
Komen mana?? 🤧
Kalo kek gini terus, Hiatus dulu deh aku.
...****************...
Rion serius dengan perkataannya. Dia sama sekali tidak keluar kamar. Membiarkan wanita itu menunggunya hingga jamuran. Amanda dan Echa adalah yang terpenting untuknya.
Dua jam berlalu, Echa keluar dari kamar ayah dan bundanya, berjalan ke halaman depan untuk memanggil Pak Mat. Bundanya ingin memakan buah anggur dan belimbing.
"Echa," sapa seorang wanita yang berada di ruang tamu.
Echa memicingkan matanya, dia tidak mengenali wanita itu tapi, wanita itu mengenalinya.
Siapa dia? batin Echa.
Echa terus saja berjalan ke halaman depan dan tidak menghiraukan wanita sok akrab itu di ruang tamu seorang diri. Hanya secangkir teh atau kopi yang menemaninya. Echa tidak peduli.
"Echa, ayahmu ada?" Pertanyaan wanita itu mampu menghentikan langkah Echa dan kefokusan Echa pada benda pipihnya.
"Maaf, ada perlu apa Anda mencari Ayah saya?" ketus Echa.
"Saya Adelia, mantan pacar ayah kamu waktu kuliah," sahutnya sangat manis.
Echa hanya tersenyum sinis. "MANTAN," ucap Echa dengan penuh penekanan.
"Sebegitu bangganya Anda menjadi mantan ayah saya?"
"Ya, karena ayahmu sangat mencintai saya. Dan hubungan kami pun terjalin sangat lama melebihi hubungan pacaran ayahmu dengan Mamahmu," jelasnya.
"Hahaha, Anda mau berbicara tentang silsilah mantan Ayah saya kepada saya. Maaf, saya tidak tertarik," balas Echa.
"Apa kamu tidak tahu, ibu tirimu itu adalah mantan pelac*r?" tanya Amanda dengan sinis.
Echa menatap tajam ke arah Adelia. Matanya menyiratkan ketidaksukaan dengan ucapan Adelia.
"Lebih baik pelac*r yang sekarang tobat dari pada wanita berhijab nan anggun tapi, berhati jahat," jawab Echa.
Adelia merasa dihina mendengar ucapan dari Echa. Dia sudah mengepalkan tangannya sangat keras.
"Lebih baik Anda pergi dari rumah saya. Ayah saya sedang tidak mau diganggu dan sedang memproduksi adik untuk saya," ucapnya.
"Anak kecil belagu," sarkas Adelia.
"Ternyata penampilan Anda tidak secantik hati Anda. Apakah Anda tidak belajar tentang ilmu agama? Menyakiti wanita lain yang tidak bersalah itu namanya dzalim. Heran, sesama wanita masih aja saling menyakiti," decak Echa.
"*****, sakit woiy!" teriaknya.
"Gak usah banyak bac*t makanya," geram Adelia.
"Saya pastikan tangan Anda tidak akan berfungsi dengan semestinya lagi," ucap Echa. Adelia semakin menjambak keras rambut Echa hingga Echa menjerit keras.
"Hentikan!" teriak Rion yang separuh berlari menghampiri putrinya.
"Rambut Echa rontok," lirihnya dalam dekapan ayahnya.
"Lebih baik kamu sekarang keluar!" ucap Rion dengan sangat emosi.
"Kamu harus lihat ini!" Adelia menyerahkan amplop berwarna cokelat kepada Rion.
Rion membukanya, ada beberapa foto di dalam sana. Tatapan Rion datar tak terbaca. Adelia tersenyum penuh kemenangan.
"Hahaha." Suara tertawa Echa menggelegar.
"Kalo mau jadi pelakor yang pinteran dikit napa? Tanpa mbaknya kasih foto seperti ini, kami sudah tau masa lalu Bunda seperti apa," jelas Echa.
Tubuh Adelia lemas seketika, jebakannya gagal total sekarang ini. Ponselnya berdering, Adelia pun dengan cepat mengangkat telponnya. Wajah Adelia langsung pucat pasi.
"Dipecat kan Anda. Jaga tangan Anda, jangan asal menyentuh orang sembarangan," ujar Echa.
Rion melihat ke arah putrinya, hanya senyuman licik yang Echa tunjukkan dan menunjukkan video call yang sedang berlangsung dengan Papanya.
"Sayang, jika karyawan Papa itu macam-macam lagi sama kamu ataupun Ayahmu dan juga Bundamu. Langsung lapor ke Papa ya. Akan Papa usut, tindakan apa saja yang sudah dia perbuat terhadap kantor dan juga kalian," ucap Gio di seberang sana.
Wajah Adelia seperti mayat hidup sekarang. Ternyata putri dari Rion adalah putri sambung dari pemilik perusahaan tempatnya bekerja. Dan Adelia pun beringsut mundur dari kediaman Rion.
Rion tersenyum ke arah Echa. "Kewajiban Echa sekarang adalah menjaga Ayah menggantikan Bunda. Takutnya, penyakit lama Ayah kumat lagi," ucapnya seraya tertawa.
Rion mencubit hidung mancung Echa lalu memeluknya. "Ayah tidak akan menyakiti Bunda. Kamu, Mamahmu dan Bunda adalah tiga wanita yang Ayah sayangi," ungkap Rion.
Di pintu kamar, Amanda tersenyum bahagia mendengar ucapan dari suami dan anak sambungnya. Mereka berdua benar-benar tulus mencintainya.
"Tumbuhlah jadi anak yang baik seperti Kakak Echa ya, Nak," gumamnya seraya mengusap perut ratanya.
****
Happy reading ...