Bang Duda

Bang Duda
296. Kurcaci Hamil (Musim Kedua)



Keempat pasutri itu tertawa bahagia sambil menikmati hidangan yang ada di atas meja. Melupakan bahwa ada sepasang anak manusia yang sedang kewalahan mengasuh enam anak super.


"Ay, Beeya ingin poop gimana dong?"


"Antar ke WC, Yang," sahut Kano.


"Aku gak mau nyebokin," tolak Echa.


"Biar saya saja Mbak yang cebokin neng Beeya. Tapi, saya titip Kaza, ya."


Echa dapat menghela napas lega mendengar ucapan pengasuh Kaza. "Iya Mbak, makasih banyak."


Sedangkan Radit sudah pergi membeli sosis bakar keinginan si kembar, Riana serta Keysha. Dan tak lupa Radit juga membelikan untuk Beeya serta Kaza.


Echa masih anteng menjaga Kaza yang sedang tertidur pulas di stroller.


"Echa."


Merasa namanya dipanggil, Echa pun menoleh. Dia memicingkan mata ke arah si pemanggil.


"Doni," ucapnya.


"Ya ampun, gak nyangka gua bisa ketemu di sini. Makin cantik aja perasaan." Doni memperhatikan penampilan Echa dari atas sampai bawah. Dan Doni masih terpesona akan kecantikan Echa.


"Gombal lu gak berubah," sahut Echa.


"Gua ngomong apa adanya Cha. Bukan gombal." Hanya senyuman manis yang Echa berikan.


"Kakak El, Bee sudah selesai."


"Udah semua dikeluarin?" Beeya pun mengangguk.


"Hai anak cantik," sapa Doni.


"Sok kenal," dengus Beeya.


Sontak Echa dan pengasuh Kaza pun tertawa mendengar dengusan Beeya. Namun, berbeda dengan Doni. Dia menatap penuh kekaguman kepada Echa. Tawa Echa tidaklah berubah, membuat semua orang yang melihat tawa Echa akan terpesona.


Dari kejauhan, Radit menghela napas kasar. Pandangannya tak lepas dari Echa dan juga laki-laki di sampingnya.


"Om, mana sosisnya?" teriak Aksa.


Echa langsung menoleh ke arah Aksa dan Aska yang sudah menghampiri Radit tak jauh dari Echa. Wajah Radit datar dan raut mukanya sungguh tidak terbaca.


"Ay, udah belinya?" Hanya anggukan yang menjadi jawaban Radit.


Radit memilih menjauhi Echa dan Doni. Menyuapi Beeya sosis bakar dan mendengarkan celotehan-celotehannya.


"Lu masih sama dia?" tanya Doni sambil menunjuk ke arah Radit.


"Masih lah, hubungan kami udah berjalan hampir 5 tahun. Dan dalam waktu dekat ini, gua sama dia akan melakukan pertunangan," jelas Echa.


"Kok hati gua sakit, ya dengernya," lirih Doni.


Echa menatap aneh ke arah Doni. "Gua masih sayang sama lu, Cha. Gua selalu berharap ketika kita bertemu kita akan dipersatukan. Ternyata kenyataannya gak sesuai dengan apa yang gua harapkan," ungkap Doni.


Radit mampu mendengar apa yang Doni katakan pada Echa. Lagi-lagi Radit hanya bisa menghela napas kasar.


"Sabar Om, Kak Echa cuma sayang sama Om kok," ujar Aksa.


Radit hanya tersenyum seraya mengusap kepala Aksa.


"Udah yuk, Om. Ri ingin melihat pertunjukkan harimau sama lumba-lumba," ajak Riana.


"Iya, Om. Biarain aja Kak Echa mah. Sok jual mahal dikit Om, biar kaya di film-film


Biar Kak Echa yang ngejar-ngejar," sambung Aska.


Radit pun tertawa dan kemudian membawa Beeya dalam gendongannya. Mereka menuju tempat yang diinginkan oleh anak-anak ini.


"Kakak, mau tetap di sini atau ikut kita?" tanya Riana.


"Ikut kalian lah," jawab Echa.


"Aku juga ikut," timpal Doni.


Echa menyadari Radit sedang cemburu karena sedari tadi tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Radit.


"Ay," panggil Echa sambil merangkul lengan Radit.


"Jangan marah dong," kata Echa. Namun, Radit masih tetap diam.


"Ay," rengek Echa sambil menahan lengan Radit.


"Maaf." Satu kata yang keluar dari mulut Echa.


"Kan kamu sendiri yang bilang aku gak boleh over posesif. Ya udah, aku harus bisa seperti itu, mengerti kamu tanpa kamu mau mengerti perasaan aku." Radit pun berlalu meninggalkan Echa.


