Bang Duda

Bang Duda
306. Kabar Bahagia (Musim Kedua)



"Ay, kamu kenapa?" Echa benar-benar khawatir melihat suaminya menangis tersedu seperti itu.


Radit memperlihatkan testpack tersebut kepada Echa. Mata Echa seketika berkaca-kaca, tubuhnya terasa lemas membuat Radit harus merengkuh tubuh Echa.


"Makasih, Sayang. Makasih." Radit mengecup setiap inchi wajah Echa. Dan dia terus memeluk tubuh Echa dengan begitu eratnya. Tangis Echa pun pecah.


Radit membawa tubuh Echa ke ruang keluarga. Echa masih memeluknya dengan terus terisak. Radit tahu, isakan itu adalah isakan kebahagiaan. Karena selama ini Echa selalu bilang. Jika, dia adalah wanita yang tidak sempurna. Karena belum bisa memberikan keturunan untuk Radit.


"Setelah ini, kita periksa ya." Echa mengangguk pelan.


Echa melanjutkan masaknya tapi, dia sudah tidak bisa menahan rasa mual di perutnya. Dia terus memuntahkan apa yang dia ingin keluarkan. Namun, yang keluar hanya air.


Wajah Echa sangat pucat membuat Radit sangat khawatir. "Jangan masak dulu, ya. Kita pesan aja."


Setelah Radit sarapan dan Echa tidak bisa makan apapun. Mereka memutuskan untuk pergi ke dokter kandungan.


"Kamu gak apa-apa, Sayang?" Echa hanya menggeleng.


Ada kekhawatiran yang Radit rasakan. Apalagi, melihat Echa lemas seperti ini. Sesampainya di rumah sakit, Radit segera merangkul lengan istrinya. Mereka sudah membuat janji terlebih dahulu sehingga tidak perlu menunggu lama.


Dokter kandungannya pun adalah teman Radit. Dokter Laura namanya.


"Hai Radit," sapa Laura.


"Hai."


"Wah, sepertinya Nyonya Raditya benar-benar hamil sekarang," ucap Laura tersenyum bahagia.


Sudah berkali-kali, Radit dan Echa mendatangi Laura ketika Echa merasakan gejala seperti ibu hamil. Namun, ketika dilakukan USG ternyata tidak ada tanda-tanda kehamilan. Membuat Radit dan Echa dirundung kecewa.


"Baringkan istrimu di sana."


Laura dibantu perawat mulai memeriksa Echa. Sekarang, Laura menyingkapkan kaos yang dipakai Echa dan mengoleskan gel di atas perutnya. Kemudian, meletakkan alat USG dan menggerakkannya.


"Oh my God. Sungguh luar biasa," ucap Laura.


"Kenapa Laura?" tanya Radit sedikit panik.


"Istrimu mengandung tiga anak sekaligus," ucapnya.


Radit dan Echa saling pandang, mereka berdua tidak percaya.


"Coba lihat!"


"Ada tiga titik di rahim istrimu, Radit," jelasnya.


Radit melihat dengan seksama dan benar ada tiga titik di sana. Matanya berbinar dan berkaca-kaca melihat keajaiban ini.


"Sayang, kamu mengandung triplets," ujar Radit yang tak bisa menahan tangisnya.


Echa sudah tidak bisa membendung tangisnya. Penantiannya selama empat tahun kini dibayar sudah. Tak disangka dia mengandung tiga janin sekaligus.


"Makasih, Sayang." Radit mengecup lembut bibir Echa membuat Laura berdecak kesal.


"Kebiasaan," dengusnya.


Radit pun tertawa dan dia membantu Echa untuk bangun dari tidurannya. Radit juga membantu Echa untuk turun dari ranjang dan mereka duduk berhadapan dengan Laura.


"Jaga baik-baik kandungan istrimu ini. Jangan biarkan dia kelelahan. Dan jangan memakan makanan yang tidak sehat. Harus bed rest," jelas Laura.


"Laura, aku sering mual dan muntah. Tidak seperti kandunganku yang pertama," terang Echa.


"Nanti akan aku berikan obat untuk itu. Yang terpenting, kamu gak boleh kecapean. Dan jangan berhubungan badan dulu sampai usia janinmu mulai kuat menerima terjangan dari rudal milik Radit. Karena aku yakin, Radit tidak akan pernah puas melakukannya sekali."


Wajah Echa sudah merona, malu mendengar ucapan dari Laura. Sedangkan Radit menatap kesal ke arah Laura.


"Semua obat yang aku tuliskan adalah obat yang bagus dan mahal. Aku harap, kamu mampu membayarnya," goda Laura.


