
Sepulang sekolah, Riana tidak pulang ke rumah. Dia menuju ke kantor milik ayahnya. Sambutan hangat yang diberikan oleh Kinanti diabaikan oleh Riana. Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Riana segera masuk ke ruangan sang ayah.
"Loh, kenapa kamu ke sini?"
Sebuah pertanyaan yang tidak diindahkan oleh Riana. Riana menatap tajam ayahnya dengan raut penuh kekecewaan.
"Kenapa Ayah jodohin Ri sama Kakak?" tanyanya.
"Emang kenapa? Aska juga gak kalah tampan dari Aksa," sahut Rion santai.
"Tapi, Ri tidak mencintainya, Ayah," protesnya.
"Cinta akan datang karena terbiasa, Ri. Lagi pula, Aska juga baik sama seperti Aksa."
"Tapi, Ri sukanya sama Abang," lirihnya.
"Abang gak suka sama kamu. Lebih baik dicintai dari pada mencintai tapi tak terbalas. Itu lebih menyakitkan, Ri," ungkap Rion.
"Lagi pula ini hanya baru sebatas wacana semata. Lanjut atau tidaknya perjodohan ini kembali lagi kepada kalian."
"Ayah dan Daddy hanya mengharapkan anak-anak kami bisa berjodoh," tukasnya.
Riana menghela napas kasar. Dia duduk di sofa dengan kepala bersandar di sofa seraya memejamkan mata.
"Kamu kenapa?"
"Abang kenapa begitu dingin kepada, Ri? Sedangkan kepada Beeya Abang terlihat sangat menyayanginya," keluh Riana.
"Ayah tidak tahu, sepertinya Abang memiliki masa lalu yang kurang mengenakkan. Makanya, Abang menjelma seperti itu. Lagi pula, setelah lulus SMA Abang akan dikirim ke London untuk kuliah di sana. Karena Abang sudah dipersiapkan oleh Daddy untuk menjadi penerus utama Wiguna Grup. Semakin susah untuk kamu gapai si Aksa itu, dia bukan laki-laki yang mudah jatuh cinta dan juga melupakan apa yang sudah dia rasakan." Sentuhan lembut di kepala Riana membuat Riana sedikit tenang. Meskipun hatinya juga sesak mendengar penjelasan ayahnya.
Apakah Riana akan menyetujui perjodohan ini? Atau lebih baik menolaknya? Terlalu menyakitkan menikah dengan adik dari orang yang dia sayangi. Dan secara otomatis, Riana akan bertemu Aksa setiap hari. Bukankah itu akan membuat Riana semakin terluka?
Sedangkan di kediaman si kembar. Aksa tengah asyik bermain basket seorang diri. Olahraga baginya adalah kebutuhan. Selain itu juga, dia adalah kaum rebahan. Aksa terus menge-shoot bola ke arah ring. Terlihat peluhnya bercucuran. Namun, tak dia pedulikan.
"Abang, istirahat dulu," seru sang Mommy yang masih memantau kedua anaknya yang tumbuh menjadi remaja tampan.
Aksa berlari menuju Mommy-nya. Sebelumnya, dia menyeka keringat yang membasahi wajah serta tubuhnya dengan handuk yang dia letakkan di kursi tak jauh dari tempat Mommy-nya berada.
Ayanda menyerahkan air mineral kepada Aksa. Setelah itu jus mangga untuk putra kebanggaannya.
"Makasih, Mommy."
Ayanda tersenyum dan mengusap lembut kepala putranya. "Kenapa kalian cepat sekali menjadi dewasa?" lirihnya.
Aksa menatap Mommy dengan senyum yang sangat menawan. "Meskipun Abang dewasa dan akan meninggalkan Mommy dan Daddy. Tapi, Abang tetaplah putra kecil Mommy. Buktinya, minum aja selalu Mommy siapkan untuk Abang," ujarnya sambil mengusap lembut punggung tangan Ayanda.
Melepaskan lagi, itulah yang harus Ayanda lakukan. Dulu, putri kesayangannya yang harus dia lepaskan untuk kuliah ke Canberra. Dan kurang dari setahun ini, Ayanda pun harus rela melepaskan putra sulungnya pergi ke London.
