
Seminggu sudah Amanda dirawat di rumah sakit. Setiap hari, Amanda dan Rion selalu melihat kondisi putrinya dari luar ruang NICU. Setiap kali melihat putrinya, Amanda akan meneteskan air mata. Dia hanya bisa melihat tanpa bisa menyentuh putrinya
"Sabar, Sayang. Jika, keadaan putri kita sudah stabil pasti dokter juga memperbolehkan kita untuk membawanya pulang."
"Sekarang, kita fokus pulihkan tubuh kamu dulu, ya. Setelah kamu sudah membaik, pasti putri kita akan berkumpul bersama kita." Amanda pun tersenyum bahagia mendengar ucapan suaminya.
"Makasih banyak, Bang. Abang adalah penyemangat Manda."
"Sama-sama, Sayang. Kita kembali ke ruang perawatan ya."
Tak lama dokter pun datang untuk memeriksa kondisi Amanda. Setelah dicek semua dan hasilnya bagus, Amanda diperbolehkan pulang. Hanya saja, bayinya masih harus tinggal di rumah sakit sampai berat badannya normal.
Awalnya Amanda menolak dan ingin membawa bayinya pulang bersama. Ketika dokter menjelaskan semuanya, akhirnya, Amanda pun setuju. Ini demi kesehatan bayinya.
Setelah mengurus administrasi, Rion dan Amanda pun pulang dengan dijemput oleh Pak Mat. Rion terus menggenggam tangan Amanda dan membaringkan kepala istrinya di pundaknya.
"Masih sakit, Yang?" tanyanya sambil mengusap lembut perut Amanda.
"Masih, Bang."
"Kalo masih sakit banget bilang ya. Nanti Abang tanya ke Gio obat ampuh untuk luka pasca operasi apa." Amanda hanya tertawa. "Abang mah ngaco, mana tahu Pak Gio obat yang begituan," sahut Amanda.
"Kamu belum tau ya, dia kan mantan dokter spesialis." Mata Amanda melebar ketika mendengar ucapan suaminya.
"Kenapa? Kaget?" Amanda menganggukkan kepala.
"Dia menanggalkan jas putihnya karena dia dituntut harus menjadi penerus Wiguna Grup."
"Sungguh beruntungnya Mbak Aya mendapatkan Pak Gio," gumamnya.
"Aku juga sangat beruntung mendapatkan kamu, Sayang." Rion menarik tangan Amanda agar masuk ke dalam dekapannya. Tak Rion hiraukan Pak Mat di depannya yang sedang tersipu sendiri melihat keromantisan majikannya di kursi penumpang.
Sesampainya di rumah, Rion membantu Amanda untuk berjalan. Baru saja membuka pintu, Amanda disambut oleh pesta kecil-kecilan dari sahabat-sahabatnya dan juga sahabat suaminya.
Amanda benar-benar tidak bisa berkata apa-apa. Amanda tidak menyangka akan menjadinbagian dari mereka. Mereka semua adalah istri para pengusaha muda tapi, mereka tidak sombong dan juga tidak membeda-bedakan dalam bergaul. Mengingay masa lalu Amanda yang terbilang buruk.
"Masuk Nda, kita udah menyiapkan makanan spesial untuk kamu. Untuk membantu mengeringkan luka pasca operasi kamu," ucap Ayanda yang kini sudah menggandeng Amanda.
"Mbak, ini ...."
"Itu sengaja kami yang buat, karena ibu pasca melahirkan secara operasi harus banyak makan putih telur, ikan gabus dan juga daging merah," jelas Sheza.
"Makasih banyak semuanya," ucap Amanda.
Setelah selesai makan, Amanda bercengkrama sebentar lalu dia harus beristirahat. Setelah istrinya tertidur, Rion keluar dari kamarnya dan bergabung dengan para sahabatnya.
"Cita-cita bini gua terkabul," ucap Rion yang baru saja duduk.
"Cita-cita apaan?" tanya Arya.
"Dia berharap anak gua cewek dan ternyata cewek. Katanya mau dijodohin sama salah satu dari si kembar," imbuhnya.
"Memperbaiki perekonomian ya," ledek Azka. Rion pun tertawa.
"Mas berencana memakai pengasuh gak?" tanya Ayanda.
"Belum Mas pikirkan, Dek. Mas sih inginnya pake, tapi gimana Amanda aja lah," jawabnya.
"Ciye ... suami takut istri," ledek Arya.
"Bhang Ke emang," geramnya.
Arya hanya mendelik kesal ke arah Azka sedangkan Beby tertawa.
"Siapa?" tanya Gio.
"Siapa lagi yang hobinya beli barang-barang mahal," jawab Beby dengan wajah kesalnya.
