
"Jangan tinggalkan kami!" teriak si kembar.
Beby dan Arya yang baru saja tiba diruang perawatan si kembar segera menghampiri Aksa dan juga Aska yang sudah terduduk dengan wajah yang sangat kacau.
"Abang, Mommy," lirih Aska.
"Abang juga mimpi buruk tentang Mommy," sahut Aksa.
Beby dan Arya menghentikan langkahnya ketika mendengar ucapan si kembar.
"Ya Allah, ikatan batin kedua anak Laki-laki Kak Ay sangatlah kuat. Mereka bisa merasakan apa yang sedang terjadi dengan Mamahnya," batinnya.
Melihat kedatangan Arya dan Beby membuat Aksa dan juga Aska melayangkan bertubi-tubi pertanyaan tentang Mommy-nya.
"Mommy kalian baik-baik saja," ujar Arya.
"Pah, Papah tau kan Abang paling benci sama orang yang suka bohong. Katakan Pah, di mana Mommy?" desak Aksa.
"Mommy baik-baik saja kan, Mah?" tanya Aska.
Mulut Arya dan juga Beby terbungkam, tidak bisa menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Aksa dan juga Aska. Mereka diberi amanat untuk tidak mengatakan hal apapun kepada si kembar.
Beby dan Arya hanya saling pandang. Melihatnya manik mata si kembar yang penuhi permohonan membuat rasa iba hadir di hati Beby. Bagaimana pun Aksa dan Aska perlu mengetahui keadaan Mommy mereka. Sungguh jahat, jika mereka menyembunyikan kenyataan yang sebenarnya.
"Mommy kalian ...."
Dering ponsel Arya membuat ucapan Beby terhenti. Dengan wajah sedikit panik, Arya menjawab panggilan dari Genta di luar ruang perawatan si kembar. Dan Beby mengikutinya dari belakang.
Karena rasa penasaran yang berlebih, Aksa turun dari ranjang pesakitannya dengan membawa selang infus. Dia menguping dari balik pintu dalam. Diikuti oleh Aska di sampingnya.
Samar-samar mereka mendengar nama Mommy mereka disebut. Aksa dan Aska hanya saling pandang. Perlahan mereka membuka pintu kamar perawatan dengan pelan.
"Iya Paman, Beby dan juga Papahnya Bee akan mencoba mencari orang yang bergolongan darah AB negatif untuk Kak Ay."
"Mommy kenapa? Kenapa Mamah mau mencari orang yang bergolongan darah yang sama dengan Mommy?" tanya Aksa.
"Pah, jawab. Ada apa dengan Mommy?" Kini Aska yang bertanya.
"Berikan ponselnya kepada cucu-cucu Paman."
Aksa memegang ponsel Arya yang sedang tersambung dengan Genta.
"Jagoan-jagoan Kakek, kalian harus kuat ya. Kalian gak boleh jadi anak yang cengeng. Doakan Mommy kalian semoga bisa melewati masa-masa kritisnya."
"Mommy kenapa Kek?" tanya Aska dengan suara bergetar.
"Mommy kalian terkena luka tusuk di perut. Keadaaan Mommy kalian saat ini kritis. Doakan Mommy kalian agar bisa sembuh dan memeluk kalian lagi."
Hanya isak tangis yang menjadi jawaban dari si kembar. Mimpi buruknya ternyata bertanda jika Mommy mereka sedang tidak baik-baik saja.
Ponsel Arya pun terjatuh karena Aksa tidak mampu menahan berat ponsel di telapak tangannya.
"Hape gua," lirih Arya yang melihat ponselnya sudah terjatuh dengan bagian layar yang menyentuh lantai.
"Nanti minta ganti ke Kak Gi," ucap Beby seraya mengusap lembut punggung Arya.
****
Sedangkan di rumah sakit, kondisi Ayanda semakin memburuk karena darah yang sedang ditransfusi sudah habis.
"Kondis pasien akan bertahan paling lama dua jam tanpa transfusi darah. Saya harap, secepatnya kalian menemukan pendonor darah yang cocok untuk Ayanda," jelas dokter Handoko.
"Mom, bertahanlah," lirihnya.
Genta, Rion serta Amanda sangat sedih mendengar ucapan lirih dari Gio. Laki-laki yang tidak pernah menunjukkan kerapuhannya, kini terlihat sangat rapuh ketika menghadapi kondisi istrinya yang sudah tidak berdaya dengan segala alat medis di tubuhnya.
