
Selama seminggu ini Rion seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Amanda benar-benar merealisasikan ucapannya. Dia tidak ingin bertemu Rion. Hanya mbak Ina sebagai tempat untuk mencari informasi tentang Amanda.
Setiap hendak pergi ke kantor, Rion selalu pamit kepada Amanda meskipun harus sedikit berteriak dari depan pintu. Hanya jawaban "iya" yang terucap dari bibir Amanda.
Ingin rasanya Rion masuk ke dalam kamar Amanda. Akan tetapi, dia takut dengan ancaman lain dari istrinya. Amanda akan benar-benar pergi dari rumah ini. Hari ini Rion tampak lesu, seperti manusia kekurangan gizi.
"Belum baikan juga sama bini lu?" tanya Arya.
"Belum."
"Dinda?" tanya Arya.
"Semenjak Amanda marah gede sama gua, gua langsung ngancam Dinda untuk menghentikan membayar perawat pribadi Erlan. Kalo dia masih berani datang ke kantor," jelas Rion.
"Jadi, lu udah suka sama Amanda?"
"Gua hanya ingin menjaga perasaan Amanda. Dia tanggung jawab gua sekarang," jawab Rion.
Arya hanya terdiam, dia tidak membalas ucapan sahabatnya. Biarlah Rion menyadari sendiri jika dia sudah sedikit demi sedikit membuka hatinya untuk Amanda.
Yogyakarta.
Gio bergegas masuk ke dalam rumah yang dihuni oleh Ayanda. Berulang kali Gio mengetuk pintu rumahnya namun, sama sekali tidak ada jawaban. Panik mulai melanda Gio. Dengan hati yang penuh kekhawatiran Gio mendobrak pintu. Setelah terbuka Gio langsung mencari keberadaan istrinya.
"Mommy," panggil Gio. Akan tetapi, tidak ada jawaban dan tidak ada tanda-tanda orang di rumah ini.
Gio mulai menyusuri setiap ruangan, alangkah terkejutnya ketika dia melihat Ayanda yang terkapar di lantai.
"Mommy," teriak Gio.
Remon dan beberapa orang pengawal yang mendengar teriakan Bossnya berlari ke dalam. Mereka melihat jelas air mata Gio menetes seraya membawa tubuh istrinya. Tak Gio hiraukan darah yang menodai kemejanya.
Sepanjang perjalanan Gio mendekap tubuh istrinya dan tak hentinya mengucapakan kata maaf. Darah yang mengalir di kaki istrinya membuat Gio semakin merasa bersalah. Jika, terjadi apa-apa dengan si twin Gio tidak akan memaafkan dirinya sendiri.
"Bertahanlah Mom, yang kuat ya anak-anak Daddy," lirihnya.
Tiba sudah mereka di rumah sakit, Ayanda kini sudah ditangani dokter. Gio hanya bisa membentur-benturkan bagian kepala belakangnya ke dinding.
"Bodo, bodoh, bodoh," ucap Gio.
Remon mencoba untuk menenangkan Gio namun, tetap tidak berhasil. Bossnya semakin menjadi, raut wajah frustasi sangat nampak jelas pada wajah Gio.
Jakarta.
"Amanda," panggil Rion seraya mengetuk-ngetuk pintu kamar istrinya.
"Amanda, aku mau bicara sebentar. Tolong buka pintu sebentar saja," pintanya.
Masih tidak ada jawaban dari dalam. Dengan sabar Rion tetap mencoba membujuk Amanda untuk membuka pintunya. Hingga Amanda pun mengalah.
"Ada apa?" tanyanya ketus.
"Aku mau ke rumah sakit. Dan aku akan meninggalkan kamu untuk beberapa hari ke depan," jawab Rion.
Amanda sedikit bingung dengan jawaban suaminya. Ke rumah sakit dan meninggalkannya untuk beberapa hari. Maksudnya apa?
"Siapa yang sakit?" tanya balik Amanda dengan ucapan dingin.
"Ayanda."
"Dia pingsan dan mengalami pendarahan," jawab Rion.
"Astaghfirullah, kasihan Mbak Ayanda. Manda ikut ya ke rumah sakit," ucap Amanda.
"Dia bukan di sini tapi di Yogyakarta. Makanya aku akan terbang ke sana," balas Rion.
"Manda ikut," pintanya.
Melihat wajah Amanda yang merengek manja kepadanya membuat Rion gemas kepada istrinya.
"Ya udah, kamu siap-siap. Aku tunggu di bawah," sahut Rion.
Tak lama Amanda turun dari kamarnya, sudah lama tak melihat Amanda, membuat Rion terpukau akan kecantikan Amanda yang dibalut dengan pakaian tertutup.
"Bang, ayo!" ajak Amanda karena risih akan tatapan suaminya.
Rion menggenggam erat tangan Amanda menuju mobilnya. Membuat senyum merekah di bibir Amanda.
Mereka sudah tiba di landasan dan mereka terbang menggunakan pesawat pribadi milik Gio. Selama penerbangan, genggaman tangan Rion tidak pernah terlepas untuk Amanda. Seakan dia tidak ingin berpisah dari istrinya ini. Arya hanya menyunggingkan senyum melihat sahabatnya ini.
Tiba sudah mereka di rumah sakit. Di sana sudah ada Beby, Azkano dan juga Sheza. Suasana sedih menyelimuti mereka. Tak terkecuali Gio yang hanya bisa menunduk dalam.
Jika kandungannya sekali lagi terkena benturan, akan dipastikan anak Anda tidak akan selamat.
Ucapan itu yang sekarang berputar-putar di kepala Gio. Gio hanya bisa berdoa dan terus berdoa.
"Giondra!" teriak seseorang yang baru saja datang.
Semua mata tertuju pada seorang pria yang sedang melangkahkan kakinya ke arah Gio yang sedang tertunduk. Ditariknya kerah kemeja Giondra hingga wajah sedih Giondra terangkat.
Plak!
Suara tamparan yang sangat nyaring terdengar hingga membuat tubuh Gio tersungkur. Membuat semua orang terkejut dengan perlakuan Genta kepada Giondra.
"Jika terjadi apa-apa dengan putri dan cucu Ayah. Akan Ayah kirim kamu ke Australia selama dua tahun tanpa anak dan istrimu," tukas Genta dan langsung meninggalkan Gio dan yang lainnya.
"Begitulah cara Om Genta mendidik Gio jika dia berbuat salah. Apalagi Ayanda adalah menantu kesayangannya," bisik Rion di telinga Amanda.
Tak berselang lama, dokter pun keluar dari ruang pemeriksaan. Perlu waktu lebih dari dua jam untuk memastikan keadaan Ayanda.
"Bagaiman kondisi anak dan istri saya dok?" tanya Gio.
"Keadaan anak Bapak baik-baik saja. Mereka sangat kuat. Tapi, kondisi ibunya masih lemah. Perlu perawatan intensif," jelas dokter.
Dokter pun membolehkan mereka masuk ke ruangan Ayanda. Ada pancaran kebahagiaan dan juga kesedihan di mata Giondra.
"Maafkan Daddy, Mom," lirihnya yang terus menciumi tangan istrinya.
Amanda yang baru melihat pemandangan ini merasa terharu dengan sikap Gio terhadap Ayanda. Bisakah suaminya bersikap seperti Gio?
Rion menarik tangan Amanda agar mendekat ke arahnya. Dia pun merengkuh pinggang istrinya hingga tidak ada jarak diantara mereka.
***
Happy reading ...