Bang Duda

Bang Duda
185. Tidur Di Luar



"Yang, i-itu ...."


"Apa? Itu kan baju yang tadi Abang pakai, dan itu juga pas di rumah mantan istri Abang, kan. Abang mau main belakang?" sentak Amanda.


"Astaghfirullah Yang, gak ada niat sedikit pun untuk khiantain kamu ...."


"Ini apa? Abang peluk mesra mantan Abang ketika Manda gak ada di samping Abang. Abang nyari kesempatan dalam kesempitan, iya?"


Wajah Rion sudah pucat pasi. "Yang, udah dong. Nanti tensi darah kamu naik lagi," ujar Rion.


"Gak usah ngalihin pembicaraan," sentaknya lagi.


"Lihat, wajah Abang sangat bahagia sekali di foto ini. Abang masih mencintai mantan istri Abang, iya?"


Rion tidak bisa menjawab apa-apa. Semakin dia menimpali ucapan Amanda, Amanda akan semakin murka.


"Tuh kan diam. Diam Abang aku anggap iya, kalo Abang masih sayang sama mantan istri Abang." Amanda berlalu meninggalkan Rion, Rion mengejar Amanda dan memeluk kaki Amanda dari belakang.


"Yang, Abang harus membuktikan seperti apa lagi ke kamu? Iya, Abang akui tadi Abang meluk Yanda karena Abang bahagia kamu mau melakukan tindakan operasi secepatnya."


"Hahahaha ...."


Suara Amanda tertawa membuat Rion mendongakkan kepalanya menatap istrinya. "Panik banget, ya," goda Amanda.


"Astaghfirullah Yang." Tubuh Rion terkulai lemas di lantai dan Amanda semakin dibuat tertawa.


Amanda membantu Rion untuk bangun dan mereka duduk di tepian tempat tidur. "Manda tahu Abang masih sayang ke Mbak Aya. Tapi sayangnya Mbak Aya udah gak menyayangi Abang," ledeknya kembali.


"Terus aja ledek," ucap Rion kesal.


"Udah dong, jangan marah. Manda cuma nguji, Ayahnya di dedek ini sayang gak sama Bunda," ujarnya sambil bergelayut manja di lengan suaminya.


"Ayah sayang banget sama Bunda." Rion mengecup kening Amanda sangat dalam. Membuat Amanda tersenyum bahagia.


"Siapa yang ngirim foto itu?" tanya Rion.


"Salah satu pembantu di rumah Mbak Aya. Pembantu yang montok dan bahenol itu."


"Kok kamu tahu?" tanya Rion sambil memijat kaki Amanda.


"Manda tadi liat dia tuh lagi ngambil gambar Abang sama Mbak Aya lagi pelukan. Dan Manda juga tahu Abang yang minta peluk duluan," imbuhnya.


"Kamu marah?" tanya Rion.


"Untuk apa? Mbak Aya juga gak akan tergoda sama Abang. Secara suaminya sempurna banget."


"Bentar-bentar, foto ini sama si pembantu itu dikirim ke kamu. Bisa jadi kan dikirim juga ke si Gio." Amanda terdiam lalu mengangguk.


Di kediaman Gio.


Gio masuk ke dalam rumahnya dengan wajah yang sulit diartikan. "Dad." Ayanda ingin memeluk tubuh Gio namun Gio tolak.


"Ikut aku." Kata aku yang terlontar dari mulut Gio terasa sangat menakutkan bagi Ayanda.


Ayanda pun mengikuti Gio dari belakang dan masuk ke ruangan kerjanya. "Maksudnya apa?" Gio membanting foto di atas meja kerjanya.


Ayanda mengambil satu per satu dan matanya melebar. "Ketika aku kerja, kamu malah asyik pelukan sama mantan suami kamu," sentaknya.


"Dad, itu gak seperti yang Daddy pikirkan. Mas Rion ke sini bersama Amanda. Dan dia minta bantuan Mommy untuk meyakinkan Amanda agar mau secepatnya melakukan operasi sesar."


"Tidak usah beralasan, apa dengan cara ini membujuk Amanda?"


"Jika Daddy tidak percaya, Daddy bisa tanyakan sendiri kepada Mas Rion," ucap Ayanda yang ingin sekali mengeluarkan air matanya. Dibentak suaminya membuat dadanya terasa sesak.


"Ngapain? Pasti kalian sudah sekongkol terlebih dahulu. Agar jawaban kalian berdua sama."


"Astaghfirullah, kenapa pikiran Daddy picik seperti ini?"


"Kamu yang picik!"


Kesabaran Ayanda pun telah habis. "Terserah kamu mau berbicara apa. Terserah kamu mau berpikiran seperti apa. Aku udah berbicara jujur dan apa adanya. Tapi, kamu malah bilang aku picik. Apa selama ini aku pernah berbohong kepadamu?"


"Terserah kamu saja, tubuhku sudah lelah dan aku tidak ingin membuat hatiku lelah juga. Karena akan berimbas kepada hati anak-anakku."


Ayanda meninggalkan ruangan Gio, ketika tangannya memegang kenop pintu Gio memeluknya dari belakang.


"Daddy bercanda, Mommy. Bercanda," ucapnya sambil meletakkan dagunya di bahu sang istri.


"Daddy sangat tahu bagaimana hubungan Mommy dan Rion."


Ayanda menatap Gio dengan tatapan tajam sedangkan Gio malah tersenyum bahagia.


"Maafkan Daddy ya, Mommy," ucapnya sambil membalikkan tubuh Ayanda. Lalu mengecup kening istrinya.


"Sudah lama Daddy gak ngeliat wajah garang Mommy," goda Gio sambil mencubit gemas pipi Ayanda.


"Malam ini Daddy tidur di luar."


****


Happy reading ....