Bang Duda

Bang Duda
100. Dibalik Semua Ini



Sebelumnya aku Mon maap ya, kalo bulan ini aku up-nya bolong-bolong. Aku sayang kalian para readersku, meskipun aku bilang Hiatus ternyata aku gak bisa kalo gak nulis dan lapor bab baru setiap harinya. Mungkin, bulan ini aku lebih selow ya up-nya karena badan masih lelah dan perlu rebahan dulu untuk sejenak. Tetap setia menunggu Bang Duda ya ....


...****************...


Wajah Arya sudah memerah, dan rahangnya pun sudah mengeras. Wanita dihadapannya mampu membuatnya naik pitam. Akal sehatnya masih bekerja dengan baik, tangannya tidak boleh melukai wanita meskipun itu musuhnya sendiri.


Di rumah Rion, dengan tergesa-gesa Rion membersihkan tubuhnya dan bergegas menuju tempat yang sudah Arya tentukan. Hari ini Rion dijemput oleh Roy.


"Abang berangkat, ya," pamit Rion.


Dengan langkah lebar Rion menuju mobil yang sudah terparkir di depan rumahnya. Amanda melihat suaminya dijemput oleh seseorang yang berbadan tegap dan berotot. Feeling-nya seolah akan terjadi sesuatu.


Amanda pun bergegas mengganti pakaiannya dan mengendarai sendiri mobilnya. Mengikuti mobil yang membawa suaminya pergi.


Tibalah mereka di sebuah gudang kosong. Rion turun dengan sedikit berlari. Nampak sekali wajah Rion yang menahan emosi.


Kondisi di dalam gudang kosong sepi senyap. Ada sedikit cahaya di sudut ruangan. Beberapa laki-laki tegap berdiri menghadap ke sebuah kursi yang diduduki seorang wanita yang berambut panjang.


Kedatangan Rion mampu membuat beberapa orang lelaki itu sedikit mundur. Sekarang, giliran Rion menghadap ke arah wanita itu.


"Maksud kamu apa?" teriak Rion.


Tangan Rion sudah mengepal keras. Sita hanya menunduk dalam tidak berani menjawab pertanyaan Rion.


"Jawab!" bentak Rion.


Semua orang hanya terdiam, baru kali ini mereka melihat Rion benar-benar murka seperti ini.


Sita terus saja membungkam mulutnya, tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.


Satu kata yang keluar dari mulutmu akan menjadi satu langkah menuju ajal ibumu.


Kalimat itu yang terus berputar-putar di kepala Sita. Dia tidak tahu harus bagaimana sekarang ini. Saking geramnya, Rion mencengkram dagu Sita. Mata mereka bertemu. Sorot kemarahan yang terpancar dari mata Rion.


"Abang, lapaskan!" teriak Amanda.


Semua orang melihat ke asal suara. Sudah ada Amanda dengan baju yang lusuh, pipi dan tangan berlumuran darah.


Dengan langkah gontai dia melangkahkan kaki menuju ke arah suaminya. Mata suaminya melebar ketika melihat keadaan Amanda.


"Kamu?" tanya Rion seraya menunjuk beberapa luka di pipi dan sudut bibir istrinya. Dan juga tangan istrinya yang berdarah.


"Lepaskan Sita, dia hanya korban dari persekongkolan dua makhluk jahat," ujar Amanda.


"Maksudnya?" tanya Arya.


"Kita obati luka kamu dulu, baru lanjut lagi bahas ini," ucap Rion.


Sita menatap kagum pada Rion yang tengah mengobati luka istrinya dengan telaten. Setiap Amanda meringis, Rion akan mengecup kening istrinya. Seolah memberikan obat pereda nyeri untuk istrinya.


"Jangan berbuat kasar kepada wanita mana pun. Manda wanita, Echa juga wanita. Abang gak mau kan kalo Manda dan Echa juga dikasarin sama orang lain," ungkapnya. Rion hanya mengangguk pelan.


"Kenapa bisa begini?" tanya Rion.


"Mantan Abang dan juga Vina," jawab Amanda.


"Adel?" tanya Arya.


Amanda hanya mengangguk pelan. "Sita, tolong jelaskan," pinta Amanda.


Sita hanya terdiam, Roy sudah mulai geram dengan Sita. Dia sudah mencengkram bahu Sita.


"Jelaskan semuanya atau ibumu ...."


"Jangan Bu," cegah Sita yang kini sudah membuka suara.


Semua orang menatap ke arah Sita. Meminta penjelasan sejelas-jelasnya tentang tindakan pencemaran nama baik yang dia lakukan.


