Bang Duda

Bang Duda
135. Harta Yang Berharga



Hay semua ...


Sambil nungguin cerita Bang Duda up kalian bisa baca karyaku yang lain, siapa tau aja kalian suka. Bukan karya baru sih tapi karya yang dirombak total dari judul sampai alur cerita.


Nanti di bawah cerita ada sinopsisnya ya ...


...****************...


Baru saja Rion akan melangkahkan kaki keluar hotel, suara seorang pria menghentikan langkahnya. Rion dan Amanda menoleh ke arah belakang dengan tangan Rion yang terus menggenggam erat tangan istrinya.


"Maafkan kelakuan adik-adik uwa, A," ucapnya.


Rion hanya tersenyum tipis, sejak kapan saudara dari ayahnya mampu mengucapkan kata maaf kepada dia. Selama dia ditinggal oleh ayahnya, tidak satu pun keluarga dari ayahnya peduli akan dirinya dan juga Nisa. Semuanya hanya mencemooh dan juga mengolok.


"Mereka sudah keterlaluan," sambung pak Rana, kakak kandung dari mendiang ayah Rion


"Memang dari dulu kalian sudah keterlaluan sama saya dan mamah saya, serta adik saya. Kenapa baru sekarang minta maafnya?" ketus Rion.


Pak Rana hanya terdiam mendengar ucapan dari Rion. Tidak biasanya Rion ini menimpali setiap omongan dari keluarga ayahnya.


"Dulu saya diam, ketika kalian menginjak-injak saya dan keluarga saya. Tapi, ketika kalian sudah menghina istri saya di depan umum, di situlah saya tidak akan tinggal diam," terang Rion.


"Maaf, A. Mungkin tante-tante kamu tidak setuju Mamahmu menjodohkan dengan istrimu yang sekarang ini," belanya.


"Tidak setuju? Hahaha ... bukankah dari dulu kalian tidak setuju dengan siapapun saya menikah? Apa kalian tidak ingat bagaimana perlakuan kalian terhadap Yanda?"


Pak Rana hanya menundukkan kepala mendengar ucapan dari keponakannya.


"Kalian menghujat Yanda dan menyebutnya sebagai wanita rendahan, yang tidak pantas bersanding dengan saya di depan pusara papa yang masih basah. Itu kalian katakan dengan sengaja di depan banyak orang dan juga para teman bisnis Papa."


Amanda melebarkan mata ketika mendengar semua yang dikatakan Rion. Tidak mungkin, jika Ayanda tidak sakit hati dengan perkataan mereka.


"Saya tidak ingin orang yang saya sayangi menangis lagi karena perkataan kalian. Seburuk-buruknya istri saya di mata kalian tapi, di mata saya istri saya adalah yang terbaik diantara ratusan juta wanita di muka bumi ini."


"Kalian bukan Tuhan yang bisa menentukan orang itu baik atau tidak. Orang yang kalian anggap hina dan kotor belum tentu hina di mata Tuhan. Nilai lah diri sendiri sebelum menilai orang lain. Hitunglah dosa kalian sendiri sebelum berbicara tentang dosa orang lain."


"Saya rasa sudah cukup. Anggap saja kita tidak pernah saling kenal. Dan mulai hari ini kalian boleh mencoret nama saya dari silsilah keluarga."


Wa Rana tercengang mendengar ucapan terakhir dari Rion. Ucapan yang tidak main-main yang Rion lontarkan.


"Tapi, A ...."


"Itu kan yang kalian inginkan, harta aki akan jatuh ke tangan anak-anak kalian semua. Karena saya sudah tidak menginginkan apa-apa dari kalian."


Rion hanya tersenyum sinis. "Nikmati semua harta aki sesuka hati kalian. Dan bersenang-senanglah," sahut Rion dan berlalu meninggalkan mereka berdua.


Rion dan Amanda masuk ke dalam mobil dan menyuruh Pak Mat untuk melajukan mobil ke rumah Mamahnya. Selama diperjalanan tidak ada satu pun kata yang terucap. Hanya keheningan yang ada di dalam mobil itu dengan tangan Rion yang menggenggam erat tangan istrinya.


Sesampainya di rumah Bu Dina, Rion langsung mengajak Amanda menuju kamarnya. Rion mendudukkan diri di tepian ranjang dengan helaan nafas kasar.


Amanda duduk di samping Rion dan mengusap lembut punggung tangan Rion. Hingga Rion menatap Amanda dengan tatapan tidak bisa dibaca.


"Makasih sudah membela Manda," ucap Amanda dengan mata nanar.


Rion memeluk tubuh istrinya, dia tahu hati Amanda sakit mendengar hinaan dari tante-tantenya. Kejadian ini mengingatkan akan kesakitan Ayanda yang disebabkan oleh mereka juga.


"Sudah kewajiban Abang, Sayang. Sehina apapun kamu di mata mereka, kamu adalah istri Abang yang sangat Abang cintai," ungkapnya.


Amanda mengeratkan pelukannya, kesedihannya berubah menjadi kebahagiaan yang luar biasa.


"Abang tidak butuh harta mereka karena Abang sudah memiliki harta yang lebih dari cukup. Dan harta yang paling berharga dalam hidup Abang adalah kamu dan juga Echa."


Tak terasa bulir bening jatuh di pelupuk mata Amanda mendengar ucapan tulus suaminya. Rion melonggarkan pelukannya dan menangkup wajah Amanda yang sudah basah karena air mata.


"Abang sayang sama kamu, Abang ingin kamu jadi yang terakhir dalam hidup Abang. Dan menjadi ibu untuk Echa dan anak-anak Abang yang lainnya."


"Abang akan terus melindungi kamu hingga nafas Abang terhenti." Rion mengecup dalam kening Amanda bersamaan dengan itu air mata Amanda mengalir sangat deras.


Ya Allah, terimakasih untuk kebahagiaan tak terduga hari ini. Jika, ini hanya mimpi jangan pernah bangunkan aku dari mimpi indah ini.


***


Ijin promo ya para kesayangan ...


Sok kepoin, siapa tahu aja kalian suka ...



Jalinan kasih sejak di bangku sekolah, membuat Dirga dan juga Niar memantapkan hati untuk menjalin hubungan yang lebih serius. Saling melengkapi menjadi alasan yang kuat untuk Dirga meminang pujaan hatinya.


Di malam itu, Dirga membawa Niar ke rumahnya. Tujuannya untuk dikenalkan kepada kedua orangtuanya. Namun, keadaan berkata lain. Dirga ternyata sudah mempunyai calon istri yang orangtuanya rahasiakan darinya. Dan besok, mereka akan menikah.


Datang dengan rona bahagia dan pulang dengan rasa sesak di dada. Dengan senyuman penuh luka, Niar menatap manik Dirga dan berkata, "aku lepaskan kamu untuk perempuan itu."


Akankah Dirga menerima keputusan Niar dan menikahi wanita itu? Atau sebaliknya? Dirga akan mengejar Niar dan tidak akan pernah melepaskannya?