Radit tidak ingin egois, tapi hatinya tidak bisa menerima jika kekasihnya dekat dengan lelaki lain. Dan Radit tahu siapa Doni. Hingga sekarang, Doni masih menjadi laki-laki yang pantang menyerah.


Echa merengut kesal dan mengejar Radit. Mensejajarkan langkahnya dengan langkah Radit.


"Ay."


Lagi-lagi Echa menahan lengan Radit. Dan Radit menatap Echa dengan tatapan penuh cemburu.


"Cha, ke sana yuk. Ada boneka harimau lucu," ujar Doni yang menarik tangan Echa. Namun, Echa yang tidak siap ditarik malah terjatuh dan kakinya mencium aspal.


"Aw," ringis Echa.


Doni langsung berjongkok dan tangannya yang hendak menyentuh kaki Echa segera ditepis oleh Radit. Radit membopong tubuh Echa dan mendudukkannya di kursi kosong di pinggir jalan.


"Sakit," ucap Echa.


Ya, dengkulnya memang berdarah dan terlihat jelas di kaki putih mulus Echa.


"Pelan-pelan, Ay."


Radit mengucurkan air mineral untuk membersihkan lukanya. Kemudian, dia mengelap pinggiran luka Echa dengan tisu. Baru dia bubuhi betadine agar lukanya tidak infeksi.


Radit menelepon orangtua Echa dan mengatakan jika dia dan Echa tidak bisa menemani adik-adik Echa lagi untuk melanjutkan perjalanan menuju tempat hewan lainnya.


Tak lama empat pasutri itu datang. Dan mata Rion memicing kepada sosok yang ada di samping Echa. Laki-laki yang tidak pernah Rion kenal.


"Kenapa bisa begini, Dit?" tanya Ayanda.


"Karma Tante," jawab Radit yang masih fokus membersihkan tangannya dengan tisu basah.


Arya, Gio, dan Kano pun tertawa. Mereka tahu, Radit sedang cemburu.


"Makanya kalo calon suami kamu bilang jangan pake celana pendek denger. Jangan ngeyel, begini kan jadinya," omel Rion bak ibu tiri.


"Ih, Ayah mah. Anaknya kesakitan juga bukannya ditolongin malah diomelin," sungut Echa.


"Suruh siapa batu," sarkas Rion.


"Kita ke klinik aja, Cha. Takut lukanya dalam," ujar Doni.


"Gak usah, calon menantu saya dokter. Jadi, dia bisa menghandle luka lecet Echa," jawab ketus Rion.


"Lu harus yakin, kalo Ayahnya Echa itu cuma percaya sama lu. Dan dia yakin lu orang yang tepat untuk anaknya," bisik Arya.


"Dit, bawa Echa ke parkiran, ya," titah Gio.


"Biar saya aja, Om," jawan Doni.


"Saya menyuruh Radit bukan kamu," tegas Gio.


Doni pun terdiam. Sekarang dia harus benar-benar mundur. Karena sudah tidak ada celah untuk Doni masuk ke dalam hidup Echa maupun keluarganya.


Radit membawa Echa dengan mengendongnya di belakang. "Maafin aku, Ayang."


Doni hanya dapat menghela napas kasar. Memandangi dua manusia yang cinta mereka tidak pernah pudar sejak di bangku sekolah.


***


"Bee, kamu ini berat loh. Pinggang Papah berasa mau patah," ujar Arya.


"Bapak lebay lu," ejek Rion.


"Iya nih, tadi aja Om Radit biasa aja gendong Bee. Papah baru aja gendong Bee udah bilang begitu," cerocos Beeya.


"Daddy, Om Radit baik banget ya," ucap Aksa pada Gio.


"Emang menurut kamu Om Radit jahat?" tanya Ayanda.


"Om Radit nyebelin Mommy. Tapi, tadi Abang liat Om Radit sabar banget ngadepin Abang dan yang lainnya. Ingin ini-itu, minta makan, beli es krim, minta sosis dan Om Radit gak pernah ngeluh dan marah," terang Aksa.


"Itulah yang membuat Mommy sayang sama Om Radit. Kalian jangan panggil Om, dong. Panggil Kakak, sama seperti kalian memanggil Kak Echa," imbuh Ayanda.


"Kalau Riana dan Keysha suka sama Om Radit?" tanya Amanda.


"Banget Bunda," sahut Riana dan juga Keysha bersamaan.


"Alasannya apa?" tanya Sheza.


"Om Radit itu sabar banget, Mih. Om Radit juga baik banget. Tadi, minuman yang Key minta salah dibeliin sama Om Radit. Om Radit langsung beli lagi minuman yang Key mau," tuturnya pada Sheza.


Semua orang dewasa pun tersenyum bahagia karena anak-anak super ini sudah mulai mau menerima Radit.


