
Rion terus mencari Echa, dan dia terus mendesak Andri agar mau membuka mulutnya tentang keberadaan Echa.
"Ndri, Please ... gua mau ketemu anak gua."
"Anak lu udah berada sama orang yang tepat. Jadi, jangan khawatir. Toh, lu tetap ayah kandungnya Echa. Tidak akan ada yang bisa merubah kenyataan itu," ujarnya dengan nada ketus.
Rion terduduk lesu di teras rumah Andri. Dia mengacak-acak rambutnya. Andri bisa melihat Rion benar-benar kacau sekarang ini. Tapi, keadaan Echa lebih kacau dari Rion.
"Ketika anak lu udah berontak aja, baru nyadar," sindirnya.
"Hey inget ya, Echa juga darah daging lu, anak lu. Dia cuma ingin dipeluk lu, dia cuma pengen curhat sama lu. Segitu sibuknya lu sama anak lu yang kecil? Sampe-sampe lu acuh sama si Echa."
"Gua aja yang dengernya nyesek, apalagi si Echa yang ngerasainnya. Wajar kalo dia marah, wajar kalo dia berontak. Dia udah lelah. Dia udah cape. Dan kesabaran dia juga ada batasnya," oceh Andri.
"Gua kira istri lu baik, ternyata cuma luarnya doang. Dalamnya mah sama aja kaya emak tiri pada umumnya," geram Andri.
Rion hanya terdiam mendengar ocehan Andri. Semua yang Andri katakan memang benar.
"Gua mau minta maaf sama Echa, Ndri."
"Bukan hanya minta maaf yang harus lu lakuin ke dia. Kalo bisa Ampe sujud tuh lu sama bini lu di kaki anak lu. Kesel gua," sarkas Andri.
"Denger ya, lu kepala keluarga harusnya lu lebih tegas sama istri. Jangan berada dibawah ketek istri lu terus. Lu boleh manjain dia tapi ada batasannya juga. Bukan hanya istri lu yang harus lu manjain, ada anak lu juga yang ingin dimanja sama lu. Be go banget sih jadi laki," geram Andri.
"Mantan bini lu itu susah payah ngegedein anak lu seorang diri. Berjuang nyari duit siang malam buat nyembuhin penyakit Echa, dan ketika Echa sembuh malah lu sia-siain lagi. Mau lu apa sih sebenarnya? Lu mau liat anak lu koma lagi terus mati, iya?" Suara Andri benar-benar sudah sangat murka.
"Sedih gua liat Echa, sedih ... sesakit apapun hatinya hanya satu nama yang selalu dia panggil yaitu, ayah, ayah dan ayah," jelas Andri dengan suara berat.
Rion tak kuasa menahan air matanya ketika Andri bercerita tentang Echa. "Anak lu anak baik, dia pergi hanya untuk menenangkan hatinya. Dia gak akan pernah membenci lu. Dia gak akan pernah melupakan lu. Lu tetap ayah yang sangat dia sayangi."
Isakan lirih terdengar dari mulut Rion. Begitu pun Andri yang sedang menyeka ujung matanya.
"Anak lu kurang kasih sayang bukan kurang uang. Lu bisa menuhin kebutuhan Echa tapi lu gak bisa menuhin kasih sayang untuk Echa."
"Lu mending pulang, gua jamin Echa akan baik-baik saja. Nanti pasti dia akan kembali ke Jakarta. Ada anak lu yang lain yang nunggu lu. Jangan sia-siakan dia seperti Echa," terangnya.
Dengan langkah gontai Rion menjauhi rumah Andri. Andri menutup pintu rumahnya dan air matanya tak terbendung. Begitu banyak yang mencintai Echa dengan tulus. Hingga mereka merasakan kesakitan yang Echa rasakan sekarang.
"Are you ready?" Echa hanya mengangguk.
Setengah jam sebelum Rion datang. Echa berada di dalam kamarnya. Memeluk figura yang berisi gambar dirinya dan juga Rion dengan air mata yang sudah berlinang.
