
Mau nanya dong Sayang...
Kalo aku bikin cerita tentang Echa dan kisah cintanya kalian mau pada baca gak?
Tolong jawab di kolom komen ya, jangan lupa juga komen tentang bab ini ya ...
Lope you all 😘
...****************...
"Yang, jangan bercanda. Ini udah malam, loh," ucap Rion.
"Tapi, Manda inginnya sushi yang dari Jepang langsung. Ini bukan maunya Manda, tapi si dedeknya."
Mendengar kata dedek membuat Rion melemah. Dia ingin memberikan apa yang anaknya mau. Sebagai penebus kesalahannya di waktu lalu ketika Ayanda mengandung Echa.
"Ya udah, Minggu depan aja, ya," ucap Rion.
"Kok Minggu depan? Manda inginnya sekarang, Bang. Abang mau anak Abang ileran?" Mata Amanda sudah berkaca-kaca, membuat Rion tak tega.
"Yang, dengerin Abang. Kita perlu persiapan dulu, kita bukan pergi ke Bandung tapi ke negara orang. Harus nyiapin tempat buat kita tinggal sementara, harus ngatur keberangkatan kita karena kerjaan Abang lagi banyak banget. Dan si Arya masih cuti," jelas Rion.
"Kan bisa pake pesawat pribadi Pak Gio. Kita bisa bolak-balik, setelah beli sushi kita pulang lagi ke Indonesia."
Mata Rion melebar dan mulutnya menganga mendengar pernyataan istrinya.
Kenapa ngidamnya aneh begini sih? Dia kira Jakarta-Bogor bisa bolak-balik.
"Bang," rengek Amanda.
"Yang, ngidam kamu bisa diubah gak sih?"
"Abang mah jahat," sentak Amanda yang sudah mengeluarkan air mata dan langsung masuk ke kamar.
"Ya Allah ... dosa apa hamba ini?" gumamnya sambil menjenggut rambutnya.
Rion mencoba membujuk Amanda berkali-kali namun, nihil. Istrinya semakin merajuk membuatnya semakin frustasi.
"Ya udah, Abang ke rumah Gio dulu. Soalnya di chat gak dibalas," ujar Rion.
Akhirnya, Amanda mau menatap Rion dengan air mata yang sudah membasahi pipinya. "Jangan nangis lagi, kasian dedeknya," pinta Rion. Dan ditanggapi dengan anggukan kepala oleh Amanda.
"Abang berangkat, ya. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Di kediaman Giondra, sang penghuni rumah sedang bermesraan dengan istrinya didalam kamar. Meneruskan yang telah tertunda. Kebiasaan Gio adalah membuat istrinya merasakan kenikmatan lebih dulu baru dia akan menggarap ladang yang sudah sangat basah.
"Dad ..."
"Enak kan, Mom?" Gio terus bermain di area sensitif istrinya. Membuat Ayanda Meleng*h nikmat lagi dan lagi.
"Daddy ....".
"Iya, Sayang." Gio langsung membungkam mulut Ayanda dengan mulutnya dan tangannya masih bermain di area sensitif sang istri.
Tubuh istrinya mulai menggeliat dan napas Ayanda mulai tidak beraturan. Lenguhan pelan keluar dari mulutnya menandakan istrinya sudah mencapai puncak.
Giondra mengelap keringat yang bercucuran di tubuh istrinya lalu mengecup kening Ayanda sangat dalam.
"Enak gak, Mom?" tanya Gio sambil memeluk tubuh Ayanda dengan tubuh yang sama-sama tidak memakai baju.
"Selalu, Dad."
Gio pun tersenyum, lalu menyapu bibir Ayanda dan mengabsen rongga mulut istrinya dengan permainan lidah yang membuat Ayanda sangat menikmati.
"Daddy akan memberikan kenikmatan yang luar biasa untuk Mommy," bisik Gio dan Ayanda hanya menganggukkan kepala.
"Daddy mulai, ya."
Gio sudah mengarahkan kejantanannya ke arah lubang yang sudah merindukan junior-nya. Baru saja masuk dan mereka Mendes*h nikmat. Suara bel membuyarkan kenikmatan mereka.
"Siapa lagi sih?" geram Gio yang langsung mencabut apa yang sudah masuk.
Dia memunguti pakaiannya yang sudah berserakan di bawah. Sedangkan istrinya dia tutupi dengan selimut dan tidak boleh memakai baju dulu. Karena Gio akan melanjutkannya lagi.
Dengan hanya memakai kolor dan kaos hitam Gio membuka pintu. "Bang sat," pekik Gio.
"Eh kampret, gua baru datang udah dimaki-maki," geram Rion dan langsung mendorong tubuh Gio. Dia langsung masuk ke apartment Gio dan merebahkan tubuhnya di sofa.
"Gak ada kerjaan lu? Ganggu gua aja."
Rion menatap Gio dari atas sampai bawah dan akhirnya dia mengatakan kata maaf. "Gua gak tau," sesal Rion.
