
Dan di lain tempat, orang yang tengah menunggu Ayanda adalah Mamah Dina. Setelah pembicaraan dari hati ke hati antara mamah Dina dan juga Rion. Mereka berdua berpencar. Rion ke rumah sakit dan mamah Dina ke butik milik Ayanda.
Mata Ayanda menajam ketika melihat wanita paruh baya yang sangat dia kenali sudah duduk di dalam butiknya. "Mamah," sapa sopan Ayanda.
Meskipun mantan mertua, Ayanda menganggap mamah Dina adalah ibu kandungnya. Sama halnya dengan mamah Dina yang tidak pernah menganggap Ayanda adalah mantan menantunya. Ayanda adalah putrinya. Adik dari Rion dan kakak dari Nisa. Sikap Ayanda lah yang membuat mamah Dina tidak bisa begitu saja melepaskan Ayanda. Karena kesabaran Ayanda lah, putranya bisa berubah menjadi laki-laki yang lebih baik. Tidak dipungkiri, sewaktu muda Rion adalah lelaki berengsek.
Hanya melihat Ayanda saja, air mata mamah Dina menggenang. Dia segera memeluk tubuh Ayanda membuat Ayanda sedikit tersentak.
"Maafkan putra, Mamah." Kalimat yang membuat Ayanda bingung. Ayanda segera membawa sang mamah ke ruang kerjanya. Agar para karyawannya tidak dapat mencuri dengar apa yang sedang Ayanda obrolkan dengan mamah Dina.
"Ada apa, Mah?" Sentuhan hangat tangan Ayanda membuat mamah Dina semakin terisak.
"Mungkin ini karma yang harus putra Mamah terima."
"Karma?" ulang Ayanda.
Hanya anggukan yang menjadi jawaban dari mamah Dina. "Dulu, putra Mamah yang mengkhianati kamu. Sekarang, dia yang dikhianti pasangannya." Enggan sekali Mamah menyebutkan nama Amanda. Seakan nama itu seperti najis mugoladzoh yang haram untuk disebut.
Ayanda tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya dengan apa yang telah dia dengar. "Di-khianati?"
Apa sekarang ini Ayanda berbahagia? Karena Rion sudah mendapatkan karmanya. Namun, Ayanda bukanlah orang pendendam. Dia tidak akan bersenang-senang di atas penderitaan orang lain. Sesakit apapun pengkhianatan yang dilakuan Rion dulu. Tidak ada sepatah sumpah serapah pun yang keluar dari bibir mungilnya. Yang dia lakukan hanya mengikhlaskan dan menjalankan apa yang sudah ditakdirkan oleh Tuhan.
"Bagaimana kondisi Mas Rion, Mah?" Kekhawatiran lah yang muncul di wajah cantiknya. Bagaimana pun, 13 tahun adalah waktu yang cukup lama untuk mengenal lebih dalam mantan suaminya.
"Dia masih bersembunyi di dalam kata baik-baik saja." Hanya helaan napas kasar yang menjadi jawaban Ayanda.
"Nanti, Teteh akan meminta izin kepada Daddy si kembar untuk bicara dengan Mas Rion. Mamah jangan sedih dan jangan terlalu banyak pikiran. Nanti kondisi Mamah drop. Mas Rion akan semakin sedih melihatnya," tutur Ayanda dengan penuh kelembutan.
"Makasih, Teh. Teteh masih peduli sama putra Mamah dan juga Mamah," lirihnya.
"Mamah dan Mas Rion adalah keluarga Teteh, walaupun kita sudah tidak terikat dalam ikatan keluarga. Mas Rion adalah Ayah kandung dari Echa dan Mamah adalah Nenek dari Echa. Dan Teteh sudah menganggap Mas Rion adalah Kakak Teteh sendiri dan Mamah adalah Ibu Teteh sendiri. Bagaimana pun, dulu kita memiliki sebuah cerita yang tidak bisa dihilangkan dalam sejarah."
Andai saja, Amanda memiliki sifat seperti Ayanda. Mamah Dina pasti akan merasa sangat bahagia. Namun, pada kenyataannya Amanda hanya memakai topeng belaka. Baik di depan dan memilki tujuan yang lain di belakang.
Dan di kantin rumah sakit. Dua orang pria dewasa sedang asyik menyesap kopi. Hening, itulah suasana di sana.
"Kenapa lu bisa nyembunyiin ini dari gua?" hardik Arya dengan tatapan tajam.
"Gua gak ingin gagal lagi."
Jawaban yang membuat hati Arya mencelos. "Gua ingin menjalani rumah tangga seperti kalian. Seperti Ayanda dan Gio yang selalu hangat meskipun usia mereka sudah setengah abad."
"Dua tahun, bro? Dua tahun? Itu bukan waktu yang singkat. Bagaimana lu menjalani hari-hari lu di rumah? Sedangkan lu sendiri menyimpan kenyataannya seorang diri," balas Arya.
Senyum tipis tersungging di bibir Rion sebelum dia menjawabnya.