"Echa kangen Ayah, Echa ingin dipeluk Ayah," lirihnya.
Andri yang berada dibalik pintu memegang dadanya, ikut merasakan sakit yang Echa alami. Ketukan pintu dari arah luar membuat Andri harus menjauhi kamar Echa. Dia membuka pintu, dahinya mengkerut. Seseorang dengan masker dan juga kacamata hitam sedang berdiri di depannya.
"Anda siapa?" tanya Andri.
"Saya disuruh menjemput Echa."
Dahi Andri semakin berkerut. Dia tidak percaya begitu saja. Hingga seorang lelaki paruh baya turun dari mobilnya. Mata Andri melebar ketika dia tahu siapa yang menghampirinya.
"Cucuku mana?
"Silahkan masuk Tuan," ucap Andri sopan. Ternyata Genta Wiguna yang menjemput Echa langsung ke Jogja. Dia benar-benar khawatir dengan keadaan cucunya.
Andri membawa Genta ke kamar Echa diikuti pria bermasker dan juga berkacamata hitam. Dengan pelan Andri membuka pintu kamar Echa. Mereka melihat jelas Echa sedang terisak dengan menelungkupkan wajahnya.
Genta menghampiri Echa, membelai rambut cucunya. Echa mendongakkan kepalanya, wajahnya sangat kacau dan sudah bermandikan air mata.
Genta berhambur memeluk tubuh cucunya. Tangis Echa semakin keras. Membuat Andri tak mampu membendung air matanya.
"Ikut Kakek," ujarnya.
"Kemana?"
"Mencari kebahagiaanmu dan melupakan kesedihanmu," ujarnya.
Echa hanya terdiam, dia takut jika Papa dan Mamahnya tidak mengijinkannya.
"Jangan khawatir, Kakek sudah berbicara dengan Papa dan Mamahmu. Mereka mengizinkanmu pergi bersama Kakek."
Echa pun mengangguk, dia menyiapkan kebutuhannya di tas ransel. Dan tak lupa figura yang sempat dia peluk tadi dia masukkan ke dalam tasnya.
Echa keluar kamarnya, sebelumnya dia berpamitan kepada Andri. "Jaga diri kamu baik-baik, Cha. Pulanglah dengan kebahagiaan," ujar Andri.
"Iya, Om. Echa pasti akan pulang dengan keceriaan," imbuhnya.
Setelah perpisahan haru, Echa menghampiri kakeknya dan juga pria bermasker itu. Wajah cantik Echa berubah menjadi wajah yang sangat memilukan.
Mereka masuk ke dalam mobil dan meninggalkan Jogjakarta.
****
Keesokan paginya, Rion menghubungi Arya untuk menjemputnya di Bandara. Dia sudah tiba di Jakarta. Arya merasa iba kepada sahabatnya ini. Tapi, dia juga merasa sangat marah ketika mengetahui semuanya. Echa pergi karena Rion dan juga Amanda.
"Gua numpang tidur di rumah lu," ujarnya.
Arya tak banyak bicara, dia hanya menuruti permintaan Rion. Setelah keluar dari mobil Rion langsung bergegas ke kamar tamu. Arya hanya menghela nafas berat.
"Kenapa by?" tanya Beby.
"Ketidaktegasan Rion membuatnya dan anaknya terluka," ucapnya.
"Aku sudah tau keberadaan Echa di mana," ujar Beby.
Arya melebarkan matanya. "Serius?" Beby mengangguk .
Beby menceritakan semuanya di dalam kamar. Arya benar-benar bernafas lega. Dia yakin Om Genta tidak akan tinggal diam. Apalagi Echa adalah cucu pertama baginya. Meskipun bukan cucu kandungnya.
"Echa adalah anak yang sangat beruntung. Dia dikelilingi banyak orang yang menyayanginya."
"Ya, kita tidak perlu memberitahukan kepada Pak Rion. Echa juga butuh ketenangan. Dan dia pasti akan kembali ke Jakarta," terang Beby.
