Bang Duda

Bang Duda
47. Nikah Dadakan



Di dalam mobil Rion terus saja mengomel seperti emak-emak komplek. Membuat Arya emosi mendengarnya.


"Eh Nyet, ini gua udah bawa mobil kayak orang kesetanan. Kalo gua tambah lagi kecepatannya, cepet nyampe emang. Nyampe ke liang lahat," geram Arya.


Rion hanya terdiam mendengar sungutan dari Arya. Jalan ke Bandung terasa sangat lama karena hampir empat puluh lima menit mereks terjebak macet. Suara ponsel berdering sedari tadi, namun selalu diabaikan oleh Rion.


"Nying, itu hape lu angkat napa? Berisik," sungut Arya kesal.


"Biarinlah," sahut Rion seraya memejamkan matanya dan berdoa.


Wanita ular nih pasti, batin Arya.


Mobil sudah masuk ke halaman rumah Bu Dina. Rion langsung turun dari mobilnya dan berlari masuk ke dalam. Dia tidak melihat jika ruang keluarga sudah disulap sangat cantik.


"Mamah," panggil Rion setelah berada di ambang pintu mamahnya. Matanya melebar ketika semuanya berkumpul dan mamahnya sedang tersenyum bahagia.


"Mamah gak sakit?" tanya Rion.


"Duduklah A," pinta Bu Dina yang duduk di pinggir tempat tidur. Rion pun menuruti perintah ibunya.


"Aa mau nurutin permintaan Mamah yang terakhir kalinya?" ujar Bu Dina.


"Jangan ngomong yang macem-macem Mah," bentak Rion.


"Aa, Mamah tanya Aa mau gak nurutin satu permintaan Mamah ini," ucapnya selembut mungkin.


"Apa? Tapi jangan pernah jodoh-jodoh kan Aa lagi," balasnya.


Bu Dina menggenggam hangat tangan Rion. Dia menatapnya dengan sangat hangat dan penuh kasih sayang.


"Aa tau, Aa adalah putra kesayangan Mamah. Mamah selalu berjuang keras untuk Aa. Karena dulu Aa bercita-cita ingin jadi dokter. Dan Mamah tahu, kuliah kedokteran sangat mahal. Hingga Mamah lupa makan. Itu semua demi Aa, anak kesayangan Mamah," jelas Bu Dina.


Semua orang yang masih berada di ruangan itu merasa terharu. Mata mereka nanar menahan tangis.


"Maafkan Aa yang belum bisa bahagiain Mamah," ucapnya yang kini bersimpuh di hadapan mamahnya. Meletakkan kepalanya dipangkuan sang Mamah.


"Mamah tidak perlu apa-apa dari Aa. Mamah hanya ingin AA menjadi anak yang menuruti semua ucapan Mamah," jelas Bu Dina.


Rion mendongakkan kepalanya. Hatinya sedikit merasakan hal yang aneh. Perasaannya sungguh tidak enak.


"A, menikahlah dengan wanita pilihan Mamah," ungkap Bu Dina dengan tatapan yang sangat memohon.


Rion bangkit dari duduknya, dia memandang tajam ke arah mamahnya yang menunjukkan raut kesedihan.


"Jadi ini tujuan Mamah, beralasan sakit agar Aa mau nurutin ucapan Mamah," bentak Rion.


Hati Bu Dina terasa sakit ketika mendengar ucapan dari mulut putranya sendiri. Air matanya pun menetes.


"Aa sudah punya calon sendiri. Aa bisa mencari sendiri," teriak Rion.


Wajah Ayanda sangat geram sekali melihat tingkah laku mantan suaminya. Tangannya sudah terkepal keras ingin memukul seseorang.


"Siapa? Dinda? Wanita yang telah menghancurkan rumah tangga Aa iya?" bentak Bu Dina dengan air mata yang terus membasahi pipinya.


"Hati Mamah sakit, ketika Mamah tahu perselingkuhan Aa dengan wanita liar itu. Mamah menangis, kenapa Aa bisa menjadi pria jahat. Selalu menyakiti hati wanita," jelasnya.


"Mamah hanya ingin yang terbaik buat Aa. Mamah hanya ingin memiliki menantu kayak si Teteh lagi," ungkap Bu Dina.


Ponsel Rion berdering kembali, dan sekarang dia menjawabnya. Dengan cepat Bu Dina merampas ponsel putranya.


"Jangan pernah ganggu anak saya lagi," tegasnya seraya memutuskan sambungan.


"Jika Mamah melarang sekalipun, Aa akan tetap bersama Dinda. Hingga kami menikah meskipun tanpa restu dari Mamah," jelas Rion.


"Aa cukup!" bentak Nisa yang sudah menangis.


