Bang Duda

Bang Duda
108. Pil Pahit



Echa berpamitan kepada Mamah dan Papanya karena hari ini jadwal kepulangannya ke Jakarta.


"Maafkan Papa yang tidak bisa berbuat apa-apa," ucap Gio yang sedang memeluk putrinya.


"Gak apa-apa, Pa. Dengan Papa memeluk Echa seperti ini sudah cukup untuk Echa." Ayanda menyeka ujung matanya karena mendengar ucapan putrinya sendiri.


"Dek ...."


"I'm okay," jawab Echa dengan senyuman yang sangat terpaksa.


Sungguh berat hati Ayanda untuk melepaskan Echa dalam situasi seperti ini. Aturan keras yang Rion terapkan sungguh tidak bisa dirubah.


Selama di dalam pesawat, Echa masih tetap diam dan menyelami pikirannya sendiri. Puluhan pesan dari Tante Marta yang berisikan permohonan tidak Echa balas. Terlalu sulit memilih antara sahabat atau orangtua.


Arya hanya bisa menghela napas kasar melihat keponakannya. Dan dia benar-benar geram dengan sifat keras dan egois Rion.


Setelah menginjakkan kaki di rumahnya, tanpa sepatah kata pun Echa langsung masuk ke kamarnya. Amanda menatap Echa dengan hati yang iba.


"Bang, kita perlu bicara," pinta Amanda.


"Jika menyangkut Echa itu sudah keputusan final."


"Apa Abang tidak merasa sedih melihat Echa seperti itu? Echa anak Abang harusnya Abang peka dengan perasaan Echa," ujar Amanda.


"Abang sedang tidak ingin berdebat," balas Rion dan berlalu meninggalkan Amanda.


Ketika hendak masuk ke ruangan kerja samar-samar Rion mendengar suara Echa yang sedang mengobrol dengan seseorang. Dengan pelan Rion membuka pintu kamar Echa, dilihatnya putrinya sedang tertawa akan tetapi matanya mengeluarkan bulir air mata.


"Ya udah, gua tutup dulu, ya. Gua baru nyampe banget," ucap Echa.


Setelah panggilan berakhir, isakan tangis pun keluar dari mulut Echa.


"Andai Ayah tahu bagaimana sedihnya Echa jika harus kehilangan sahabat yang Echa sayangi," gumamnya.


Pagi hari, Echa masih bisa menunjukkan wajah yang secerah mentari dihadapan Ayah dan bundanya. Meskipun, kesedihan sedang melandanya.


Disela-sela sarapan, Rion membuka obrolan. "Dek, Ayah melakukan ini karena ...."


"Echa tahu, Yah. Dan Echa akan mendengar semua ucapan Ayah dan juga Mamah," sahutnya dengan tersenyum.


Senyuman itu senyuman yang menyiratkan kesedihan, batin Amanda.


"Echa berangkat, ya. Hari Senin jadi harus berangkat lebih awal," pamit Echa pada Ayah dan bundanya.


"Ayah antar," ucap Rion.


"Echa sudah meminta Pak Mat untuk mengantarkan Echa," balas Echa.


Ingin rasanya Amanda menolong Echa tapi, ini bukan kapasitasnya sama seperti Gio. Echa tanggung jawab Rion dan juga Ayanda.


Setelah sampai di sekolah, wajah murungnya sangat terlihat jelas. Hingga rangkulan hangat dia rasakan. Echa melihat ke orang disampingnya. Senyuman yang tak pernah pudar dari seorang Riza.


"Kenapa liatinnya begitu?" tanya Riza.


"Nggak," jawab Echa.


Mereka berjalan beriringan menuju kelas. Meskipun tidak satu kelas tapi, Riza selalu rutin mengunjungi kelas Echa setiap hari walaupun, hanya sekedar melontarkan gombalan recehnya.


"Jam istirahat kedua gua tunggu di taman belakang, ya."


Deg.


Echa hanya terdiam dan mematung untuk beberapa saat. Hingga akhirnya Echa menganggukkan kepalanya.


Jam istirahat pertama seperti biasa Echa, Mima dan Sasa menghabiskan waktunya di kelas untuk sekedar ngemil ataupun bermain ponsel.


🎶🎶🎶


Embun di pagi buta


Menaburkan bau asa


Detik demi detik ku hitung


Inikah saat ku pergi


Oh Tuhan kucinta dia


Tak kan ku sakiti dia


Hukum aku bila terjadi


Mata Echa sudah berkaca-kaca dan dadanya sangat teramat sesak mendengar lirik lagu tersebut. Apalagi, yang menyanyikan lagu itu adalah Riza sendiri.


