
Sepulang sekolah, Riana nampak sangat gembira. Membuat Amanda heran dibuatnya.
"Tumben banget, Ri. Itu wajah berseri," ujar Amanda.
Riana berhambur memeluk tubuh bundanya. "Ri, senang banget, Bun. Akhirnya Ri bisa ketemu lagi sama Abang dan juga Kakak."
Deg.
Perasaan bersalah menyelimuti hati Amanda. Jika, Amanda tidak cemburu kepada Rion dan Ayanda, hubungan mereka pasti akan baik-baik saja. Dan anak-anak mereka pun akan tumbuh secara bersama.
"Sekarang Abang ganteng banget loh, Bun. Kakak juga gak kalah keren dari Abang. Pokoknya, mereka berdua itu berubah banget. Gak kaya empat tahun lalu." Riana sangat antusias menceritakan tentang Aksa dan juga Aska. Sedangkan, Amanda merasa teriris hatinya.
"Ya udah, kamu ganti baju dulu, ya. Setelah itu makan." Riana mengangguk patuh.
Di kediaman Ayanda, Aska masuk ke kamar Aksa yang sedang asyik bermain game.
"Bang, Riana cantik, ya," ucap Aska tiba-tiba.
"Dia kan cewek, pasti cantik lah," sahut Aksa.
"Ck, Abang mah gak pernah serius ih kalo diajak ngomong," omel Aska.
"Ya terus, Abang harus jawab apa coba? Kamu nanyanya begitu doang."
"Kira-kira dia udah punya pacar belum?" Aksa segera menatap tajam ke arah adiknya.
"Jangan macam-macam Aska. Ingat janji kita kepada Daddy," tukas Aksa.
Aska hanya menghela napas kasar. Mereka pernah berjanji, jika tidak akan berpacaran sebelum mereka lulus SMA.
"Oh iya, perasaan Abang deket banget sama si Kania," goda Aska.
"Kapan?"
"Tadi, si Kania berasa kayak bayangan Abang," tutur Aska.
"Risih Dek, sebenarnya. Tapi, ya mau gimana lagi. Abang harus bekerja sama dengan dia," keluhnya.
"Bang, kan banyak cewek cantik yang suka sama Abang. Emang gak ada satu pun dari mereka yang bikin hati Abang deg deg ser gimana gitu," tanya Aska.
"Gak ada, di mata Abang yang cantik cuma Mommy dan juga Kakak. Udah, gak ada yang lain."
"Abang normal gak sih?"
"Sembarangan." Aksa melempar bantal ke arah Aska yang tertawa mengejek.
"Bang, kalo aku sama Riana menurut Abang cocok gak?" tanya Aska.
"Hm." Mode menyebalkan Aksa sudah muncul membuat Aska mendengus kesal.
"Abang mah kebiasaan. Apa jangan-jangan Abang suka sama Riana?" desak Aska.
Aksa menatap tajam ke arah Aska. Dan membuat Aska beringsut mundur dan keluar dari kamar abangnya yang seperti es kutub.
"Suka? Riana?" Aksa hanya tersenyum kecut.
Aksa lebih memilih melanjutkan kegiatannya main game dibanding harus memikirkan perkataan adiknya yang tidak berfaedah.
"Mommy," teriak Aska di lantai bawah.
"Mommy di belakang," sahut Ayanda.
"Wih, senang banget romannya."
"Sebentar lagi Mommy punya cucu," jelas Ayanda dengan rona bahagia.
"Kakak hamil?"
"Ya. Gak tanggung-tanggung, langsung tiga anaknya," terang Ayanda.
"Itu Kakak apa kucing." Ayanda memukul bahu Aska dengan cukup keras sedangkan Aska tertawa puas.
"Kapan Kakak kembali ke sini? Adek kangen Kakak." Aska sudah bergelayut manja di lengan sang Mommy.
"Mommy juga belum tahu, Kakak gak bilang," lirihnya.
"Lagian ngapain kali ke London segala. Rumah ini besar banget, main bola juga bisa di sini. Kalo ada Kakak rumah ini lebih hidup."
"Bukan hidup, tapi berisik. Apalagi kamu dan Kakak itu gak pernah ada akurnya," omel Ayanda. Aska pun tertawa mendengar Omelan Ayanda.
"Mom."
"Hm."
"Dih, nyebelin banget jawabnya begitu doang," gerutu Aska.
"Ada apa Gatthan Askara Wiguna?"
Aska tersenyum mendengar Mommy-nya memanggil nama lengkapnya.
