Bang Duda

Bang Duda
289. Ayah Dambaan (Musim Kedua)



Terima kasih kepada kalian yang udah baca dan suka sama karya Bang Duda. Dan terima kasih juga bagi kalian yang udah menjadi pembaca setia Bang Duda. Yang belum jadi pembaca setia, ayo jadi pembaca setianya.


Baca di sini tidak memerlukan koin, jadi kalian cukup membaca setiap update Bab terbaru dari Bang Duda tanpa menimbun-nimbun bab yang sudah terbit. Dengan cara begitu, kalian telah membayar mahal karya ini.


Aku tunggu kalian untuk jadi pembaca setia ...


...****************...


Setelah permintaan mahar yang tidak tanggung-tanggung dari seorang ayah yang katanya sayang kepada anak. Kini, Radit mampu membalikkan keadaan. Membuat calon ayah mertuanya itu mati kutu.


Direndahkan, diremehkan dan juga dikucilkan sudah menjadi makanan sehari-hari untuk Radit. Jadi, itu semua hanya Radit anggap angin lalu. Yang terpenting, bukti dari kerja kerasnya itu nyata.


"Gimana Om?" tanya Radit memastikan.


"Gak ada alasan untuk Om nolak, toh kamu juga udah memenuhi syarat yang diajukan Om," jawab Rion serasa tak memilki dosa.


Echa hanya menggelengkan kepala begitu juga Gio. Radit juga sebenarnya tahu, Rion hanya menguji mentalnya. Karena sesungguhnya lampu hijau sudah di tangan. Tinggal bagaimana Radit saja meyakinkan calon ayah mertuanya.


"Setelah Echa dan Tante sembuh, Radit ingin bertunangan terlebih dahulu dengan Echa, Om. Takut, ketika dia udah mulai kerja ada yang godain," imbuh Radit.


"Yang penting cincinnya harus berlian. Jangan malu-maluin, apalagi cincin mainan. Langsung Om gorok kamu," balas Rion.


Arya dengan sangat gemas menjitak kepala Rion. "Bapak gak ada akhlak lu. Kalo lakinya bukan Radit, anak lu bakalan jadi perawan tua," omel Arya.


"Buat apa seserahan mewah, pesta mewah, segala macam mewah tapi usia pernikahan anak lu cuma seumur jagung. Apa gak malu?" Mulut Arya terus berkomat-kamit menasihati Rion.


"Berisik ah, anak-anak gua. Ngapa lu yang sewot," ucap Rion tak mau kalah.


"Udah dong, kenapa jadi ribut sih. Echa laper nih," imbuh Echa kepada semua pria di hadapannya.


"Kamu mau makan apa?" Radit menjadi pria yang sigap untuk Echa.


"Yang pedas-pedas."


"GAK BOLEH," jawab tiga pria di depan Echa kecuali Arya.


"Tumben kompak," ejek Arya.


Echa mengerucutkan bibirnya menandakan dia marah dan kesal. Radit menghampiri Echa dan duduk di sampingnya.


"Kalo udah sembuh aja, ya, makan yang kamu maunya. Emang kamu gak mau kita cepat tunangan? Waktu aku cuma sebentar loh, aku harus kembali ke Ausi," ujar Radit dengan nada yang sangat lembut.


Jika, Radit sudah dimode sabar seperti ini Echa langsung menjadi anak kucing yang sangat penurut. Dia pun memeluk pinggang Radit membuat tiga pria di depannya menggelengkan kepala.


"Di sini masih ada orangtua, woiy," teriak Arya. Hanya juluran lidah yang menjadi jawaban Echa.


"Ayah, Echa lapar. Beliin Echa makanan," pintanya pada Rion.


"Pacar kamu ada, ngapain nyuruh Ayah," sungut Rion.


"Echa lagi pengen peluk pacar Echa dan dia gak boleh ke mana-mana dulu. Jadi, please ... beliin makanan ya, Yah." Echa menunjukkan puppy eyes-nya dan membuat hati Rion luluh juga.


"Ya udah." Rion beranjak dari duduknya dan malah menghampiri Radit.


"Pintu keluar di sana Ayah," ucap Echa gemas kepada ayahnya.


"Ayah mau minta uang sama Radit." Tangan Rion sudah menengadahkan tangannya ke depan wajah Radit.


