Bang Duda

Bang Duda
312. Tanggung Jawab (Musim kedua)



"Bang, itu bukannya Kakak, ya." Beeya membuka suara ketika Aksa sudah masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin mobil.


"Iya." Jawaban yang sangat singkat.


"Abang suka sama Kak Ri?" terka Riana.l


Pertanyaan Beeya membuat Aksa menatap ke arahnya. Beeya pun sama menatap ke arah Aksa dengan senyuman manisnya.


"Kak Ri juga sepertinya menyukai Abang. Buktinya baper banget ampe nangis gitu. Padahal cuma liat kita jalan bareng doang. Gimana kalo Kak Ri liat pacar Abang yang beneran," celotehnya. Perkataan Beeya membuat Aksa terdiam.


Bayang-bayang masa lalu memutari kepalanya. Satu buah kalimat yang membuat Aksa terjatuh dalam jurang kesakitan.


"Aku tidak mencintaimu, Aksa!"


Tiba-tiba mobil Aksa berhenti mendadak membuat jidat Beeya terkatukl dashboard mobil.


"Abang!"


Aksa mengatur napasnya, kemudian dia memukul stir mobil dengan sangat keras.


"Arrghh!"


Beeya segera menarik tangan Aksa dan memeluknya. "Abang, Abang kenapa?" Usapan lembut tangan Beeya membuat Aksa memejamkan matanya sejenak. Mengatur napasnya yang dipenuhi oleh amarah.


Ketika pikiran dan hati Aksa sudah mulai dingin. Beeya mengurai pelukannya dan menangkup wajah Abang tampannya.


"Lebih baik kita pulang. Bee gak ingin Abang kenapa-kenapa." Aksa pun mengangguk dan menuruti apa yang dikatakan oleh Beeya.


Harapan Beeya untuk nonton pupus sudah. Tapi, melihat Abangnya sekacau ini membuat Beeya tidak ingin egois. Beeya melihat ada yang sedang mengganggu pikiran Aksa. Gangguan apa? Beeya pun tidak tahu.


Sesampainya di rumah Beeya, Aksa membukakan pintu untuk Beeya dan mengucapkan kata maaf.


"Gak apa-apa, Bang. Lain kali kita jalan bareng lagi," sahut Beeya seraya tersenyum. Aksa mengusap lembut rambut Beeya sebelum dia pergi meninggalkan Beeya.


Beeya adalah anak yang mandiri. Usianya memang masih kecil. Tapi, pikirannya sangat dewasa. Dia mampu peka terhadap perasaan orang lain. Dan Beeya memiliki magnet tersendiri karena dapat menarik orang-orang menjadi dekat dengannya.


"PR berat nih, kudu ngejelasin ke Kak Ri. Jelmaan singa betina," keluhnya sambil masuk ke dalam kamar.


Di dalam kamar Aksa, dia menjatuhkan diri ke atas kasur empuk miliknya. Matanya menatap langit-langit kamar. Dan bayang wajah si dia masih mampu hadir di ingatannya. Padahal, sudah dua tahun berlalu. Begitu besarkah rasa yang Aksa miliki untuk perempuan itu?


Aksa menjadikan kedua lengannya sebagai bantalan kepalanya. Matanya seketika terpejam. Mencoba melupakan apa yang dulu pernah terjadi padanya.


Seruan seseorang dengan suara cukup lantang membangunkan Aksa yang baru saja masuk ke alam mimpi.


"Bangun!" seru Aska.


"Kenapa sih? Ganggu aja," omel Aksa.


Aska menarik kerah baju Aksa, membuat tubuh Aksa berdiri tegap dan kini mereka saling berhadapan.


"Peka dikit jadi cowok," bentak Aska dengan wajah yang memerah.


"Riana itu suka sama Abang," lanjutnya dengan suara yang sedikit tercekat.


Senyum sumbang menghiasi bibir Aksa. "Harusnya kamu yang gerak cepat. Udah jelas suka, bukannya ditembak," sahut Aksa dengan senyum meledek.


"Jangan pernah paksa Abang untuk mencintai seseorang. Ingat, cinta itu bukan untuk dipaksakan. Tapi, untuk diberikan ketulusan." Aksa menepuk bahu Aska dan meninggalkannya.


Aksa turun ke lantai bawah. Dia menyusuri lapangan basket yang ada di halaman samping rumahnya. Senyum kecut terukir di bibirnya. Lelah mengelilingi lapangan basket, Aksa duduk di pinggir lapangan. Melihat ke arah ring basket yang seakan tengah menertawakannya.