🎶🎶🎶


Aku tak mudah untuk mencintai


Aku tak mudah mengaku ku cinta


Aku tak mudah mengatakan


Aku jatuh cinta


Senandung ku hanya untuk cinta


Tirakat ku hanya untuk engkau


Tiada dusta sumpah ku cinta


Sampai ku menutup mata


Akhirnya bulir bening pun meluncur bebas di pipi Echa. Terlalu sedih membayangkan jika prediksi dokter itu benar.


"Kenapa?" tanya Sasa.


"Lagunya dalam banget," jawab Echa seraya mengusap air matanya.


Sasa dan Mima hanya saling pandang. Mereka tidak tahu apa yang sedang dirasakan Echa. Dan sakit Riza hanya Echa yang tahu.


Selama jam pelajaran Echa sangat tidak fokus, bayang-bayang akan kehilangan sahabatnya terus memenuhi kepalanya. Hingga jam istirahat kedua pun tiba.


Dengan langkah gontai Echa menuju taman belakang. Di taman belakang alias gudang hanya ada beberapa kursi yang sudah tak terpakai. Ada seseorang yang sudah menunggunya. Dengan senyum yang lebar Riza menyambut Echa.


"Kenapa mata lu sembab?" tanya Riza ketika mereka duduk berhadapan. Hanya gelengan kepala yang menjadi jawaban Echa.


Wajah Riza nampak serius memandang Echa. Tangannya mulai menggenggam tangan Echa. Hingga pandangan mereka berdua terkunci.


"Lu tau kan, dari SMP gua udah suka sama lu. Dan sekarang, rasa itu berubah jadi sayang lalu cinta."


"Gua sadar, gua jauh dari kata layak untuk jadi cowok lu. Tapi, izinkan gua untuk beberapa bulan ini jadi cowok lu. Agar ketika gua pergi nanti, gua bisa tersenyum bahagia karena keinginan gua untuk jadi pacar lu terkabul," ujar Riza.


Echa langsung memeluk tubuh Riza, tangisnya pun tumpah. Riza hanya tersenyum, dan membalas pelukan Echa.


"Jangan nangis lagi," ucap Riza seraya menghapus air mata yang membasahi pipi Echa.


"Za, maaf. Gua gak bisa." Riza pun terdiam.


"Ayah ngelarang gua untuk pacaran," ujarnya lagi yang kini mulai berkaca-kaca.


"Maafin gua," ucap Echa dan beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan Riza.


Riza terdiam membisu, permintaan terakhirnya pun tidak dikabulkan oleh perempuan yang dia cintai. Dia berpikir dengan dia berkata jujur tentang usianya yang tidak akan lama lagi, Echa akan dengan mudah menerimanya. Namun, inilah kenyataannya. Pil pahit yang harus Riza telan melebihi pahitnya obat yang dia konsumsi setiap hari.


Echa mengusap air matanya dengan kasar dan masuk ke kamar mandi. Disitulah air matanya tumpah ruah. Echa memang tidak memiliki rasa apapun terhadap Riza. Namun, apa salahnya jika dia sedikit membantu membahagiakan Riza di sisa-sisa usianya.


"Tante, maafkan Echa." Begitulah pesan yang Echa kirim ke nomor Tante Marta. Ponselnya langsung Echa matikan. Dia ingin menenangkan dirinya sejenak.


Sepulang sekolah, Echa pergi menuju sebuah danau. Di tempat inilah dia biasa menenangkan hati dan pikirannya.


Echa menatap tenangnya air danau di sore hari dari bawah pohon yang rindang. Mata Echa terus memandang lurus ke depan dengan tatapan kosong.


"Apa sampai aku dewasa Ayah akan terus keras seperti ini?" gumamnya.


Hanya helaan napas yang terdengar. Ingin rasanya Echa menjerit keras kepada semesta. Menyalurkan rasa sedihnya hari ini.


"Pa, Mah, bawa Echa pergi dari sini. Echa tidak ingin melihat wajah sedih Riza," lirihnya.


Echa menundukkan kepalanya sangat dalam. Menerima nasib jika esok dan seterusnya dia akan dibenci Riza dan mamahnya. Inilah yang dia pilih, mengorbankan perasaannya demi orangtuanya.


****


Happy Reading ....