
Rion pulang ke rumahnya dengan membawa sejuta kekecewaan. Kecewa karena dia harus tahu dari orang lain bukan dari mulut istrinya sendiri. Seperti seorang suami yang tidak dihargai.
Rion menghabiskan waktunya di ruang kerja dengan berbaring di sofa. Puluhan panggilan dari Arya tidak dia hiraukan. Dia sudah berjarak dengan Ayanda demi menyelamatkan hubungannya dengan Amanda. Sekarang, hanya kecewa yang Rion terima.
Pintu ruang kerja terbuka. Rion membuka matanya dan melihat Amanda sedang berjalan menuju arahnya.
"Bang," ucap lembut Amanda sambil menyentuh tangan Rion.
"Hm."
"Turun sebentar, yuk. Ada yang ketemu," ujar Rion.
Ada rasa takut di hati Rion. Dia menatap mata Amanda penuh dengan pertanyaan. Namun, Amanda hanya menjawab dengan seulas senyuman.
"Ayo," ajaknya sambil menarik tangan Rion.
Langkah Rion terhenti di pijakan anak tangga paling bawah. Matanya melebar dan merasa tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Amanda menggenggam tangan Rion dan menariknya menuju tempat tamu itu berada. Mereka berdua duduk berhadapan dengan si tamu.
Hanya tatapan datar yang Rion tunjukkan kepada Amanda dan juga Satria. Pikiran buruk sedang berkelana di kepalanya.
"Abang, maaf kalo Manda udah buat Abang kecewa," ujar Amanda sambil menyentuh punggung tangan Rion.
"Manda yakin, Abang udah tau kenyataan yang sebenarnya itu seperti apa tentang masa lalu Manda," lirihnya.
"Bukannya Manda gak mau jujur. Tapi, Manda takut ... takut jika Abang kecewa dan malah membuang Manda," lanjutnya dengan lelehan air mata.
Sungguh Rion tersentak dengan perkataan yang keluar dari mulut Amanda. Dia pun memeluk tubuh Amanda mengusap serta punggungnya.
"Abang tidak akan pernah membuangmu, Sayang. Tidak akan," sahut Rion.
Ada lengkungan senyum kebahagiaan di bibir Satria. Hatinya melemah ketika melihat sepasang suami-istri di depannya ini.
"Maafkan saya, Rion. Saya yang sudah membeli mahkota berharga Amanda," sesal Satria.
Mendengar ucapan Satria tangis Amanda semakin pecah. Seakan masa lalu sedang mencabik-cabik hatinya.
"Karena saya lah, Amanda terjerumus ke dunia malam. Maafkan saya," ucap tulus Satria.
Rion hanya menatap datar ke arah Satria. Wajah Rion sangat sulit diartikan saat ini.
"Awalnya saya memang hanya ingin membelinya. Namun, setelah hubungan satu malam itu saya mulai jatuh cinta kepada Amanda."
"Sayangnya, Amanda menghilang tanpa jejak. Pada waktu itu, saya ingin mempersunting Amanda menjadi istri saya. Karena hanya Amanda yang bisa memuaskan hasrat batin saya. Hingga saya hampir gila karena tidak bisa mengeluarkan hasrat saya ini," terangnya pada Rion.
"Akhirnya saya menyerah untuk mencari Amanda. Dan pada saat itu saya melakukan operasi vasektomi. Supaya saya tidak memiliki hasrat kepada wanita mana pun."
"Tak disangka, ternyata saya bisa bertemu dengan Amanda di acara lamaran keponakan saya. Tapi, Amanda sudah tidak sendiri. Ada keinginan saya untuk merebut Amanda dari Anda. Namun, sangat disayangkan Amanda tidak mencintai saya dan dia hanya mencintai Anda serta anak-anak Anda."
Rion terdiam mendengar ucapan dari Satria. Dan dia melonggarkan pelukannya terhadap Amanda.
"Benar begitu?" Amanda mengangguk pelan.
"Harta yang berlimpah tidak menjamin Manda hidup bahagia. Kebahagiaan Manda hanya bersama Abang, Riana dan juga Echa," jawabnya.
"Kalian yang sudah menerima Manda dengan sangat tulus. Mengubah Manda dari seonggok kotoran menjadi wanita yang berharga. Manda sangat beruntung memiliki kalian," ungkapnya.
Rion memeluk erat tubuh Amanda dengan sangat eratnya. Rasa kecewa menguap begitu saja mendengar ucapan tulus dari Amanda.
"Maaf, Manda membawa lelaki lain ke rumah ini. Karena Manda ingin menjelaskan semuanya kepada Abang. Tidak hanya dari mulut Manda tapi juga, dari mulut pria yang telah membeli kesucian Manda. Agar Abang percaya, Manda tidak ingin Abang anggap berdusta," jelasnya dengan air mata yang masih berlinang.
"Abang percaya sama kamu," jawab Rion.
"Sekarang aku percaya, kalo kamu memang hidup bahagia bersama suami kamu. Aku akan mundur, tidak seharusnya aku merusak rumah tangga kalian yang memang didasarkan cinta bukan nafsu. Semoga kalian langgeng sampai Kakek-Nenek."
"Pak Rion, jangan sangkut pautkan masalah ini pada restu Anda kepada keponakan saya. Saya ingin melihat keponakan saya bahagia bersama anak Anda."
Rion pun menganggukkan kepalanya seraya tersenyum hangat. "Makasih karena Anda tidak menemukan Amanda. Dan sekarang dia bisa menjadi pendamping saya," tutur Rion.
"Kalian sudah berjodoh. Itulah yang sudah Tuhan tetapkan," balas Satria.
"Amanda, aku janji tidak akan mengganggu kamu lagi. Sudah ku kubur dalam-dalam cintaku untukmu," kata Satria.