Semua orang menepuk jidat melihat kelakuan Rion. Pengusaha bakery yang pelitnya bukan main.


Radit menyerahkan lima lembar uang seratus ribuan. Dan Echa langsung merampasnya.


"Kebanyakan." Echa mengambil tiga lembar dan diberikan kepada ayahnya dua lembar.


"Uang segini dapat apa?"


"Itu kan buat beli makan Echa, udah lebih dari cukup. Kalo yang lainnya, ya pake uang Ayah lah. Sekali-kali beramal Yah, nanti uang yang diberangkas diambil tuyul pesugihan kak Radit loh," kata Echa seraya terkekeh.


Rion menatap Echa dengan tatapan kesal. "Ayah beliin kamu nasi bungkus, dengan kuah sayur sama gorengan aja," geramnya.


Semua orang pun tertawa jika Rion dan Echa berdebat. Arya yang melihat keponakannya sangat nyaman berada di dalam dekapan Radit tersenyum bahagia.


"Kayak lu waktu sama Yanda," ujar Arya kepada Gio.


"Ya, gua merasa bercermin. Radit orang yang sabar, pasti dia bisa menghadapi sikap spesial Echa." Arya pun mengangguk setuju.


Ada sedikit ketidak relaan di hati seorang Rion. Sifatnya yang selalu menyebalkan jika Echa bersama Radit karena Rion ingin mengambil perhatian ECha. Jujur saja, setelah kehadiran Radit, posisi Rion mulai tergantikan. Rion merindukan sosok Echa yang manja dan cerewet. Dan sekarang, putrinya sudah beranjak dewasa. Lambat laun dia akan merelakan putrinya untuk dibawa oleh pendamping hidupnya nanti.


"Ayah belum siap, jika kamu dibawa oleh suami kamu. Ayah masih ingin memeluk kamu, mendengar cerita kamu," gumam Rion seraya menyetir.


Setengah jam berlalu, Rion tiba di ruang perawatan Echa dan membawa banyak bungkusan.


"Hebat ya, uang 200 ribu bisa dapat makanan sebanyak ini," goda Arya.


"Nombok gua," sahut Rion seraya meletakkan makanan di atas meja.


Sebelumnya, dia juga ke ruang perawatan Ayanda untuk memberikan makanan kepada ibu-ibu rempong beserta anak-anak mereka. Makanan yang sama dan jumlah yang sama pula.


"Makasih Ayah, ini semua makanan kesukaan Echa," ucap Echa dengan wajah berbinar.


"Hm."


Dengan telaten Radit menyuapi Echa, perlakuan Radit tidak luput dari pengawasan Rion. Hatinya sedikit sedih melihatnya. Biasanya dia yang akan menyuapi putri manjanya. Tapi, sekarang sudah ada Radit yang menggantikan posisinya di sana.


"Ijinkan Ayah untuk memberikan kasih sayang lebih besar lagi kepada kamu, Dek. Ayah tahu, kasih sayang yang Ayah berikan belum lah cukup untuk mengganti masa kecilmu yang menderita," batinnya.


Arya memperhatikan Rion dengan seksama. Dia tahu, Rion sedih ketika mendengar Radit ingin menikahi Echa dan membawanya ke Ausi. Tanpa Rion bicara, Arya sudah paham apa yang dirasakan oleh sahabatnya ini. Sama halnya ketika Tuan Bhaskara melepaskan Arina untuk menikah dengan suaminya. Hati Papih Arya sangat berat melepaskan putrinya. Putri yang selama ini dijaga dan dibesarkan dengan penuh cinta dan kasih sayang.


Setelah mereka selesai makan dan Echa meminum obatnya. Arya dan Rion pamit karena harus mengecek toko yang ada di Bogor. Dan Gio sedari tadi sudah ke ruang rawat Ayanda karena si kembar banyak maunya.


Sepanjang perjalanan menuju toko miliknya, Rion terus saja terdiam.Tidak ada satu patah kata pun yang keluar dari mulut Rion. HIngga pengecekan selesai Rion tidak banyak bicara.


Arya melajukan mobilnya ke sebuah area taman yang di dalamnya ada danau buatan. Mereka duduk di atas rerumputan sambil menatap tenangnya air danau. Tatapan Rion datar, seakan ada beban yang menggelayuti hatinya.


"Lu gak rela, anak lu menikah dengan Radit?"