Di kediaman Rion, suasana tampak sepi. Bu Dina dan juga Nisa sudah kembali ke Bandung. Suaminya belum ada kabar. Berkali-kali Amanda menghubungi Rion namun, tak pernah tersambung.
"Bang, kamu di mana?" lirihnya.
Mbak Ina sedikit iba kepada majikannya, namun jika melihat perlakuan majikannya kepada Echa membuat hatinya sakit.
Amanda sekarang merasa sebatang kara. Dia pun menelepon sang Kakak. Dan menceritakan semuanya kepada Juna dengan berlinangan air mata.
Juna akan ke Jakarta secepatnya ketika pekerjaannya selesai. Begitulah janjinya kepada Amanda.
---------
Perjalan dari Jogjakarta menuju Canberra, Australia cukuplah panjang sekitar 14-15 jam. Echa hanya memandang kaca samping pesawat dengan sesekali air matanya menetes. Rasa kantuk seakan tidak pernah menghampirinya.
Genta membawanya ke Canberra untuk menyembuhkan luka cucunya. Dia berhak bahagia dan melupakan kesedihannya.
Di kursi belakang, pria bermasker dan juga berkacamata sangat merasakan kesedihan Echa. Ingin sekali dia menghampiri Echa. Namun, dia dilarang oleh Genta.
Pria itu tahu, Echa terus saja menangis. Berkali-kali Echa menyeka ujung matanya. Dia tahu, Echa sangat hancur saat ini.
Echa masih fokus melihat ke arah kaca, menatap awan-awan yang membuat hatinya mendung. Sentuhan tangan seseorang membuat Echa melirik ke arah sampingnya. Dengan cepat Echa menjauhkan tangannya. Dia menatap tajam ke arah pria itu.
Kacamata pria itu dia lepas, membuat Echa mengerutkan dahinya. Alis pria itu mengingatkannya kepada seseorang. Pria itu beralih ke masker yang dia gunakan. Perlahan dia membuka maskernya dan membuat mata Echa nanar. Echa langsung berhambur memeluk tubuh pria itu.
"Kamu jahat, jahat ...."
Perkataan Echa tidak sesuai dengan kenyataannya. Dia bilang pria itu jahat, tapi tangannya memeluk erat tubuh pria itu.
"Aku di sini, Bhul. Di sini," ucap Radit dengan suara berat. Sungguh dia sangat merindukan mantan kekasihnya ini.
Genta hanya menghela napas kasar melihat cucunya yang sangat merindukan Radit. Dia tahu, Raditlah yang bisa menyembuhkan setiap luka yang Echa rasakan. Terlebih luka ini sangat dalam, mau tak mau Genta harus cepat bertindak. Selain Radit psikolog, dia juga sekarang menjadi seorang dokter yang sedang magang di rumah sakit di Canberra. Radit mengikuti jejak ayahnya.
"Jangan nangis lagi, aku akan terus menggenggam tangan kamu. Menjadi tempat bersandar untuk kamu," ucap Radit sambil menghapus air mata yang membasahi pipi Echa.
Radit menggenggam erat tangan Echa dan Echa membaringkan kepalanya di pundak Radit. Momen yang sangat Radit rindukan.
Berada di samping Radit membuat hati Echa perlahan membaik. Genggaman tangan Radit membuatnya merasa nyaman. Entah karena terlalu lelah menangis atau matanya yang sudah mengantuk. Echa tertidur dengan berbantalkan pundak Radit dan tangan yang menggenggam erat tangan Radit.
Radit menatap ke arah Genta dan seulas senyum yang Genta tunjukkan. Radit pun terus menggenggam tangan Echa dan tidak akan pernah melepaskannya lagi.
Setelah lebih dari 14 jam mengudara, mereka tiba di Canberra. Cuaca di Canberra sedang memasuki musim panas. Radit memakaikan topinya ke kepala Echa.
Echa hanya tersenyum dan tangan Radit selalu menggenggam tangan Echa. Sejenak Echa melupakan kesedihannya.
