Bang Duda

Bang Duda
323. Kakak (Musim Kedua)



Di belahan dunia yang berbeda, seorang gadis cantik sedang menangis di dalam kamarnya. Ketukan demi ketukan pintu dari luar tak dia indahkan. Rasanya sakit, ketika orangtua sendiri tidak mendukung perjuangan anaknya.


"Ri, buka pintunya, Nak." Amanda berusaha berbicara dengan Riana dari balik pintu. Namun, tidak ada jawaban dari dalam.


"Biarin aja, Bun. Nanti juga kalo laper mah Kakak turun. Kakak mah cengeng," cibir Iyan yang sedang memakan keripik kentang.


Amanda pun akhirnya menyerah dan meninggalkan kamar Riana.


"Ayah jahat!" seru Riana dengan suara sesenggukan.


Satu jam yang lalu ....


Rion memanggil Riana untuk ke ruangan kerja miliknya. Ada sedikit ketakutan yang Riana rasakan. Tidak seperti biasanya, sang ayah menyuruhnya untuk masuk ke ruang pribadi ayahnya itu. Pelan-pelan, Riana mengetuk pintu ruang kerja. Setelah suara dari dalam menyuruhnya masuk barulah Riana melanjutkan langkahnya.


"Duduk."


Suara yang terdengar sangat horor di telinga Riana. Riana mencoba mengingat-ingat, apakah dia melakukan kesalahan? Rion bangkit dari kursi kebesarannya dan duduk di samping Riana.


"Ada apa, Yah?" Riana mulai memberanikan diri untuk membuka suara.


"Bagaimana hubunganmu dengan Aksa?"


"Jalan di tempat," jawab Riana.


"Ri, apakah kamu tidak lelah mengejar-ngejar laki-laki yang sebenarnya tidak menyayangi kamu?"


Sebuah pertanyaan yang teramat menyakitkan untuk Riana. Riana menatap ke arah ayahnya dengan mata yang sudah nanar.


"Maksud Ayah apa?"


Rion menghembuskan napas kasarnya, lalu mengusap lembut rambut Riana.


"Aksa tidak menyayangimu, Ri."


Riana tersenyum tipis mendengar perkataan dari ayahnya. "Lama-lama juga Abang akan sayang sama Ri," sahutnya dengan penuh percaya diri.


"Ri, tolong dengar Ayah. Sudahi pengejaran kamu terhadap Aksa. Sadarlah Ri, Aksa tidak menyayangi kamu. Dia hanya menganggap kamu seperti adiknya. Sama seperti Keysha dan juga Beeya."


"Ri, akan tetap berjuang," jawabnya lagi


"Kenapa kamu selalu keras kepala sih, Ri. Apa kamu tidak kasihan kepada Aksa yang setiap hari harus diganggu oleh kamu. Dia juga punya privasi."


"Kenapa sekarang Ayah malah tidak mendukung, Ri? Kenapa? Yang anak Ayah itu Ri bukan Abang. Kenapa Ayah membela Abang?" protesnya.


"Ayah tidak mendukung Aksa, tapi kamu juga harus tahu diri dan batasan. Kamu perempuan Ri, bersikap mahal lah sedikit seperti Kakak mu," sahut Rion lembut.


"Kakak, Kakak dan selalu saja Kakak. Bandingin terus aja, Yah. Ri bukan Kakak yang hanya bisa berpasrah tanpa perjuangan. Ri juga tahu cerita Kakak yang disakiti oleh mantannya yang sudah meninggal. Hanya menangis dan menangis yang bisa Kakak lakukan. Apakah itu keistimewaan Kakak? Mengharap iba dari orang lain." Rahang Rion mengeras mendengar cerocosan Riana.


"Cukup Riana!" bentaknya.


"Kamu tahu apa tentang Kakak? Tidak usah menjudge Kakak kamu sendiri," sentaknya lagi.


Amanda yang mendengar keributan di ruang kerja suaminya segera menyerobot masuk ke dalam. Wajah suaminya sudah merah padam dengan tatapan tajam ke arah Riana.


"Ada apa ini?" Riana segera berhambur memeluk tubuh bundanya dan menangis di dalam pelukannnya.


"Ajarkan anak kamu sopan santun. Jangan menghakimi Kakaknya. Karena dia tidak tahu kisah sebenarnya tentang Echa. Dan didiklah anak yang selalu kamu bela itu menjadi perempuan mahal," pungkas Rion dan segera meninggalkan Amanda dan juga Riana.


Setelah kejadian itu, Rion entah pergi ke mana. Rion tidak akan pernah terima siapapun yang menjelek-jelekkan putri kesayangannya. Tidak ada yang lebih tahu tentang Echa selain dirinya dan juga Ayanda.