Pertanyaan Arya membuat Rion menoleh ke arah Arya. Tak lama, dia mengalihkan pandangannya kembali ke danau. Rion hanya menghela napas kasar.


"Gua masih ingin menebus semua kesalahan gua kepada Echa. Rasanya belum cukup gua memberikan kasih sayang dan cinta gua kepada anak yang dulunya gua terlantarkan," jawab Rion dengan suara berat.


"Gua masih ingin memanjakannya. Masih ingin mendengar keluh kesahnya."


Arya mengusap punggung Rion dengan lembut. Rion akan menjadi manusia rapuh ketika membicarakan tentang putri sulungnya. Kebahagiaan yang orang lain lihat tentang ayah dan putrinya ternyata menyimpan masa lalu yang menyedihkan serta menyakitkan.


"Gua masih ingin menebus semua kesalahan gua. Gua masih belum bisa bahagiain Echa sepenuhnya. Gua belum bisa jadi Ayah yang baik untuk Echa."


Ucapan yang keluar dari lubuk hati paling dalam dari seorang Rion Juanda. Hanya sabuah penyesalan yang Rion rasakan jika menyangkut Echa.


"Radit anak yang baik, gua yakin Echa akan bahagia bersama Radit," imbuh Arya.


Rion hanya terdiam mendengar ucapan dari Arya. Di dalam lubuk hatinya, dia mengakui dia memang menyukai sosok Radit yang sangat sabar serta bertanggung jawab terhadap Echa. Tapi, Rion Ingin lebih memiliki waktu lebih banyak lagi bersama anak gadisnya. Ingin menuangkan kasih sayang kepada Echa hingga hatinya rela untuk melepaskan Echa dan dipinang oleh Radit.


"Lagi pula, Radit hanya ingin tunangan dulu. Untuk nikah kan sepertinya masih satu sampe dua tahun lagi," ujar Arya.


Waktu satu atau dua tahun adalah waktu yang terlalu singkat untuk Rion. Terlebih, hari-hari Echa yang dilalui Echa bukanlah di negeri yang sama. Mereka memang berada di bawah langit yang sama, namun pijakan kaki yang berbeda. RIon hanya ingin selalu berada di dekat Echa sebelum Echa ikut dengan imamnya.


Egois memang, tapi inilah yang Rion rasakan. Menikahkan putrinya dengan pria pilihan anaknya sama dengan merelakan anaknya dibawa pergi oleh suami pilihannya. Itulah yang membuat Rion berat untuk melepaskan putri tercintanya.


Segala tantangan yang Rion berikan berupa materi, mampu Radit lalui. Dan kasih sayang Radit yang Rion lihat pun sangatlah tulus. Kesabaran yang Radit miliki pun sangatlah luas. Radit bisa mengimbangi sifat kekanak-kanakan Echa. Karena Echa memang anak yang kekurangan kasih sayang pada masa kecilnya.


"Manusia diciptakan berpasang-pasangan. Sebagai orangtua, kita harus bisa merelakan anak-anak kita untuk dibawa pergi oleh suaminya kelak. Tugas kita untuk menjaga dan mendidiknya sudah cukup sampai di sini. Dan kita hanya bisa mendoakan agar rumah tangga anak-anak kita selalu langgeng dan berbahagia. Kita masih bisa memantau mereka dari jauh. Dan kita juga gak boleh terlalu ikut campur dan masuk ke dalam masalah internal rumah tangga anak kita. Cukup berikan mereka wejangan dan nasihat. Masalah mereka adalah urusan mereka. Selagi mereka tidak meminta bantuan kepada kita sebagai orangtua, kita cukup diam."


Petuah yang Arya berikan kepada Rion adalah kalimat yang diucapkan oleh alamarhum kakek Arya kepada Papihnya ketika Tuan Bhaskara tidak rela melepaskan Arina.


"Lu Ayah yang hebat, ketika Yanda menikah, lu mampu mengurus Echa dengan baik. Membesarkan Echa dengan penuh kasih sayang. Waktu dua tahun bukanlah waktu yang singkat. Dan gua tahu, jadi Ayah sekaligus ibu tidaklah mudah."


Memori sepuluh tahun yang lalu bergerilya di kepala Rion.


"Ayah, kaos kaki Echa di mana?"


"Ayah, Echa gak mau sarapan ini."


"Pokoknya kalo Ayah gak bisa jemput, Echa gak mau makan."


