Bang Duda

Bang Duda
337. Bukti Baru (Musim Kedua)



Genta membiarkan para orangtua Echa untuk melepas rindu terhadap Echa. Tidak dipungkiri, kedatangan Echa tanpa sepengetahuan para orangtuanya.


"Kenapa gak bilang ke Papa kalo mau pulang?"


"Echa ingin memberikan kejutan kepada kalian," jawab Echa yang masih bermanja dengan sang mamah.


"Mah, Pa, Yah. Biarkan istri Radit duduk, ya," potong Radit.


"Astaghfirullah." Ayanda, Guo dan juga Rion segera membawa Echa untuk duduk di sofa bergabung bersama yang lain. Kemarahan Gio dan Ayanda mulai surut karena kehadiran putri tercinta. Membuat Amanda dan juga Riana merasa lega.


"Cha, lebih baik kamu istirahat," titah Genta.


"Tapi, Kek ...."


"Benar kata Kakek, Yang. Hampir 30 jam kamu berada di pesawat. Biar anak-anak kita relaks. Nanti aku pijitin," ucap Radit.


Echa tidak bisa membantah ucapan Kakek dan juga suaminya. "Kamar kamu di lantai bawah. Sudah Mamah siapkan semua. Barang-barang kamu pun sudah dipindah ke bawah semua." Echa hanya tersenyum lalu mengecup pipi sang mamah.


"Makasih, Mah." Seulas senyum yang menjadi jawaban dari ucapan Echa.


Radit menggandeng tangan Echa untuk masuk ke dalam kamar mereka yang disebutkan oleh Ayanda tadi. Setelah kepergian Echa, suasana menjadi hening kembali. Hanya suara jarum jam yang terdengar.


"Ada acara apa ini? Sepertinya ada yang kalian sembunyikan dari saya," sindir Genta.


Ayanda dan Gio terdiam. Begitu juga Rion. Sedangkan Amanda dan Riana sedikit tersentak mendengar ucapan Genta.


"Dan kalian kembar, tumben sekali kalian ikut berkumpul? Biasanya kalian selalu menolak jika ada acara seperti ini," imbuh Genta.


Hanya seulas senyum yang si kembar berikan. Membuat Genta mengerutkan dahinya melihat tingkah laku cucu kembarnya.


"Apa kalian mau menjodohkan anak kalian ini?" Genta menunjuk ke arah Riana dan juga si kembar. Ucapan sang kakek membuat si kembar melebarkan mata mereka. Sedangkan Riana tersipu malu. Dan Amanda bisa bernapas lega.


Tak berselang lama, seorang pelayan masuk ke dalam ruang keluarga. "Maaf Tuan besar. Ini ada kiriman dari ajudan Tuan." Si pelayan menyerahkan amplop cokelat kepada Genta. Dengan cepat, Genta menerima amplop tersebut. Gio sedikit curiga dengan isi amplop yang dipegang oleh sang ayah.


"Syarat menjadi cucu menantu saya tidaklah mudah. Cucu-cucu saya adalah berlian yang saya miliki. Jadi, tidak akan saya lepas begitu saja. Apalagi, melepasnya pada orang yang salah."


Jleb.


"Tidak, Kek. Abang tidak mau dijodohkan," tolak Aksa secara terang-terangan. Begitu juga dengan Aska yang mengatakan hal yang sama.


Riana sungguh merasa dipermalukan oleh tolakan si kembar. Apalagi menolaknya secara terang-terangan di depan orangtuanya. Sedangkan Rion hanya menghela napas kasar.


"Apa ini alasan kalian menolak Riana?" Genta mengambil sesuatu dari amplop yang dia pegang. Lalu menunjukkan sesuatu kepada anak, menantu serta cucu-cucunya. Serta keluarga Rion.


Di dalam amplop itu ada sebuah ponsel yang merekam video detik-detik Riana menampar Aksa di kantin sekolah. Video selanjutnya memutar video Riana yang berada di kelasnya. Tak lama, Aska datang dan tangan Riana pun mendarat dengan sempurna di pipi Aska.


Ayanda yang menonton video tersebut menutup mulutnya tak percaya.


"Jadi ... bukan hanya Abang yang ditampar?" tanya Ayanda dengan sedikit nada tinggi.


Anak-anak Ayanda hanya terdiam. Apalagi Riana yang menunduk dalam. Dan Amanda menunjukkan raut ketakutan yang luar biasa.


"Jawab Mommy, Abang!"


"Adek!" seru Ayanda.


Tanpa mau melihat kemurkaan sang ibu, Aksa dan Aska pun mengangguk. Urat-urat kemarahan muncul di wajah cantiknya.


"Apa mau kamu Riana?" sentak Ayanda dengan wajah yang sudah merah padam.


"Kamu sudah saya anggap seperti anak saya. Tetapi, malah seperti ini sikap kamu," bentak Ayanda.


Riana hanya terdiam. Telapak tangannya sudah dingin. Baru kali ini Rianq mendengar suara Ayanda marah. Sungguh sangat menyeramkan.


"Ada satu video lagi, yang pasti akan membuat kamu, suamimu dan juga mantan suamiku terkejut."


...----------------...


Note :


Kalo kalian anggap cerita ini muter-muter di situ terus, lebih baik skip aja ya ceritanya atau tinggalin cerita ini. Karena jari netizen itu tidak tahu bagaimana perjuangan seorang author yang harus meras otak untuk bikin cerita demi mendapatkan penghasilan. Tidak usah meninggalkan komen yang menjatuhkan mental. Suka baca, gak suka tinggalkan. Simple kan.


Minal aidzin wal Faidzin mohon maaf lahir bathin