"Mas Rion," panggil seseorang.


Bukan hanya Rion yang menoleh, ketujuh orang beserta anak-anak mereka menoleh ke asal suara.


Seorang wanita cantik yang berpakaian seksi menyapa Rion dan tersenyum ke arah Rion.


"Loh kok, Mas Rion masih sama Ayanda?" herannya.


"Kenapa memangnya Dew?" sengit Ayanda.


Ya, wanita itu adalah Dewi. Tetangga genit yang hobi ganggu suami orang.


"Kata Jeng Gina, Mas Rion duda?"


"Eh Tante alis Shinchan, Ayah aku punya istri dan aku anak Ayah dan Bunda," ucap Riana sambil menggenggam tangan kedua orangtuanya.


"Selera Mas Rion malah semakin rendah, ya. Masih cantikan Ayanda dibanding istri barunya," ucap Dewi.


"Aw," teriak Dewi.


Ternyata Riana sekuat tenaga menginjak kaki Dewi hingga dia menjerit kesakitan.


"Bocah gemblung," serunya.


"Mau kamu apa sih Dew? Udah lama gak ketemu pas ketemu bikin rusuh. Udah pernah dicium harimau belum?" tutur Rion.


"Aku maunya dicium kamu, Mas."


"NAJIS," sahut Rion.


"Udah, yuk. Jangan ladenin wanita yang otaknya kurang secenti," ucap Rion.


Namun, sekarang Dewi menghadang langkah Ayanda yang telah digandeng Gio.


"Wah ada kemajuan, suaminya orang berduit nih kayaknya," goda Dewi.


"Lepas dari anak kucing dapet singa lah. Emangnya kamu gak ada insaf-insafnya ganggu suami orang yang berduit mulu. Dinikahin nggak, dapat apa-apa juga nggak," sungut Ayanda.


"Cih, berani jawab, ya sekarang," tantang Dewi.


Dewi mulai maju mendekati Ayanda namun, dua anak Ayanda sudah menghadangnya.


"Mau ngapain Tante bibir dower," sergah Aksa.


Sontak semua orang pun tertawa mendengar ucapan Aksa. Ya, bibir Dewi dibuat seperti artis luar negeri dengan bibir bawah dan atas tebal. Dan hidung yang difiller membuat bentuk wajahnya aneh.


"Papah, itu wajah Tante mirip boneka setan, ya," celoteh Beeya.


Bukan hanya Arya yang tertawa. Semua orang pun tertawa mendengarnya. Jangan ditanya muka Dewi seperti apa. Sudah merah padam dan dia langsung menelepon sang lelaki selingkuhannya.


"Awas kalian, saya pastikan kalian semua masuk ke dalam penjara karena pencemaran nama baik," ancam Dewi.


"Pencemaran penglihatan iya. Liat noh muka lu Dewi. Kalo operasi plastik ke Korea bukan ke tukang perabotan, jadinya kan gitu operasi plastik pake plastik ember mah," ejek Rion.


Tak lama, seorang pria berbadan pendek dan berperut buncit datang. Dan Dewi bersikap manja layaknya anak ABG yang baru merasakan jatuh cinta.


"Geli gua liatnya, mana gak ada bagus-bagusnya tuh selingkuhan si Dewi. Udah kaya boneka Semar," oceh Rion yang dijawab tertawaan oleh Amanda.


"Siapa yang mengganggu pacar saya? Akan saya laporkan kalian semua atas pencemaran nama baik," ucap si pria bogel berperut buncit.


"Halo Pak Broto, apa kabar?" Suara Gio membuat nyali seorang Broto Adijoyo bergetar.


"P-Pak Gio," sahutnya.


"Sayang, kenapa wibawa kamu jadi ciut gini sih?" tanya Dewi.


"Dia Bos besar aku," bisiknya. Mata Dewi pun melebar.


"Suami kamu ...."


"Iya, Giondra Aresta Wiguna suamiku, Dewi," jawab Ayanda.


"Nah kan, sok-sokan banget sih. Di atas langit masih ada langit," ujar Arya.


"Pecat aja Gi, kalo gak masukin tuh badan kecilnya ke mulut harimau," imbuh Rion.


"Papih, emang ada ya kurcaci hamil?" tanya Beeya kepada Kano.


"Kurcaci hamil?" Kano tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Beeya.


"Itu Papih," tunjuk Beeya ke arah Broto.


Semua orang pun tertawa puas mendengar ocehan Beeya. Dan Broto hanya menunduk dalam tidak bisa berbuat apa-apa. Mata elang Gio seperti akan membunuhnya di tempat itu juga.


...----------------...


Maaf ya, hari ini UP 2bab.


Kalo dah bosen bilang ya ...