Bang Duda

Bang Duda
117. Mengadu



Sudah tiga hari ini Rion tidak berbicara kepada istrinya. Karena bujukan dari Arya, akhirnya Rion pulang ke rumah. Ya, hanya pulang tanpa bertegur sapa atau berbicara. Rasa kecewanya sangat besar terhadap Amanda. Apakah ini sifat asli dari istrinya?


Rion selalu sarapan dan makan malam bersama. Hanya dentingan suara sendok dan piring yang saling bersahutan. Setelah selesai makan malam, Rion akan masuk ke ruangan kerjanya dan mengunci pintu dari dalam. Seakan dia ingin menenangkan hatinya dan tidak ingin diganggu oleh istrinya.


Ini adalah hari keempat, Amanda sudah benar-benar tak kuat. Dia pun memutuskan untuk menelepon mamah mertuanya dan menceritakan kepiluannya. Hari itu juga Bu Dina langsung berangkat ke Jakarta ditemani oleh Nisa.


Termenung dan hanya termenung yang selalu dilakukan oleh Amanda. Membuat Mbak Ina gatal ingin berbicara namun, ada rasa segan di hatinya.


Bu Dina dan Nisa pun tiba di kediaman Rion, Amanda langsung berhambur memeluk tubuh mamah mertuanya dengan air mata yang berlinang.


"Tenang, ya, Sayang. Cerita yang jelas ke Mamah, insha Allah Mamah bisa bantu."


Berbeda dengan mamahnya, Nisa memilih pergi ke dapur mengambil minum dan sedikit tidak suka dengan sifat kakak iparnya yang terlalu berlebihan.


Over banget sih, batin Nisa.


Setelah cukup tenang, Amanda menceritakan semuanya kepada Bu Dina dan juga Nisa. Mereka kira ada Rion melakukan kesalahan yang fatal sama seperti kesalahannya terhadap Ayanda. Ternyata hanya masalah yang seharusnya tidak dipermasalahkan.


"Ck, Teh Manda kok aneh, ya. Dari awal Teh Manda tahu bagaimana hubungan si Aa sama si Teteh. Kenapa baru mempermasalahkannya sekarang?"


Amanda hanya terdiam, dia juga merasa bingung kenapa ucapan Kakaknya bisa menggoyahkan hati dan pikirannya.


"Sikap si Aa seperti itu wajar karena sudah kewajiban si Aa untuk menjaga si Teteh dan juga anak-anaknya ketika Nak Gio gak ada," ujar Bu Dina.


"Gini ya, Teh Manda. Hubungan si Aa dengan si Teteh itu gak akan pernah bisa dipisahin. Si Teteh memiliki ruang tersendiri di hati si Aa karena si Teteh adalah ibu kandung dari putrinya," jelas Nisa.


"Teh Manda gak usah lebay, gak usah suudzon ke si Aa dan juga si Teteh. Mereka memiliki batasan masing-masing. Saling menjaga bukan berarti mereka merajut rasa."


"Si Teteh udah Mamah anggap seperti anak Mamah sendiri sama seperti si Aa dan juga Nisa. Mamah tau bagaiman si Teteh. Si Teteh tidak akan pernah kembali ke si Aa karena dia sudah memiliki pendamping yang sangat luar biasa."


"Tidak usah takut karena si Aa tidak sebaik Nak Giondra," sindir Bu Dina.


Niat hati ingin mendapat pembelaan dari ibu mertua malah sebaliknya, Mamah mertua dan juga adik iparnya menyudutkannya dan membela Ayanda.


"Bukannya Mamah membela si Teteh. Tapi, itulah yang terjadi antara si Aa dan juga si Teteh. Kamu kecewa, hati si Aa pasti lebih kecewa dengan sifat kamu," tekan Bu Dina.


Mbak Ina yang samar-samar mendengar percakapan para majikannya hanya dapat menghela napas kasar.


Bu Yanda terlalu baik untuk dibenci, makanya semua orang pasti akan membelanya, batin Mbak Ina.


"Rubah sifat cemburu kamu. Boleh cemburu tapi, jangan terlalu," terang Bu Dina.


"Sifat Teh Manda tuh nantinya akan menjadi Boomerang sendiri untuk Teh Manda," timpal Nisa.


"Mah, mumpung di Jakarta kita ke rumah si Teteh, yuk. Pengen liat aslinya si kembar." Bu Dina pun langsung menyetujui.


Bukan hanya suaminya yang antusias jika membahas si kembar tapi, mamah mertua dan adik iparnya pun sangat antusias.


"Teh Manda mau ikut gak? Sekalian minta maaf gitu?"


Sindiran halus Nisa mampu menusuk hati Amanda. Kenapa sekarang semua orang seakan membencinya?


Manda dan Bu Dina pun pergi ke kediaman Ayanda. Amanda pun sangat terpaksa ikut dengan mereka. Egonya menolak untuk bertemu Ayanda.


Tiba sudah mereka di apartment mewah. Amanda sangat tercengang melihatnya. Kekayaan suaminya ternyata tidak ada apa-apa dibandingkan dengan kekayaan suami Ayanda.


Mereka sudah sampai di depan pintu apartment Ayanda. Ada dua orang berbadan tegap di sana. Bu Dina dan Nisa tidak terkejut karena ini hal biasa yang dilakukan oleh Giondra untuk menjaga istrinya.


"Boleh kami masuk?" tanya Nisa kepada dua pengawal.


"Silahkan."


"Tapi mohon maaf, untuk Mbak yang berhijab tidak diizinkan masuk oleh bos," ucap salah seorang pengawal.


Hati Amanda sangat sakit mendengarnya. Kenapa sekarang Ayanda mengkotak-kotakkan dirinya.


"Teh Manda sekarang tau kan. Bagaimana A Gio melindungi istrinya dari orang-orang yang tidak suka terhadap si Teteh."


"Bukan hanya si Aa yang kecewa tapi, banyak yang kecewa dengan sikap Teh Manda yang seperti itu."


Nisa pun akhirnya masuk ke dalam apartment mantan kakak iparnya. Sedangkan Amanda hanya mematung di luar. Apakah sifatnya ini berlebihan? Satu per satu orang yang dulunya dekat dengannya kini menjauhinya.


****


Happy reading ....