Bang Duda

Bang Duda
311. Senyum Penuh Arti (Musim Kedua)



Ini tuh kalian masih baca cerita Bang Duda gak sih?


Makin ke sini komen gak ada, sedih banget deh. Aku kasih konflik ringan gak ada yang komen. Dikasih konflik yang berat komenan tajam. 🤧


Berasa kek kuburan China nih cerita. Padahal nulisnya berjam-jam.😩


Sebelumnya aku minta maaf karena telat UP. Karena aku mabok sumpah. Kemarin aku tidur cuma 2 jam demi untuk menyuguhkan cerita untuk kalian semua. 3 cerita 4 ribu kata. Sungguh membuatku muaal. Itulah segelintir kecil perjuanganku di balik layar.


Jadwal Update.


Bang Duda : Pagi


Yang terluka : Siang


Tak Kan Kulepas lagi : Malam


Aku berharap kalian gak hanya baca cerita ini tapi baca juga ceritaku yang lainnya yang aku tulis di atas. Cerita yang masih on going dan hanya terbit di Mangatoon/Noveltoon.


...****************...


Disisa jam pelajaran sekolah, Riana hanya terdiam tidak banyak bicara. Menikmati sakit demi sakit akan apa yang telah Aksa perbuat.


Kata Abang belum punya pacar. Tapi, itu siapa yang dipanggil Sayang?


Nyeri sekali ulu hati Riana. Ingin sekali dia menangis keras, menumpahkan semua kesedihannya. Namun, dia masih terlalu sadar. Dia masih berada di sekolah. Belum saatnya dia menumpahkan rasa sedih bercampur sakitnya.


Bel pulang sekolah pun berbunyi, Riana bergegas meninggalkan kelas. Dia sedikit berlari menuju tempat di mana sopir sudah menjemputnya.


"Riana!" Suara yang sangat Riana kenali. Enggan rasanya Riana menoleh. Dan dia semakin mempercepat jalannya. Tapi, langkahnya terlalu pendek. Mampu dikejar oleh pemilik suara tersebut.


"Tunggu!" Tangan itu menyentuh lengan Riana sehingga membuat langkah Riana terhenti.


Sebelum menoleh Riana mengatur napasnya terlebih dahulu. Berharap pertahanannya tidak roboh. Dengan pelan, Riana menoleh dan lelaki berwajah tampan itu yang memang memanggilnya. Lelaki yang telah membuatnya jatuh hati.


Dengan senyuman sangat manis yang laki-laki itu miliki, dia menyerahkan kotak bekal makanan yang tadi Riana berikan.


"Makasih, enak makanannya." Riana hanya tersenyum kecut.


Enak katanya, padahal yang memakan bekal makanan tersebut bukan dia melainkan adiknya, Kak Aska. Sungguh pintar sekali mulut itu membual.


Tanpa ada jawaban dan tanpa kata permisi, Riana pergi meninggalkan Aksa yang sedari tadi merasa heran dengan sikap Riana kali ini.


Ada apa dengan Riana?


Sesampainya di rumah, Riana meletakkan kotak bekal itu di wastafel. Lalu, naik ke kamarnya. Tak menggubris pertanyaan demi pertanyaan adiknya lontarkan.


"Kamu kenapa?" tanya sang bunda ketika mereka berpapasan di bawah tangga.


Hanya wajah sendu yang Riana perlihatkan. Tidak dengan jawaban. Riana enggan membuka mulut. Dan dia memilih tidak menghiraukan bundanya. Bukan dia tidak sopan, tapi hatinya seakan sedang mencari pelampiasan atas kesedihannya.


Tanpa berganti pakaian, Riana menjatuhkan diri di kasur miliknya. Posisi tengkurap adalah posisi ternyaman untuk Riana meluapkan segala emosinya saat ini. Dia raih ponselnya, dan dia tatap foto profil Aksa yang hanya bergambarkan siluet.


Sebentar, Riana terdiam sejenak ketika melihat foto profil Aksa yang sudah berubah. Sekarang, foto profil itu memperlihatkan punggung Aksa dan juga punggung seorang perempuan yang sedang meletakkan kepalanya di bahu Aksa.


"Ya Allah, semakin sakit hati ini," lirihnya.


Riana menenggelamkan wajahnya di atas kasur dengan air mata yang sudah berlinang. Baru kali ini, Riana menangisi seorang lelaki. Biasanya, lelaki yang menangisi dia.


Isak tangis terdengar lirih membuat Amanda sedikit khawatir terhadap putrinya.


"Ri, buka pintunya, Nak."


Tidak ada jawaban dari dalam membuat Amanda menghela napas kasar. Lebih baik membiarkan Riana untuk melepaskan semuanya. Perlahan, Riana juga akan bercerita jika dia sudah siap.


