Bang Duda

Bang Duda
314. Dijodohkan (Musim Kedua)



Ketika semua orang melihat tontonan gratis nan spektakuler. Aksa memilih untuk tetap berdiam di rumah. Alasannya, karena dia tidak ingin bertemu Riana. Sudah pasti, Riana akan berada di rumah Beeya.


"Minta maaflah, Bang."


Kalimat yang diucapkan oleh sang Daddy ketika Rion mencak-mencak datang menemui Aksa.


"Apa alasan kamu bikin anak Ayah nangis?" sentaknya.


Bukan hanya Aksa yang terkejut. Penghuni rumah yang lain pun ikut tersentak mendengar ucapan yang Rion lontarkan.


"Maksudnya apa, Mas?" tanya Ayanda.


"Kamu tanya sendiri aja sama anak kamu," geramnya.


"Bang." Aksa menghela napas kasar mendengar panggilan penuh permohonan dari sang mommy.


"Kemarin Abang kan ngajak jalan Beeya, Mom. Abang jemput Bee di rumahnya."


"Lalu," potong Ayanda.


"Riana salah paham, Mom," belas Aska yang baru saja ikut bergabung.


"Riana kira, Bee itu pacaran sama Abang. Karena Mommy tau sendiri sesayang apa Abang sama Bee."


"Dengerin tuh anak gua ngomong. Gak akan mungkin anak sulung gua nyakitin anak lu. Haram bagi dia untuk nyakitin cewek." Ucapan Gio mampu menohok hati Aksa. Iya, dia tidak akan pernah menyakiti wanita. Tapi, disakiti oleh wanita.


Aksa hanya menghela napas kasar mengingat kejadian malam itu. Apalagi Daddy dan Ayahnya berniat untuk menjodohkan salah satu dari si kembar dengan Riana. Sungguh muak rasanya. Hal yang tidak pernah Aksa suka itu adalah ini. Jodoh menjodohkan. Seperti novel-novel romance yang terbit. Dari benci jadi cinta. Perjodohan dan dijodohkan. Apa dunia ini adalah dunia halu? Begitulah batin Aksa.


Suara ketukan pintu dari luar membuat Aksa harus beranjak dari posisi enaknya. Dia membuka pintu kamarnya. Dan sosok yang tengah dia pikirkan ada di depannya.


"Riana."


Riana segera mendorong tubuh Aksa, lalu mengunci pintu kamar Aksa.


"Kenapa kamu kunci, Ri?"


Tidak ada jawaban dari Riana. Riana terus mendorong tubuh Aksa hingga terbentur ke dinding. Riana menatap manik mata indah milik Aksa begitupun Aksa. Sweater yang Riana pakai, dia tanggalkan dan kini hanya menyisakan tangtop berwarna hitam. Memperlihatkan belahan dada Riana yang sangat mulus. Aksa bukan laki-laki alim, dia juga pasti akan tergoda jika disuguhkan pemandangan indah seperti itu.


Riana menangkup wajah Aksa, matanya masih tidak berpaling dari wajah tampan Aksa. Napas mereka sudah saling beradu. Menandakan wajah mereka sudah dekat dan sangat dekat.


"Ri, mencintaimu Abang," ucapnya.


Mata Aksa melebar ketika bibir pink milik Rian sudah menempel di bibir Aksa. Riana mulai menyesap lembut dan meminta Aksa untuk membuka mulutnya. Aksa tetap tidak ada respon. Aksa memaksa untuk melepaskan ciuman Riana. Namun, gagal. Karena Riana sudah mengalungkan lengannya ke leher Aksa. Lidah Riana terus bermain-bermain di bibir yang masih Aksa rapatkan. Serta dengan sengaja, dadanya dia tempelkan ke dada bidang Aksa. Sekuat tenaga Aksa tidak terpengaruh. Dia masih bisa bertahan, hingga Riana melepaskan pagutan bibirnya karena kecewa Aksa tidak membalasnya.


Aksa menatap Riana dengan tatapan tajam. Dia benar-benar tidak suka dengan cara yang dilakukan oleh Riana seperti wanita murahan.


"Apa dengan cara itu kamu bisa menaklukkan hatiku?" ucap Aksa dengan suara sedikit meninggi.


"Yang ada tuh aku semakin ilfeel," sentaknya.


Mata Riana sudah berkaca-kaca mendengar ucapan dari Aksa. Sungguh sangat menusuk relung hatinya.


"Seakan kamu tuh menunjukkan, jika cinta akan datang karena nafsu. Tapi, tidak untuk ku, Riana," bentak Aksa.