Ada yang datang dan ada yang pergi. Aksa pergi dan Echa akan kembali. Mungkin, itu akan sedikit mengobati sedih Ayanda. Terlebih, putrinya sedang mengandung. Dan dia sudah membayangkan bagaimana ramainya rumah ini ketika anak-anak Echa lahir.
"Halo Sayang." Suara yang sangat Aksa rindukan. Siapa lagi jika bukan kakaknya.
"Miss you," ucap manja Aksa membuat Echa tertawa.
"Are you okay?"
Aksa terdiam, kakaknya selalu saja bisa menelisik mimik wajahnya. Seakan wajahnya ini tidak bisa membohongi kakaknya.
"Do you still remember her?"
"Ya. I'm sorry." Aksa pun menunduk.
"Dua tahun loh, Bang. Apa sesayang itu kamu sama dia? Hubungan kalian diawali karena kesalahan. Makanya harus berujung perpisahan," ujar Echa.
"Dia mencintai Aska. Karena Aska tidak mencintainya, Aska menyuruh kamu untuk pura-pura menjadi dirinya. Seiring berjalannya waktu, hati kamu perlahan terbuka untuk dia dan seiring berjalannya waktu juga, dia tahu kebohongan kamu. Di situlah dia marah, mengungkapkan segala kekecewaannya di hadapan semua siswa yang lain. Lalu, dia pergi meninggalkan kamu yang sedang sayang-sayanganya sama dia. Sebagai pembalasan yang setimpal atas apa yang sudah kamu lakukan terhadapnya."
"Kenapa Kakak selalu bilang, ketika kamu mau menyakiti cewek. Ingatlah, kamu punya dua wanita yang harus kamu jaga. Yaitu Mommy dan juga Kakak. Apa kamu akan rela jika kedua wanita yang kamu sayangi disakiti oleh pria lain?" Aksa pun terdiam mendengar Omelan dari sang kakak.
"Apa lu lupa, ketika lu ngeliat gua jalan sama teman pacar gua. Lu mukulin gua Ampe babak belur? Ampe muka gua bonyok kaya mangga busuk." Sekarang Radit yang mengoceh, memperlihatkan wajah marahnya kepada Aksa. Aksa hanya mendelik kesal ke arah kakak iparnya yang sangat menyebalkan itu.
"Gara-gara lu ngadu ke Papa, ke Ayah, sama ke Papih gua, bukannya gua diobatin malah makin dikeroyok. Alhasil muka gua memar keunguan dan membengkak. Persis hasil operasi plastik yang gagal."
Echa tertawa mendengar omelan suaminya kepada Aksa. Ya, karena Aksa Radit harus di opname lebih dari seminggu karena terkena pukulan dari seluruh anggota keluarga Echa dan juga Papihnya. Padahal, waktu itu Radit jalan tidak hanya berdua dengan teman pacarnya. Ada Echa juga di sana. Tapi, Echa sedang berada di dalam toilet karena perutnya tiba-tiba sakit.
"Masih dendam gua sama lu," sarkas Radit.
"Bodo amat!" sahut Aksa cuek.
"Pelan-pelan lupain semua tentang dia. Kakak yakin, nanti kamu akan menemukan seseorang yang tulus menyayangi kamu. Menerima segala kekurangan kamu dengan ikhlas."
Aksa menghela napas kasar seraya menganggukkan kepalanya. Ya, mulai hari ini dia akan belajar melupakan masa lalunya. Dia tidak boleh tenggelam dalam rasa sakit yang memang harus dia terima karena kesalahannya sendiri. Kebohongan tidak akan pernah abadi. Dan inilah yang harus Aksa terima, di sakiti oleh perempuan yang dia sayangi.
"Bang, bukannya kata Om Arya lu dijodohin sama Riana?" tanya Radit.
Aksa menatap jengah ke arah Radit yang sedang mengusap lembut kepala Kakaknya yang tengah membaringkan kepalanya di pundak Radit.
"Gua gak suka sama dia BanDit," tegasnya.
"Kenapa?" Kini Echa yang angkat bicara. Bagaimana pun Riana adalah adiknya juga.
"Dia tidak seperti Mommy dan Kakak. Parameter wanita yang Abang sukai seperti Kakak dan juga Mommy."
...----------------...
Semoga Terhibur...