
Ketika Echa membuka mata, yang dia cari adalah sosok sang ayah. Dan nampak ayahnya sedang bersandar di dinding dengan wajah yang dirundung kepiluan.
"Ayah." Suara lirih yang berasal dari bibir Echa.
Semua orang menatap ke arah Rion dan menganggukkan kepala. Mereka beringsut mundur seakan membuka jalan untuk Rion menemui Echa. Hati Rion semakin sakit ketika melihat cairan bening sudah meluncur deras di wajah sang putri. Dengan cepat Rion memeluk putrinya. Menenangkan putrinya yang pastinya sedang menyimpan kemarahan yang luar biasa kepada ibu sambungnya.
"Kenapa Ayah tidak jujur sama Echa? Kenapa Ayah menyimpan ini semua?" tanya Echa dalam dekapan hangat tubuh sang ayah.
"Ayah ba ...."
"Jangan selalu bilang baik-baik saja. Pada nyatanya Ayah memang sangat terluka," sentak Echa yang sudah terisak.
Kekuatan Rion pun akhirnya runtuh. Dia menangis sambil memeluk tubuh Echa. "Ayah, hancur, Dek. Hancur."
Pengakuan yang sangat menyayat hati. Bukan hanya Isak tangis Echa yang semakin keras. Nisa pun ikut menangis mendengar ucapan yang begitu putus asa yang dilontarkan oleh sang kakak. Jangan ditanya bagaimana Arya. Tangannya mengepal keras. Ini kali keduanya dia melihat Rion sehancur ini. Melebihi perpisahannya dengan Ayanda.
Sedangkan Radit, hanya menunduk dalam. Dia merasa gusar karena ini ada sangkut pautnya dengan keluarga besar Radit.
Echa tidak berani menanyakan hal apapun lagi. Satu kalimat yang ayahnya ucapkan mampu membuat hatinya benar-benar sakit. Melebihi sakit yang dia rasakan ketika ayah dan mamahnya memilih untuk berpisah.
"Tinggallah bersama Echa, Ayah. Obati luka tak kasat mata Ayah." Sebuah permintaan yang membuat semua orang semakin haru mendengarnya. Mereka semua menatap ke arah Echa yang masih dibanjiri air mata.
"Tanpa istri, Ayah jauh akan lebih bahagia. Karena ada yang lebih menyayangi Ayah dengan tulus yaitu, Echa dan juga calon cucu-cucu Ayah di dalam sini." Tangan Echa menarik tangan Rion dan menuntunnya menuju perutnya.
"Echa yakin, anak-anak Echa nanti akan membuat hidup Ayah lebih berwarna dan juga bermakna. Dan jangan lupa, Echa akan selalu ada untuk Ayah dan juga Iyan."
Sungguh perkataan yang membuat hati Rion meleleh. Putrinya yang dulu dia buang, kini menjelma menjadi seorang wanita yang penuh dengan kelembutan dan juga perhatian. Bukan hanya kepada suaminya, tapi kepada dirinya juga.
"Sekarang, sudah saatnya Echa membalas jasa-jasa serta pengorbanan Ayah dalam balutan kebahagiaan. Mamah sudah bahagia dengan keluarganya, dan Ayah juga harus bahagia meskipun hanya dengan Echa dan Iyan. Serta tiga krucil yang nantinya akan menjadi kesayangan Ayah." Bibir Echa mampu tersenyum mengucapkan hal seperti itu. Tetapi, di dalam lubuk hatinya dia menangis keras. Dia juga tidak tahu, apakah ayahnya nanti akan bahagia walau tanpa pendamping.
"Jangan paksakan hati Ayah. Jika, Ayah tidak sanggup menyerahlah. Setidaknya, selama dua tahun ini Ayah berusaha memperbaiki semuanya. Meskipun hasilnya ...."
Rion semakin mendekap hangat tubuh Echa. Yang terpukul akan kejadian ini pastinya adalah Echa. Dia yang sangat tidak bisa melihat kedua orangtuanya menderita. Anak seperti Echa, pasti akan membawa masalah yang sedang dihadapi kedua orangtua dalam pikirannya.
"Tidak, Dek. Ayah akan tetap tinggal di ...."