Amanda meminta Pak Mat untuk mengantarkannya ke rumah Ayanda. Dan Pak Mat menuruti perintah majikannya. Hubungan Amanda dan Ayanda sudah renggang. Sudah tidak ada komunikasi diantara mereka berdua.


Tibanya di sana, pelayan membuka pintu untuk Amanda. Dan Amanda dibawa masuk oleh pelayan. Karena pelayan itu tahu siapa Amanda.


"Sebentar, Bu. Saya panggil Nyonya dulu."


"Saya bukan ingin bertemu dengan Nyonya kalian. Saya ingin bertemu dengan Aksa," ucap Amanda.


Pelayan itu pun mengangguk dan meninggalkan Amanda di ruang tamu.


"Ada apa, Mbak?" tanya Aksa ketika pelayan sudah ada di depan kamarnya.


"Ada temannya Mommy, Den Aksa. Tapi, ingin bertemu dengan Den Aksa."


"Siapa?"


"Itu ... istrinya mantan suami Mommy," jawab si pelayan.


Aksa pun segera turun dan menemui Amanda. Sapaan sopan dan hangat Aksa berikan kepada Amanda. Namun, dibalas dengan tatapan tajam oleh Amanda.


"Bun, ada ap-"


Plak!


Tamparan keras mendarat di pipi putih Aksa. Aksa terdiam, dan kepalanya sedang bertanya-tanya kenapa bundanya bisa seperti ini?


"Itu tidak sebanding dengan kesakitan anak saya yang dimarahi oleh Ayahnya. Karena sikap pengaduan kamu, Riana dibentak oleh Ayahnya," sentak Amanda.


Aksa hanya tersenyum mendengar ucapan Amanda. Ya, keputusan Aksa untuk tidak membuka hati kepada Riana sangatlah tepat. Riana adalah darah daging Amanda. Banyak sedikit sifat buruk Amanda akan menurun kepada Riana.


"Abang mengadu karena Abang tidak tahu lagi caranya untuk berbicara kepada Riana. Abang tidak ingin menyakitinya," jelas Aksa dengan tenangnya. Sambil merasakan pipinya yang masih panas bekas tamparan.


"Jika, kamu tidak ingin menyakitinya bukalah hatimu untuk Riana," cerca Amanda.


"Maaf Bunda, Abang tidak bisa. Riana hanya Abang anggap seperti adik Abang sendiri. Kecuali, sikap Riana seperti Kakak mungkin Abang bisa mempertimbangkannya."


"Kakak, Kakak, terus. Apa istimewanya Kakakmu?" omel Amanda.


"Kakak bukanlah wanita pengadu. Wanita yang mampu menyimpan lukanya seorang diri. Mampu menahan sakitnya sendiri. Satu hal lagi, Kakak bukanlah orang pendendam."


"Tamparan keras yang pernah Bunda layangkan pun, masih menjadi rahasia besar sampai saat ini, bukan. Apakah Kakak itu tidak istimewa? Tamparan itu memang tidak terlalu menyakitkan, tapi mampu membuat orang sakit hati dan bisa dibawa sampai mati," papar Aksa.


"Jika, Bunda ke sini hanya untuk menjelek-jelekkan Kakak. Lebih baik Bunda pergi dari sini. Abang tidak masalah, jika Bunda menampar Abang. Menjelekkan Abang, Abang terima. Tapi, jika itu menyangkut Kakak. Abang tidak akan pernah terima. Karena kalian tidaklah tahu bagaimana Kakak yang sesungguhnya."


"Sebelum menilai orang lain, coba nilai lah diri Bunda sendiri. Apa sudah lebih baik dari Kakak." Aksa meninggalkan Amanda begitu saja.


Inilah alasan kenapa Aksa tidak ingin menjalin hubungan dengan Riana. Sikap buruk yang Amanda lakukan terhadap Echa membuatnya sedikit menyimpan dendam terhadap Amanda dan juga Riana. Usia Aksa dulu memang masih kecil. Tapi, memori otaknya sangatlah tajam. Dia mampu mengingat semuanya. Kakaknya yang selalu menangis di kamar. Riana yang bersikap kasar, Amanda yang membentak Echa. Dan yang paling menyedihkan ketika Kakaknya pergi ke luar negeri bersama sang kakek. Untuk tamparan yang dilayangkan oleh Amanda, tidak sengaja Aksa mendengar percakapan sopir rumahnya berbicara dengan tukang kebun. Di situlah aura-aura tidak suka Aksa kepada Amanda sudah mulai hadir.


...----------------...


Happy reading ...