
Weekend adalah waktu untuk bersantai bersama keluarga. Begitu juga yang dilakukan oleh Rion. Yang tidak pernah bosan bermain bersama cucu-cucu kesayangannya.
"Mau ke mana?" tanya Echa kepada sang ayah yang sudah berada di kamar si triplets.
"Ain," jawab Aleeya.
"Main ke mana? Mainnya sama Bubu dan Baba aja, ya," tawar Echa.
"No," jawab triplets serempak. Wajah Echa cemberut ketika mendengar penolakan dari ketiga anaknya. Sedangkan Rion tertawa terbahak-bahak.
"Kamu mending istirahat sambil produksi bayi cowok. Sukur-sukur dapat kembar tiga lagi tapi jenis kelaminnya cowok." Echa mendengus kesal.
"Ayah kira Echa kucing," geramnya. Lagi-lagi Rion tertawa.
"Cucu-cucu Engkong udah cantik semua. Let's go!" Tiga kurcaci pun mencium Echa bergantian dan tak lupa memberikan kiss bye kepada Echa.
"Pamit dulu sama Baba," titah Echa kepada tiga anaknya.
Mereka tumbuh menjadi anak yang penurut dan seperti anak bebek berjalan beriringan menuju kamar Babanya.
"Bubu ... Baba bobo," ucap pelan Aleena.
"Bangunkan dengan morning kiss kalian." Mereka pun mencoba naik ke atas tempat tidur dibantu oleh Echa. Menciumi wajah Radit dengan ganasnya membuat Radit terpaksa membuka matanya.
"Loh kok anak-anak Baba sudah cantik? Mau ke mana?" tanya Radit dengan suara beratnya.
"Ain," sahut mereka dengan rona bahagia.
"Ya udah, Baba mandi dulu, ya." Dengan cepat tiga anak itu pun menggeleng.
"Enton," sahut Aleeya. Radit menatap sang istri. "Mereka mau main sama Engkong katanya," terang Echa.
"Oh, hati-hati ya. Jangan nakal." Mereka bertiga pun mengangguk mengerti.
Rion pun membawa tiga cucunya jalan-jalan keliling taman yang tak jauh dari rumahnya. Tak lupa dia membawa stroller kembar dan juga gendongan kangguru. Kehadiran Rion di taman membuat para wanita dari yang muda hingga yang sudah berumur merasa kagum.
"Hot Daddy." Begitulah sebutan dari mereka semua. Padahal tiga bocah yang Rion bawa adalah cucunya.
Rion duduk di sebuah kursi besi sambil menikmati sinar matahari pagi. Dia menurunkan Aleeya dari gendongannya dan memangkunya.
"Mas, anak-anaknya lucu, ya," ucap salah seorang perempuan muda dengan pakaian khas orang jogging. Perempuan itu pun memegang pipi Aleena dan mendapat sambutan gigitan dari Aleesa.
"Aw!" ringisnya.
Rion sedikit terkejut melihat apa yang dilakukan oleh cucunya.
"Ini anak orang apa anak piranha, sih," keluh si perempuan.
Rion hanya tersenyum tipis tanpa menjawab ucapan si perempuan tadi. Hingga si perempuan itu pun menyerah.
"Aleesa," tegur Rion ketika si perempuan itu sudah pergi.
"Dak boyeh," ucapnya tegas. Rion hanya tertawa dan mengacak-acak rambut Aleesa.
Seorang perempuan cantik menggunakan pakaian sopan datang menghampiri Rion. "Permisi Mas, boleh saya duduk di sini?" tanyanya.
"Silahkan." Seperti biasa sikap dingin Rion kembali muncul.
Rion asyik bermain dengan tiga cucunya membuat si perempuan itu tersenyum bahagia melihatnya.
"Sungguh suami idaman." Begitulah batin perempuan itu.
"Mas, kok saya baru lihat Mas, ya," si perempuan itu memberanikan diri untuk mengajak Rion bicara.
"Saya memang tidak pernah keluar rumah. Saya sibuk mengurus tiga malaikat kesayangan saya," jawabnya tanpa melihat ke arah si perempuan.
Rion masih sibuk memperhatikan ketiga cucunya yang sedang berlari-lari kecil.
Rion menoleh ke arah Kanaya yang sedang tersenyum manis. Namun, sejurus kemudian ketiga cucu Rion menangis keras. Rion segera menghampiri mereka.
"Kenapa?"
"Puyang," pinta Aleeya. Diangguki oleh dua saudaranya yang lain. Rion menghela napas kasar.
"Ya udah kita pulang." Sebelum Rion pergi, Kanaya mencekal tangan Rion.
"Nama Mas siapa?" tanyanya lagi.
"Hua ... puyang." Aleeya kembali menangis membuat Rion hanya menganggukkan kepala kepada Kanaya tanpa memberitahu namanya.
Tibanya di rumah tiga bocah itu menangis keras. "Bu-bu ...."
"Loh kok? Kenapa nangis?" tanya Echa sambil memeluk tiga anaknya.
"Enton natal," adu Aleeya.
Mata Echa menatap tajam ke arah sang ayah. Rion hanya menggedikkan bahunya.
"Nakal kenapa? Deketin perempuan?" tanya Riana yang baru saja bergabung.
Tiga kurcaci itu pun mengangguk pelan. Dengan mata yang merah dan hidung bak tomat cherry. Iyan yang sedang asyik dengan dunianya pun mendengar kata perempuan langsung bergabung dengan sang kakak. Sedangkan Radit hanya menjadi penyimak.
"Mereka yang deketin Ayah. Bukan Ayah," terang Rion.
Echa hanya menghela napas kasar. "Apa Ayah ingin memiliki istri lagi?" Kini pertanyaan itu terlontar dari mulut Echa.
"Kalo itu terjadi, Ri lebih baik tinggal sama Kakak dan Abang," tolak Riana terang-terangan.
"Begitu juga Iyan."
Rion hanya menghela napas kasar. Dia mengurut keningnya yang teramat pusing. Gara-gara tiga cucunya yang tukang aduan kini Rionlah yang sedang disidang oleh ketiga anaknya.
"Enton natal." Begitulah ucapan yang keluar dari mulut si kembar.
Ketika suasana sedang panas-panasnya. Mbak Ina memberitahukan bahwa ada perempuan yang datang.
"Siapa Mbak?" tanya Echa.
"Katanya temannya Bapak."
Tanpa berpikir lama, Echa segera menemui tamu yang ingin menemui ayahnya. Seroang perempuan muda dan cantik.
"Ada perlu apa, ya?" tanya Echa.
Kanaya tercengang ketika melihat Echa berada di rumah itu.
"Ini bukannya rumah pria yang bawa anak kembar tiga itu?"
"Itu anak saya," jawab Echa.
"Bukannya pria itu duda, ya?"
"Dia Ayah saya," sahut Echa.
"Apa?"
...****************...
Komen dong ....
Kalo sedikit, besok aku akhiri bonchapnya