Genta membawa Echa ke sebuah hunian mewah. Di sinilah dulunya Gio tinggal bersama saudara kembarnya. Dan rumah ini sangat terawat meskipun jarang dikunjungi oleh pemiliknya.
"Kamar kamu di atas, Sayang." Echa mengangguk dan masuk ke kamarnya. Radit mengantar Echa sampai depan pintu.
"Istirahat ya," ujarnya sambil mengusap lembut pipi Echa. Echa mengangguk pelan dan masuk ke dalam kamarnya.
Radit hanya menghela napas kasar dan di duduk di samping Genta. "Gimana menurut kamu?"
"Echa menyimpan bom waktu, yaitu kesedihan dan kekecewaan yang selalu dia pendam sendiri. Ketika dirinya sudah mulai tidak sanggup, bom waktu itu akan meledak dan menghancurkan semuanya. Menghancurkan dirinya dan juga orang disekelilingnya," terang Radit.
"Apa itu akan mempengaruhi pada penyakitnya?" Semua orang mengkhawatirkan kesehatan Echa. Depresi berlebih akan menyebabkan aritmia yang Echa derita kambuh dan bisa menyebabkan kematian.
"Kita jauhkan dia dari hal-hal yang membuatnya sedih berkepanjangan, Om. Dan kita harus bisa buat dia meluapkan apa yang dia pendam selama ini," jelas Radit.
Genta hanya menghela napas kasar. "Ya sudah kamu istirahat, makasih atas semuanya." Radit pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Waktu Canberra menunjukkan pukul tujuh malam. Namun, Echa tak kunjung keluar. Radit membawakan Echa makanan ke kamarnya.
Dilihatnya Echa sedang menatap kosong ke arah jendela. "Bhul, makan dulu," ucap Radit.
Echa membalikkan badannya dengan air mata yang sudah menetes. Radit langsung memeluk tubuh Echa. "Jangan menangis lagi."
Setelah Echa dirasa sedikit tenang, Radit membawa Echa duduk di sofa. Radit menggenggam tangan Echa dan menatapnya.
"Ceritakanlah semuanya, biar gak jadi dendam," imbuh Radit
"Aku hanya ingin dipeluk Ayah," ucapnya dengan berlinang air mata.
"Aku tidak kekanak-kanakan, aku hanya ingin perhatian," ucapnya lagi dengan suara yang sangat dalam.
"Kurang mandiri apa aku selama ini, dari kecil hingga sekarang ini aku tidak pernah meminta apapun kepada Ayah, tidak pernah. Aku hanya minta kasih sayang yang tulus, aku hanya minta perhatian, aku hanya ingin memeluk Ayah ketika aku sedang tidak baik-baik saja. Hanya itu yang aku pinta, karena aku bukanlah Riana yang mendapatkan kasih sayang penuh sewaktu kecil." Tangisnya kian menjadi dan Radit pun menarik Echa ke dalam pelukannya.
Betapa beratnya beban yang Echa pikul, kenangan masa kecilnya menjadi memori yang sangat kuat di otaknya. Memori yang tidak akan pernah bisa dia lupakan.
"Kamu benci sama Ayah kamu?" Echa menggeleng.
"Aku hanya kecewa."
"Sama Bunda kamu?" Echa hanya diam.
"Aku masih menghormatinya karena dia istri dari Ayahku," tegasnya.
Radit bisa menyimpulkan jika, rasa kecewa Echa bukan kepada Rion tapi, kepada ibu sambungnya.
"Apakah semua ibu tiri itu jahat?" Radit hanya tersenyum mendengar pertanyaan Echa.
"Makan ya, nanti kamu sakit. Besok kita keliling Canberra." Echa pun menuruti perintah Radit.
Di Jakarta.
Rion kembali ke rumahnya ketika hari sudah malam. Ternyata Amanda menunggunya. Tidak ada sepatah kata pun yang Rion ucapkan. Dia langsung masuk ke kamar Echa. Hati Amanda sangat sakit.
