Bang Duda

Bang Duda
245. Dendam Terbalaskan (Musim Kedua)



Ghassan Aksara Wiguna dan Ghattan Askara Wiguna putra kembar buah cinta Ayanda dan juga Giondra. Mereka kembar tapi, memiliki kepribadian yang sangat berbeda.


"Abang, udah dong main basketnya," teriak sang Mommy.


"Bentar Mom," sahut Aksa.


Ayanda hanya menghela napas kasar ketika berurusan dengan anak keduanya. Dia pun beralih mengecek anak bungsunya.


Bibir Ayanda melengkung dengan sempurna melihat Aska yang sedang fokus pada tabletnya.


"Kamu sedang apa, Dek?" Aska pun menoleh ke arah sang Mommy.


"Lagi belajar Mom." Aska menunjukkan aplikasi bimbel online kepada sang Mommy.


"Anak pintar, lanjutkan. Mommy ke bawah dulu, ya." Aska pun mengangguk.


Ayanda pun duduk sofa di ruang keluarga seraya mengecek ipad khusus laporan semua bisnisnya. Dengan keringat yang bercucuran Aksa duduk di samping sang Mommy dengan membawa air mineral dingin.


"Abang, olahraga boleh tapi jangan lupa belajar. Contoh noh Adek," imbuh Ayanda.


"Adek belajar?" tanya Aksa heran.


"Iya, dia lagi bimbel online." Tanpa menjawab ataupun menyanggah ucapan Mommy-nya, Aksa berlari menuju lantai atas di mana kamarnya berada.


Aksa mendekat ke arah Aska yang sedang fokus pada tablet di tangannya. Matanya memicing dengan sempurna ketika dia melihat adiknya sedang bermain game bukan belajar.


"Pinter ya bohongin Mommy," cibir Aksa.


Aska pun tertawa dan memberikan Abangnya uang kertas yang berwarna biru. "Tutup mulut," ujar Aska.


"Kurang lah," tawar Aksa.


"Uangku abis Bang, kemarin Abang minta dijajanin bakso. Belum juga jajan di minimarket," keluh Aska.


"Oke, lain kali kalo mau bohong kasih Abang yang merahan ya." Aska pun mendelik kesal ke arah Abangnya.


"Kapan sih Abang itu ikhlas bantu adik sendiri," ujarnya.


"Bantu dalam kebohongan tidak gratis Dek. Kecuali, bantu dalam kebaikan," kilahnya. Aska pun berdecak kesal mendengar jawaban dari Sang Abang. Begitulah tingkah laku anak-anak Ayanda dan juga Gio.


Di rumah Keysha, Kano sedang bermain dengan jagoannya. Bermain kuda-kudaan, sedangkan Keysha sedang membantu sang Mamih menyiapkan makan malam.


"Key, tolong ambilkan sendok di dapur," pinta Sheza.


"Baik, Mih."


Begitulah Keysha, tumbuh menjadi anak yang penurut dan juga patuh. Dia juga sangat sayang kepada adiknya, Kaza.


"Key, apa bulan ini ada yang kamu inginkan?" tanya Kano.


"Tidak Papih," jawabnya.


"Key, jangan berbohong pada Papih. Kamu mau apa?" tanya Kano lagi.


"Em ... Key ingin ipad untuk menggambar Papih. Papih tidak usah khawatir, Key sedang menabung untuk membeli itu," sahutnya dengan senyum manisnya.


"Setelah makan, kita lihat berapa uang tabungan kamu." Key pun mengangguk.


Setelah selesai makan malam, Keysha mengambil celengannya. Dia membuka gembok celengan miliknya. Kano dan Sheza tersenyum bahagia ketika melihat isi dari celengan anak mereka. Rata-rata uang kertas berwarna biru dan juga hijau.


"Key, apa kamu tidak jajan di sekolah?" tanya Sheza.


"Kan Mamih selalu membawakan bekal untuk Key. Kecuali, kalo Mamih gak sempet buatin bekel baru Key jajan."


"Besok kita cari iPad yang kamu mau. Dan uang ini kamu masukkan ke dalam amplop untuk diberikan ke panti asuhan. Bagaimana?" Keysha pun mengangguk cepat.


Kano dan juga Sheza memeluk tubuh putrinya. Meraka benar-benar bangga kepada Key, karena mau menerapkan apa yang diajarkan oleh mereka.


Sedangkan di kediaman Rion, Riana sedang merajuk kepada sang Bunda. Riana ingin boneka baru. Namun, Amanda tidak membelikannya.


"Kenapa gak dibeliin aja sih, Yang," imbuh Rion setelah keluar dari kamar Riana.


"Jangan terlalu dimanja, Bang. Nantinya dia itu males berusaha," sahutnya.


"Dari pada dia merajuk begitu, lama loh itu anak sembuhnya," balas Rion.


"Biarin Bang, Riana sudah besar dia juga sudah memiliki uang jajan sendiri. Kalo dia mau apa-apa, dia harus nabung dari uang jajannya."


