Bang Duda

Bang Duda
283. Maafkan Mamah (Musim Kedua)



Terima kasih kepada kalian yang udah baca dan suka sama karya Bang Duda. Dan terima kasih juga bagi kalian yang udah menjadi pembaca setia Bang Duda. Yang belum jadi pembaca setia, ayo jadi pembaca setianya.


Baca di sini tidak memerlukan koin, jadi kalian cukup membaca setiap update Bab terbaru dari Bang Duda tanpa menimbun-nimbun bab yang sudah terbit. Dengan cara begitu, kalian telah membayar mahal karya ini.


Aku tunggu kalian untuk jadi pembaca setia ...


...****************...


"Kalo Om mengijinkan, Radit akan menikahi Echa hari ini juga."


Dengan cepat dan kompak kedua pria matang itu menggelengkan kepala dan menjawab, "TIDAK!"


Sontak ECha tertawa terpingkal-pingkal melihat ayah dan papanya. Sungguh beruntungnya dirinya memiliki dua pria yang teramat menyayanginya.


"Lah, katanya tadi mau mahar 1M. Radit udah nyiapin 10M masa ditolak?" cicitnya.


"Tunggu Echa lulus kuliah dulu," tegas Gio.


"Ngomong-ngomong, uang sebanyak itu dapat dari mana?"


Gio menggeplak kepala Rion dengan cukup keras sehingga dia mengaduh.


"Miara tuyul sama ngepet, Om," jawab Radit sekenanya.


Rion pun geram dan memiting kepala Radit. "Kalo ditanya orangtua jawab yang sopan," geram Rion.


"I-iya, Om. Tapi lepasin dulu, ketek Om bau."


Gio dan Echa pun tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Radit. Sedangkan Rion melepaskan kepala Radit dan mengendus aroma keteknya yang terangkat.


"Gak bau," gumam Rion.


Radit pun terkekeh mendengar gumaman Rion. Dia memilih duduk di samping kekasihnya yang sedang terduduk di ranjang pesakitan. Radit pun membelai lembut rambut Echa.


"Ya kali, dapat nuyul sama ngepet doang punya uang sebanyak itu," ucap Radit.


"Ck, nih bocah. Jawab pertanyaan Om," omel Rion.


"Begini wahai para calon mertua Radit yang terhormat. Uang itu murni dari hasil Radit buka praktek psikiater dan juga gaji menjadi seorang dokter di salah satu rumah sakit besar di Ausi."


"Radit gak mau jadi keset welcome di keluarga Om semua. Secara, ayah kandung Echa pengusaha bakery ternama, Papanya pewaris tunggal Wiguna Grup dan Kakeknya pengusaha sangat sukses yang terkenal di Asia. Jadi, Radit juga harus bisa memantaskan diri untuk bersanding dengan Echa," ungkapnya.


Echa pun tersenyum mendengar penjelasan dari Radit. Dia merangkul lengan Radit dan bersandar di pundak sang kekasih.


Rion dan Gio hanya mencebikkan bibir mereka.


"Kalo gitu, Om mau minta maharnya 10M. Itu tidak termasuk rumah."


Ide gila kini bermunculan di kepala dua pria dewasa yang sedang kekanak-kanakan.


"Undangan, gaun, catering, gedung dan segala perlengkapan yang tidak terhitung kamu yang nanggung." Kini Gio yang bersuara.


"Gampang itu mah. Tapi, Radit juga mau minta kado pernikahan kepada calon ayah mertua dan juga calon papa mertua."


"Apa?" jawab Rion dan Gio berbarengan.


"Untuk calon Ayah mertua, Radit minta satu toko bakery. Dan untuk calon Papa mertua, Radit minta satu retail dari Wiguna Grup. Adil, kan?"


"Aje gile lu," sarkas Rion sambil menoyor kepala Radit.


"Gak ada begitu-begituan."


Mode pelit Rion sudah mulai on. Dan kali ini Gio setuju dengan apa yang dikatakan oleh Radit.


"Gak apa-apa, Bhal. Mereka gak mau ngasih hadiah pernikahan juga gak apa-apa. Toh, kita juga akan tinggal di Ausi."


Mendengar perkataan Echa, Gio dan Rion menatap wajah putri mereka dengan tatapan menyelidik.


"Emang kalian beneran mau menikah muda?" selidik Gio.


"Setelah menikah, kalian mau tinggal di Ausi?" timpal Gio.


Ada raut kekhawatiran di wajah Rion dan juga Gio. Sebenarnya, Rion dan juga Gio pasti akan merestui Radit menikahi putri mereka. Karena Radit sangat berjasa untuk kesembuhan Echa. Serta Radit sudah dengan setia menunggu Echa lebih dari 5 tahun ini. Diusia Radit saat ini, memang seharusnya Radit sudah pantas untuk menikah.


