
"Om ...."
Gio menatap Riza dengan tatapan tak terbaca dan sangat datar. Membuat Riza benar-benar ketakutan sekarang ini. Gio yang biasanya bersikap hangat kini, malah sebaliknya.
"Pak Nugraha, saya harus kembali ke kantor." Gio berucap sambil melihat ke arah jam tangannya.
"Baik, Pak Gio. Jangan lupa datang ke acara pertunangan putri saya bersama istri Anda."
Deg.
Tubuh Riza seketika lemas , dia tidak berani menatap ke arah Gio. Riza sudah bisa menebak jika, Gio sudah mengetahui semuanya.
Setelah Gio menganggukkan kepalanya, Gio melangkah pelan hingga sejajar dengan Riza. Menepuk pundaknya pelan. "Pengecut," bisiknya.
Ucapan Gio benar-benar menikam hati Riza sangat dalam. Riza tahu, sekarang Gio benar-benar membenci dirinya.
"Riza," panggil Pak Nugraha.
"I-iya, Om."
Riza pun menghampiri Pak Nugraha dan duduk di depannya. "Pertunangan kamu akan saya majukan menjadi Sabtu malam besok."
Duarr!
Kejutan apa lagi ini? Baru saja dihantam pisau tajam dan sekarang disambar petir di siang bolong. Sungguh malang nasib Riza.
"Ke-kenapa dimajukan, Om?"
"Karena Tere mengadu kepada saya, jika masih ada perempuan di sekolah ini yang sering mendekati kamu. Setelah kamu bertunangan, saya akan memberitahukan warga sekolah jika kamu dan anak saya sudah bertunangan. Jadi, tidak ada lagi perempuan ataupun laki-laki yang berani mendekati kalian."
Ingin rasanya Riza menjerit sekencang-kencangnya. Lebih baik dulu dia mati saja dari pada harus seperti ini. Lebih tersiksa hatinya.
"Tolong temui putri saya, karena dia takut kamu pergi dari dia. Dari pagi dia tidak melihatmu."
Dengan langkah seperti tak menapak, Riza menuruti perintah Pak Nugraha. Hatinya hanya untuk Echa tapi raganya tak menolak sentuhan Tere yang mengajarkan dia banyak hal. Berbeda dengan Echa, mereka hanya sebatas pegangan tangan saja.
***
Waktu cepat sekali berputar, tiga hari sudah Echa tidak masuk sekolah. Dan kedatangan Gio tempo hari untuk memberitahukan kepada pihak sekolah jika, putrinya tidak masuk sekolah dikarenakan sakit. Tapi, Gio melarang siapapun untuk menjenguk putrinya. Echa bukan hanya harus ditangani tim medis, tapi dia juga harus terapi psikis. Gio tahu, hati putrinya sedang terguncang.
"Kamu tinggal di rumah Ayah dan Bunda dulu, ya. Di apartment akan menyulitkan kamu. Papa masih merenovasi rumah untuk kita tinggal nanti." Echa hanya menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Ayanda.
"Papa dan Mamah pasti kan menjenguk kamu setiap hari," ucap Gio.
Mereka pun meninggalkan rumah sakit dan menuju kediaman Rion. Semuanya sudah Rion siapkan, termasuk memindahkan kamar Echa ke bawah. Karena kondisi kaki Echa belum memungkinkan untuk naik-turun tangga.
Tibanya di rumah, Echa disambut oleh Arya, Beby, Azka, Sheza dan juga Radit. Senyuman yang mengembang dari bibir Echa seketika pudar melihat tampang sok ganteng Radit.
Dengan dipapah oleh Gio dan juga Rion, Echa masuk ke ruang keluarga dan di sana sudah ada si kembar yang sedang tengkurap. Melihat banyak orang di Abang terlihat sangat senang berbeda dengan si Adek, tak menghiraukan orang-orang di sana. Asyik dengan mainan di tangannya.
"Pada lebay emang emak-bapa lu, luka begini doang juga paniknya bukan main." Arya menyentil lutut Echa yang luka dan Echa pun mengaduh dengan keras.
"Kam pret emang, anak gua kesakitan, woiy," sentak Rion.
Ketika Echa mengaduh, Radit langsung berlutut memeriksa luka Echa dengan hati-hati. Orang dewasa yang berada di sana hanya membeku melihat sikap Radit yang benar-benar siaga menjaga Echa.
Rion yang menjadi ayah super protektif dan juga galak serta judes, dia pun terpaku. Sikap Radit sangat terlihat tulus kepada putrinya. Meskipun lutut kaki Echa disentuh, namun Rion hanya melihatnya saja. Tidak bersuara dan juga tidak mempermasalahkannya.
Keadaan yang hening membuat Echa salah tingkah. "Kak, aku gak apa-apa," ucap Echa pelan.
Radit mendongak ke atas, manik mata mereka bertemu. Manik mata yang sedang jatuh cinta bertemj dengan manik mata yang sedang terluka. Radit pun berdiri dan kembali duduk.