"Bukannya Manda kejam sama anak, tapi Manda sebagai orangtua sedang mengajarkan sikap mandiri kepada Riana. Abang coba lihat si kembar, Mbak Aya sama Pak Gio tidak pernah memanjakan mereka. Lihat juga Keysha, malah Keysha tumbuh menjadi anak yang sangat baik yang tidak ingin meminta apa yang dia inginkan ke Papihnya. Itu karena didikan Sheza yang cukup keras dari kecil," jelas Amanda.


Di lain rumah, seorang balita sedang asyik melukis wajah pria dewasa. "Mah, ini pipinya bagusnya warna apa?" tanya Beeya kepada Beby.


"Biru Sayang," sahut Beby.


Arya pun melebarkan matanya. "Muka aku kayak orang kena tonjok atuh, Mah," ujar Arya.


"Berisik Papah, jangan banyak bicara. Nanti wajah Papah kayak ondel-ondel," omel Beeya.


Beby pun tertawa mendengar ocehan sang putri, apalagi melihat wajah sang suami seperti lukisan abstrak.


"Warna apa lagi ya?" gumam Beeya sambil melihat beberapa lipstik yang tercecer di lantai.


Dibukanya satu-satu namun, tidak ada yang cocok dengan make up yang sedang dia terapkan di wajah sang Ayah.


Beeya pun beranjak dari duduknga dan berlari ke ruang bermainnya. Dia ambil cat warna, dia padukan cat warna merah dan juga biru. Bibirnya melengkung dengan sempurna.


"Yeay, warna ungu," teriak girang Beeya.


Beeya pun berlari ke arah sang Papah dan langsung mengaplikasikan cat warna ke bibir Arya.


"Bee, ini kamu pake apa? Kok baunya begini," ujar Arya.


"Cat warna untuk melukis," sahut Beeya santai.


"Apa?" Arya pun dengan cepat mengambil tisu basah dan menghapus riasan bibirnya.


Mata Beeya berkaca-kaca, hidungnya sudah mulai merah dan matanya pun sudah merah menahan tangis.


"Pa-pa jahat," kata Beeya dengan suara tersengal.


Arya pun terdiam melihat sang anak yang sudah menangis sesenggukan. Beby pun menatap kesal ke arah Arya.


"Kenapa sih gak mau berkorban sedikit aja buat anak sendiri," sentak Beby.


"Waktu Papah buat Bee itu sedikit, wajar kalo Bee ingin bermain sama kamu, Pa," omel Beby sambil memeluk Riana yang tengah menangis.


"Maafkan Papa, Bee. Ya udah kita lanjut lagi mainnya," ujar Arya yang mencoba menarik tubuh Beeya dari sang Mamah.


Beeya pun menurut, lalu memeluk tubuh Papanya. "Bee hanya ingin main sama Papa," imbuhnya.


"Iya, Sayang. Maafin Papa ya," ucap Arya lembut. Beeya pun mengangguk.


Arya sudah pasrah wajahnya menjadi kanvas untuk Beeya bereksperimen. Setelah selesai dengan wajah, kini Beeya sibuk menjepit rambut Arya dengan segala pernak-pernik rambut yang dia miliki.


"Selesai." Beeya pun bertepuk tangan gembira dengan hasil karyanya.


"Mamah, coba lihat. Papa cantik, kan?"


Beby yang baru saja selesai membuatkan susu untuk Beeya tertawa terbahak-bahak melihat wajah sang suami yang tak karuhan rupanya.


Bedak yang sangat putih, eye shadow berwarna merah menyala. Blush on yang berwarna biru, lipstik yang berwarna ungu dari cat warna. Serta alis berbentuk cicak yang Beeya gambar dengan spidol hitam. Ditambah kunciran-kunciran kecil di rambut Arya yang lebih dari sepuluh membuat perut Beby sakit karena tidak bisa menahan tawanya.


"Assalamualaikum." Beeya langsung berlari ke asal suara. Dia sangat tahu, itu suara ayahnya.


"Ayah," panggil Beeya. Dia langsung menarik tangan ayahnya dan memperlihatkan hasil karyanya.


"Bhuhahaa ... boneka blasteran. Perpaduan dakocan, boneka chucky, ondel-ondel sama mampang." Istri dan anak Rion pun tertawa melihat penampakan Arya.


"Stop," pekik Beeya kepada orang-orang yang sedang tertawa. Tawa mereka pun terhenti.


"Dari tuyub yang Bee tonton, abis dandan terus foto," ucapnya. Beeya pun menarik tangan Arya agar berdiri dan berpose mengikuti arahannya.


"Siapa yang mau foto?" tanya Beeya.


Amanda, Rion, dan juga Beby menunjuk tangan. Wajah Beeya pun teramat senang.


"Oke, mulai."


Arya pun mengikuti arahan demi arahan dari putrinya. Sedangkan para photographer memotret Arya sambil cekikikan.


"Akhirnya dendam anak gua terbalaskan," kata Rion.


****


Maaf Yang Terluka belum bisa UP, sedang banyak kesibukan 🙏


Kalo ada notif UP langsung baca ya, jangan ditimbun-timbun.