"Radit sih terserah Echa, Om. Lagian kan, Radit juga ingin melihat Echa menggunakan ijazahnya untuk bekerja. Jadi, gak sia-sia kan ijazahnya," jawab Radit sambil menatap Echa.


"Hubungan kalian kan udah 5 tahun malah hampir 6 tahun. Kalo kamu nunggu Echa kerja bisa dua tahunan lagi dong. Kan tahun ini dia baru lulus kuliah." Rion berbicara dengan sangat serius.


"Ya gak apa-apa, Om. Berapa tahun pun Radit siap untuk nunggu Echa," sahut Radit.


"Masalahnya, Om takut kalo Echa bosen sama kamu. Terus dia ninggalin kamu. Apalagi dapat orang yang lebih kaya dari kamu."


Mode menyebalkan Rion kumat lagi. Ingin sekali Echa meremas mulut ayah tercintanya ini. Tapi, Echa masih takut akan yang namanya durhaka. Dia takut dikutuk seperti cerita legenda tanah Minang.


"Yang kaya dari Radit pasti banyak, Om. Tapi, mereka kaya karena uang dan warisan orangtua. Radit juga bisa kalo begitu mah. Papih Radit juga memilki aset yang banyak di Indonesia maupun di luar negeri," tuturnya.


Echa tersenyum lebar mendengar jawaban yang pastinya akan membuat ayahnya mati kutu.


"Ketika Radit dan Echa menikah. Radit ingin Echa hanya fokus mengurus Radit dan anak-anak Radit. Biar Radit yang kerja keras mencari nafkah untuk Echa dan juga anak-anak Radit nantinya," tolak Radit.


"Ya udah kalo itu keputusan kalian. Asalkan jangan nyimpan DP dulu," imbuh Gio.


"Radit mah bukan tipe cowok yang doyan barang kredit, Om. Tidak akan ada DP-DP-an, langsung Radit bayar tunai."


Mereka pun tertawa mendengar jawaban serius Radit. Obrolan mereka sangatlah menghibur Echa.


Sedangkan di ruang perawatan lain, dua wanita dewasa sedang berbicara serius. Ada bulir bening yang membasahi pipi AYanda. Dengan sigap, Beeya mengambil tisu yang ada di dalam tas ranselnya dan menghapus air mata di wajah Ayanda.


"Maaf, Mbak. Aku dan Bang Rion tidak boleh memberitahukan ini kepada Mbak dan juga Pak Gio. Echa tidak ingin Papanya merasa bersalah. Dan Echa juga gak ingin membuat Mbak merasa berhutang Budi kepada Echa."


Tetesan air mata kini membanjiri wajah Ayanda. Darah yang dia butuhkan cukup banyak. Dan bagaimana Echa bisa mendonorkan darahnya disaat kondisinya masih sakit seperti itu?


"Mbak jangan khawatir, Echa baik-baik aja kok. Sekarang juga udah segeran dan lagi dijaga sama Ayahnya."


Amanda tahu kekhawatiran Ayanda. Sebisa mungkin dia tidak ingin membuat Ayanda sedih dengan kenyataan yang Amanda katakan. Kenangan masa lalu hinggap di kepala Ayanda.


Kejadian 18 tahun yang lalu.


Pada waktu itu, Ayanda tengah pusing dengan biaya pengobatan Echa. Meskipun dia dekat dengan keluarga Wiguna. Tak pernah Ayanda menceritakan perihal penyakit anaknya ini. Dia takut, jika Genta dan juga Gio akan membiayai pengobatan Echa. DI tidak ingin semakin berhutang Budi kepada mereka.


Hari ini, hari di mana Echa sudah diperbolehkan pulang karena kondisi Echa yang semakin membaik. Lengkungan senyum terukir di bibir Ayanda. Dia pun bergegas ke kasir untuk membayar semua tagihan rumah sakit.


Selembar surat tagihan dia pegang. Dan tubuhnya sangatlah lemas ketika melihat biaya pengobatan yang 10 kali lipat dari biasanya.


Rumah sakit ini adalah rumah sakit internasional. Karena rasa panik yang melanda, akhirnya Ayanda membawa tubuh Echa yang sudah drop ke rumah sakit terdekat. Tanpa dia sadari, Ayanda membawa Echa ke rumah sakit internasional yang cukup mahal.


"Ya Allah, dapat dari mana uang sebesar ini?" gumam pelan Ayanda.