Semua orang pun tertawa. "Oiya, Kak Ay. Berapa sih jatah bulanan Kak Ay?" tanya Beby penasaran.
"Berapa Dad?" tanya Ayanda.
"Entah," jawab Gio.
"Ayolah Kak Gi, berapa?" Beby terus memaksa.
"Ujung-ujungnya gak enak nih," gumam Arya.
"Untung Amanda gak ada," balas Rion.
Mereka terus berbincang dan terus ingin tahu uang belanja yang Gio berikan untuk Ayanda. Namun, suami-istri itu memilih bungkam. Karena sesungguhnya mereka berdua juga tidak tahu berapa nominalnya. Transferan harian, mingguan dan bulanan dari Gio tidak mampu Ayanda hitung. Yang jelas, semua biaya uang yang Gio berikan ke Ayanda untuk kebutuhan keluarga mereka.
***
Setiap hari, Rion dan Amanda selalu datang ke rumah sakit untuk menjenguk putri mereka. Setiap hari, perawat selalu mengatakan jika, putri mereka semakin sehat dan sebentar lagi boleh dibawa pulang karena berat badannya sudah normal. Hanya saja, bayi Rion dan Amanda memerlukan perawatan khusus dan juga asupan susu khusus agar berat bayinya memenuhi standar berat bayi pada usianya.
Kamar Rion sedikit di renovasi agar putri mereka nyaman tidur dengan mereka. Segala perlengkapan bayi pun sudah tersedia, dari box bayi, segala macam pakaian, tempat untuk mandi semuanya sudah lengkap. Hanya tinggal menunggu hari untuk kepulangan putri mereka.
Hari ini hari ke-15 putri kecil Rion dan Amanda dirawat. Dokter sudah memperbolehkan putri mereka dibawa pulang. Dengan syarat, setiap seminggu sekali harus rutin cek kesehatan.
Akhirnya, Amanda bisa menggendong putri mungil mereka. Pipi yang merah, rambut yang lebat membuat Amanda gemas. Sedari tadi dia sibuk menciumi pipi putrinya.
"Bang, anak kita akan diberi nama siapa?" tanya Amanda yang sedang menggendong bayi mungil itu.
"Riana Amara Juanda," jawabnya dengan tegas.
"Nama yang cantik, Ayah," ucap Amanda seraya tersenyum.
Rion mencium Amanda dan juga Riana bergantian. "Kalian kesayangan Ayah."
Hari-hari yang Rion lalui amatlah berbeda. Dia menikmati masa cutinya dengan mengurus Riana. Dia mulai belajar memandikan Riana yang dibantu Bu Dina, mengganti popok, membuat susu dan juga begadang untuk menimang Riana.
Tidak ada kata lelah ketika Rion menatap mata bulat Riana jika dia sedang terjaga. Seperti sekarang ini, Riana terjaga dengan mata indah berwarna hitam. Hati Rion teramat perih memandang bola mata putrinya ini.
"Apakah dulu Kakak El sepertimu?" lirihnya.
Tak terasa bulir bening pun menetes di wajah Rion. Penyesalan dan penyesalan yang dia rasakan. Andaikan dia bisa kembali ke masa lalu, dia akan menebus kesalahannya kepada putri sulungnya. Anak yang dia buang dan kurang kasih sayang.
"Maafkan Ayah, Dek. Maafkan Ayah," ucapnya dengan suara yang sangat lirih.
Rion menjadi suami yang benar-benar siaga dan sayang keluarga. Amanda yang masih sering merasakan perutnya sakit tidak Rion biarkan untuk menggendong Beby Ri terlalu lama. Setiap tengah malam, ketika Beby Ri ingin susu pasti Rion yang akan membuatkannya. Dan menyuruh Amanda untuk tidur kembali.
Amanda benar-benar Rion perlakukan dengan sangat baik, begitu pun Beby Ri. Rion memberikan kasih sayang yang luar biasa besarnya untuk istri dan anaknya. Dia tidak ingin menyia-nyiakan momen ini. Momen yang pernah dia lewatkan dan berakhir sebuah penyesalan.
****
Sebelumnya, mohon maaf kepada kalian semua jika komen kalian jarang aku balas. Sesungguhnya aku selalu baca dan menunggu komen kalian.
Agar lebih dekat dengan kalian para pembaca setia Bang Duda dan karyaku yang lain, aku berencana untuk membuat grub chat WA agar kita bisa saling komunikasi dan saling bersilaturahmi satu sama lain. Jika, kalian bersedia, follow akun aku nanti aku folback, lalu chat aku kirim nomor kalian masing-masing. Aku kangen ghost reader aku juga ingin mengenal kalian para readersku ...
Happy reading ....