Bang Duda

Bang Duda
391. Karma (Musim Kedua)



"Apa sudah ketemu?" Kalimat yang pertama kali Addhitama tanyakan pada orang suruhannya. Meskipun masih dirundung duka, amarahnya masih membara terhadap Amanda.


"Sudah, tapi ...."


"Tapi, apa?" bentak Addhitama.


Pria di seberang sambungan telepon itu segera memutuskan sambungan teleponnya. Biarlah Addhitama marah kepadanya. Karena pada nyatanya dia tidak bisa berkata yang sebenarnya telah terjadi. Dia dan teman-temannya masih syok dengan apa yang mereka lihat.


"Maafkan saya, Tuan," gumamnya.


Orang suruhan Addhitama itu mulai mencari video yang baru saja dia rekam. Dengan tangan yang bergetar dia mengirimnya ke nomor ponsel Addhitama.


"Lebih baik Anda lihat sendiri," lirihnya.


Benar saja, Addhitama mengumpat kesal setelah sambungan telepon itu terputus. "Anak buah gak guna," geramnya.


Satu menit berselang, ponselnya berdering menandakan ada pesan masuk. Ternyata pesan itu dari anak buahnya yang baru saja menghubunginya.


"Video?" Monolognya.


Kemudian, dia tekan play dan tak lama matanya melebar melihat detik demi detik seorang wanita yang tengah menghadapi sakaratul maut yang sangat pedih. Tubuh Addhitama terkulai lemah apalagi kejadian ini persis di sinetron-sinetron yang bertema azab.


Setengah jam lalu ....


Tiga pria memejamkan mata mereka, sedangkan satu orang yang sedang merekam video menundukkan kepalanya dengan ponsel yang masih dalam keadaan merekam.


Suara yang telah hilang kini keluar kembali. Amanda berteriak sangat kencang seakan merasakan kesakitan yang luar biasa. Sungguh ajal yang tidak terduga. Karma yang benar adanya. Tidak harus menunggu mati, tidak harus ke tanah suci untuk menerima karma. Segala perbuatan harus dipertanggung jawabkan. Baik itu perbuatan baik maupun buruk. Contohnya sekarang, balok yang cukup besar menimpa perut bagian bawah Amanda tepat di atas luka bekas operasi. Darah semakin mengucur deras. Dan napas Amanda sudah mulai terputus-putus dengan mata yang membelalak ke atas seperti ayam dipotong dan sedang menunggu kematian.


Meskipun memiliki badan yang kekar, tetapi empat pria itu masih memiliki hati nurani. Menyaksikan dengan mata kepala mereka sendiri tentang apa itu karma yang sebenarnya. Karena mereka tahu, bagaimana kejahatan Amanda yang telah diterangkan oleh bos mereka masing-masing.


Ketiga pria itu mencoba mengangkat balok yang sudah dimakan rayap yang berada di atas perut Amanda bagian bawah. Tetapi, balok itu sangatlah berat dan tidak mampu mereka angkat.


"Anaknya baru saja terlindas mobil, kini ibunya sedang proses menyusul sang anak. Namun, dengan cara yang sangat mengenaskan," sahut pria berbadan kekar lainnya.


Sedangkan dipenglihatan Amanda, anak laki-laki yang tadi mengajaknya ke surga sedang berlompat-lompat di atas balok tersebut. Sehingga menimbulkan kesakitan yang luar biasa. Akhirnya, Salah satu dari empat pria itu mendekat ke arah Amanda. Dan membisikkan sesuatu di telinganya.


"Ikuti ucapan saya."


Mata Amanda masih membelalak dan napasnya hanya tinggal di leher. Betapa kejamnya malaikat maut mencabut nyawa Amanda. Di dunia saja sudah disiksa bagaimana di akhirat nanti. Begitulah batin tiga pria itu.


"Laa ilaaha illallah."


Bukannya mengikuti, Amanda semakin menghadapi sakaratul maut yang amat menyakitkan. Sekarang, lidahnya sudah menjulur keluar. Seperti orang yang sedang dicekik.


"Hahahaha, biar Dev bantu, Ibu." Itulah yang Amanda dengar dan rasakan. Tangan anak laki-laki sedang mencekiknya dengan terus tertawa. Amanda seperti mainan untuk Dev. Sehingga Amanda kesulitan untuk bernapas dan terus menjulurkan lidahnya semakin panjang.


Lima menit Amanda terus seperti itu. Meskipun, ketiga pria itu bergantian membisikkan kalimat dzikir. Hingga napas Amanda mulai melemah dan melemah. Dan akhirnya, kematian itu tiba. Mereka berempat menundukkan kepala mereka.


"Dan (ingatlah juga), tatkala Rabbmu memaklumkan ; "Sesungguhnya jika kau bersyukur


pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu. Dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih" (QS. Ibrahim:7)


...****************...


Yuk, jadi orang yang selalu bersyukur atas apa yang kita milki. Jangan selalu melihat ke atas. Sesekali lihatlah ke bawah. Jangan menghalalkan segala cara demi sebuah kenikmatan dunia yang hanya sesaat. Dan ingat, ada hukum sebab-akibat di dunia ini. Ada azab yang sangat pedih bagi kita yang tidak bersyukur.


Semoga di bab ini ada pelajaran yang bisa kita petik. Dan jika menurut kalian ceritanya kayak di sinetron ikan terbang, terserah pandangan kalian aja. Toh yang namanya karma itu ada. Yang mengalami sakaratul maut lebih pedih dari Amanda pun ada. Jadi, buka pikiran kalian lebih luas lagi.


Semoga terhibur ....