Mereka bertiga memutuskan untuk meninggalkan Gio dan mencari pendonor darah untuk Ayanda, Waktu dua jam bukanlah waktu yang lama. Itu terlalu singkat jika mereka harus kehilangan Ayanda
Genta memilih pergi tanpa memberitahukan tujuannya. Rion dan Amanda memutuskan untuk menemani Gio di luar ruang ICU seraya menunggu kabar dari Remon.
Jam dinding seakan cepat sekali berputar. Membuat jantung mereka yang sedang menunggu kantong darah dan juga pendonro darah semakin berdegup kencang.
"Bang, Mbak Aya," lirih Amanda seraya menatap Rion.
Hanya helaan napas kasar yang Rion berikan. Sesungguhnya juga dia takut. Takut jika Ayanda tidak selamat.
Satu jam lebih tidak ada tanda-tanda kantong darah datang serta pendonor darah untuk Ayanda. Tombol darurat di ruangan ICU berbunyi membuat semua dokter berlari ke arah ruang ICU. Rion dan Amanda nampak panik karena melihat dokter Handoko ada dalam rombongan dokter yang berlari. Dan Gio pun keluar dari ruang ICU dengan wajah yang sudah putus asa.
Tubuhnya luruh ke lantai dengan menundukkan kepala. Tampak bahu Gio bergetar, menandakan Gio sedang menangis.
"Gi," ucap Rion.
Gio mendongakkan kepalanya ke arah Rion. "Ayank." Gio pun kembali menunduk dan dengan air mata yang berjatuhan.
Amanda menutup mulutnya tak percaya sambil menggelengkan kepalanya. Rion menyandarkan tubuhnya ke dinding seraya memejamkan matanya. Perasaan sedih, pilu, perih jadi satu. Kenapa secepat ini mereka harus kehilangan orang yang sangat baik.
Dokter Handoko menghampiri Gio, Rion serta Amanda dengan wajah yang sulit diartikan.
"Tenanglah, sudah ada pendonor darah untuk istri Anda. Dan kami sudah mentransfusikan darah dari si pendonor kepada istri Anda. Meskipun darah yang baru saja kami ambil dari si pendonor sedikit, tapi itu mampu menstabilkan kondisi istri Anda."
"Serius dok?" Dokter Handoko pun mengangguk seraya tersenyum.
"Saya pastikan kondisi istri Anda semakin membaik ketika mendapat darah yang dia butuhkan."
Gio tak hentinya mengucapkan rasa syukur, begitu juga Amanda dan juga Rion. Wajah sedih mereka perlahan berubah. Ada lengkungan bahagia diujung bibir mereka.
Di ruangan yang berbeda, seorang wanita muda sedang terbaring lemah dengan jarum yang tertusuk di tangannya. Jarum itu terhubung dengan kateter dan akan mengalir ke kantong darah. Meskipun wajahnya semakin pucat, tapi lengkung senyum terus menghiasi wajah cantiknya.
"Tidak ada kebahagiaan selain melihat orang yang aku cintai selamat," ucapnya kepada laki-laki di sampingnya seraya tersenyum.
"Kamu wanita hebat."
Gio, Rion serta Amanda memasuki ruang ICU dan ada kelegaan di hati mereka semua. Apalagi wajah Ayanda yang sudah mulai kembali segar. Meskipun matanya masih enggan untuk terbuka.
"Siapa pendonor darah itu?" tanya Rion.
"Yang pasti gua akan berterimakasih sekali kepada orang itu. Apapun yang dia minta pasti akan gua kasih. Separuh dari kekayaan gua pun pasti akan gua berikan. Tidak ada yang lebih berharga dari apapun kecuali anak dan istri gua," sahut Gio dengan tangan yang terus menggenggam tangan Ayanda dan sesekali dia menciuminya.
Seorang perawat datang untuk mengganti kantong darah yang akan habis.
"Boleh saya tahu siapa pendonor darah untuk istri saya?" tanya Gio.
"Maaf, Pak. Kami tidak bisa memberitahukannya. Yang jelas, dia adalah orang yang sangat menyayangi Bu Ayanda."
Gio hanya terdiam, sedangkan Rion sudah mulai curiga dengan satu orang.
"Jangan-jangan ...."
***
Ada notif UP langsung baca jangan ditimbun-timbun. Gak sudah kan? Dengan cara begitu kalian membantu untuk mempertahankan level karya.