"Bun, Echa ingin istirahat di kamar."
"Radit, tolong bantu putri Bunda untuk masuk ke dalam kamarnya," titah Amanda.
Amanda hanya ingin mengetes suaminya, ternyata Rion hanya diam dan memperhatikan anak gadisnya yang dibantu berjalan oleh Radit.
"Gua ngeliat Radit kaya ngeliat lu, Ndra. Tulus banget ke Yanda," ujar Arya dengan mata yang masih tertuju pada Radit dan juga Echa.
"Radit anak baik," sahut Gio.
"Abang gak marah?" tanya Amanda.
"Tidak ada alasan untuk marah jika melihat sikap Radit kepada Echa. Terlebih Abang sangat merasakan ketulusan Radit menjaga Echa. Dan bertanggungjawab atas Echa," jelasnya.
"Bagaimana dengan Riza?" tanya Ayanda tiba-tiba.
"Iya loh, aku gak pernah ngeliat Riza waktu ngejenguk Echa di rumah sakit," jawab Beby.
"Aku liat juga, ponsel Echa baru lagi," balas Sheza.
"Jika Riza, itu permintaan Echa untuk tidak memberitahunya. Dengan alasan, Echa tidak mau Riza kepikiran. Dan untuk ponsel, Radit bilang layar ponsel Echa tergores dan sedikit retak makanya Radit beliin yang baru."
Semua orang mengangguk tanda paham membuat Gio merasa lega karena sudah percaya dengan ucapan Gio. Padahal ada sedikit kebohongan yang Gio katakan.
Pagi harinya, Echa dibantu sang Bunda bersiap untuk ke sekolah. Meskipun dengan langkah tertatih dia tetap bersemangat. Apalagi, sebentar lagi ujian kenaikan kelas. Dia harus memberikan nilai yang terbaik untuk keempat orangtuanya.
"Radit, kapan kamu tiba?" Echa yang baru saja duduk di meja makan sedikit terkejut dengan adanya Radit di rumah ayahnya di pagi hari.
"Baru aja, Tante."
Rion baru saja bergabung dan dia tersenyum ke arah Radit. Membuat Echa bergidik ngeri. Sikap Rion ke Riza dan Radit sangatlah berbeda.
"Sebelum jahitan kamu dibuka, kamu diantar jemput sama Radit. Ayah dan Papa sama-sama sibuk," ujar Rion.
"Kan ada Pak Mat, Yah," tolak Echa.
"Tidak ada penolakan Elthasya," tegas Rion.
Mendengar sang ayah memanggil nama lengkapnya, membuat Echa tertunduk. Amanda mengusap lembut kepala Echa. "Makan, Sayang. Semua ini kami lakukan untuk kebaikan kamu."
Benar yang dikatakan Rion, hari ini Radit akan mengantar Echa ke sekolah. Setiap Echa bertanya hanya jawab tanggung jawab yang keluar dari mulutnya. Radit pun memarkirkan mobilnya masuk ke dalam sekolah membuat Echa mengerutkan dahinya.
"Kaki kamu belum cukup kuat untuk berjalan." Echa hanya diam dan menuruti semua perlakuan Radit untuknya.
Radit membantu Echa berjalan hingga kelasnya. Banyak yang menatap Radit dengan kagum karena penampilan Radit yang super keren dan berwajah sangat tampan. Baru saja sampai di pintu kelas, Sasa dan Mima langsung memeluk tubuh Echa dengan penuh kebahagiaan. Jika Echa tidak memegang lengan Radit sudah dipastikan dia akan terjatuh.
"Hati-hati, Echa belum kuat berdiri lama dan juga berjalan." Suara Radit menghentikan kebahagiaan Sasa dan Mima. Dan mata mereka berbinar melihat Radit.
Tanpa menghiraukan Sasa dan Mima yang terkesima, Radit membantu Echa untuk duduk di bangkunya.
"Belajar yang benar, nanti pulang sekolah aku jemput lagi." Radit pun mengacak-acak poni Echa yang sudah tersisir rapi. Membuat Echa melirik kesal sedangkan Radit bahagia melihat wajah Echa yang menurutnya sangat menggemaskan.
"Aku pergi, ya." Radit pun melambaikan tangan ke arah Echa dan tanpa Echa sadari Echa tersenyum ke arah Radit.
Setelah kepergian Radit, Sasa dan Mima menghampiri Echa. "Ganteng banget ... si anak goblo* mah kalah," ujar Mima.
Sekarang Echa sadar, kehadiran Radit membuatnya lupa akan sosok Riza yang telah menyakitinya. Menghancurkan hatinya, yang sudah jatuh cinta kepada Riza.
Radit semakin menjauhi kelas Echa, ada sepasang mata yang menatap tajam ke arah Radit.
"Radit ...."
****
Happy reading ....