Bang Duda

Bang Duda
325. Hasil Didikan (Musim Kedua)



"Bang."


Panggilan Aska menghentikan langkah Aksa. Ternyata, Aska mendengar apa yang dibicarakan oleh Aksa dan juga Amanda.


"Apa benar yang dikatakan oleh Abang itu?" Pertanyaan Aska hanya dibalas senyum oleh Aksa.


"Itulah alasan kenapa Abang lebih nyaman bersama Beeya dari pada Riana." Jawaban yang sangat jelas Aksa berikan kepada Aska.


"Kenapa dengan Beeya dan Riana?" Tiba-tiba Ayanda sudah berada diantara si kembar. Membuat Aksa dan juga Aska hanya saling pandang.


"Tidak ada apa-apa, Mom," jawab Aksa dengan senyum manisnya.


"Mom, bikinin roti bakar ekstra keju dong. Adek kangen roti bakar buatan Mommy," bujuk Aska seraya mengalihkan pikiran Ayanda.


"Baiklah, Abang mau juga?" tawar Ayanda.


"Abang mau ekstra cokelat," sahut Aksa.


"Persis Kakakmu," cibir Ayanda. Aksa hanya tertawa dan ikut merangkul lengan Mommy-nya menuju dapur.


Dalam hal menyembunyikan rahasia, kedua anak kembar ini sangatlah kompak. Mereka akan melindungi satu sama lain.


Sedangkan di kediaman Arya, Rion sedang duduk di ruang kerja Arya sambil memijat pangkal hidungnya yang terasa pusing.


"Anak lu lagi?" terka Arya. Hanya sebuah anggukan yang menjadi jawaban dari Rion.


"Susah ngedidik dia tuh, dikerasin bilangnya gua gak sayang sama dia. Gua lebih sayang sama Echa. Dilembutin suka seenaknya," keluh Rion.


"Beda jauh dengan Echa. Echa emang nyebelin, tapi dia nurut apa yang dibilang sama orangtua. Gak keras kepala kayak gini."


Arya hanya menghela napas kasar dan ikut duduk di samping Rion. Dia menatap langit-langit ruang kerjanya.


"Anak yang lu abaikan udah gede ya. Sekarang dia udah hidup bahagia bersama laki-laki pilihannya." Arya menjeda ucapannya.


"Padahal, gua masih ingat banget ketika lu sakit dan harus diopname, dia nangis histeris gak mau ditinggal sama lu. Pengen selalu dekat sama lu sampe Ayanda kewalahan nenangin Echa. Dan ketika gua gendong dia, dia berhenti nangis dan bilang, Ayah Echa gak apa-apa, kan. Ayah gak akan mati kan. Ucapan polos dari anak lu yang ngebuat hati gua terenyuh. Betapa luar biasanya kasih sayang anak lu."


"Padahal dari brojol sampel umur mau lima tahun dia gak tau bapaknya, pas udah mulai lucu-lucunya dan pintar, ada yang datang ke bocah itu dan ngaku-ngaku bahwa dia adalah ayahnya. Dengan mudahnya, anak itu menerima ucapan lu. Malah, dia lebih dekat dengan lu dibanding sama Ayanda yang ngurus dia dari dalam perut."


Mata Rion berubah nanar, dia menatap ke arah depan dengan tatapan kosong. "Itulah penyesalan terbesar dalam hidup gua," lirihnya.


Rion sedikit terkejut dengan pengakuan Arya kepadanya kali ini.


"Ketika Beby hamil, kalo malam tiba gua kangen sama si bocah bangor. Gua buka galeri foto di ponsel gua dan pastinya gua akan tersenyum. Ketika melihat Echa tertawa bahagia. Dalam hati gua, gua berdoa. Semoga kelak anak gua bisa sekuat dan setegar Echa. Bisa mandiri dan tidak pernah menyusahkan kedua orangtua. Dan doa gua terkabul," urai Arya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Echa adalah segalanya buat gua dan buat orang yang sudah mengenal Echa dari kecil. Dan gua gak terima kalo ada yang menjelek-jelekkan tentang Echa. Karena tidak ada yang lebih tahu tentang Echa dari pada gua dan Ayanda," tukas Rion.