"Makasih Satria, semoga kamu juga bahagia." Hanya seulas senyum kebahagiaan yang Satria berikan.
Satria pun pergi meninggalkan rumah Rion. Hatinya merasa lega karena sudah melihat Amanda bahagia. Biarlah cintanya dia kubur dalam dan biarlah dia tetap menyendiri hingga Tuhan menjemputnya.
"Maaf, karena Manda udah marah-marah," sesal Amanda pada Rion.
"Gak apa-apa, mungkin bawaan di dedeknya," sahut Rion sambil mengusap perut Amanda yang masih rata.
Amanda tersenyum seraya menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.
"Maafin Abang juga, ya. Udah bentak-bentak kamu," sesalnya.
Hanya anggukan yang menjadi jawaban dari Amanda.
"Mumpung Riana belum pulang, Abang mau tengokin dedeknya," usilnya.
Amanda segera menatap tajam ke arah Rion. Memasang wajah horor kepada suaminya.
"Kan kalo abis berantem pasti baikannya di tempat tidur," goda Rion lagi.
"Gak boleh, Bang. Ini masa rawan-rawannya. Manda ingin bayi ini lahir," lirihnya.
"Tuh 'kan, kamu yang godain Abang," keluhnya.
Amanda tertawa puas mendengarnya. Dia memeluk tubuh Rion dengan eratnya. Seolah mengatakan jika dia hanya mencintai Rion. Tidak ada laki-laki lain di hatinya.
"Oh iya, mulai besok dan seterusnya Abang akan semakin sibuk."
"Proyek lain kah?" tanya Amanda.
"Bukan, Yanda sudah mengundurkan diri dari kepengurusan."
"Kenapa?"
"Dia tidak ingin membuat rumah tangga kita hancur karena kamu sering cemburu sama dia," jawab Rion.
Amanda terdiam, tidak seharusnya dia terpengaruh oleh perkataan Satria kemarin. Dan dia juga sangat tahu bagaimana Rion dan Ayanda.
"Kamu jangan khawatir, ini kemauan Yanda dan juga Echa. Mereka ingin kita bahagia."
"Maafin Manda, Bang. Maaf." Rion memeluk tubuh istrinya dengan erat dan mengecup lembut ujung kepala Amanda
"Bro, lu ...."
Amanda dan Rion menatap ke arah orang yang sedang menonton kemesraannya. Ternyata dia tidak sendiri, ada Bagas di belakangnya.
"Tahu gini, gua gak ikut ke sini. Bikin kangen istri aja," gerutu Bagas.
"Bang sat emang nih orang," geram Arya sambil memiting kepala Rion.
"Lu kenapa Bhaskara? Sakit leher gua," omel Rion..
"Lu ya, gua mah buru-buru ngejar lu ke sini takut lu bunuh diri atau nyelakain istri lu. Eh malah mesra-mesraan begini. Si Alan emang lu," oceh Arya sambil menjitak kepala Rion berkali-kali saking emosinya.
"Mana gua harus keluar duit tiga ratus rebu karena nyerobot lampu merah. Ganti pokoknya," seru Arya.
"Lepas, setan," pekik Arya.
Arya pun melepaskan pitingannya. "Nda, bawain gua minum. Haus gua," titahnya.
Rion langsung menoyor kepala Arya hingga ia terjengkang ke kepala sofa.
"Bini gua lagi hamil, gak boleh cape-cape," omelnya.
"Capek dari mana coba? Cuma ngambilin air minum doang bukan suruh angkat galon," oceh Arya.
Bagas hanya menggelengkan kepalanya melihat kedua sahabatnya ini. Tidak ubah seperti Tom dan Jerry. Tidak pernah akur tetapi, saling menyayangi.
"Ya udah, lu aja atuh yang ambilin gua minum. Sekalian sama makanannya. Gua lapar."
"Tamu gak tau diri lu," dengus Rion.
Rion mendengus tapi, dia juga menuruti apa yang dikatakan oleh Arya.
"Beneran hamil?" tanya Arya.
"Alhamdulillah," jawab Amanda.
"Anak si Rion, kan."
"Astaghfirullah si Arya kalo ngomong. Ya, anak dia lah. Masa iya anak kamu," cibir Amanda.
"Ya kali si Satria nitip benih," goda Arya
"Ini ada asbak kaca. Lumayan loh bikin hancur muka," ancamnya dengan wajah sangar.
Arya dan Bagas pun tertawa mendengarnya. Rion menyerahkan minuman dan juga makanan untuk Arya dan Bagas. Dan dia kembali duduk di samping istrinya.
"Pemandangan yang bikin gua kesal, sumpah," gerutu Arya.
Amanda dan Rion pun tertawa mendengar gerutuan Arya. Hingga suara anak perempuan menggema di dalam rumah.
"Bunda, Ayah," teriak Riana.
Riana mengecup pipi kedua orangtuanya bergantian.
"Papah gak kamu kecup nih," ujar Arya.
"Satu ciuman seratus ribu," tawar Riana.
"Mending gak usah dicium," sewot Arya.
"Idih, gitu aja marah." Riana mengahampiri Arya dan mencium kedua pipinya.
"Mencium aroma-aroma yang tidak menyenangkan nih," gumamnya.
Riana tersenyum penuh arti. Seraya mengedipkan matanya berkali-kali layaknya mata genit.
"Hadeuh, keluar duit lagi gua." Arya menepuk jidatnya.
Arya merutuki kebodohannya kenapa harus datang ke rumah Rion. Padahal dia punya hutang janji kepada Riana untuk membelikannya boneka besar yang Riana mau. Jika, Riana dibelikan boneka otomatis Beeya pun harus dibelikan.
"Bangkrut gua," seru Arya.
...----------------...