"Jika, kamu melakukan itu kepada orang lain. Sudah dipastikan kamu akan menyesali perbuatan kamu seumur hidupmu. Tapi, aku bukanlah mereka. Yang menjunjung nafsu di dalam sebuah hubungan. Terlebih, kamu udah aku anggap seperti adikku sendiri."


"Ya, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Apakah kelakuan seperti ini yang Bunda turunkan kepada Riana?" gumamnya.


Ketika Aksa keluar dari kamar mandi. Riana sudah tidak ada. Cinta dan obsesi itu beda tipis. Dan itulah perasaan yang Aksa lihat dari Riana. Aksa termenung di kursi meja belajarnya. Memikirkan kejadian dua tahun lalu. Bukan, memikirkan apa yang telah terjadi. Sungguh, kelakuan Riana tidak membust tubuh Aksa merasakan desiran aneh maupun hebat.


"Luka tak kasat mata lebih sulit disembuhkan dari pada luka fisik yang diderita."


Riana merutuki kebodohannya. Kenapa dia bisa melakukan hal itu kepada Aksa. Dan sudah dipastikan, Aksa akan membencinya. Menggoda orang yang dia sayangi dengan lekuk tubuh dan bibirnya. Berharap itu akan berhasil. Tapi, malah sebaliknya. Aksa bukanlah laki-laki yang lemah iman.


"Kenapa gua seperti cewek murahan seperti ini?" gumamnya sambil menangis.


"Dan seganas-ganasnya gua menggoda. Abang tidak membalas. Apa ini adalah bukti, jika memang Abang gak suka sama gua?"


Riana semakin menundukkan kepalanya semakin dalam. Dengan bulir bening yang semakin membasahi wajahnya. Menyesal, sudah pasti. Malu, tentu saja. Seperti wanita yang tidak memiliki harga diri. Menjajakan tubuhnya hanya untuk memikat laki-laki yang dia suka.


Keesokan harinya di sekolah. Aksa sedang berbincang santai bersama Keysha. Membahas pertemuan keluarga besar yang akan keluarga mereka adakan.


"Abang ikut?"


"Daddy maksa," sahutnya.


Keysha melihat Riana sedang berjalan menuju kelasnya. Dengan keras, Keysha memanggil Riana. Langkah Riana terhenti ketika melihat Aksa sedang berada bersama Key.


"Sini," pinta Keysha.


Mau tidak mau Riana menghampiri Keysha dan juga Aksa. Namun, ketika langkah Riana semakin dekat. Aksa memilih untuk pergi dan beralasan ada pertemuan dadakan dengan pengurus OSIS lainnya.


Hati Riana semakin mencelos, dia sangat yakin bahwa Aksa memang ilfeel terhadapnya. Apalagi, kelakuannya seperti wanita malam. Raut sendu terpampang nyata di wajahnya. Pertanyaan Keysha pun tidak dia gubris sama sekali. Pikirannya masih berkelana ke kejadian pagi kemarin.


Berkali-kali Riana mengucapkan kata maaf via WhatsApp. Pesan itu hanya dibaca saja tanpa dibalas. Apakah ini sisi lain dari Aksa yang tidak Riana ketahui?


Suara khas seseorang membuat lamunan Riana buyar. Siapa lagi jika bukan Aska. Aska duduk di samping Riana. Kebetulan Keysha dan Riana sudah berada di dalam kelas.


"Kenapa sih?" tanya Aska seraya menatap wajah sendu Riana.


Aska menarik kepala Riana dengan lembutnya agar bersandar di bahu Aska. "Bahu ini akan menjadi tempat ternyaman untuk kamu bersandar nantinya."


Riana mendongakkan kepala menatap Aska. Matanya mengatakan jika dia tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Aksa.


"Daddy dan Ayah, sudah setuju jika nanti kamu dan Kakak menikah. Mereka sudah membahas perjodohan kita." Mata Riana melebar dengan sempurna.


"Ayah inginnya kamu dengan Abang. Tapi, dengan tegas Abang menolaknya."


Sungguh sakit hati Riana. Apakah dia harus berhenti memperjuangkan cintanya sampai sini?


...----------------...


Cerita Aksa dan Aska serta jodoh mereka akan aku tulis di judul yang baru. Dan akan tetap rilis di sini.


Kapan? Setelah Bang Duda tamat.


Entah Bang Duda akan tamat di awal bulan Mei atau Juni. Tergantung level karyanya saja. So, jangan khawatir aku masih akan berkarya di sini kok. Asalkan kalian tetap setia dengan cerita yang aku suguhkan ..


Mohon maaf telat update, karena badanku tiba-tiba drop setelah buka puasa kemarin. Aku usahakan untuk Bang Duda gak akan ada bolong up sampe akhir bulan ini.