Suara yang sedang bersenandung ria terdengar dari bawah. Amanda hafal suara itu. Dan ternyata benar dugaannya. Gadis kecil titisan Echa sedang asyik bersenandung di ruang keluarga.


"Bee," panggil Amanda. Tapi, Beeya tidak mendengar karena telinganya sedang ditutupi headset.


"Beeya!" Barulah Beeya menengok ke asal suara dengan cengiran khasnya.


"Apa Bunda?"


"Coba dekati Riana, sepertinya dia sedang sedih." Beeya segera melepaskan headset di telinganya.


"Ketika Kak Ri sedih, lebih baik didiemin aja. Ngamuknya Kak Ri melebihi singa betina," ujarnya yang kemudian melanjutkan aktifitasnya mendengarkan lagu.


Amanda hanya menghela napas berat. Ada apa dengan Riana? Apa ada sangkut pautnya dengan Aksa? Pikiran itu yang berkecamuk di kepalanya.


"Bun, Iyan mau jajan dong. Mumpung ada Kak Bee." Merasa namanya disebut, Beeya menatap Iyan. Bocah laki-laki itu sudah tersenyum penuh arti. Beeya pun segera mengangkat jempolnya ke arah Iyan.


Inilah momen menyenangkan untuk Iyan dan Beeya. Bisa keluar rumah dengan naik sepeda. Menjadi anak tunggal memang tidak sebahagia orang lain bayangkan. Beeya merasa kesepian, apalagi kedua orangtuanya selalu sibuk. Hanya punya waktu ketika weekend saja.


Untungnya, rumah Beeya dekat dengan rumah Riana. Adik laki-laki Riana sangat menghibur Beeya. Sebenarnya ada Kaza yang klop dengannya. Hanya saja, rumah Kaza jauh dari rumahnya.


"Makan bakso ya," pinta Iyan.


"Siap."


Beeya dan Iyan saling bercanda sambil menikmati bakso yang mereka pesan. Untuk masalah uang jajan, Beeya tidak perlu khawatir. Kedua orangtuanya memberikannya uang jajan yang lebih dari cukup.


"Alhamdulillah, kenyang," ucap Iyan yang sudah menyandarkan diri di kursi plastik.


"Kak Bee pesan buat Bunda sama Kak Ri juga, ya." Iyan mengangguk setuju.


Riyan tidak diperbolehkan main keluar oleh Amanda. Karena sedang marak penculikan anak. Hanya ketika ada Beeya, Iyan baru bisa pergi keluar rumah walaupun hanya jajan bakso atau pergi ke minimarket.


"Iyan, ayo pulang."


Sesampainya di rumah Iyan, Beeya meletakkan bungkusan bakso di atas meja makan.


"Mbak, itu ada bakso. Ambil buat Mbak sama Pak Mat," ucap Beeya dengan sopan.


"Makasih banyak, Neng." Beeya hanya tersenyum. Dan dia membawa satu bungkus bakso beserta mangkok ke lantai atas. Di mana Riana sedang mengurung diri.


"Kak Ri, buka pintunya."


Tidak ada jawaban dari dalam. Dengan isengnya, Riana menggedor-gedor pintu kamar Riana layaknya itu sebuah gendang. Membuat si penghuni mengerang kesal. Dengan sedikit menghentakkan kaki, Riana membuka pintu kamarnya. Tatapan tajam nan membunuh dia tunjukkan kepada Beeya.


"Beri ...."


Sedangkan Riana tengah asyik membuka bungkusan bakso. Dan mencampurkannya dengan saus dan juga sambal biar lebih hot. Seperti hatinya yang sedang panas.


"Kak Ri."


"Hm."


"Kata Bunda Kak Ri lagi sedih, sedih kenapa?" Mulut Beeya bertanya tapi mata Beeya fokus pada ponsel di tangannya.


"Gak apa-apa."


"Mana ada orang sedih, tapi gak apa-apa," cibir Beeya.


"Kamu gak akan ngerti, masih kecil." Mendengar ucapan Riana Beeya menatap Riana dengan tatapan tajam.


"Kamu masih kecil belum tahu apa namanya cinta." Beeya menatap kesal ke arah Riana seraya berdecih.


"Gegayaan," sungutnya.


Riana tidak menimpali ucapan Beeya. Dia asyik dan fokus pada mangkuk bakso di hadapannya. Hingga dering ponsel Beeya berbunyi. Dan dengan senyum lebar, Beeya mengangkat panggilan itu.


"Iya, Bang."


Deg.


Riana sedikit tersentak mendengar ucapan Beeya.


"Nonton? Seriusan?"


"Ih gak nyangka keinginan Bee direalisasikan sama Abang kesayangan."


Dada Riana mulai bergemuruh mendengar ucapan Beeya. Apalagi menyebut Abang kesayangan. Riana tahu, yang menelpon Beeya itu siapa.


