Bang Duda

Bang Duda
51. Kalah



Selama perawatan di rumah sakit, Rion selalu siaga menjaga istrinya. Urusan kantor dia serahkan kepada Arya. Tidak tahu kenapa sekarang ini Rion tidak mau jauh dari istrinya. Arya hanya tersenyum bahagia melihatnya. Semoga saja Rion bisa berubah. Begitulah harapnya.


Di Kantor selalu saja dihebohkan oleh suara seorang wanita yang urat malunya sudah terputus. Selama Rion tidak ke kantor, Arya seolah sedang melakukan uji nyali menghadapi Dinda.


"Dimana Rion?" Dinda sudah mulai geram dengan sikap Arya yang kelewat dingin dan angkuh.


"Honeymoon," jawab Arya.


"Bohong!" teriaknya.


"Set dah, lu wanita apa toa masjid sih? Kagak ada anggun-anggunnya sama sekali. Kagak punya adab lu." Arya mulai memaki Dinda.


Tetap saja Dinda tidak bergeming, dia seperti pura-pura tuli. Dalam hati Arya, dia mendoakan Dinda agar menjadi wanita tuli permanen. Hingga Pak Karyo datang dan langsung menyeret tubuh Dinda.


"Gua bilangin lu ke Rion, bisa lu ditendang dari Kantor ini," teriak Dinda yang sedang ditarik paksa oleh Pak Karyo. Arya hanya tersenyum menang melihat pemberontakan Dinda.


Baru saja Pak Karyo hendak menuruni anak tangga, Suara tertawa bahagia terdengar dari seorang wanita.


"Sekalian Pak karungin tuh wanita, terus lakban berlapis-lapis. Kasih ke kurir biar dikirim ke pluto," ujar Sita dengan nada mengejek.


Dinda sangat murka dengan perlakuan dua manusia di depannya ini. Hingga dia mengancam akan melaporkan tindakan Arya, Sita dan Pak Karyo kepada Rion.


"Azab seorang pelakor sampe dua kali itu lebih pedih woiy," ejek Sita dan disambut tertawa renyah oleh Arya.


"Sial*n kalian," umpat Dinda sangat kesal.


***


Di restoran, dua sepasang anak manusia sedang di mabuk cinta. Siapa lagi jika bukan Sheza dan juga Azkano. Sekarang ini Sheza menjadi asisten pribadi dari Azkano. Bisa dipastikan mereka akan selalu bersama-sama. Sheza akan selalu menjadi bayangan dari Azkano.


"Sayang, aku dengar dari Kak Gi mantan atasanmu sudah menikah," ucap Azkano di sela-sela menyantap sarapannya.


Sheza mengerutkan dahinya, otaknya belum bisa menangkap orang yang dimaksud oleh kekasihnya ini. Hingga muncul satu nama.


"Pak Rion?" Hanya dijawab dengan anggukan oleh Azkano.


"Sudah ku duga dia akan menikahi Dinda," sahut Sheza datar.


"Bukan Dinda Sayang," ucap Azkano seraya merengkuh tubuh mungil Sheza.


"Terus?"


"Ck, aku gak suka kamu masih kepo sama masa lalu kamu," balas Azkano yang kini geram sendiri. Dia yang memberitahu kabar itu dia yang kesal.


"Aku gak kepo Bie, aku hanya sekedar nanya," jelas Sheza yang kini sedang menatap wajah tampan Azkano.


Dengan cepat mencium singkat bibir Azkano. Seulas senyum terukir dari bibir Azkano.


"Mulai agresif ya," canda Azka.


"Ish, cepet Bie Siapa orangnya," ucap Sheza yang semakin penasaran.


"Dia menikah karena dijodohkan," jawab Azkano.


Sheza hanya terdiam, dia kira mantan pria yang dia kagumi menikahi wanita pelakor itu. Ternyata tidak. Sheza hanya biaa berdoa semoga wanita itu menjadi wanita yang terakhir untuk Rion.


Di rumah sakit.


Selama di rumah sakit, Rion selalu rutin menanyakan bekal makan siang kepada Arya. Namun, selalu dijawab tidak ada. Rion sedikit merasa heran. Selama Amanda dirawat, makan siang itu seolah ikut tak datang juga. Padahal Dinda selalu mengingatkan Rion agar tidak lupa makan siang.


Apa dia sibuk mengurusi Erlan? batin Rion.


"Tidak," jawab Rion dengan seulas senyum yang dipaksakan.


"Kamu mau makan apa?" tanya Rion. Hari ini Amanda sudah diperbolehkan pulang.