"Mereka tahu, jika kelemahan saya terletak pada ibu saya. Mereka mengancam jika saya tidak mau menuruti keinginan mereka, ibu saya akan mereka bunuh," ungkap Sita.


"Lu bisa lapor polisi, kan," geram Arya.


"Tidak semudah itu Pak. Adel dan Vina adalah teman dekat saya semasa sekolah. Mereka berdua sangat dekat dengan ibu saya. Adel dan Vina memanfaatkan kedekatan mereka untuk meracuni ibu saya jika, saya tidak menuruti kemauan mereka," jelasnya.


"Itu bisa kan hanya akal-akalan mereka," ujar Boy.


"Itu racun beneran dan sangat mematikan. Sudah saya cek, Pak," balas Sita.


"Wanita iblis," geram Rion.


"Ibu," panggil Sita kepada seorang wanita renta.


"Lepaskan ikatannya," pinta Amanda pada Boy.


Setelah ikatannya dibuka, Sita berlari dan bersimpuh dihadapan ibunya. "Maafkan, Sita," ucapnya lirih dengan berlinang air mata.


Wanita renta itu mengangkat tubuh Sita dan memeluknya erat. Suasana haru biru tak terelakan bagi mereka yang menyaksikan.


"Maafkan saya Pak Rion. Anak saya tidak akan pernah berani mengkhianati Pak Rion dan juga Bu Ayanda. Karena betkat Pak Rion dan juga Bu Ayanda hidup kami menjadi lebih baik," ujar ibunda Sita kepada Rion.


"Makasih banyak, Bu Manda. Telah menyelamatkan saya jika, ibu tidak datang mungkin saya sudah mati," ucapnya pada Amanda.


Semua orang menatap kepada Amanda. Hanya seulas senyum yang Amanda berikan.


"Ajak ibumu, pulang. Banyak yang akan menjaga kalian," titah Amanda pada Sita.


"Makasih Bu," ucap Sita.


Rion dan Arya serta para pesuruh Rion hanya tercengang melihat sikap Amanda terhadap Sita. Harusnya dia marah tapi, ini sebaliknya.


Setelah Sita dan ibunya pergi, keempat pria tersebut seolah menghakimi Amanda. Ingin penjelasan yang sangat rinci tentang hal ini.


"Manda punya pengawal khusus. Manda juga baru tahu hari ini," jelasnya.


"Di perjalanan menuju ke sini, mobil Manda dihadang oleh orang suruhan Adel dan juga Vina. Mereka mengikat tangan Manda dan juga melakban mulut Manda. Bukan hanya Manda yang berada di situ tapi, ibunya Sita juga sudah terlebih dahulu disekap."


"Karena Manda mencoba memberontak, salah seorang pria yang membawa kami menampar Manda dengan sangat keras. Lalu, mobil yang kamu naikin berhenti mendadak."


"Ada dua orang pria gagah yang menghadang mobil itu, lalu menghajarnya membabi buta hingga dua orang itu membuka suara tentang dalang dibalik ini semua," jelasnya.


Mereka hanya menarik napas berat. Rion langsung memeluk tubuh istrinya. Berkali-kali dia mengecup ujung kepala Amanda.


"Adel dan Vina?" tanya Arya.


"Mereka sudah ditangkap polisi. Dan ternyata tindakan kriminal yang mereka lakukan sangat banyak," ujar Amanda.


Setelah semuanya selesai, Rion dan Amanda memutuskan untuk kembali ke rumah. Di dalam kamar Rion terus mendekap tubuh istrinya.


"Pengawal khusus kamu datang dari mana?" tanya Rion.


"Entah, mereka hanya bilang akan terus melindungi Manda," jawabnya.


Rion tidak akan mempermasalahkan siapa yang mengirimkan pengawal khusus. Dia hanya ingin terus melindungi istrinya dari orang-orang jahat. Sepanas apa pun kabar dan berita tentang masa lalu istrinya, dia akan tetap mencintai istrinya dan tidak akan mengungkit masa lalu Amanda. Semua orang memiliki masa lalu. Jangan pernah diungkit karena itu hanya akan membuat sakit.


Dari kejauhan, mobil hitam mengkilat berhenti di seberang rumah Rion. Dia membuka kaca mobil, senyum di bibirnya tersungging sangat indah.


"Aku akan menjaga kamu dari kejauhan, seperti ibumu menjaga dan merawat ku dengan tulus dan penuh kasih sayang," ucap seorang pria tampan di dalam mobil.


****


Aku butuh komen kalian, tanpa komen kalian karyaku sepi pake benget.


Happy reading,