Rion hanya bisa menatap wajah Echa di dalam bingkai foto. Anak yang tumbuh kembangnya tidak dia perhatikan. Dan kini anaknya sendiri yang menyuruhnya agar menganggap dirinya telah tiada. Ayah mana yang tidak sedih mendengarnya.
Seminggu sudah kepergian Echa. Rion terus mencarinya dengan mengerahkan orang suruhannya untuk menemukan keberadaan Echa. Berkali-kali Rion mendatangi rumah Gio. Dan hanya wajah penuh kemarahan yang Ayanda tunjukkan.
"Dek, di mana putri kita?" ucap Rion.
Penampilan Rion benar-benar tidak terawat. Badannya nampak kurus dan mata pandanya sangat terlihat jelas. Dia sangat kurang tidur karena terus memantau anak buahnya yang mencari Echa .
"Dia sedang menenangkan diri. Jangan khawatir, dia akan baik-baik saja," sahut Ayanda. Dia enggan berlama-lama melihat Rion. Melihat Rion terpuruk, seperti melihat putrinya yang pastinya tidak berbeda kacaunya seperti Rion.
Ketika Ayanda hendak melangkahkan kakinya, Rion langsung memeluk kaki Ayanda. Bersimpuh di kaki mantan istrinya. "Maafkan Mas, Dek. Maafkan Mas. Jangan pernah pisahin Mas dan Echa. Mas emang salah Dek," ucapnya sangat lirih.
Ayanda mengatur napasnya, dadanya pun terasa sesak mendengar ucapan maaf dari mantan suaminya yang teramat tulus.
Dari kejauhan Amanda melihat suaminya memohon-mohon hingga berlutut di kaki Ayanda membuat Amanda geram. Sedari tadi, Amanda mengikuti ke mana Rion pergi.
Amanda langsung menarik tubuh Rion. "Bang, kenapa harus merendahkan diri Abang di hadapan mantan istri Abang? Begitu sucinya kah mantan istri Abang ini?" Ayanda tersenyum tipis.
Plak!
Tamparan keras mendarat di pipi Amanda. Rion membiarkan saja, karena semakin hari tingkah Amanda semakin berlebihan. Membuat dirinya pun berang.
"Tamparan itu tidak sebanding dengan sakitnya hati anakku," teriaknya.
"Terserah kamu mau bilang aku ibu yang lebay atau berlebihan. Tidak akan ada seorang ibu di dunia ini yang tega melihat anaknua menangis di depan matanya. Tidak akan pernah rela seorang ibu melihat anaknya disakiti oleh orang lain. Sekuat dan semampuku aku akan menjaga putriku. Putri yang dengan susah payah aku besarkan. Putri yang susah payah aku jaga seorang diri," sentaknya.
Wajah Ayanda benar-benar memerah dan baru kali ini Ayanda benar-benar marah. Dibalik kelembutan Ayanda menyimpan sisi galak dan keras.
Ayanda duduk di sofa dengan berlinang air mata. Jangankan Rion, dia pun dan Gio tidak boleh bertemu Echa semenjak Echa pergi ke Australia bersama Kakeknya.
Rasa rindunya kepada putrinya sangat membuncah. Namun, karena alasan psikis Echa yang terbilang parah membuat dia dan juga Gio menahan diri untuk terbang ke sana. Kehadiran Ayanda dan Gio akan membuat Echa sedih dan mengingat kejadian itu lagi. Mereka percaya, Radit akan mengembalikann putri mereka lagi.
Di luad, Rion memandang Amanda dengan tatapan sengit. "Puas kamu sekarang, PUAS?" bentak Rion pada Amanda.
"Kamu ingin berlagak jadi pahlawan, tapi kamu malah menghancurkan semuanya," geram Rion.
****
Happy reading ....
Ketikan ada notif Bang Duda up langsung baca ya. Jangan ditimbun-timbun. Hanya dengan cara itu kalian menghargai dan mencintai karyaku ...
Jangan lupa kasih bunga ataupun kopi ya biar aku semangat nulisnya, mau kasih koin pun akan aku terima dengan senang hati ...