
Di dalam mobil Echa hanya terdiam, dia menyandarkan kepalanya di jok mobil dengan mata yang terpejam.
"Kenapa?" tanya Radit yang masih fokus ke jalanan.
"Nano-nano." Radit pun tertawa mendengar jawaban dari Echa. Mereka tiba di rumah Gio dan Echa langsung ke halaman belakang. Tempat di mana dia dan Radit berdua.
"Kamu mengatakan hal yang tadi tulus ga?" tanya Radit.
Echa menatap Radit dengan tatapan sendu. "Aku hanya ingin melihat Riana dipenuhi kasih sayang, tidak seperti ku. Terlalu sakit jika jadi aku," imbuhnya.
Radit mengusap kepala Echa seraya tersenyum. "Sekarang waktunya kamu move on. Kita hidup di masa sekarang dan masa depan, bukan di masa lalu."
Echa pun mengangguk pelan dan tersenyum. "Makasih sudah menjadi penguat untukku. Aku gak tau gimana jadinya aku jika kamu gak ada," ujarnya.
Radit mendekap hangat tubuh Echa. Rasa sayangnya semakin besar dan dia benar-benar ingin mengobati setiap goresan luka yang telah orang lain berikan kepada Echa.
Pagi harinya, Rion, Amanda, Riana kembali ke rumah mereka yang dahulu. Mbak Ina menyambut mereka dengan senyum bahagia.
"Mbak, tolong pindahkan semua baju saya ke kamar atas." Ucapan Rion benar-benar menusuk jantung Amanda. Dia kira suaminya akan mau tidur satu kamar dengannya. Tenyata, tidak.
"Ba-baik Pak."
"Biar saya saja, Mbak," imbuh Amanda. Rion tidak memperdulikannya. Dia bergegas berangkat ke kantor.
Selama dia mengambil baju demi baju milik suaminya, air matanya menetes deras. Sungguh sakit hatinya, ternyata suaminya kembali ke rumah ini hanya untuk menuruti permintaan putri tercintanya. Dan tidak ingin membuat Riana jauh dari kedua orangtuanya.
"Bagaiman caranya agar kamu bisa memaafkan ku Bang?" lirih Amanda.
Sedari tadi Rion memasang wajah yang tidak bersahabat, membuat Arya sedikit gatal ingin bertanya.
"Kenapa?"
"Gua balik ke rumah gua lagi," jawabnya.
"Rujuk?"
"Permintaan Echa," imbuhnya.
Arya hanya menghela napasnya kasar. Dia menatap Rion dengan wajah iba.
"Sekarang waktunya lu didik istri lu biar jadi ibu yang punya akhlak," tegasnya.
"Yang membuat gua kaget, Echa terus terang jika dia masih belum memaafkan Amanda," kata Rion.
"Sebenarnya Echa sudah memaafkan Amanda, hanya saja dia masih mengingat ucapan-ucapan Amanda yang membuatnya sakit hati."
"Echa bukan anak yang pendendam. Gua tahu itu," tambah Arya.
Rion hanya menghela napas kasar. Dia tidak bisa berkata. "Gua sayang Echa dan juga Riana. Gua juga gak mau membuat Riana seperti Echa kecil," kata Rion dengan wajah frustasi.
"Kembali bersama Amanda pun gua ragu. Ada hati anak gua yang pastinya masih memendam rasa kecewa. Echa hanya baik-baik diluar saja, tapi di dalamnya gua gak pernah tau," lanjutnya.
Arya hanya mengangguk pelan. "Kasih kesempatan Amanda, siapa tau dia berubah. Kalo dia gak berubah lu baru boleh ambil keputusan."
Di kediaman Amanda, Amanda sedang berada di teras bersama Riana. Dia melihat mobil Ayanda berhenti di rumah Beby. Dia ingin meminta maaf kepada Ayanda, tapi dia juga sedikit ragu.
Dengan keberanian, Amanda melangkahkan kaki menuju rumah Beby. Dengan pelan dia mengetuk pintu. Senyum hangat dari Mbok Sum yang menyambutnya. Terdengar suara gelak tawa di sana. Tidak hanya Ayanda yang berada di dalam. Sheza pun sedang berada di sana.
Kegiatan tiga hot mommy pun terhenti. Pandangan mereka tertuju pada Amanda yang sedang berada di depan pintu.
Dengan pelan, Amanda mendekat ke arah Ayanda, Sheza dan juga Beby. "Maafkan aku, Mbak," ucap Amanda sangat lirih.
Beby dan Sheza hanya saling pandang, sedangkan Ayanda masih diam dan menatap Amanda dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Maafkan semua kesalahan aku, Mbak. Aku bukanlah ibu sambung yang baik untuk Echa. Aku sudah jahat kepada Echa," lirihnya.