Akhirnya, Ayanda meminta waktu untuk mencari uang terlebih dahulu untuk membayar biaya rumah sakit. Padahal, Ayanda sendiri bingung, dia mau minta bantuan kepada siapa? Teman-temannya pasti tidak akan memiliki uang sebesar ini. Meminta bantuan kepada keluarga Wiguna. Itu akan menambah beban untuk Ayanda. Karena Ayanda bukanlah orang yang suka memanfaatkan kebaikan orang lain.


"Mamah gak ada uang buat bayar rumah sakit?"


Suara Echa membuyarkan lamunannya. Ayanda pun mencoba untuk tersenyum kepada Echa.


"Mamah pulanglah, di lemari Echa ada kaleng wafer. Bukalah kaleng itu, semoga cukup untuk bayar biaya rumah sakit Echa."


Hati Ayanda sakit mendengarnya, namun Echa malah tersenyum ke arah sang mamah. Anak yang dituntut dewasa oleh keadaan.


"Mamah pulang, ya. Echa gak apa-apa di sini sendiri," ucapnya.


Ayanda pun mengikuti perintah Echa karena dia sudah tidak tahu lagi mau meminta tolong kepada siapa. Uang di tabungannya hanya ada 10 juta, dan masih kurang 15 juta lagi untuk membayar biaya rumah sakit.


Sesampainya di kontrakan, Ayanda membuka pintu lemari Echa. DI undakan lemari paling bawah, ada kaleng yang tadi Echa sebutkan. Dengan pelan, Ayanda membuka kaleng tersebut. Alangkah terkejutnya ketika yang Ayanda dapati adalah uang gepokan di dalam kaleng tersebut. Jumlahnya ada 6 gepok.


"Alhamdulillah."


Sejurus kemudian, Ayanda berpikir dapat dari mana putrinya uangsebanyak ini? Dan yang Ayanda lihat uang ini masih sangat rapih.


Ayanda kembali ke rumah sakit dan membayar biaya rumah sakit, Lalu, mereka berdua pulang. Sesampainya di rumah, Ayanda baru menanyakan Maslah uang tersebut kepada Echa.


"Itu uang yang Papa Gi berikan dari pertama kali kita bertemu, lalu Kakek juga ngasih uang yang sama ke Echa. Kata Papa dan Kakek, itu buat jajan Echa. Tapi, tidak pernah Echa pakai. Dan uang itu selalu Echa bersihkan jika sudah banyak debunya," jelas Echa.


"Kenapa kamu gak bilang sama Mamah?"


"Kata Papa dan juga Kakek, gak boleh biang ke Mamah karena Papa dan juga Kakek ngasihnya ke Echa," sahut ECha.


"Kenapa gak kamu pakai uangnya?"


"Uang jajan dari Mamah saja udah cukup untuk jajan Echa. Jadi, Echa simpan saja uangnya," tukas Echa.


Hati Ayanda meringis mendengar ucapan dari Echa. Uang jajan yang Ayanda berikan hanyalah dua ribu rupiah, dan Echa bilang lebih dari cukup. Sedangkan uang jajan yang diberi oleh Papa Gi dan juga Kakek Genta tak pernah Echa gunakan. Meskipun untuk dia jajan.


Masa-masa sulit yang dipenuhi ujian dan cobaan yang rumit mampu Echa dan Ayanda lalui berdua. Makan hanya dengan garam atau kecap pun pernah mereka berdua rasakan.


"Maaf, uang Mamah tak cukup untuk membeli lauk. Karena habis untuk menebus obat kamu," sesal Ayanda seraya menatap nanar ke arah putrinya kecilnya.


"Tidak apa, Mah. Yang penting Echa makan bersama Mamah itulah yang membuat semua makanan menjadi enak," sahut Echa seraya tersenyum.


Ingin rasanya Ayanda menjerit, ketika melihat Echa menuangkan kecap ke atas nasi putih yang ada di piringnya. Kemudian, Echa mengaduk-aduk nasi hingga tercampur rata dan menyuapkan nasi yang sudah disendokkannya ke dalam mulut.


"Enak Mah," katanya sambil mengacungkan dua ibu jarinya.


Ayanda tersenyum pedih melihat putrinya. Diusia yang ma**masuki masa-masa perumbuhan malah tidak tercukupi untuk asupan gizinya.


Echa melihat ke arah Mamahnya yang sedari hanya menatapnya. Echa tersenyum ke arahnya dan menyuapi Mamahnya.


"Mamah juga harus makan. Cukup Echa aja yang sakit. Mamah gak boleh sakit."


Ayanda pun memeluk tubuh Echa dan menangis sambil memeluk tubuh kecilnya.


"Maafkan Mamah, Dek. Mamah belum bisa bahagiain kamu," lirih Ayanda.


...----------------...