
Yang udah suka sama cerita Bang Duda aku ucapin terimakasih. Jadilah pembaca setianya dengan tidak menimbun-nimbun bab yang sudah UP.
Baca karya ini tidak perlu membeli koin dan cukup dukung dengan selalu membaca bab yang sudah terbit tanpa menimbun-nimbun, itu sudah menjadi bayaran mahal untuk aku sebagai author remahan.
...****************...
"Apa kamu yang mendonorkan darah?"
Suara yang terdengar bergetar dan mata Gio yang sudah berkaca-kaca.
Tubuh Rion mematung ketika mendengar ucapan yang terlontar dari mulut Gio.
"Jawab Papa, Sayang."
Echa tidak berani menatap manik mata Gio yang sudah memerah menahan tangis. Echa tidak suka melihat Papanya seperti ini.
"Echa sayang Mamah. Echa tidak ingin kehilangan Mamah. Bukan hanya Echa yang membutuhkan Mamah. Tapi, kedua adik Echa pun masih sangat membutuhkan Mamah. Echa tidak ingin Mamah pergi," jawabnya terdengar sangat lirih.
Gio berhambur memeluk tubuh putrinya yang sedang terbaring. Dia menumpahkan tangisannya sambil memeluk tubuh lemah Echa.
"Maafkan Papa, Papa belum bisa menjaga kalian dengan baik. Maafkan Papa," sesalnya.
Air mata Echa berjatuhan mendengar ucapan dari papa sambungnya. Sudah kewajiban seorang anak untuk menolong ibunya tapi, ketika Echa menolong Mamahnya malah papanya yang menangis seraya meminta maaf. Sungguh benar-benar meleleh hati Echa.
"Bukan salah Papa, ini semua udah ditakdirkan oleh Tuhan. Echa berkewajiban untuk menolong Mamah. Apapun yang Echa bisa lakukan, akan Echa korbankan."
Gio semakin terisak mendengar jawaban dari putri tersayangnya. Dia merasa semakin gagal dalam menjaga kedua wanita kesayangannya.
Echa melonggarkan pelukannya dan menghapus air mata yang sudah membanjiri wajah tampan papa sambungnya.
"Jangan salahkan diri Papa terus akan musibah ini. Ini sudah Tuhan gariskan, anggap saja ini cobaan karena kita lalai dalam menjalankan setiap kewajibanNya."
"Echa gak suka melihat Papa menangis seperti ini," tambahnya.
"Papa merasa gagal telah menjaga kamu dan mamah kamu," balas Gio.
"Papa tetaplah malaikat tak bersayap yang Tuhan kirimkan untuk Echa dan juga Mamah. Orang yang baik hati yang mau menolong Mamah dan Echa meskipun kita tidak saling kenal. Pertolongan Papa itu adalah bukti bahwa orang baik di dunia ini masih ada. Orang yang tulus membantu tanpa pamrih itu ada."
"Papa telah mengenalkan Echa akan hangatnya kasih sayang seorang Ayah. Papa juga yang sudah membantu Echa untuk tumbuh menjadi anak yang kuat dan mandiri. Echa tidak akan pernah lupa akan hal itu. Jadi, jangan pernah salahkan diri Papa terus. Selama ini, Papa telah merawat dan menjaga Echa serta Mamah dengan sangat baik. Jutaan ucapan terima kasih pun tidak akan pernah cukup untuk membalas semua kebaikan Papa selama ini kepada Echa dan Mamah."
"I love you, Pa."
Sebuah kalimat yang membuat hati Gio bergetar hebat sekarang ini. Gio tak kuasa menahan air matanya dan kemudian memeluk tubuh Echa yang sudah tersenyum sambil menitikkan air mata.
"You're the best man in my life."
Rion menyeka ujung matanya melihat pemandangan yang mengharukan untuknya. Kasih sayang Gio sangatlah tulus kepada putri kandungnya. Dan Rion bisa melihat, Gio lebih memanjakan putrinya dibandingkan Aksa dan Aska yang adalah putra kandung dari Gio.
Setelah adegan haru biru, kini Gio menatap sengit ke arah Rion. Rion pun berdecak kesal. Sudah pasti Gio akan mengeluarkan umpatan demi umpatan untuk dirinya.
"Kenapa lu bohong sama gua?" Gio sudah menarik kerah baju Rion.
"Karena lu bodoh," sahut Rio seraya mendorong kecil tubuh Gio hingga tarikan di kerah baju Rion terlepas.