"Tidak ada rasa, itu yang gua rasakan selama dua tahun ini. Ketika gua ingin menyentuh dia, seketika bayangan pria itu muncul di kepala gua dan gua merasa jijik dan memilih menuntaskan seorang diri."
"Selama ini gua memilih untuk tidur terpisah. Setiap melihat tempat tidur, hanya bayangan cairan putih kental orang lain yang berada di sana."
Arya benar-benar mengerti bagaimana tersiksanya Rion selama dua tahun ini. Jika, dia berada di posisi Rion. Belum tentu dia sanggup menjalani semuanya.
"Anak-anak?" Rion menatap ke arah Arya seraya mengangguk.
"Berpisah atau anak-anak? Tetap anak-anak yang akan jadi korban atas perpisahan kedua orang tuanya. Gua tidak ingin mengulang masa lalu. Menyakiti anak gua dengan sebuah perceraian," tandasnya.
"Apa sekarang lu masih kuat? Ketika keluarga dan anak lu mengetahui permasalahan yang sebenarnya?"
"Gua lelah." Rion pun tertunduk. Mata Arya sudah mengembun mendengar kalimat yang terucap dari bibir sahabatnya ini. Kalimat yang penuh dengan penderitaan yang dia pendam sendirian.
"Kalau lu masih kuat, lu jalanin meski tanpa ada bahagia. Kalo lu capek, nyerah aja. Gak usah memaksakan apa yang akhirnya membuat lu larut dalam penyesalan. Lu bukan robot, manusia ladangnya keterbatasan."
Wejangan yang membuat hati Rion sedikit tersentil. Apa dia harus memilih untuk berpisah?
"Bagaimana dengan Radit?" Pertanyaan yang membuat Rion bingung hingga mengerutkan dahinya.
"Bukankah ini ada sangkut pautnya dengan keluarga besar Radit?" Selidik Arya lebih dalam.
"Ini masalah rumah tangga gua dan juga Amanda. Tidak akan pernah gua sangkut pautkan dengan Radit. Anak gua itu gak tau menahu. Gua juga yakin, dia syok melihat apa yang terjadi," terang Rion.
"Gua takut, emosi lu akan membuat lu egois. Dan berakhir pada hancurnya hubungan Echa dan Radit," imbuh Arya.
"Emosi gua sudah hilang semenjak dua tahun lalu. Gua berpikir logis sekarang. Echa adalah permata berharga yang gua punya. Dan Radit, adalah berlian langka yang gua dapatkan. Mereka tidak bisa dipisahkan oleh apapun. Karena gua yang akan berada di barisan terdepan jika itu terjadi. Sudah waktunya Echa bahagia dengan pasangannya. Radit adalah sosok yang membuat Echa merasakan kasih sayang yang utuh. Bisa menggantikan kasih sayang gua yang dulu sempat hilang." Senyum lebar melengkung di bibir Arya. Sungguh sahabatnya ini sudah sangat berubah. Pemikirannya sekarang hampir sama dengan Giondra. Logis, tegas dan penuh kasih sayang.
"Gua hanya bisa terus mendukung lu. Tapi, gua harap, lu bisa mengambil keputusan yang paling baik untuk lu dan juga anak-anak lu. Benar kata Echa, meskipun lu tanpa pasangan nantinya. Lu pasti akan lebih bahagia karena akan hadirnya tiga anak tuyul duplikat Echa. Sudah gua pastikan, mereka akan memberikan warna dalam hidup lu. Bukankah, setelah hujan pasti ada pelangi?" Senyum pun tersungging di bibir Rion. Ucapan Arya barusan sangat menyejukkan hatinya. Dan lebih memantapkan keputusan yang harus dia ambil.
****
"Iya, saya akan ke sana." Mobil putih mengkilap pun melaju ke sebuah rumah sakit. Namun, mobilnya terhenti ketika ada sebuah mobil hitam mewah terparkir sembarangan di depan pintu masuk rumah sakit.
Mata orang itu memicing dengan sempurna ketika melihat Amanda yang sedikit berlari ke arah mobil. Dan sudah ada tangan yang terulur di sana dengan menggunakan jam tangan sama dengan yang dipakainya sekarang.
Amarahnya pun sudah mendidih. Dan dia menyambungkan kejadian demi kejadian yang janggal yang dia rasakan. Apalagi, beberapa bulan lalu dia melihat sendiri orang itu check in hotel dengan seorang wanita seksi.
"Apa mungkin dia wanita yang sama?" Pria di dalam mobil itu pun segera menghubungi pihak hotel untuk memberikan rekaman CCTV tiga bulan lalu. Yang sangat dia ingat, itu adalah hari di mana pria yang memakai jam tangan sama dengan miliknya berulang tahun.
Ketika mobil hitam itu melaju, dia mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam rumah sakit. Dan lebih memilih mengikuti ke mana mobil hitam itu pergi.
...****************...
Komen banyak aku UP lagi siang dan akan aku kuak semuanya. Kalo sedikit, sampai bertemu besok 😁