Bang Duda

Bang Duda
40. Dingin



Sudah beberapa hari ini Azka tidak pernah menghubungi Sheza. Sheza semakin tidak enak hati dan desiran aneh pun muncul di hatinya. Dia selalu melihat notif pesan berharap Azka memberikan kabar kepadanya. Ada rasa kehilangan di hatinya, kehilangan akan teman atau lebih dari sekedar teman.


"Kamu kemana Azka?" gumam Sheza.


Deheman dari seseorang membuat Sheza terlonjak kaget. Seseorang yang belum pudar dalam hatinya kini muncul di hadapannya. Hanya tatapan penuh kerinduan yang mereka pancarkan.


"Aku merindukanmu," kata Rion. Tanpa permisi Rion memeluk tubuh Sheza. Sheza hanya mematung, tidak menolak maupun membalas.


Langkah seseorang terhenti dan matanya terlihat nanar. Niat hati ingin memberikan kejutan malah dirinya yang terkejut. Seringai senyum kecewa tergurat dari bibirnya.


Kecewa dan patah yang dia rasakan kini. Hingga manik mata Sheza membulat melihat seseorang yang dia rindukan. Dengan hati yang hancur Azka membalikkan badannya. Pergi menjauhi dua manusia yang sedang melepas rindu.


"Kano, mau kemana?" tanya Beby. Langkah Azkano pun terhenti. Belum sempat dia menjawab, panggilan dari seseorang membuat Beby dan Azkano menoleh ke asal suara.


Sheza mendekat ke arah Azka, tersenyum manis ke arahnya. Senyuman yang Azkano rindukan namun dia mencoba untuk bersikap dingin. Azkano tidak ingin menyakiti hatinya sendiri lebih dalam lagi.


"Kamu masih mencintainya, kan. Kamu memilih dia dan aku akan menghilang dari hidupmu," ucap datar Azka dan matanya melirik ke arah Rion yang sedang berdiri memperhatikan mereka.


"Azka aku ...."


"Aku perlu jawaban dan kepastian. Tidak untuk terus diabaikan," ungkap Azka dan berlalu meninggalkan Sheza yang mematung seorang diri dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Kenapa seperti ini? jerit dalam hatinya.


Azka duduk seorang diri di sebuah danau buatan. Hatinya sudah patah, remuk dan hancur berkeping-keping.


# Flashback on.


"Aku mencintaimu, maafkan aku," ujar Rion yang tengah memeluk Sheza.


Hanya derai air mata yang membasahi pipi Sheza. Rion mengendurkan pelukannya, menghapus setiap jejak air mata yang Sheza teteskan.


"Aku sungguh mencintaimu," ucap Rion dengan penuh keyakinan.


Refleks Sheza memeluk erat tubuh Rion, secara tidak langsung tubuhnya mengatakan bahwa dia juga mencintai Rion.


# Flashback off.


Senyum getir kini tersemat dari bibir Azka dengan tatapan nanar melihat tenangnya air danau. Sekarang dia harus mengaku kalah padahal perjuangannya masih belum seberapa.


Beby terus menghubungi kakaknya namun tidak pernah dijawab. Rasa takut kini menghampiri Beby, takut terjadi apa-apa dengan kakaknya.


Di danau Azka termenung seorang diri hingga seorang gadis berseragam SMA duduk di sampingnya. Azka melihat ke arahnya.


"Galau Bang," ucap si gadis.


Azka hanya tersenyum melihat gadis cantik di sampingnya. Rasa sakit dan patah hatinya sirna dalam sekejap. Mereka pun tertawa bersama dan bercanda. Membuat Azka melupakan semuanya. Melupakan kehancuran hatinya.


Hingga senja pun datang, si gadis pamit pulang kepada Azka karena sopirnya sudah menjemputnya. Dan Azka pun melajukan mobil ke rumahnya.


"Kamu dari mana aja?" sergap Beby dengan wajah cemas.


"Aku menenangkan diri," jawab Azkano lirih.


"Kano," panggil lembut Beby.


"I'm okay," jawabnya dan langsung meninggalkan Beby.


Keesokan harinya mentari membiaskan cahaya cerah namun tidak secerah wajah Sheza. Dia masih memikirkan Azka. Hingga Pak Roni selaku manager menyuruh para karyawan untuk berkumpul. Boss akan melakukan briefing.


Para karyawan sudah berkumpul namun sang boss belum keluar dari ruangannya. Hingga suara hentakan sepatu membuat karyawan wanita kegirangan kecuali Sheza yang sedang bergelut dengan pikirannya sendiri.


"Selamat pagi semua," sapa sang Boss.


Suara yang sangat tidak asing di telinga Sheza. Dengan cepat Sheza mendongakkan kepalanya, matanya melebar ketika di depannya sudah berdiri Azka yang sedang memberikan arahan-arahan kepada para karyawan.


Setelah selesai dengan semua penjelasannya, Azka melihat ke arah Sheza yang sedari tadi menatapnya dengan perasaan bersalah. Tidak ada senyum atau pun kata yang terlontar dari bibir Azka. Hanya tatapan dingin yang penuh dengan kecewa.


Ingin sekali Sheza mengejar Azka, namun di tempat ini dia hanyalah bawahan dari Azka. Sesungguhnya Sheza tidak percaya pemilik dan boss restoran tempatnya bekerja adalah Azka yang Sheza kenal sebagai kurir makanan.


Di dalam ruangannya, Azka menyandarkan diri pada dinding. Bayang wajah Sheza masih terus ada di kepalanya. Akan tetapi Sheza lebih memilih Rion dibandingkan dirinya. Lalu dia bisa apa?


"Maafkan aku, jika kamu mencintaiku pasti kamu akan rindu dan merasa kehilangan akan sosok Azka yang perhatian dan bersikap hangat kepadamu," gumamnya.


****