Kalimat-kalimat manja yang setiap hari ECha ucapkan ketika Rion mengurus Echa. Antar-jemput Echa sudah menjadi kewajibannya karena Echa tidak mau diantar oleh Pak Mat. Awalnya, Rion ingin marah. Tapi, Rion juga tersadar ketika setiap pulang kerja larut malam Echa menunggunya di sofa dan sudah terlelap.


"Neng Echa gak mau makan, sedari tadi nungguin Bapak terus. Ingin makan bareng Bapak katanya," ucap Mbak Ina.


Ada rasa bersalah yang berlebih ketika mendengar ucapan dari Mbak Ina. Putrinya saja mampu menahan lapar hanya demi menunggunya. Kenapa dia tidak bisa meluangkan waktunya sejenak untuk putrinya.


Dari situlah Rion menjadi Ayah yang menyenangkan untuk Echa. Bermanja, bercerita, bersenda gurau selalu mereka lakukan. Hingga Rion memahami bagaimana sikap Echa yang sebenarnya. Semakin hari, Echa pun tak sungkan untuk bercerita tentang hari-harinya dan masa-masa remajanya. Dan Rion mampu menjadi pendengar yang baik untuk Echa.


"Echa sayang, Ayah."


Satu kalimat yang tak pernah absen Echa katakan kepada Rion sebelum Echa tidur. Karena Rion akan selalu menemani Echa hingga Echa terlelap. Memperlakukan Echa layaknya anak balita. Rion sudah banyak melewati tumbuh kembang anaknya. Apalagi masa-masa balita yang tidak pernah Rion lihat.


Pagi harinya, Echa belum keluar kamar. Membuat Rion khawatir dan mengecek keberadaan Echa di kamarnya. Dilihatnya wajah Echa pucat sekali dengan tangan yang memegang perutnya.


"Kamu kenapa, Dek? Ayo kita ke dokter."


Wajah kahawtir Rion sangat terlihat jelas dan Echa hanya menggeleng dengan wajah yang pucat.


"Siklus bulanan Echa datang, Yah. Makanya sakit."


"Kirant* masih ada? Dan pembal*t siang dan malam masih ada?" Echa pun menggeleng.


"Ya udah, Ayah beli dulu, ya. Nanti Ayah suruh Mbak Ina untuk kompres perut kamu." Echa pun mengangguk.


Rion sudah hafal dengan kebutuhan bulanan Echa. Sebenarnya Echa malu, tapi Rion tetap bersikukuh untuk membeli semua kebutuhan siklus bulanan Echa. Karena Echa adalah tanggung jawabnya sekarang. Dan Rion berjanji akan menjaga dan merawat Echa dengan baik.


Kasir pun akan tersenyum geli jika, Rion berbelanja kebutuhan wanita. Apalagi yang Rion beli bukan satu atau dua.


"Ini buat istrinya, Mas?" tanya kasir.


Hanya seulas senyum yang Rion tunjukkan. Dia tidak akan pernah malu jika menyangkut putri kesayangannya. Setelah selesai membayar, Rion segera pulang.


"Masih sakit?" Echa pun mengangguk pelan.


Rion sudah membuka minuman untuk meredakan nyeri haid. Dan segera diminum oleh Echa.


"Makasih Ayah." Rion pun mengusap lembut rambut putrinya.


"Tidak perlu berterimakasih, ini sudah menjadi kewajiban Ayah. Kalo ada yang kamu butuhkan lagi, kamu hubungi Ayah, ya."


Sungguh Rion menjadi Ayah dambaan saat ini. Apapun akan Rion lakukan demi membahagiakan putrinya, Hingga dia larut akan kebahagiaannya bersama Echa. Melupakan jika, dirinya pun memerlukan pendamping untuk menemani tidurnya yang hanya bertemankan guling.


"Makasih Sayang, kamu telah mau memaafkan Ayah dan memberikan kesempatan kepada Ayah untuk menebus semua kesalahan yang Ayah lakukan kepada kamu. Ayah janji, akan mengganti penderitaan yang telah kamu lalui dengan kebahagiaan berlimpah. Ayah tidak perlu pendamping untuk saat ini. Cukup kamu berada di samping Ayah, Ayah sudah merasa hidup Ayah sempurna. Makasih, Sayang."


...----------------...


Pembaca Bang Duda pada ke mana?