Laura tertawa lepas melihat wajah Radit yang kesal seperti itu.


Radit terus menggenggam tangan Echa sambil menunggu obat yang mereka tebus. Sesekali Radit mengecup mesra puncuk kepala istrinya.


"Ay, aku maunya lahiran di Indonesia," ucapnya.


Radit tersenyum mendengarnya. "Iya, Sayang. Apapun yang kamu minta pasti akan aku turutin," jawab Radit.


Setelah obat sudah di tangan, Radit menggenggam tangan Echa menuju parkiran. Mereka pun melajukan mobil mereka ke sebuah supermarket.


"Kenapa ke sini, Ay?"


"Kita beli susu hamil dan stok buah-buahan." Radit benar-benar menjadi suami siaga. Hal sekecil itu pun Radit yang mengingatnya.


Radit menggenggam tangan Echa dengan begitu erat dan posesif. Radit membiarkan istrinya memilih apapun yang dia suka. Karena pada akhirnya, makanan itu hanya tergelatak di meja. Dan Radit tidak mempermasalahkannya. Yang terpenting, Echa tetap bahagia.


Tibanya di rumah, Radit membereskan semua yang dibeli oleh istrinya. Dan Radit hanya menyuruh Echa untuk beristirahat di sofa. Karena Echa tidak diperbolehkan naik ke lantai atas. Biarkan nanti Radit yang akan menggendongnya.


Setelah selesai membereskan semua yang dibeli Echa, Radit menuju sofa ruang keluarga dan bibirnya tersenyum. Istrinya sedang terlelap dengan damainya.


Radit duduk di bawah sofa sambil mengusap lembut rambut Echa. Lalu, dia menyingkapkan kaos Echa. Mengecup perut putih mulus Echa dan berkata, "sehat terus ya, anak-anak Baba. Jangan nyusahin Bubu."


Sekarang, Radit mengecup kening Echa sangat dalam. "Terimakasih, Sayang. Telah menemaniku di sepuluh tahun ini," imbuhnya.


Dengan pelan, Radit membawa tubuh Echa menuju kamar mereka. Diletakkannya tubuh Echa dengan sangat hati-hati. Tidak puas rasanya hanya mengecup kening istrinya. Ingin rasanya Radit mencium setiap inchi tubuh Echa. Tapi, dia harus mematuhi larangan dokter. Harus berkorban sebentar demi anak-anaknya.


Radit menutup pintu kamar dengan pelan, dan dia segera menghubungi seseorang untuk merapihkan kamar yang ada di bawah. Karena kamar itu yang akan Radit dan Echa tempati selama Echa mengandung. Dan dia juga sudah menghubungi seseorang untuk mencarikan asisten rumah tangga. Tidak tanggung-tanggung, lima asisten pembantu yang Radit minta.


Setelah urusannya selesai, Radit kembali ke kamarnya. Dan Echa sudah terbangun dan bersandar di kepala ranjang.


"Kok udah bangun?"


Echa merentangkan tangannya ingin dipeluk oleh suami tercintanya. Radit segera memeluk tubuh Echa.


"Lapar gak?" Echa hanya menggeleng.


Ponsel Echa berdering, ternyata sang Mamah yang menghubunginya melalui video call.


"Hai anak Mamah, Mamah kangen."


Echa tersenyum lebar masih dalam keadaan memeluk Radit.


"Echa juga kangen Mah."


"Ay, tolong ambilin itu," tunjuknya ke atas nakas. Echa menerima barang pemberian Radit dan menunjukkan ke arah Mamahnya.


"Kak, kamu serius itu?" teriak Ayanda. Kemudian Radit menunjukkan hasil USG kepada mamah mertuanya.


"Ya Allah, Mamah langsung punya cucu tiga," ucapnya sangat gembira.


"Doain ya, Mah. Semoga Echa dan bayi-bayinya sehat. Echa ingin berkumpul bersama Mamah di sana."


"Iya, pasti Kak. Doa Mamah tidak akan terputus untuk kamu dan keluarga kecil kamu." Air mata Ayanda sudah berlinang karena sangat bahagia mendapat kabar kehamilan putrinya.


"Allah menjawab doa Mamah, Kak. Mamah ingin menimang tiga cucu biar Aki, Engkong, sama Opanya gak rebutan. Masing-masing satu, Mamah ngurus anak kamu satu, Ayah satu. Dan Papih kamu satu."


"Terus Echa?"


"Kamu bikin lagi, siapa tahu dapat anak kembar empat."


"Mamah kira Echa kucing," dengusnya dan disambut tertawa bahagia oleh sang Mamah.


...----------------...


Semoga Terhibur ...