Arya setuju dengan ucapan Rion. Yang lebih tahu tentang Echa adalah mereka berempat. Rion, Ayanda, Giondra dan Arya. Karena mereka yang mengetahui perjalanan hidup seorang Elthasya Afani yang penuh dengan kesedihan.


"Echa adalah pemersatu kita semua. Karena dia, lu sama Ayanda masih bisa berkomunikasi sampai saat ini. Setidaknya, Echa tidak kehilangan sosok kedua orangtua kandungnya." Rion tersenyum penuh arti mendengar ucapan Arya.


Di kediaman Rion, Amanda termenung seorang diri mendengar ucapan dari Aksa. Ada rasa takut yang menjalar di hatinya sekarang. Sebuah bangkai, serapat-rapatnya disimpan pasti akan tercium juga baunya. Peribahasa itu yang cocok untuk masalah Amanda sekarang ini.


Hingga langkah kaki terdengar, membuat Amanda segera bangkit dari duduknya.


"Dari mana kamu, Bang?"


"Kamu tahu, ketika aku marah lebih baik aku pergi. Karena aku tidak ingin terlihat tempramen di depan anak-anak," jawab Rion dan berlalu meninggalkan Amanda begitu saja.


Sudah dua tahun ini, Rion mencoba bersabar menghadapi sikap Amanda. Kejadian itu bermula ketika diam-diam Rion menemui Echa ke Canberra ketika Echa keguguran. Dan pikiran jelek Amanda muncul kembali. Padahal, Echa dan Rion sudah menjelaskan sejelas-jelasnya. Amanda selalu berpikir, apa yang dimiliki Echa adalah pemberian dari Rion. Padahal, sama sekali tidak.


Semenjak Ayanda berhenti mengurus toko bakery, dan Echa lulus kuliah. Harusnya nama kepemilikan itu diubah atas nama Echa. Sesuai dengan perjanjian pembagian harta gono-gini ketika bercerai. Namun, Echa menolak. Dengan alasan Echa tidak berhak atas toko besar itu. Karena masih ada adik-adiknya yang lebih membutuhkannya. Lagi pula, Genta sudah memberikan satu buah anak perusahaan yang berada di Singapura. Ayanda memberikan satu buah butik ternama kepada Echa untuk dia kelola di wilayah Bandung. Dan Gio sudah memberikan 10 toko retail Wigumart untuk Echa kelola.


Lagi-lagi, Amanda selalu saja iri. Padahal Echa belum mendapatkan apa-apa dari Rion. Rumah yang Rion beli didekat kediaman Ayanda pun masih jadi permasalah untuk Amanda. Jika, dipikir-pikir, apa hak Amanda? Harta yang Rion cari dan kumpulkan ketika dia masih lajang dan menikah dengan Ayanda. Dan Amanda, tidak memiliki peran apapun. Jadi, wajar jika Echa mendapat harta warisan berlebih dari Rion. Apalagi melihat rekam jejak Echa yang memilukan. Tidak seperti Riana dan juga Iyan.


Bertahan demi anak, itulah yang Rion rasakan. Sudah tidak ada kenyamanan, tapi masih dijalankan. Karena dia tidak ingin Riana dan Iyan seperti Echa. Tumbuh dari keluarga broken home. Hanya Iyan, yang menyayangi Echa dengan tulus. Dan tidak pernah iri dengan apa yang dia berikan kepada Echa.


"Kakak juga anak Ayah. Lalu, untuk apa Iyan iri? Iyan bukan Kak Ri, cewek manja dan cengeng. Iyan, ingin menjadi laki-laki hebat dan kuat. Mengalahkan Kakak yang sudah menjadi wanita kuat."


Itulah alasan Rion selalu senang membawa Iyan pergi ke tempat Giondra. Di sana Iyan bisa bermain dan bergaul dengan si kembar yang luar biasa di mata Rion. Didikan Gio dan Ayanda tidak main-main. Sehingga menjadikan kedua anak mereka anak yang manja, tapi mandiri dan tangguh.


"Ayah berharap besar kepadamu, Iyan."


...----------------...


Happy reading ....