
Sedangkan di kediaman Ayanda, Aksa sedang disidang atas apa yang dikatakan oleh Echa. Aksa hanya menunduk dalam tidak berani menatap kedua orangtuanya serta kakeknya.
"Abang, apa perlu Daddy cari tahu atau kamu sendiri yang akan mengatakannya kepada Daddy?" Kalimat yang sungguh menakutkan untuk Aksa.
"Maaf."
Hanya kata itu yang Aksa ucapkan. Aska menepuk pundak sang Abang. Seolah mengatakan 'jujur saja, Bang.'
Perlahan Aksa menegakkan kepalanya dan menatap kedua orangtuanya dengan perasaan bersalah. "Yang dikatakan Kakak benar adanya." Kemudian, Aksa menunduk kembali.
"Tapi, Abang tidak membalasnya. Abang masih kuat iman, Mom, Dad," ucapnya.
Gio hanya menghela napas kasar. Menunggu putranya melanjutkan ucapannya kembali.
"Abang tidak akan bertindak bejat. Karena Abang sudah berjanji akan menjaga wanita yang dekat dengan Abang. Terlebih, Abang memiliki dua wanita yang sangat Abang sayangi di dunia ini. Yaitu, Mommy dan juga Kakak."
Penjelasan yang membuat bibir Genta terangkat. Masalah ini pun sudah Genta ketahui. Dan memang benar, Aksa tidak seagresif laki-laki pada umumnya. Malah dia yang mendorong tubuh Riana agar menjauh dan melepaskan pagutan bibir.
"Kenapa Abang tidak jujur dari awal?" Ayanda sudah bersuara.
"Abang tidak ingin Mommy dan Daddy membenci Riana. Karena Riana sudah Abang anggap seperti adik Abang sendiri," jawabnya.
Terbuat dari apa hati Aksa ini. Masih memikirkan orang lain meskipun orang itu sudah bertindak tidak senonoh terhadapnya. Sudah bersikap kasar kepadanya. Sebagian dari diri Echa ada pada Aksa. Dia tidak ingin orang lain tersakiti olehnya. Lebih baik menyembunyikan semuanya. Karena dia yakin, suatu saat nanti Riana pasti akan berubah.
"Kakek bangga sama kamu, Bang. Pertahankan prinsip hidup kamu. Tetapi ingat, ketika kamu masuk ke dalam dunia bisnis. Ada kalanya juga kamu harus bersikap kejam. Agar orang lain tidak bisa menindasmu." Wejangan yang Genta berikan untuk cucu pertamanya. Dan Aksa mengangguk patuh.
Bagaimana dengan Aska? Apa dia iri terhadap perlakuan kakeknya terhadap Aksa? Tentu tidak, bagi Aska yang memiliki prinsip hidup santai, tidak keberatan jika Abangnya dimanja dan diutamakan oleh sang kakek juga Daddy-nya. Tujuan hidupnya hanya ingin menjalani hidup normal seperti anak-anak yang lain.
****
Setelah tiba di apartment, Echa duduk di sofa sambil bersandar di bahu sang suami yang sedang mengelus lembut perut Echa.
"Apa tindakanku kali ini keterlaluan?" Radit mengecup ujung kepala Echa. Dan mendekap hangat tubuh sang istri.
"Tidak, Sayang. Apa yang kamu lakukan itu sudah benar. Aku tahu, kamu tidak akan setega itu terhadap adik dan ibu sambungmu," ujar Radit.
Beginilah Echa, ketika dia sudah melontarkan kata-kata pedas dan menyakitkan. Dia akan menyesali tindakannya. Kelembutan hatinya masih mendominasi.
"Aku hanya ingin memberikan pelajaran kepada Riana dan juga Bunda. Aku lelah jika terus dilibatkan dalam setiap masalah yang tidak aku ketahui awal mulanya. Selalu aku yang salah dan harus mengalah. Lama-lama aku juga lelah," keluhnya.
"Udah, gak usah terlalu dipikirkan. Malam ini sudah menjadi malam yang berat untuk kamu dan anak-anak kita. Sekarang kamu istirahat, kasihan anak-anak kita." Radit mengusap lembut perut Echa.
"Besok kita periksa kandungan, ya. Aku takut, jika kejadian ini mempengaruhi kandungan kamu." Echa mengangguk patuh. Radit membawa tubuh istrinya ke atas tempat tidur. Dan dia memposisikan diri di kaki sang istri sambil memangku kaki Echa dan memijatnya dengan pelan. Tak lama berselang, dengkuran halus terdengar.
