Bang Duda

Bang Duda
257. Reinkarnasi Dinda (Musim Kedua)



Raut kesal nampak sekali di wajah Dea. Sepertinya dia kalah telak, Dea pun bangkit dan mengejar Amanda.


Sebelumnya ....


Setelah Rion selesai menerima panggilan dari rekan bisnisnya, dia melihat Dea sedang berbincang-bincang dengan Amanda. Jika, dia kembali urusannya pasti akan runyam.


Rion pun menghubungi Amanda.


"Sayang itu Dea," katanya.


Untungnya, Amanda cepat tanggap dengan apa yang dikatakan oleh suaminya. Setelah panggilan berakhir, Amanda dengan sengaja meletakkan ponselnya yang masih menyala di atas meja. Terlihat foto Rion dan Amanda yang sedang saling tatap dan tersenyum bahagia. Amanda melihat jelas wajah Dea yang terlihat sangat kesal.


Dea mulai memancing-mancing menanyakan Rion. Amanda pun menceritakan kebiasaan suaminya yang suka mimi susu dari sumbernya sebelum tidur. Wajah Dea sangatlah pucat ketika mendengarnya. Ada senyum jahil di wajah Amanda.


Ternyata Dea bukanlah wanita yang lemah. Dengan lantangnya dia mengatakan jika dia mencintai Rion di hadapan istri sah seorang Rion Juanda.


Amanda pura-pura terkejut padahal dalam hatinya tertawa keras. Dea pikir Amanda wanita bodoh. Padahal dia ratu dari para wanita penggoda seperti Dea.


Lu gak tau aja gimana rekam jejak gua dulu di dunia malam.


Senyum tipis pun menghiasi bibir Amanda.


Karena Dea semakin kurang ajar, akhirnya Amanda mengeluarkan kata-kata mutiara untuk Dea. Dan lebih parahnya, Amanda menyuruh Dea untuk berguru kepada wanita yang lebih pandai menggoda.


--------


"Tunggu," seru seseorang.


Langkah Amanda pun terhenti dan dia mengenali suara yang memanggilnya. Amanda pun menoleh, seorang wanita yang berhijab tersenyum ke arahnya.


"Vera," kata Amanda.


Vera pun menghampiri Amanda dan memeluknya erat. "Kemana aja lu?" tanya Vera.


"Ada, gua ikut suami gua di sini."


"Wah enak dong, pasti laki lu kaya," balas Vera. Hanya seulas senyum yang Amanda berikan.


Tak jauh dari mereka, Dea nampak terkejut dengan apa yang dia lihat. Vera sepertinya mengenal Amanda dan terlihat sangat akrab.


Namun, obrolan mereka terhenti ketika Rion memanggil Amanda. Tanpa malu dan ragu, Rion mengecup kening Amanda di depan Vera.


"Ayo Yang, kayaknya kita terlalu lama di sini." Rion langsung menggenggam tangan Amanda dan membawanya menjauhi Vera. Vera pun tercengang dibuatnya.


Bukan hanya Vera yang melongo, Dea pun hanya bisa mematung di tempatnya melihat adegan mesra suami-istri itu.


"Kamu kenal dengan wanita itu?" tanya Rion ketika mereka sudah berada di dalam mobil.


"Temen nakal Manda dulu," sahutnya.


"Kamu tau gak?"


"Gak tahu," jawabnya.


"Ck, makanya jangan dipotong dulu kalo Abang lagi ngomong." Amanda pun tertawa.


"Jangan ngasuh si Beeya terus, ketularan virus menyebalkan anak si Arya kan," sungutnya.


"Lah sekarang bawa-bawa di Beeya, kan kita lagi bahas si Vera."


"Oh iya lupa." Rion pun menepuk jidatnya sendiri.


"Itu si Vera sepupunya si Cantika mantan pacar si Gio yang rada gak waras," jelasnya.


"Lalu?"


"Dia kan ikut terlibat dalam penyebaran video Abang sama Yanda kemarin itu."


"Berarti dia temannya Dea dong?" Rion pun mengangguk.


"Dia juga sempat menggoda Gio di kantor polisi, tapi godaannya gak mempan. Malah dia seperti najis mughaladzoh bagi Gio."


"Maksudnya?" tanya Amanda tidak mengerti.


"Si Vera kan nyentuh tangan si Gio sama pipinya. Langsung Gio bersihin pake tisu basah. Hampir satu pak tisu basah habis Gio pakai untuk membersihkannya jejak tangan Vera. Daia juga langsung ganti baju dia," jelas Rion seraya tertawa.


"Contoh tuh Pak Gio, meskipun kaya, serba ada tapi cukup setia pada satu wanita, yaitu Mbak Aya."


Rion pun memilih diam jika istrinya sudah membahas kesetiaan. Jujur, Rion bukanlah Gio yang teguh pada kesetiannya. Namun, Rion akan berusaha setia seperti Gio yang selalu setia kepada istrinya.


Setelah selesai memeriksa kandungan, mereka menjemput Riana di rumah Ayanda. Amanda menceritakan pertemuannya dengan Dea. Dan dengan terang-terangan mengatakan ingin memiliki suaminya.


"Parah ya," ucap Ayanda tidak percaya.