"Aku bisa memasak nanti di rumah," ujar Amanda yang kini sudah merebahkan tubuhnya di atas kasur.


Tubuh Amanda masih sedikit lemas dan kepalanya juga masih sering berputar-putar.


"Kamu jangan ngapa-ngapain dulu di rumah. Biar Mbak Ina aja yang masak," ujar Rion.


Amanda hanya menganggukkan kepalanya, menuruti semua perintah suaminya. Meskipun Amanda juga sadar diri, Rion bersikap baik karena dia sedang sakit. Hanya sebatas iba alias kasihan.


Dinda terus saja menggerutu di dalam mobilnya. Ya, mobil pemberian Rion untuknya. Tak hanya mobil, credit card pun sudah ditangan Dinda. Sebenarnya, hanya tinggal satu langkah lagi menuju kesuksesan licik Dinda. Menikahi Rion dan menggenggam semua aset miliknya. Tanpa Dinda ketahui, semua toko dan kantor miliknya masih di bawah pantauan Ayanda. Dan hampir 85% Ayanda yang mengatur perusahaan dan dia mempekerjakan orang-orang kepercayaannya namun tersembunyi, dan tidak akan pernah terdeteksi oleh siapapun. Termasuk mantan suaminya dan juga para pegawainya.


Hati Rion merasa tenang ketika melihat Amanda terlelap. Wajah damai Amanda membuatnya terbuai dengan perasaannya. Tanpa dia sadari, Rion terus menggenggam tangan istrinya dan sesekali mencium tangannya. Bayangan dan nama Dinda hilang begitu saja ketika Rion sedang memandangi wajah cantik istrinya.


Setelah mengurus semua administrasi rumah sakit. Rion mengemasi semua barang milik Amanda sebelum mereka kembali pulang. Ketika hendak memasukkan ponsel Amanda, tombol power tidak sengaja Rion tekan. Terlihat wallpaper mereka berdua ketika Rion sedang mencium kening Amanda setelah ijab kabul. Senyum bahagia melengkung di wajah tampannya.


Dengan sabar Rion menunggu Amanda bangun. Dia tidak ingin mengganggu istirahat istrinya. Wajah istrinya masih terlihat pucat.


Setelah Amanda bangun, mereka pun meninggalkan rumah sakit. Rion terus menggenggam tangan Amanda dan mereka berjalan beriringan.


"Mas," panggilan seseorang menghentikan langkahnya.


Mereka mencari asal suara, tenyata Dinda sedang berdiri tak jauh dari mereka. Dengan wajah merah dan wajah sudah tidak bersahabat.


"Oh. selama beberapa hari ini Mas gak ada kabar karena dia," ucap Dinda yang sudah berada dihadapan Rion dan juga Amanda. Jari telunjuknya tak segan menunjuk ke arah Amanda.


Amanda hanya menghela nafas kasar. Jika bukan di rumah sakit pasti dia akan membalas semua perkataan wanita tidak tahu malu ini.


"Amanda sakit," sahut Rion.


"Pasti alasan lu doang kan, pura-pura sakit. Biar dapet perhatian lebih dari Mas Rion," sarkasnya seraya mendorong tubuh lemah Amanda.


Dengan sigap Rion merengkuh pinggang Amanda karena dia tahu, Amanda masih belum sehat sepenuhnya.


"Jaga ucapanmu!" bentak Rion. Membuat Dinda terdiam sekaligus terkejut.


"Aku yang tau istriku. Sakit atau tidaknya dia aku yang tau," ucap Rion dengan nada sedikit meninggi karena tersulut emosi.


Sekarang, Amanda bergelayut manja di lengan Rion. Dan menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.


Air muka Dinda sangat murka namun tak dihiraukan oleh Amanda. Benar kata Echa, dia harus lebih dominan agar Rion sedikit luluh kepadanya.


Baru saja Dinda akan membuka mulutnya, namun Amanda berhasil mendahuluinya.


"Bang, aku pusing. Kita pulang ya," ucapnya selemah mungkin agar suaminya iba.


Benar saja, Rion langsung menuruti permintaan Amanda.


"Nanti kita bicarakan lagi," ucapnya pada Dinda.


Rion menggandeng tangan Amanda meninggalkan Dinda. Tak lupa Amanda menolehkan kepalanya ke arah Dinda kemudian menjulurkan lidahnya. Meledek Dinda karena telah kalah darinya.


Emang lu doang yang bisa akting di depan suami gua. Gua juga bisa kali. Apapun akan gua lakuin untuk menjauhkan bahkan memisahkan lu dengan suami gua, batin Amanda.


***


Happy reading ...