Dan di rumah sakit, Rion terus menggenggam tangan Iyan karena Iyan sama sekali tidak ingin disentuh oleh sang bunda. Rasa sakit masih menyelimuti hatinya. Iyan teringat ketika sang bunda dan kakaknya hendak pergi.
"Bunda, kepala Iyan pusing," keluh Iyan.
"Bunda." Iyan mencoba menahan tangan sang bunda yang hendak keluar kamar. Namun, Amanda menghempaskan tangan Iyan dengan cukup keras. Membuat Iya sedikit mundur dari tempatnya berdiri.
"Jangan manja, Iyan!" bentak Amanda.
"Bunda ada urusan penting, kamu bukan anak TK lagi," lanjutnya.
Iyan hanya bisa menunduk dan hatinya sangat teriris mendengar ucapan demi ucapan yang dikatakan oleh bundanya.
Setelah kepergian Amanda dan Riana, kepala Iyan terasa sangat pusing dan dia berusaha untuk keluar dari kamar bundanya. Baru sampai di ambang pintu tubuh Iyan luruh ke lantai. Dan tubuhnya mengejang. Mbak Ina yang baru saja masuk ke dalam rumah sehabis membuang sampah terkejut dan berteriak histeris. Tidak ada orang di rumah ini hanya dia dan juga Iyan. Gigi Iyan sudah berbunyi membuat Mbak Ina mengambil sendok dan dimasukkan ke dalam mulut Iyan.
Dengan panik dan rasa khawatir, Mbak Ina membopong tubuh Iyan dan berlari ke rumah Arya dengan air mata yang sudah berjatuhan. Bagaimana tidak sedih. Mata Iyan sudah mendelik putih ke atas. Dan suara gigi yang sedang menggigit sendok beradu sangat keras. Serta suhu tubuhnya sangat panas.
"Bertahan, Dek Iyan. Bertahan."
Mbak Ina mengetuk pintu rumah Arya dengan cukup keras hingga sang pemilik rumah keluar. Mata Arya membelalak dengan sempurna ketika melihat Iyan yang sedang dibopong oleh Mbak Ina.
"Tolong saya, Pak." Suara Mbak Ina bergetar dan air matanya terus berjatuhan. Arya segera mengambil kunci mobil dan langsung melajukan mobilnya ke rumah sakit.
"Kenapa Iyan bisa begitu?" tanya Arya pada Mbak Ina, tapi dengan mata yang masih fokus ke jalanan.
"Gak tahu, Pak."
"Di mana ibunya?"
"Ibu pergi bersama Neng Riana."
"Kenapa Iyan gak dibawa? Iyan juga anaknya," sungut Arya.
Tiba sudah mereka di rumah sakit. Mbak Ina segera membawa tubuh Iyan ke IGD. Dan dokter yang berjaga segera menolong Iyan. Mbak Ina dan Arya menunggu dengan rasa khawatir. Arya mencoba menghubungi Rion, tapi nomornya tidak aktif. Membuat Arya mengumpat kesal. Tak lama, dia mendapat pesan dari sang istri jika Echa sudah kembali ke Indonesia. Dan dengan cepat, Arya menghubungi Echa tentang kondisi Iyan.
Ketika Iyan membuka mata pun, yang pertama kali Iyan lihat adalah wajah Kakaknya dan juga ayahnya. Iyan menangis dan memeluk tubuh sang kakak dengan begitu eratnya. Meluapkan kerinduan yang mendalam akan sosok ibu kedua bagi Iyan. Karena hanya Echa yang mampu menyayangi Iyan dengan tulus seperti ayahnya.
"Kenapa kamu bisa begini?" tanya Echa.
"Kepala Iyan pusing. Iyan sudah bilang ke Bunda. Kata Bunda, Iyan hanya berakting." Rahang Rion mengeras mendengar ucapan putranya.
"Bunda pergi bersama Kakak dan meninggalkan Iyan. Setelah Bunda pergi, kepala Iyan semakin pusing dan Iyan sudah tidak ingat apa-apa lagi."
Tangan Rion sudah mengepal dengan keras. Ingin sekali dia meluapkan segala amarahnya.
"Sungguh ibu tidak berguna," geramnya.
...----------------...
Happy reading ....