"Bukan padaku harusnya kamu meminta maaf. Meminta maaflah kepada putriku," jawab Ayanda dengan nada datar.
"Dia sudah banyak memendam kesedihannya seorang diri. Dia sudah memendam rindu yang mendalam untuk Ayahnya. Tapi, bukannya rindu itu tersalurkan. Malah berujung menyakitkan," jelasnya.
"Asal kamu tahu, aku dan mas Rion bersusah payah berdamai dengan masa lalu kami. Kami mengesampingkan ego kami masing-masing demi Echa. Kami hanya ingin membuat Echa merasa tetap memiliki orangtua yang utuh meskipun kami sudah berpisah."
"Dan aku pun berkali-kali meyakinkan suamiku, agar dia tidak cemburu dengan Mas Rion. Semua ini kami lakukan untuk anak kami. Bersyukurnya aku karena Gio sangat mengerti akan hal itu."
"Jika aku boleh menjabarkan kesalahan mantan suamiku, satu buku tidak akan cukup untuk menulis satu per satu kesalahannya. Tapi, aku mencoba melupakan itu. Aku mencoba fokus kepada putriku yang pastinya psikisnya sedang terguncang. Aku susah payah berdamai dengan hatiku."
"Satu hal yang harus kamu tahu kenapa Mas Rion enggan untuk menikah setelah perpisahan kami. Dia tidak ingin Echa bersedih, dia tidak ingin memiliki istri yang hanya mencintainya saja tanpa pernah mencintai anaknya."
Ucapan Ayanda sangat menohok hati Amanda. "Aku sayang Mbak sama Echa. Hanya saja setelah Riana lahir ada ketakutan yang singgah di hatiku," jelasnya.
"Rasa sayang sesungguhnya akan mengalahkan rasa takut yang tiba-tiba muncul. Rasa sayang kamu hanya sebatas rasa sayang, tanpa adanya ketulusan di dalamnya," ungkap Ayanda.
Amanda sangat merasa rendah sekali berhadapan dengan Ayanda dan juga Echa. Hati dua wanita itu bersih sedangkan dirinya, memiliki hati yang sangat kotor.
"Ketika kamu meminta maaf, di situlah kamu harus berani merubah segala sifat buruk mu. Maaf di mulut sangatlah mudah, semua orang bisa melakukannya. Berbeda dengan meminta maaf dengan hati yang penuh dengan penyesalan."
Amanda benar-benar mengutuk dirinya sendiri. Dia benar-benar merasa hina. Ucapan Ayanda seperti tamparan keras bagi dirinya.
Tidak ada kata memaafkan dari Ayanda. Hanya semua unek-unek yang dia keluarkan.
"Aku terlalu berharap besar sama kamu, ternyata harapanku melenceng sangat jauh," ucapnya seraya tersenyum tipis.
"Maafkan aku, Mbak. Aku sangat menyesal. Aku takut kalo Riana seperti Echa kecil," sahutnya.
"Riana lebih beruntung dari putriku. Jadi, jangan pernah kamu takuti. Apalagi mantan suamiku sudah jauh berbeda dari pada yang dulu. Riana tidak akan pernah kekurangan kasih sayang dari ayahnya. Berbeda dengan putriku yang memang tidak pernah diberi kasih sayang oleh ayahnya ketika seusia Riana," balas Ayanda dengan suara yang bergetar.
"Tidak usah serakah jadi manusia, Mas Rion ayah kandung Riana dan dia juga ayah kandung putriku. Jadi, sudah menjadi kewajibannya jika dia memberikan kasih sayang kepada putriku. Bukan hanya putrimu yang ingin diperhatikan oleh ayahnya, putriku pun sangat menginginkan perhatian dari ayahnya." Ayanda sudah menitikan air mata. Membahas Echa membuat hatinya sakit. Karena dia merasa telah gagal menjadi ibu untuk Echa.
"Semarah-marahnya putriku, di dalam lubuk hatinya masih menyayangimu. Masih menganggapmu sebagai Bundanya. Mulutnya boleh ketus tapi hatinya sangatlah tulus menyayangimu dan juga Riana."
Amanda menangis tersedu mendengar penuturan dari Ayanda. Dan dia sekarang sudah bersimpuh di kaki Ayanda.
"Bangunlah, aku manusia dan kamu juga manusia. Aku dan kamu juga pasti memiliki banyak dosa. Tidak seharusnya kamu seperti ini kepadaku. Kamu hanya perlu bersujud kepada Tuhan dan meminta ampunan kepadaNya atas segala kesalahan dan dosa yang sudah kamu perbuat."
****
Happy reading ...
Ada notif up langsung baca ya, jangan ditimbun-timbun ....
Ayo dong komen dan like, kasih vote juga kalo punya poin/koin. Aku udah mencoba nulis banyak loh per bab-nya.