"Ketika lu dihadapkan pada dua pilihan. Istri lu meninggal apa lu meminta bantuan kepada anak lu yang sedang sakit? Karena keselamatan istri lu ada di tangan anak lu. Mana yang akan lu pilih?" ujar Rion seraya memakan buah anggur yang ada di atas meja.
"Anak-anak lu masih butuh Yanda. Jadi, jangan egois. Kecuali, anak lu gak mau menyelamatkan Mamahnya baru deh lu milih opsi yang pertama," cerocos Rion dengan mulut yang sedang mengunyah anggur.
"Yah, Pa, Radit ngajak nikah," potong Echa.
Rion dan Gio pun terdiam mendengar ucapan putri mereka. Kedua pria tampan itu menatap tajam ke arah Echa.
"Nih!"
Echa menunjukkan isi pesan chat dari Radit. Rion dan Gio segera mendekat ke samping ranjang pesakitan Echa.
Dengan cepat Rion mengambil ponsel yang ada di tangan Echa. Gio sudah berada di samping Rion. Dan ikut membacanya.
Begitulah isi pesan dari Radit yang membuat Gio dan Rion melongo tak percaya.
"Ngajak nikah udah kaya ngajak makan bakso aja," gerutu Rion.
"Nih anak kesambet setan apaan? Seenak udelnya ngajakin anak gua nikah," oceh Gio.
"Anak lu dari mana? Itu anak gua," sergah Rion.
"Ya dia juga anak gua, anak dari istri gua," sahut Gio.
"Ya, 'kan gua bapak kandungnya," balas Rion lagi.
"Ya dia juga anak kandung bini gue. Jadi, dia juga anak gua lah."
Gio pun tak mau kalah dengan ucapan Rion. Echa hanya menggelengkan kepala melihat tingkah dua pria kesayangannya ini. Begitulah bukti cinta ayah dan papa Echa. Jika, mengenai Echa mereka akan seperti anak kecil yang sedang memperebutkan mainan.
"Eh, kenapa Om-om ini pada berantem," kata Radit yang baru saja datang.
Dua pria itu hanya menatap sekilas pada Radit dan melanjutkan perdebatan mereka lagi. Radit pun tidak mau ambil pusing dengan tingkah dua pria matang di depannya itu. Dia lebih memilih menghampiri kekasih hatinya yang sedang tersenyum manis ke arahnya.
"Miss you," kata Echa.
Radit pun memeluk tubuh Echa dan mengecup puncuk kepala Echa. Dengan sigap dua pria matang menarik tubuh Radit untuk menjauhi putri mereka.
"Gak usah peluk-peluk, bukan muhrim," ucap Rion.
"Ayah, Echa 'kan kangen sama pacar Echa," rengek Echa.
Gio menjentikkan jarinya ke kening Echa. "Sejak kapan kamu jadi anak alay begini?" sentak Gio.
Echa pun mendelik kesal, tidak seperti biasanya dua pria kesayangannya bersikap seperti ini.
Apa jangan-jangan karena pesan Radit yang mau ngajak nikah?
Echa pun tertawa di dalam hati karena dua pria matang itu mau saja dibohongi oleh Echa. Pesan yang Radit kirim adalah pesan enam bulan lalu. Ketika mereka menghadiri resepsi pernikahan salah satu teman mereka di Ausi. Melihat dekor resepsi yang sangat mewah dan cantik membuat Radit dengan candanya mengajak Echa menikah.
"Kamu punya apa mau ngajak anak saya menikah muda?" tanya Rion dengan tatapan mata yang tajam.
"Radit punya hati dan cinta yang tulus untuk putri Om."
Pletak!
Jitakan dari Gio mendarat sempurna di kepala Radit. Dan terdengar suara ringisan kecil.
"Emang kamu kira makan cinta aja kenyang," bentak Gio.
"Syarat mau nikahin anak saya, saya minta mahar 1M," tandas Rion.
Echa melebarkan matanya mendengar permintaan dari ayah kandungnya sendiri.
"Ayah ...."
Gio menatap Echa dengan tatapan membunuh membuat Echa terdiam dan tidak melanjutkan ucapannya.
"Cuma 1M, Om," tantang Radit.
Kini Rion yang terbengong mendengar tantangan Radit.
"Radit udah meyiapkan mahar 5M untuk anak Om serta rumah seharga 5M juga untuk Echa."
Ucapan Radit mampu membungkam mulut dua pria matang yang sedang mengintimidasi Radit.
"Kalo Om mengijinkan, Radit akan menikahi Echa hari ini juga."