katakan rendah bisa saja dia lebih tinggi derajatnya dari Anda," balas Rion dengan nada santai.
Hanya dengusan kasar yang keluar dari mulut Caren. "Security, bawa mereka berdua pergi dari hadapan saya," teriak Caren.
Kegaduhan pun tak terelakan, dua security menarik paksa Sheza dan Rion untuk keluar dari restoran.
Caren melempar bill tersebut ke tubuh Rion. "Lunasi sekarang karena wanita mu pasti tidak akan pernah sanggup untuk melunasi semuanya. Dia akan memilih bersujud di kakiku,” ejeknya pada Rion.
Air muka Rion sudah mulai berubah. Sedangkan Sheza hanya bisa menunduk. Bertemu dengan Caren dan Nando adalah mimpi buruk baginya.
"Lepaskan!" teriak Rion pada security yang menahan tangannya.
"Ada apa ini?" tanya seorang pria yang sedang menggandeng istrinya melihat Caren yang dikelilingi beberapa security.
"Maaf Mr. ada kecoak pengganggu di restoran ini dan saya harus membereskannya dulu," jawab Caren sangat sopan.
"Mari Mr. kita mulai rapatnya, nanti biar anak buah saya yang membereskan mereka," ujar Caren.
Caren dan Nando berjalan di depan si pemilik saham menuju ruangan rapat yang sudah ditata dengan sangat privasi.
"Mas," ucap Ayanda dan menghentikan langkahnya. Gio pun ikut mengentikan langkahnya.
Matanya tertuju pada kedua orang yang disebut kecoa pengganggu oleh rekan bisnis suaminya.
"Sheza," teriaknya ketika ada seorang security yang hendak menamparnya.
Caren dan Nando pun menghentikan langkahnya. Menoleh ke belakang, dilihatnya istri dari pemilik saham terbesar itu menghampiri Sheza. Wajah Caren pun sedikit panik.
"Ada apa sebenarnya?" tanya Gio dengan mata elangnya. Berlalu meninggalkan kedua manusia dihadapannya dan menghampiri istrinya.
"Lepaskan mereka," titah Gio dengan sangat tegas.
"Tapi Pak saya hanya menjalankan perintah ibu Caren," ucap salah seorang security.
Gio melirik tajam ke arah Caren. "Lepaskan," ucap Caren.
"Apa itu Mom?" tanya Gio yang melihat istrinya sedang membaca selembar tagihan.
Ayanda hanya mendengus kesal. "Berikan nomor rekeningmu Nona Caren," pinta Ayanda dengan menahan emosi.
Gio meletakkan tagihan itu dengan sangat keras di atas meja membuat semua orang terperanjat kaget.
"Biar aku saja yang membayarnya, Dek," ucap Rion pada Ayanda dan dia pun mengeluarkan kartu ATM platinum miliknya. Gio mengangkat tangannya.
Gio melirik ke arah Sheza yang hanya menunduk dan diam. Dia tahu Sheza penyebab dari ini semua.
"Tidak sepantasnya kalian mencampur adukkan masalah pribadi kalian dengan masalah bisnis. Dan apa ini?" ucap Gio sambil membacakan rincian bill yang tidak masuk akal.
"Maaf Pak Gio, itu salah saya," ucap Sheza yang kini membuka suara.
"Saya yang telah menodai baju Nona Caren," lanjutnya.
"Tapi ini tidak masuk akal Sheza, dress yang dikenakan Nona Caren harganya hanya 3 jutaan. Saya baru saja membelinya," ujar Ayanda.
Wajah Caren pun memerah menahan malu mendengar ucapan Ayanda. Dia bisa membohongi wanita polos seperti Sheza yang tidak tahu mode tapi tidak dengan Ayanda yang penampilan dari atas sampai bawah barang branded semua.
"Mas, ajak pulang Sheza. Biar semua aku yang bayar," titah Ayanda pada Rion. Dia sangat melihat wajah tertekan Sheza.
Rion pun menuruti perintah dari Ayanda. Dia juga tau hati Sheza sangat kacau sekarang ini.
"Berikan nomor rekeningmu Nona Caren. Akan saya transfer sekarang juga ditambah saya akan ganti baju Anda," ucapnya dengan nada yang sangat kesal.
"Tidak Nona, itu hanya gertakan saja untuk mereka. Saya tidak serius," balas Caren.
"Jika itu hanya gertakan, kenapa kamu menahan mereka berdua dengan mendatangkan security," timpal Ayanda yang sudah tersulut emosi.
"Itu ...."
"Saya akan tetap membayar semuanya. Jadi jangan khawatir Nona," tegas Ayanda.
Di perjalanan pulang, Sheza hanya terdiam. Dia masih syok dengan kejadian yang baru saja menimpanya. Sedangkan Rion sedang bergelut
dengan pikirannya sendiri.
Ada hubungan apa Sheza dan pria itu? Tatapannya begitu hangat kepada Sheza.
*****
Happy reading ..
Weekend up siang ya😁