
"Apa perlu Radit yang berbicara kepada Tante Manda? Sebenarnya Radit ragu mau bilang ini, tapi rasa iri Echa perlu disembuhkan."
"Om ikut apa yang kamu perintahkan, Dit. Jangan pikirkan masalah istri Om. Mau di mengizinkan atau tidak pun, Om akan membantu menyembuhkan luka Echa. Om ingin membalas semua kesalahan Om kepada Echa," imbuh Rion.
"Mas, jangan memaksa. Aku tidak ingin terjadi kesalahpahaman lagi seperti tempo hari. Mungkin, Daddy si kembar sudah terbiasa dengan sikap kita. Tapi, Amanda?" ujar Ayanda.
"Dek, apapun akan Mas lakukan untuk putri kita. Anak yang tumbuh dengan segala derita. Anak yang selalu ceria meskipun dalam hatinya dia menangis keras," balas Rion.
"Itu anak kalian. Gak ada sangkut pautnya sama pasangan kalian. Selagi kalian masih bisa kompak, kenapa nggak? Kasihan Echa, kadang kalo gua ngeliat Beeya seperti melihat Echa waktu kecil. Namun, hidup Beeya sangatlah sempurna dengan kasih sayang yang lengkap. Gua juga sering berpikir, bagaimana anak seusia Beeya bisa menjalani hari-harinya yang sulit itu dengan selalu ceria?" kata Arya.
"Om setuju, Dit," ucap Rion.
"Tante juga Om ijinkan," imbuh Gio.
Radit pun mengucapkan ribuan terima kasih kepada kedua orangtua kandung Echa yang telah mau membantunya.
"Mungkin besok Echa udah diperbolehkan pulang. Dan ketika kondisi Tante sudah membaik, baru kita lakukan apa yang Echa inginkan."
Rion dan Ayanda pun mengangguk mengerti. Dan Radit kembali ke ruang perawatan Echa. Namun, ketika dia keluar dari ruang perawatan Ayanda. Dia melihat Amanda yang sedang terisak.
"Tante kenapa?" Hanya gelengan kepala yang menjadi jawaban dari Amanda.
"Maaf Tante, kalo Tante gak setuju Radit akan membatalkan semuanya. Radit tidak ingin membuat Tante bersedih. Karena Radit ingin menyembuhkan setiap goresan luka Echa dengan ketulusan dari kalian semua," jelasnya.
"Tidak Radit, kamu lanjutkan saja pengobatan Echa. Tante ingin melihat Echa bahagia. Tante baru tahu, masa kecil Echa sangatlah menderita dan tersiksa," lirihnya.
"Makasih Tante. Apa yang diperlihatkan Echa adalah topeng untuk menutupi penderitaan dan kesedihannya." Amanda pun mengangguk mengerti.
Keesokan harinya, Echa sudah diperbolehkan pulang. Dan Radit menggandeng tangan Echa sangat posesif. Tidak dipungkiri banyak mata para dokter muda yang melirik ke arah Echa. Apalagi sikap ramah Echa.
"Bisa gak sih gak pake senyum-senyum gitu. Bikin mereka GR aja," dengus Radit.
"Ya ampun Ay, gak usah cemburu gitu dong. Kan aku mah cuma bersikap ramah kepada mereka," ujar Echa seraya mengeratkan rangkulannya di lengan Radit.
"Tetep aja aku gak suka," oceh Radit.
"Iya, nggak lagi deh," sahut Echa.
Di saat seperti ini, Echa harus sabar menghadapi Radit. Radit akan marah jika, ada pria yang mencoba menggodanya. Sikap Radit yang kalem tapi, menyimpan keposesifan luar biasa.
Di dalam lift pun Radit merengkuh pinggang Echa. Karena ada beberapa pria yang menatap Echa dengan tatapan berbeda.
"Aku tetap milikmu, Sayang," bisik nakal Echa.
Bibir Radit pun sedikit terangkat mendengar ucapan Echa. Dan dia semakin mengeratkan rengkuhannya. Ketika lift terbuka, Radit menggenggam tangan Echa dengan sangat erat.
Begini ya rasanya punya pacar posesif. Pantes dulu Mamah sedikit risih dengan keposesifan Ayah.
Echa membuka pintu ruang perawatan Ayanda dan langsung memeluk tubuh sang Mamah.
"Echa kangen Mamah."
"Mamah juga kangen kamu, Kak," sahut Ayanda.
"Makasih atas pengorbanan kamu untuk Mamah. Makasih kamu telah mendonorkan darah kamu untuk Mamah," lirih Ayanda.
"Pengorbanan Echa tidak akan pernah bisa membalas semua pengorbanan Mamah untuk Echa selama ini. Kasih sayang anak hanya sepanjang jalan, sedangkan kasih sayang ibu sepanjang masa," balas Echa seraya tersenyum.
"Hanya ini yang bisa Echa lakukan untuk Mamah. Wanita yang sangat Echa cintai di dunia ini."