"Ya udah. Bee dandan dulu yang cantik biar cocok bergandengan tangan sama Abang tampan."


Tangan Riana mengepal keras mendengarnya. Dadanya turun naik mendengar ucapan Beeya.


"Kak Ri, Bee pulang dulu. Ada yang mau ngajak nge-date." Beeya berlalu begitu saja meninggalkan Riana yang hampir mematahkan sendok di tangannya.


"Apa yang tadi telponan sama Abang di jam istirahat itu Beeya?"


Riana segera turun dan sengaja duduk di teras rumahnya. Dia ingin tahu apakah benar yang menjemput Beeya itu Aksa. Laki-laki yang Riana sukai.


Mobil hitam mengkilap berhenti di depan rumah Beeya. Dan turunlah si Pangeran berkacamata hitam dari dalam mobil. Sungguh luar biasa tampannya pangeran itu. Tak lama, senyum merekah di bibirnya melihat Beeya sudah keluar dari rumahnya.


"Cantik." Pujian dari si pangeran itu terdengar hingga ke telinga Riana membuat dadanya semakin perih. Apalagi perlakuannya kepada Beeya sangatlah manis.


Kenapa harus Beeya?


Sudah tidak sanggup lagi Riana menyaksikan adegan demi adegan antara Aksa dan juga Beeya. Riana memilih untuk pergi. Tapi, dia dikejutkan dengan keberadaan Iyan di belakangnya.


"Kenapa Kakak nangis?" Ucapan polos yang keluar begitu saja dari mulut Iyan.


Mata Iyan berbinar ketika melihat Aksa. Dengan kerasnya Iyan memanggil nama Aksa.


"Abang!"


Ingibbrasanya Riana menjitak kepala Iyan. Karena memanggil Aksa di saat dirinya sedang kacau. Aksa dan Beeya menoleh ke arah Iyan. Dan Aksa segera menghampiri Iyan. Tidak lupa dia juga menyapa Riana.


"Hai Iyan. Hai Riana," sapa sopan Aksa.


Riana masih mematung di tempatnya dan tidak ingin membalikkan badannya. Dia lebih memilih untuk pergi tanpa pamit ataupun membalas sapaan Aksa.


"Kak Ri kenapa?"


"Dia tadi nangis," jawab Iyan.


"Nangis kenapa?"


"Liatin Abang sama Kak Bee. Terus nangis," jelas Iyan.


Aksa terdiam, apa Riana sungguh-sungguh dengan ucapannya tadi pagi tentang keinginan Riana jadi pacarnya. Lagi-lagi Aksa menolak pemikiran tersebut. Bagi dirinya, Riana hanyalah adiknya. Lagi pula Aska yang menyukai Riana.


"Abang mau ke mana?" Lamunan Aksa pun buyar oleh pertanyaan Iyan.


"Mau nonton."


"Ciye, berduaan aja sama Kak Bee. Ciye," ledek Iyan.


Aksa hanya tertawa dan kemudian mengusap rambut Iyan. "Abang pergi, ya." Iyan pun mengangguk.


"Kak Bee, bawain pizza," teriak Iyan.


Hanya acungan jempol yang Beeya berikan kepada Iyan. Dan mobil yang dibawa Aksa pun meninggalkan kediaman Beeya.


Di dalam kamar, Riana hanya bisa menatap sedih ke arah mobil hitam yang semakin melaju jauh. Seperti dirinya yang semakin jauh dan susah untuk mendapatkan hati Aksa. Apalagi, yang menjadi saingannya sekarang Beeya. Anak yang sudah dia anggap sebagai adiknya sendiri.


"Apa aku harus menyerah? Dan kenapa perempuan itu harus kamu, Bee?"


Di dalam mobil hanya keheningan yang tercipta. Aksa masih teringat akan perkataan Iyan tadi. Riana menangis karena melihatnya dengan Beeya. Apa yang harus dia lakukan?


"Kenapa Bang?" tanya Beeya. Sedari tadi Abangnya ini hanya diam dan wajahnya menampakkan kecemasan.


Rasa bersalah kini bersarang di hati Aksa. Apakah dia harus meminta maaf kepada Riana? Tanpa berpikir panjang, Aksa memutar balik mobil yang dia kendarai membuat Beeya merasa aneh.


"Kenapa kita balik lagi, Bang? Gak jadi nontonnya?" Tidak ada jawaban dari Aksa.


Mobil Aksa berhenti di depan kediaman Riana. Bergegas dia turun dari mobil. Langkahnya terhenti ketika dia


melihat seseorang sedang memeluk Riana yang tengah menangis.


Senyum kecil mengembang di bibirnya. Senyum yang memiliki banyak arti. Apakah senyum kebahagiaan atau malah senyum kesedihan?


...----------------...


Semoga terhibur ..