"Aa lahir dari rahim Mamah. Aa bisa sukses karena doa Mamah. Apa ini cara balas Budi Aa?" tanya Nisa.


"Mamah hanya ingin melihat Aa bahagia seperti Mamah melihat Teteh dan A Gio. Itulah impian Mamah selama ini," ungkap Nisa.


Rion hanya menunduk dalam. "Setiap tetes air mata Mamah mengandung celaka untuk yang melukainya." imbuh Nisa dan membawa tubuh mamah


"Hidup lu gak akan pernah berkah dan jauh jodoh karena lu adalah pria yang tidak bisa menghargai wanita apalagi nyokap lu. Sampe lu bentak-bentak," ujar Arya.


"Apa salahnya kali ini Ayah bahagiakan Nenek? Bisa saja ini permintaan Nenek yang terakhir kalinya," ucap Echa.


Rion hanya terdiam tidak bisa menjawab apa-apa. Semua orang meninggalkan Rion seorang diri karena geram akan tindakannya.


Di dalam kamar, seorang wanita hanya bisa berpasrah kepada Allah. Jika memang Rion jodohnya maka pernikahan ini akan terlaksana, tapi jika bukan jodohnya pernikahan ini akan batal. Apalagi dia mendengar sendiri keributan yang ada di bawah.


Satu jam kemudian Rion keluar dari kamar mamahnya. Wajah mamahnya masih terlihat sendu dan ada luka dari pancaran matanya. Rion melangkahkan kaki ke arah mamahnya.


"Ayah, jika Ayah hanya ingin menambah luka dan rasa sesak di dada Nenek lebih baik Ayah pergi. Menikahlah dengan wanita yang Ayah cintai. Tapi jangan pernah kembali kepada kami," ujar Echa.


Ucapan putrinya seperti tusukan pedang runcing. Kenangan bersama mamahnya mulia diputar ulang oleh memori otaknya. Mamahnya adalah tempat untuknya pulang. Mamahnya adalah tempat bersandarnya ketika dia rapuh dan terluka. Dan karena doa dari Mamahnya yang tiada henti yang membuatnya sukses seperti sekarang ini. Dengan cepat Rion pun menghampiri Mamahnya. Bersimpuh meminta maaf kepada Mamahnya.


"Aa mau nurutin permintaan Mamah," kata Rion. Mamahnya sangat merasa senang tak terkecuali mereka yang ada di sana.


Untuk kali ini dia akan menuruti permintaan Mamahnya. Akan mencoba melupakan Dinda, masa lalunya yang telah membuat rumah tangganya hancur.


Satu jam kemudian acara akad nikah dilaksanakan. Berkali-kali Rion menanyakan siapa calon istrinya mamahnya hanya tersenyum dan menjawab wanita baik.


Hingga suara langkah kaki terdengar turun dari anak tangga. Seorang wanita cantik turun dengan menggunakan gamis putih dengan hijab yang menutupi dadanya dan juga cadar yang menutupi wajahnya. Tatapan kagum terpancar dari mata Rion. Ketika nektra mereka bertemu, ada kehangatan yang Rion rasakan.


Wanita cslon istri dari Rion sudah duduk di samping Rion. Dan Pak penghulu memberitahukan nama dari calon mempelai wanita beserta nama ayahnya.


"Amanda Kirana," gumam Rion yang sedikit tercengang. Lalu dia melirik ke arah wanita di sampingnya.


Prosesi ijab kabul pun sudah selesai. Rion dan Amanda resmi jadi sepasang suami istri. Dengan hati yang terus menerka-nerka, dia pun mengikuti perintah Pak penghulu untuk mencium kening istrinya. Rion menciumnya sangat dalam dan ada debaran kecil di hatinya. Hingga tanpa dia sadari ada seulas senyum diujung bibir Rion. Membuat semua orang ikut merasakan bahagia.


"Boleh aku membuka cadarmu?" ucap Rion pelan. Hanya anggukan jawaban dari istrinya.


Perlahan Rion membuka cadarnya, namun matanya langsung melebar tak percaya tak terkecuali Echa.


"Tante seksi?" gumam Echa.


Mimik wajah Rion seketika berubah menjadi dingin dan datar. Ternyata mamahnya masih kekeh menjodohkannya dengan wanita yang dibawa mamahnya tempo hari. Yang membuatnya dan Echa marah kepada Bu Dina.


***


Hay ...


Aku hanya mengingatkan ini adalah cerita on going jadi bersabarlah dan terus baca ceritanya. Jangan ketika kalian tidak suka dengan part-nya langsung bilang kecewa, langsung males bacanya.


Buat aku sad gitu 🤧


Aku hanya minta like, komen dan juga vote dari kalian ...


Happy reading semua ...