"Melupakanmu memang tidak mudah. Seharusnya bayang tentangmu juga pergi menjauh."


Aksa menelungkupkan wajahnya dia atas lutut. Dua tahun sudah dilewatinya. Tapi, tetap saja Aksa tidak bisa melupakannya sepenuh hatinya.


Tapi, itu hanya angan. Echa berada jauh di belahan bumi sana. Dan sekarang, dia harus merasakan kepedihannya seorang diri.


Dari jarak beberapa meter, seorang wanita yang masih cantik menatap putra sulungnya yang sedang dirundung kesedihan. Tidak seperti biasanya Aksa seperti itu. Hanya ketika ada masalah, Aksa akan teringat akan masa lalunya. Masa lalu yang membuat Aksa terpuruk. Dan menjadikannya laki-laki yang tidak peka.


Ayanda melihat Aska baru turun dari lantai atas. "Ada masalah apa kamu sama Abang?" Feeling seorang ibu tidak akan pernah salah. Apalagi, kedua anaknya kembar. Kesedihan Aksa akan menular kepada Aska.


"Nggak ada apa-apa, Mom." Aska mencoba mengelak. Namun, Ayanda menarik tangan Aska dan menunjuk ke arah lapangan basket.


"Abang, akan bersedih ketika dia sedang bertengkar dengan kamu."


Aska pun menunduk. Ayanda mengajak anak bungsunya untuk duduk bersamanya sambil menatap ke arah Aksa.


"Apakah kamu tidak kasihan melihat Abang seperti itu? Karena keusilan kamu, Abang harus pura-pura jadi kamu. Dan ketika perempuan itu mengetahui itu bukan kamu. Dia meneriakkan sebuah kalimat yang membuat Abang mu malu sekaligus sedih."


"Mommy aja yang dengernya sakit, apalagi Abang kamu, Dek. Dipermalukan di depan teman-temanmu. Dan dia mengatakan itu ketika Abangmu sudah jatuh cinta kepada dia," lirih Ayanda.


"Maafkan Adek, Mommy," sesal Aska.


"Minta maaflah sama Abang. Terlalu banyak pengorbanan Abang untuk kamu. Dia selalu memasang badan untuk kamu. Melindungi kamu serta Mommy dan juga Kakak. Hingga terkadang, Abangmu tidak memikirkan dirinya sendiri."


Aska segera bangkit dari duduknya. Berlari menghampiri Aksa yang sedang terduduk di pinggir lapangan.


"Bang."


Aksa menoleh dengan wajah sendunya. Lalu, pandangannya dia alihkan ke ring basket.


"Sepatu aku nyangkut di situ." Jarinya menunjuk ke arah ring tapi, mulutnya berteriak dengan sangat keras.


Hanya helaan napas yang Aksa keluarkan. Aska merangkul pundak sang Abang. Mencoba menenangkannya.


"Maaf, karena Adek, Abang jadi kayak gini," sesal Aska.


***


Di kediaman Riana, keluarga kecil Rion sedang menikmati makan malam. Rion menatap Riana dengan tatapan tajam. Dia memperhatikan wajah Riana yang terlihat sangat kusut.


"Mata kamu kenapa bengkak?" Pertanyaan yang langsung mengenai sasaran.


"Kamu abis nangis? Siapa yang udah membuat kamu menangis?" sergah Rion.


Riana hanya menggeleng dan tersenyum ke arah ayahnya. "Ri, abis nonton drama Korea, Ayah."


"Idih, bohong itu dosa loh, Kak," timpal Iyan.


"Maksudnya apa Iyan?"


Riana sudah memberi kode kepada Iyan dengan menggeleng-gelengkĂ n kepalanya dan manik mata yang memohon.


"Kakak nangis karena liat Kak Bee berduaan sama Abang. Cengeng ya, Kak Ri."


Ingin sekali Riana. Mengutuk adiknya satu ini menjadi kecebong. Adiknya terlalu bodoh dalam hal bahasa istirahat.


"Abang?" Dengan cepat Iyan mengangguk.


"Kurang ajar, kudu tanggung jawab tuh anak. Udah buat anak perawan gua nangis."


...----------------...


Siapa sih masa lalu Aksa? Itu akan dikuak di cerita khusus untuk si kembar di karya ku yang lain.


Semoga Terhibur ...