"Padahal penampilannya anggun dan alim begitu," lanjut Ayanda lagi.


"Kamu harus hati-hati, Nda. Sepertinya dia tidak akan mudah menyerah sebelum keinginannya tercapai," tukas Ayanda.


"Ya Manda tahu kok. Lagian dia gak tau aja siapa Manda sebenarnya. Kalo dia tahu pasti dia ikut berguru sama Manda," ujar Amanda seraya tertawa diikuti oleh Ayanda dan juga Rion.


"Kok aku ngerasanya si Dea itu reinkarnasi sI Dinda ya," celetuk Ayanda.


"Hush! Gak usah ngomongin yang udah tenang di alam sana," potong Rion.


****


Di lain tempat, Dea masih menginterogasi Vera tentang hubungan Vera dengan Amanda.


"Dia itu wanita penghibur, cuma bernasib baik," ujar Vera.


"Maksudnya?'


"Dia itu adalah ratu penghibur dan termasuk ke dalam wanita bayaran termahal. Sekali pake tarifnya bisa sampe 10 juta."


Dea pun melongo dengan apa yang diucapkan oleh Vera. "Pantes tadi dia santai aja pas aku bilang kalo aku mencintai suaminya dan ingin memiliki suaminya."


Vera pun tertawa terpingkal-pingkal mendengarnya. "Ya wajar sih dia ngomong kaya gitu. Dia itu spesialis penggaet om-om berduit."


"Hah?" Dea pun terkejut dengan ucapan Vera.


"Aku ceritain deh, setau aku sih Amanda terpaksa melakukan pekerjaan itu. Karena pada waktu itu Mamahnya sakit parah dan membutuhkan biaya yang sangat banyak," terangnya.


"Kenapa Pak Rion mau sama dia? Padahal kan dia wanita gak benar," timpal Amanda.


"Setau aku sih Mamahnya Rion itu yang ngejebak anaknya untuk nikah sama Amanda," tutur Vera.


"Kok bisa?"


"Mamah Rion sama Mamahnya Manda itu bersahabat. Terus almarhum Mamahnya Manda itu nitip Manda ke Mamahnya Rion, mungkin karena Manda itu orangnya baik, Mamahnya Rion itu suka sama Manda. Ditambah sedikit-sedikit Manda mau berubah ke arah yang lebih baik."


"Awalnya Rion juga nolak,mungkin karena pelayanan Manda yang sangat bagus makanya Rion bertekuk lutut sama Amanda."


Dea mendengus kesal mendengar ucapan Vera. "Sepertinya Rion juga cinta banget sama Amanda. Bucin banget dia kayaknya," imbuh Vera.


"Udah deh jangan bahas dia terus," sungut Dea. Vera hanya tertawa melihat wajah Dea yang terlihat sangat kesal.


****


Keesokan harinya, Rion masih fokus dengan pekerjaannya. Pintu diketuk oleh Kinanti dan hanya dijawab dengan kata masuk oleh Rion.


"Ada kiriman kopi, Pak," ucap Kinan.


"Taruh di situ," sahut Rion.


Setalah meletakkan kopi di meja kerja Rion, Kinanti pun meninggalkan ruangan Rion.


Di bawah sana, ada wanita yang tersenyum penuh arti melihat security kantor Rion menerima kiriman darinya. Security itu langsung membawa kiriman itu masuk ke dalam.


"Sebentar lagi, kamu akan bertekuk lutut padaku," katanya.


Rion menatap ke arah kopi yang dia pesan tadi melalui Arya. "Tumben-tumbenan nih orang cuma ngirimin kopinya. Terus makhluknya ke mana?" tanyanya pada diri sendiri.


Karena mata Rion sudah tidak bisa diajak kompromi, dia pun meraih kopi di mejanya. Dia bawa ke arah sofa. Baru saja mulutnya menyentuh gelas kopi itu, teriakan Beeya dan juga pelukan Beeya membuat tubuh Rion sedikit terdorong ke depan dan membuat kopi yang dipegang Rion tumpah tak tersisa.


Beeya yang melihat kopi ayahnya tumpah pun langsung tertunduk. Matanya sudah merah dan hidungnya pun sudah memerah.


"Gak apa-apa, Bee," ucap Rion dan langsung menggendong tubuh Beeya.


Arya yang baru saja masuk ke ruangan Rion dengan membawa jinjingan di tangannya terlihat heran melihat Beeya yang sudah ingin menangis.


"Anak gua kenapa?"


"Dia numpahin kopi yang baru lu beliin," sahut Rion.


"Kopi apa? Nih kopi lu aja masih di plastik ini," tunjuk Arya pada plastik di tangannya.


"Lah itu kopi dari siapa?" Arya pun mengangkat bahunya.


"Itu dari Tante jahat," timpal Beeya.


Arya dan Rion pun saling tatap tak mengerti. "Maksud kamu Tante yang berkerudung seperti Bunda?" Beeya pun mengangguk.


"Emang kamu lihat Tante jahat?" Lagi-lagi Beeya mengangguk.


"Dia ada di domaret samping kantor Ayah dan Papah."


****


Mohon maap, bab bonus visual aku hapus ya. Karena karya yang sudah kontrak tidak boleh menyisipkan gambar yang memiliki hak cipta.