"Adek satu sekolah sama Riana."
"Lalu?"
"Riana semakin cantik loh, Mom. Beda sama Riana kecil dulu," imbuh Aska.
"Kalo Adek ajak main ke sini, boleh gak Mom?" tanya ragu Aska.
"Apaan? Itu Ayah, Mommy larang," cibir Aska.
"Kamu tahu alasannya, kan." Aska mengangguk.
"Kamu suka sama Riana?" Aska salah tingkah sendiri mendengar pertanyaan Ayanda.
"Aduh, Mommy kira kedua anak bujang Mommy gak normal," ejek Ayanda.
"Kalo ngomong suka sembarang aja nih, si Mommy. Udah kayak buang sampah aja," gerutu Aska. Ayanda tertawa mendengar gerutuan Aska.
"Abang noh yang gak normal. Banyak cewek cantik yang godain juga tetep aja datar hatinya," cicit Aska.
"Abang memiliki alasan dibalik itu, Dek." Aska mengerti apa yang dikatakan oleh Ayanda.
Di kamarnya, Aksa merasa terganggu karena dentingan suara pesan masuk di ponselnya. Dia berdecak kesal karena baru saja dia merebahkan diri di kasur empuk miliknya.
"Hay Abang ganteng."
"Lagi apa? Pasti lagi mikirin Ri, ya."
Aksa mengerutkan dahinya membaca isi pesan yang dikirimkan oleh nomor yang tidak dia kenal. Namun, dia melihat foto profil nomor tersebut adalah foto Riana.
"Tau dari mana dia nomor ponsel gua," gumamnya.
"Ri, maksa Key buat ngasih nomor Abang ke Ri."
"Dasar Keysha," keluhnya.
Aksa hanya membaca pesan yang dikirimkan oleh Riana tanpa membalasnya. Setelah Riana tidak lagi mengetik. Barulah Aksa membalas pesannya.
"Minum obat gih."
"Abang mau tidur."
"Jangan ganggu dulu."
Jleb.
Sungguh sakit hati Riana membaca pesan balasan dari Aksa. Ingin rasanya dia menangis. Namun, dia ingat ucapan dari Keysha.
"Jangan harap Abang ngebales chat lu dengan kata-kata manis."
"Ya Allah, judesnya bikin dada sesak, ya," keluhnya.
"Kudu punya hati yang kuat buat ngadepin Abang Aksa kesayangan, nih."
"Idih, jijay banget dengernya."
Suara yang paling Riana benci sudah menggema di kamarnya. Siapa lagi kalo bukan Beeya.
"Ngapain sih lu ke sini?"
"Mau numpang ngadem, AC kamar Bee lagi dibenerin," jawabnya sambil merebahkan diri di atas tempat tidur Riana.
"Bee," panggil Riana.
"Hm."
"Lu masih ingat Abang Aksa dan Kakak Aska gak?"
"Oh si kembar. Bee sering ketemu tuh. Daddy sering ngajak Mamah dan Papih Kano kumpul bareng."
"Ganteng ya," ucap Riana.
"Iyalah, orang mereka cowok," sahut Beeya.
Riana menatap kesal ke arah Beeya. Bocah satu ini dari kecil hingga sekarang masih saja menyebalkan.
"Kenapa diem Kak? Kak Ri suka sama salah satu dari si kembar?"
"Ng-nggak," kilah Riana.
"Tadi, Bee dengar Kak Ri panggil Abang. Kak Ri suka sama Abang?" desak Beeya.
"Nggak," jawab Riana.
"Oh syukurlah." Mata Riana melebar ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Beeya.
"Kalo mau dapetin hati Abang, siap-siap bersaing dengan wanita-wanita cantik. Setahu Bee, sudah banyak kolega Daddy yang meminta Abang untuk menjadi calon suami dari anak-anak mereka," jelas Beeya.
"Daddy menyetujuinya?" tanya Riana.
Beeya mengangkat bahunya dan malah asyik bermain benda pipihnya.
"Abang lebih susah dideketin dibanding Kakak. Jadi, kalo suka sama Abang kudu punya mental baja, Kak."
"Ya Allah, ngenes banget hidup gua. Belum juga berjuang udah ngadepin rintangan yang cukup sulit," keluhnya di dalam hati.
...----------------...
Yang penasaran sama wajah Abang Aksa dan juga Kakak Aksa, aku kasih visualnya ya ...
Tapi, akhir bulan aku hapus lagi 🤣