"Tetap temani Echa hingga Echa menikah dan anak-anak Echa lahir ke dunia. Melihat tumbuh kembang cucu-cucu Mamah hingga mereka menikah," pinta Echa dengan mata yang sudah nanar.
Hanya seulas senyum dengan air mata yang sudah menetes dari seorang Ayanda untuk putri tercintanya.
"Udah dong sedih-sedihannya. Setelah Mamah sembuh, kita bikin acara syukuran di villa dekat sini. Baru kita kembali ke Jakarta."
Semua orang pun menyetujui ide dari Gio. Dan pandangan Rion tidak pernah lepas dari Echa dan juga Ayanda. Hatinya merasa sakit ketika melihat kedekatan antara putrinya dan juga mantan istrinya. Bukan karena cemburu atau tidak suka. Tapi, karena dia tidak ada ketika mereka berdua menderita. Dan Rion sangat menyesal akan hal itu.
Andaikan dulu Ayah ada di samping kalian. Pasti kamu tidak akan menderita, Dek.
"Ayah." Panggilan dari Echa membuyarkan kesedihan Rion.
"Apa bisa Ayah memeluk Echa dan Mamah?" pintanya.
Rion menatap ke arah Gio, lengkungan senyum penuh keikhlasan yang Gio berikan. Kemudian, dia menatap istrinya. Amanda pun tersenyum dan menganggukkan kepala.
Ayanda yang sudah dalam posisi duduk memeluk tubuh Echa dari kanan dan Rion memeluk tubuh Echa dari kiri.
"Akhirnya, mimpi Echa selama sepuluh tahun ini terkabul. Ingin dipeluk kalian berdua," lirih Echa.
Keinginan yang sederhana namun, sulit untuk diwujudkan. Mengingat kedua orangtua Echa sudah berpisah sudah sangat lama. Dan mereka sudah bahagia dengan pasangan mereka masing-masing. Membuat Echa sulit untuk mengutarakan apa yang dia inginkan. Echa memang bukan anak yang egois. Dia lebih mengutamakan perasaan orang lain dibanding perasaannya.
"Tetap sayangi Echa meskipun kalian sudah memiliki anak-anak yang lain. Echa masih membutuhkan kasih sayang kalian. Echa masih seperti anak kecil yang selalu kehilangan arah tanpa kalian berdua. Selalu tuntun Echa dalam langkah kalian. Echa sayang kalian, dan tetaplah sayangi Echa seperti kalian menyayangi anak-anak kalian yang lainnya."
Suara hati seorang gadis yang merasakan rindu yang menggebu terhadap kedua orangtuanya. Usianya memang dewasa, tapi dia tetaplah anak kecil yang manja yang masih membutuhkan kasih sayang yang hangat dari kedua orangtua kandungnya.
"Ayah, masih mau kah Ayah mendengarkan setiap keluh kesah Echa? Memeluk Echa di saat Echa rapuh. Mengusap lembut punggung Echa ketika Echa menangis. Masih mau kah Ayah bersikap seperti itu kepada Echa?"
Ucapan Echa sangatlah menyayat hati Rion. Tanpa berpikir lama, Rion pun mengangguk cepat. Bibir Echa terangkat dengan sempurna.
"Makasih Ayah. Echa sayang Ayah. Sangat sangat sayang Ayah."
Tiga kata yang selalu membuat Rion menitikan air mata. Sederhana tapi penuh dengan makna. Apalagi perkataan Echa sangatlah terdengar tulus di telinga Rion.
"Ayah lebih sayang kamu, Dek. Ayah belum bisa jauh dari kamu. Tetaplah berada di samping Ayah. Hingga Ayah benar-benar rela melepaskan kamu untuk calon imammu."
Pelukan hangat dan haru pun terjadi antara ayah dan anak yang sangat saling menyayangi. Sedikit demi sedikit, hal yang mengganjal di hati Echa sudah Echa keluarkan. Dan semoga rencana Radit untuk mengulang masa-masa kecil Echa bisa berjalan dengan sempurna.
...----------------...
Maaf telat, banyak gangguan hari ini.
Ramadhan esok datang, aku mohon maaf jika aku punya salah dan yang menyinggung kalian di setiap kalimat yang aku tulis. Mohon dimaafkan segala kekhilafan ku. Selamat menunaikan ibadah puasa untuk kalian yang menjalankannya. Semoga Ramadhan ini menjadi Ramdahan terakhir untuk si korona. Semoga kita semua bisa menjalankan puasa dengan lancar dan khusyuk. Dan kita bisa merayakan hari kemenangan dengan penuh suka cita.
Doakan aku supaya sehat-sehat terus dan bisa tetap menghibur kalian serta menemani kalian dalam menjalankan ibadah puasa. Jangan lupa sisipkan komen kalian setelah membacanya. Karena komen kalian kadang menjadi ide untuk aku.
Marhaban Yaa Ramadhan 🙏