"Biarkan rumah itu kosong. Karena rumah itu hanya menggoreskan luka untuk para penghuninya." Tatapan teduh Echa membuat Rion semakin tidak bisa berkata. Arya dan Nisa melengkungkan senyum mendengar ucapan sangat tulus dari keponakan kesayangan mereka.
Tidak mereka sangka, anak yang sangat menyebalkan menjelma menjadi wanita yang penuh dengan kelemah lembutan.
"Apa suamimu tidak keberatan?"
"Tentu saja Radit keberatan, Ayah. Karena sudah pasti Ayah dan juga Iyan akan selalu mengganggu ritual enak-enak Radit dan Echa," timpal Radit dengan gurauamnya. Bibir Rion pun mengerucut membuat sudut bibir Echa terangkat. Melihat perdebatan Radit dan juga sang ayah menjadi hiburan tersendiri untuknya. Apalagi, mereka adalah dua lelaki yang Echa sayangi.
Dan di ruang perawatan Iyan, dalam hati Amanda sudah ketar-ketir. Karena Amanda yakin, suami serta adik iparnya sudah mengetahui skandal dirinya dengan seorang pria. Dalam diamnya, jari lentik Amanda menari-nari di atas layar ponsel. Seperti orang yang tengah sibuk mencari perlindungan.
Sudut mata Iyan menatap tajam ke arah sang bunda. Dia tahu, bundanya sedang ketakutan sekarang ini.
Ting!
Sebuah pesan masuk ke ponsel Amanda. Dan bergegas Amanda bangkit dari duduknya. "Ri, Bunda titip Iyan dulu, ya. Bunda ada urusan sebentar."
"Bunda mau ke ...."
"Sudah Bunda katakan, Bunda ada urusan," potongnya dengan suara sedikit meninggi. Bibir Riana pun kelu. Tidak biasanya bundanya itu membentak Riana. Bagi Iyan, itu adalah makanan sehari-hari. Tapi, tidak untuk Riana.
Iyan terus menatap kepergian bundanya dengan perasaan curiga. Jika, dia sehat. Sudah pasti dia akan mengikuti bundanya.
"Bagaimana rasanya dibentak Bunda?" ejek Iyan dengan senyum tipisnya. Riana mendengus kesal sambil menatap tajam ke arah Iyan. Dan Iyan hanya bisa menatap langit-langit kamar perawatan. Dalam hatinya dia berdoa. Ayahnya mendapat kebahagiaan yang sesungguhnya. Tidak apa, jika nantinya dia harus tinggal bersama sang kakak pertama. Yang terpenting, Iyan mendapatkan kasih sayang yang sesungguhnya dengan penuh ketulusan.
Langkah Amanda sangat tergesa karena dia sudah ditunggu oleh seseorang. Tanpa menengok ke sana ke mari, Amanda melangkah dengan langkah lebar hingga keluar area rumah sakit. Benar saja, sebuah mobil mewah berwarna hitam mengkilap sudah menunggunya.
Mobil itu melaju meninggalkan rumah sakit menuju suatu tempat. Setelah setengah jam melaju, mobil mereka berhenti di sebuah hunian mewah bernuansa putih. Rumah itu bukan rumah orang sembarangan. Hampir sama dengan rumah Addhitama dan juga Gio. Berada di cluster mewah yang hanya orang-orang berduit yang dapat tinggal di sana.
Amanda keluar dari mobil itu dengan digandeng oleh pria yang usianya tak jauh berbeda dengan sang suami. Amanda terus memeluk erat tubuh sang pria yang terlihat gagah itu.
"Aku takut." Kalimat itu yang diucapkan oleh Amanda kepada sang pria.
"Tenang ada a ...."
Tarikan keras di kerah kemeja sang pria membuat tubuhnya terguling ke lantai.
Bugh!
Satu pukulan mendarat di wajahnya. Mata orang yang baru saja datang dan memukul pria yang tengah bersama Amanda, memancarkata emosi yang menyala. Seolah akan ada peperangan sengit setelahnya.
"Kenapa?" Pertanyaan itulah yang menjadi kalimat pembuka yang sangat menakutkan bagi si pria yang tengah tersungkur.
...----------------...
Siapa dia? 🤔
Udah ah, aku lapar. Kalo komennya banyak aku akan kuak besok. Tapi, kalo sedikit aku juga akan pelit 😜