
Ada yang datang dan ada yang pergi. Ada kelahiran dan pasti ada kematian. Itulah hukum alam. Ketiga malaikat Echa hadir ke dunia disusul dengan kepergian Amanda yang tidak terduga. Sungguh rahasia Tuhan yang luar biasa.
Kedua anak yang tidak berdosa didampingi para keluarga sedang berada di pemakaman. Menatap gundukan tanah merah yang masih basah. Sedih, sudah pasti dirasakan oleh Riana dan Iyan. Kehilangan wanita yang telah melahirkan mereka dan merawat mereka. Di sana juga ada Juna, Mamah Dina dan juga Nisa.
"Kita pulang, ya," ajak Rion kepada dua anaknya.
"Jangan dulu pulang, Ayah. Setelah pemakaman selesai alangkah baiknya kita berada di sini kurang lebih lima belas menit. Mendoakan Bunda dengan khusyuk. Karena beliau akan sedih jika kita segera beranjak dari sini," terang Iyan.
Semua orang yang berada di sana bangga terhadap Iyan. Diusianya yang masih kecil, tapi mampu berbicara layaknya orang dewasa.
Setelah selesai berdoa. Iyan menyiramkan sisa air mawar ke nisan sang bunda. "Iyan dan semuanya pulang, ya, Bun. Iyan akan sering-sering jenguk Bunda di sini. Dan menaburkan bunga agar rumah Bunda terlihat cantik."
Sakit, itulah yang keluarga Iyan rasakan. Ucapan sederhana Iyan memiliki makna yang sangat dalam. Mampu membuat semua orang menahan sesak di dada mereka.
Mereka tidak langsung pulang ke kediaman Echa. Mereka lebih memilih berkumpul sejenak di rumah Gio. Karena di kediaman Echa ada bayi yang masih sensitif. Sedangkan mereka baru saja pulang dari tempat pemakaman. Harus membersihkan diri mereka dulu baru bisa kembali ke rumah Echa yang berada di samping rumah Gio.
"Almarhum memiliki harta berupa mobil dan uang," ujar Addhitama. Ya, mereka sedang membicarakan perihal harta yang dimiliki oleh Amanda.
"Itu hak anak-anak dan keluarganya," timpal Genta.
"Saya tidak mau menerima," ucap Juna.
"Ri, juga tidak mau."
"Iyan juga."
Addhitama dan Genta hanya menghela napas kasar mendengar jawaban dari anak-anak Amanda dan kakak angkat Amanda.
"Permisi, Tuan," ucap salah seorang orang kepercayaan Genta.
"Rumah kontrakan almarhum baru saja mengalami kebakaran."
Laporan yang menjadi jawaban atas harta yang sedang dibicarakan.
"Uang itu pun tahu, dia membakar diri dari pada harus jatuh ke orang yang tidak tahu apa-apa. Tetapi, harus menanggung dosanya," kata Juna.
Kepergian Amanda pasti membawa kesakitan yang luar biasa untuk kedua anaknya. Bukan hanya kesakitan, trauma psikis pun pasti mereka dapatkan. Beruntungnya mereka dikelilingi oleh orang-orang yang menyayangi mereka dengan sangat tulus.
Waktu terus berputar, luka, sedih dan sakit itu pasti masih ada. Tetapi, hanya sedikit. Karena Radit Dan yang lainnya selalu mendatangkan psikiater terbaik untuk memulihkan kondisi Riana dan juga Iyan. Psikis mereka sangat terguncang.
Dan hari ini tepat lima bulan kepergian Amanda. Riana dan Iyan sudah bisa melupakan semuanya. Terkadang, sesekali kesakitan dan kesedihan itu datang menerpa. Itu masih ditahap wajar. Dari kejadian itu Riana dan Iyan tumbuh menjadi anak kuat dan hebat. Buktinya sekarang, kedua anak itu berlari menghampiri Echa yang tengah bermain dengan si kembar. Dengan senyum yang merekah, Riana menghampiri Echa dan memberikan raportnya. Begitu juga Iyan.
"Emang sudah dibagi raport?" tanya Echa. Riana mengangguk dan Iyan mengangguk.
"Siapa yang mendampingi kalian?" tanya serius sang kakak macam ibu tiri. Karena tidak mungkin mereka mengambil sendiri. Harus ada orang tua atau wali.
"Abang," jawab Riana dan Iyan bersamaan.
Echa menghela napas kasar, terkadang Echa merasa tidak berguna jadi Kakak. Karena kedua adiknya selalu meminta bantuan kepada Radit. Padahal, Riana dan Iyan tidak diperbolehkan mengganggu Echa oleh Radit. Karena harus mengurus buah hati mereka yang sekarang sudah mulai aktif.
