
Pagi ini Riana enggan sekali untuk bangun dari tempat tidur. Padahal seluruh keluarganya sudah bersiap untuk mengantar Aksa ke Bandara.
"Ri, bangun Ri. Sebentar lagi kita mau berangkat," ucap Echa dibalik pintu kamar Riana.
Riana membuka pintu kamarnya dan menatap Echa dengan tatapan sendu. "Ri, di rumah aja, Kak."
"Kenapa? Karena gak sanggup ditinggal?" Dengan cepat Riana menggeleng.
"Justru RI ingin secepatnya Abang pergi. Supaya Ri bisa menata hati Ri kembali. Dan fokus pada mimpi, Ri." Echa hanya menghela napas kasar. Dia mengerti perasaan Riana. Dia juga tidak berhak memaksa. Untungnya saja hubungan Echa dan Radit dulu sama-sama saling cinta. Jadi, tidak serumit perasaan Riana dan Aksa.
"Loh kok masih di sini? Kamu belum mandi Ri?" Riana menggeleng.
"Riana tidak mau ikut, Yah," ujar Echa kepada Rion. Dan sekarang Riana hanya menunduk dalam.
"Hubungi Mommy dan Daddy kamu. Berikan alasan yang jelas agar mereka tidak kecewa." Riana mengangguk patuh.
Setelah Kakak dan ayahnya pergi. Riana mengambil ponselnya dan menghubungi sang Mommy.
"Hallo, Mom."
"Iya, Ri. Ada apa, Sayang?"
"Maaf sebelumnya. Ri, tidak bisa ikut mengantar Abang. Perut RI tiba-tiba sakit. Mungkin mau datang tamu bulanan. Maaf banget ya, Mom."
"Iya, Sayang tidak apa-apa. Apa perlu Mommy bawakan jamu untuk meredakan sakit perut kamu?"
"Tidak perlu, Mom. Masih ada stok di rumah kok."
Sambungan telepon terputus begitu saja membuat Riana mengerutkan dahinya.
"Kenapa kamu, Bang?" tanya Ayanda ketika sambungan telepon sang mommy diputuskan oleh Aksa.
"Riana bohong, Mom. Bohong," teriak Aksa.
"Makanya kalo ngelakuin apa-apa itu pake logika. Bukan pake napsu belaka," timpal Gio yang baru saja bergabung dengan Ayanda dan juga Aksa. Sedangkan Aska masih betah di kamarnya.
"Apa sih ini? Mommy gak ngerti," tanya Ayanda.
"Si Abang udah menodai bibir Riana," jawab santai Gio.
Mata Ayanda melebar dengan sempurna. Menatap Aksa dengan tatapan tajam. Sedangkan Aksa hanya tertunduk dalam.
Tangan Ayanda sudah memelintir telinga Aksa. Hingga Aksa meminta ampun dari siksaan sang mommy kandung jika sedang marah layaknya ibu tiri.
"Belajar dari siapa kamu?" geram Ayanda yang masih tidak mau melepaskan tangannya dari telinga Aksa.
"Dari Mommy dan Daddy lah, siapa lagi," jawab Aksa.
"Abang!" pekik kedua orang tuanya.
Aksa pun duduk di depan kedua orang tuanya dengan mengusap-usap telinganya yang sudah merah.
"Bukan Abang yang menodai Riana. Kan Riana sendiri yang udah merebut paksa keperjakaan bibir Abang dulu. Dan yang Abang lakuin karena Abang sayang sama Riana," terangnya.
"Cinta dan nafsu beda tipis. Kamu harus bisa bedain, Aksara," geram Ayanda.
"Maaf, Mom," sesal Aksa.
"Kuliah yang benar, teruskan perusahaan Kakek. Setelah itu, kamu bawa Riana ke hadapan Daddy dan Mommy. Jika, kamu memang benar-benar mencintai Riana," tegas Gio.
"Ingat satu hal. Kamu bisa jaga hati kamu untuk Riana. Belum tentu Riana bisa menjaga hatinya untuk kamu. Ketika Riana tak lagi sendiri, kamu yang harus pergi. Dan jika itu sebaliknya, kamu jangan pernah berharap Riana kembali kepada kamu. Setitik luka yang kamu torehkan di hati seorang wanita. Selamanya dia akan mengingatnya."
...****************...
Komen yuk komen ....