Bang Duda

Bang Duda
140. Selamat Ulang tahun



Acara terus berlanjut, sekarang semua teman-teman kelas Echa dan juga para guru sedang menikmati makanan yang sudah disiapkan. Semua orang merasa senang tapi, tidak dengan pemeran utamanya.


Echa mampu tersenyum kepada semua orang namun, hatinya sedang menangis sekarang. Kedua orangtua Echa tahu jika, putrinya ini merindukan Riza. Setiap perayaan ulang tahun, Riza selalu hadir dan memberikan kado yang aneh dan membuat Echa kesal tapi, berujung tertawa.


"Maafkan Papa karena tidak bisa membawa Riza ke sini," gumam Gio ketika melihat tawa sumbang putrinya.


Ayanda mengusap bahu suaminya. Lalu dia bersandar di pundak Gio.


"Kita sudah berusaha namun, kondisi Riza tidak memungkinkan," imbuh Ayanda.


Gio menggenggam tangan istrinya. Mereka berdua memperhatikan Echa yang sedang bercengkrama dengan teman-teman dan juga guru-gurunya. Bibirnya tak henti menyunggingkan senyuman. Senyuman yang penuh dengan kepalsuan. Karena hatinya bertolak belakang dengan mimik wajahnya.


"Kenapa Echa harus merasakan ini? Terlalu sakit untuk Echa."


"Ini sudah takdir Echa, Dek," sahut Rion yang sedang menggandeng tangan istrinya.


"Tidak mungkin Tuhan menguji umatNya di luar batas kemampuannya," sambungnya.


"Dengan begini, Echa sekarang tumbuh menjadi lebih dewasa. Mampu menghargai dan menjaga perasaan orang lain," tutur Rion.


"Terlalu pandai kamu menahan rasa sakit ini seorang diri," ujar Amanda.


Mereka berempat memandangi putrinya yang dalam sekejap bisa berubah seperti ini. Echa yang manja berubah menjadi Echa yang dewasa.


Sekarang, Echa sudah bergabung bersama orangtuanya. Mencoba tersenyum di hadapan Papa, Mamah, Ayah, dan juga Bundanya. Senyum yang menyiratkan akan kesedihan yang sangat dalam.


"Jika, kamu kangen sama Riza, nanti kita jenguk dia ke Singapura," ucap Gio.


"Tidak usah, Pa. Echa tidak mau mengganggu pengobatan Riza," imbuhnya.


Si kembar yang sudah gembul baru sampai dengan para pengasuhnya. Membuat wajah murung Echa berubah seketika.


"Hay ganteng-gantengnya Kakak," ucapnya pada si kembar.


Si kembar merespon dengan senyuman manis mereka, membuat hati Echa merasa tenang.


"Si kembar adalah obat kesedihan untuk Echa," ujar Amanda.


"Nanti kita buat yang lebih lucu lagi dari si kembar." Sontak Amanda memukul lengan Rion. Di saat seperti ini pikiran kotoran suaminya masih saja berjalan.


Ketika Echa sedang asyik bermain dengan si kembar dan dua pasang orangtuanya sedang menyantap makanan. Ditemani alunan lagu yang sangat menyentuh hati.


🎶


Menatap indahnya senyuman di wajahmu


Mengerti akan hadirnya cinta terindah


Saat kau peluk mesra tubuhku


Banyak kata yang tak mampu ku ungkapkan


Kepada dirimu ...


Suara yang tidak asing, hingga para murid berteriak histeris membuat Echa dan keluarganya menoleh ke arah pintu aula. Mata Echa nanar melihat seseorang yang berada di atas kursi roda.


🎶


Aku ingin engkau slalu


Hadir dan temani aku


Di setiap langkah yang meyakini ku


Kau tercipta untukku


Meski waktu akan mampu


Mengambil seluruh ragaku


Ku ingin kau tahu


Kau slalu milikku


Yang mencintaimu


Sepanjang hidupku ...


Dengan langkah pelan Echa menghampiri Riza yang mencoba untuk berdiri. "Selamat ulang tahun, El," ucapnya.


Air mata Echa tumpah namun, air mata ini adalah air mata kebahagiaan. Dia memeluk tubuh lemah Riza dan dibalas oleh Riza. Membuat semua orang merasa terharu.


"Maaf, aku telat," bisiknya.


"Makasih sudah datang," balasnya.


Sepasang kedua orang tua Echa dan juga ibunda dari Riza menyeka ujung matanya. Melihat Echa dan Riza selalu membuat hati mereka sedih. Begitu pun para sahabat Echa. Ketulusan Echa mendampingi Riza di sisa usianya, membuat mereka tidak bisa membayangkan bagaimana nanti Echa setelah ditinggal pergi Riza untuk selamanya.


****