"Gak lu gak bini si Azka ganggu gua mulu," geram Gio yang kini sudah duduk bersama Rion dengan membawa dua minuman kaleng.
#Flashback on.
Dengan wajah secerah mentari Gio masuk ke apartment. Ketika pintu terbuka, wajahnya berubah mendung. Sheza sedang menangis dipelukan Ayanda.
"Sudah pulang, Dad," sapa Ayanda dengan senyum yang sangat manis.
Gio hanya menganggukkan kepalanya dan menghampiri Ayanda. Mencium kening istrinya lalu mengecup bibir Ayanda cukup lama. Berharap Sheza peka, namun Sheza tetap tidak bergeming. Membuat Gio mendengus kesal dan dia langsung masuk ke kamar.
Ayanda segera mengejar suaminya, dilihatnya Gio sudah membaringkan tubuhnya di atas ranjang. "Daddy, maafkan Mommy. Mommy juga gak tau kalo Sheza ke sini," jelas Ayanda.
Gio memegang tangan Ayanda dan mengarahkan kepada benda yang sudah menegang di bawah sana. "Mom ...."
Ayanda pun membuka celana suaminya lalu memainkan apa yang sudah menegang dengan tangan dan lidahnya. Gio mengerang nikmat dan Sheza pun menangis dengan keras. Membuat Ayanda langsung melepaskan junior suaminya yang sebentar lagi akan menyemburkan laharnya.
"Arrghhh," teriak Gio frustasi. Untung saja kamarnya kedap suara.
Dilihatnya dibawah sana masih menegang, semenjak memiliki istri Gio anti untuk bermain solo. Lebih nikmat dilayani oleh istrinya yang kenikmatannya sangat luar biasa. Samar-samar dia mendengar suara Azka. Setelah semuanya kembali normal Gio keluar kamar. Benar saja, sedang ada drama antara Sheza dan juga Azka. Gio hanya mendengus kesal.
Ingin sekali Gio mengusir sepupunya ini namun, dia juga tidak tega. Terlebih Azka sudah menceritakan apa yang sedang dialaminya.
"Selesaikan dengan kepala dingin," ucap Gio yang baru saja keluar kamar.
Ayanda langsung memeluk tubuh suaminya. Dan mulutnya mengucapakan kata maaf tanpa suara. Gio hanya menjawab dengan kecupan hangat di kening Ayanda.
Lebih dari dua jam drama itu berlangsung membuat Gio merasa jengah. Untungnya Ayanda ketika hamil si kembar mood-nya tidak separah Sheza. Sehabis Maghrib barulah mereka pulang dan membawa si kembar untuk menginap di rumah mereka. Gio bersorak gembira ketika anak-anaknya dibawa oleh Azka dan juga Sheza.
#Flashback off.
"Baru juga satu celupan," ucap Gio setelah menengguk minuman.
"Lu kira teh celup."
"Kaga usah basa-basi, mau ngapain lu?"
"Bini gua lagi ngidam," ujar Rion.
"Ya terus kenapa lu ke sini?"
"Dia pengen sushi," sahut Rion.
"Ya, lu beliin lah. Lu gak punya duit buat belinya?"
"Sembarangan," balas Rion dengan melempar bantal.
"Lah terus? To the point aja lah kagak usah muter-muter kayak komedi putar," sentak Gio.
Rion menarik napas panjang sebelum memulai berbicara. "Amanda pengen sushi tapi, belinya langsung ke Jepang."
Gio menyemburkan minuman yang baru saja akan masuk ke dalam tenggorokannya. "Gak usah ngada-ngada lu," bentak Gio.
"Seriua gua, dan dia ke sananya pengen pake pesawat pribadi lu," jelas Rion.
"Kapan lu berangkat? Ntar gua liat dulu jadwalnya," imbuh Gio.
"Thank you, bro," ucap Rion sambil memeluk tubuh Gio.
"Jijik gua." Gio langsung mendorong tubuh Rion.
"Ntar gua kabarin, ya. Silahkan dilanjut lagi," kata Rion yang langsung bangkit dari duduknya dan keluar dari apartment Gio.
"Ngerepotin mulu," gumamnya.
Gio langsung masuk ke kamarnya dan tak lupa mengunci pintu. Dilihatnya Ayanda sedang duduk bersandar di atas tempat tidur sambil memainkan ponsel. Dengan paksa Gio merebut ponsel Ayanda dan membuangnya ke mana saja.
"Dad, nanti rusak," ujar Ayanda.
"Rusak beli lagi, Sayang." Gio sudah membuka pakaiannya dan mulai menindih tubuh Ayanda.
"Daddy sudah gak tahan, Mom," bisiknya.
Selimut yang menyelimuti tubuh Ayanda dia singkirkan. Dan dia mengarahkan junior-nya ke arah lubang kenikmatan.
"Mom, Daddy masukin, ya."
Tok tok tok.
Ketukan pintu menggagalkan aksinya lagi dan lagi. "Astaghfirullah Al adzim ...."
*****
Happyr reading ...