Mata Echa berkaca-kaca ketika melihat nilai raport Riana yang bisa dibilang sempurna. "Ini ...."
"Ri, persembahkan untuk Kakak dan Ayah. Terimakasih telah menjadi Kakak dan Ibu yang baik untuk Ri." Perkataan yang tulus yang terlontar dari mulut Riana. Ini pertama kalinya Riana mengungkapkan perasaannya kepada sang kakak.
Echa memeluk tubuh adiknya dengan deraian air mata. "Apapun akan Kakak lakukan untuk kamu dan juga Iyan. Selagi Kakak mampu akan Kakak perjuangkan."
"Loh kenapa kalian?" Rion yang baru saja tiba dibuat bingung oleh ketiga anaknya yang sedang berpelukan.
"Dek, kamu kenapa nangis? Apa yang kalian lakukan. terhadap Kakak?" sergah Rion.
"Echa terharu, Ayah. Mereka memberikan sesuatu yang membuat Echa bangga," terang Echa.
Rion yang baru saja hendak bergabung ditegur oleh Radit yang baru saja tiba. "Mandi dulu, Yah. Itu ada anak-anak Radit. Nanti mereka alergi." Rion pun mendengus kesal tetapi, tetap melakukan perintah Radit.
"Kalian juga," titah Radit pada Riana dan Iyan. Kedua adiknya hanya merengut kesal dan menjalankan perintah sang penguasa rumah ini.
Setelah semuanya selesai, mereka kembali berkumpul di ruang keluarga bersama Echa dan baby's Ale. Echa segera memberikan hasil nilai raport Riana dan juga Iyan kepada sang ayah. Reaksi Rion benar-benar tidak percaya. Dia tahu, bagaimana Riana dan Iyan.
"Itu Ri persembahkan untuk Ayah dan Kakak," ujar Riana.
"Jadi, ini alasan kamu yang selalu pulang terlambat?" Riana mengangguk.
"Ri, ikut les tambahan setelah pulang sekolah."
"Biayanya dari mana, Ri? Kakak tidak pernah dengar itu dari Ayah."
"Uang yang Kakak dan Ayah berikan selalu Ri sisihkan untuk bayar biaya bulanan les tersebut. Dan Ri juga memilih tempat les yang murah kok."
"Kenapa kamu gak bilang, Ri? Ayah masih mampu membiayai les tambahan kamu," sahut Rion dengan sedikit marah.
"Ri, ingin menjadi anak yang mandiri, Ayah. Ri, tidak ingin selalu menyusahkan Ayah dan Kakak." Rion memeluk tubuh putrinya dengan penuh kebanggaan dan keharuan.
"Makasih, sudah membesarkan RI dan merawat Ri dengan penuh kasih sayang. Maaf, jika Ri pernah buat Ayah kecewa. Ri, sayang Ayah." Air mata menetes begitu saja. Rion benar-benar bangga kepada Riana.
Iyan menyerahkan selembar kertas yang telah dilipat kepada sang ayah. "Apa ini?" Hanya seulas senyum yang menjadi jawaban dari Iyan.
Teruntuk mu, lelaki terhebatku
Ayah ..
Aku tahu, bertahan dalam kepedihan itu tidaklah mudah. Tetapi, Ayah mampu melakukannya. Meskipun, banyak air mata yang Ayah tumpahkan dalam heningnya malam. Agar aku dan anak-anak Ayah yang lain tidak mengetahui kesedihan Ayah yang sesungguhnya.
Ayah adalah lelaki terhebat yang aku miliki. Menjadi orang tua tunggal pasti sangat sulit. Lagi-lagi, Ayah berhasil melakukannya. Membuatku merasa tetap memiliki orang tua yang utuh. Padahal, pada nyatanya aku hanya memilikimu, Ayah sekaligus Ibu untukku.
Terimakasih atas segalanya. Terimakasih, Ayah. Dampingi aku terus sampai aku bisa membuatmu bangga dengan hasil kerja kerasku.
Aku sangat menyayangimu, Ayah.
Rion tidak bisa berkata apa-apa. Tetesan bulir bening kini membasahi wajahnya. Terharu, itulah yang dia rasakan. Di bawah tulisan itu ditempel foto Rion, Riana, Iyan, Echa, Radit serta para kurcaci yang sedang tertawa bahagia.
Aku membuktikan, hidup tanpa seorang ibu tidaklah memilukan. Malah sebaliknya, hidupku sangat sempurna berada di tengah-tengah kalian semuanya. The real family.
I'm happy with you.
I love you all.
...****************...
Mana komen kalian? Makin sedikit aja sih ...🤧